Cinta Kilat

Cinta Kilat
31


__ADS_3

Dan....


Bugghh...


Cinta bertabrakan dengan seorang laki-laki tampan yang dulu pernah menjadi masa lalunya.


Di depan lift Cinta bertemu dengan mantan pacar!!!.


Bahkan bertabrakan, lelaki itu bernama Riki.


Cinta tak percaya, ia bertemu kembali dengan sang mantan pacar, yang katanya Riki pindah ke luar Negeri, untuk melanjutkan ke Universitas di sana.


"Riki," lirih Cinta.


Riki menoleh, hanya tersenyum manisnya yang ia tebar.


Cinta meleleh dibuatnya.


Pak Bima melihatnya, dan menepuk bahu Cinta, karena Cinta masih menatap pintu lift yang sudah tertutup.


Kemudian Cinta, tiba tiba air matanya terjatuh.


" Kamu kenapa? " tanya Pak Bima bingung.


" Tidak ada apa apa Pak Bima " bohong Cinta.


Cinta pun mengusap air matanya.


Di dalam lift, Riki pun memikirkan Cinta tadi.


"Cinta, maafkan aku" lirihnya.


Di sepanjang perjalanan menuju tempat Apartemen, Cinta diam membisu tak pernah mengatakan apapun. Pak Bima tak ada pertanyaan apapun untuk di lontarkan, sebab Cinta terlihat begitu sedih.


Pak Bima pun segera membuka akses Apartemennya.


Didalam Apartemen Pak Bima sudah ada Arya, dan Bibi.


Serta Mama Lusi, Mama Lusi masih belum puas memandang Cinta lebih dekat.


Cinta mencium punggung tangan Mamanya.


"Calon mantu Mama nih udah dateng, Mah, " ucap Bima, seketika melihat ke arah Cinta yang masih berdiri di sampingnya.


Cinta pun tersenyum canggung, dan malu malu.


" Yuk duduk dulu sayang, Mama udah siapkan makan malam untuk kalian semuanya, " ujarnya, sambil menuntun calon mantunya.


Arya yang sedari tadi lihat Cinta digituin, selintas membayangkan Sinta.


" Coba Sinta di sini" batin Arya bicara sendiri.


Masih pukul lima sore tapi makanan sudah dihidangkan semua oleh Bibi dan Mamanya.


Sebab nanti malamnya Mamanya pulang ke rumah lagi bersama Arya.


"Ayo Cinta dimakan, makanannya, mumpung masih anget dan masih hot" Bima menyuruhnya makan.

__ADS_1


" Iya" jawabnya pelan.


Acara makan pun selesai, tanpa ada banyak basa basi, sebab adab makan tidak boleh berbicara sambil makan.


Arya dan Mamanya akan segera pulang, karena papanya menelpon untuk secepatnya pulang.


Karena ia menunggu sang istri dan anaknya.


" Bim, Mama pulang dulu ya, jaga Cinta baik baik jangan lupa pulangnya jangan malam malam, Bi saya pamit pulang dulu ya, Nak Cinta bila Bima nakal panggil Bibi saja, " pesan Mamanya, dan berpamitan pada semuanya.


Sedangkan Arya tidak pernah membuka mulutnya sama sekali. Untuk sekedar bicara satu kata saja tidak.


Karena Arya masih membayangkan kebersamaan dengan Sinta tadi.


" Cinta, jawab dengan jujur, kenapa tadi di lift diam saja? " Bima penasaran, karena sejak ketemu pria tadi di dalam lift, Cinta jadi diam dan alim.


Cinta bingung ingin menjawab apa, jujur takut marah kalau tidak jujur dan mengetahui dari orang lain bisa bahaya.


Hmmmm hufff... Cinta mengatur pernapasan.


" Kamu jangan marah ya Pak, " Cinta memelas.


"Tergantung, " jawabnya.


" Ya sudah lah gak jadi cerita, gue yakin Pak Bima gak bakalan percaya sama omongan gue" Cinta mendadak emosi.


" Ya sudah, aku tidak akan marah atau apapun itu" ucapnya, sambil menepuk bahunya.


" Tadi, di dalam lift, gue gak sengaja nabrak cowok kan? Nah, cowok itu mantan pacar gue Pak, mantan terindah banget Pak, sama halnya seperti Gisel. Tetapi dia meninggalkan gue, sebab ia melanjutkan ke Universitas di luar Negeri, Pak. Dia itu baik banget, dia bernama Riki. " Cinta menjelaskan.


Pak Bima pun mendengarkan cerita dari Cinta, dan ternyata Pria tadi adalah mantan pacar, dan bilang mantan terindah, hati Pak Bima meleyot.


" Dia kan cuma mantan, apa kamu mau balikan dengan dia? " tanya Bima, menahan gejolak marah dalam hati.


Cinta menunduk tak berani menjawab, mungkin jika belum di lamar, Cinta ingin ada niat untuk balikan, akan tetapi takdir berkata lain Cinta sudah akan menjadi istri.


" Apakah kamu menyesal, bertunangan dengan ku Cinta? " pertanyaan yang monohok.


Tiba-tiba Cinta menangis, Pak Bima pun langsung menghapus air matanya.


Tak tega melihat Cinta menangis seperti itu, dan langsung memeluknya agar tenang.


" Maafkan gue Pak, " Cinta merasa bersalah.


Pak Bima memejamkan matanya, dan mengusap rambut Cinta penuh kasih sayang, meskipun pertemuan mereka sangat lah singkat seperti kilat yang langsung menyambar pada tempatnya.


Berusaha bersabar untuk menghadapi Cinta, karena Cinta masih usia remaja yang beranjak dewasa.


" Sudah jangan menangis lagi, dia kan cuma masa lalu, masa depan kamu ada aku yang akan selalu menjaga mu," Pak Bima menenangkannya.


Cinta pun mendongak, menatap mata Pak Bima yang teduh, apalagi memakai kacamata tebalnya.


Cinta pun dengan segera menghapus air matanya.


" Terima kasih, tidak marah padaku Pak, " masih sesegukan.


" Jangan nangisin orang sampe seperti ini, belum tentu dia juga sama seperti kamu" saran Pak Bima lembut, masih dengan memeluknya dari samping.

__ADS_1


" Iya " lirihnya.


"Ehem" si Bibi ke ruang TV.


Dan tidak sengaja melihat adegan peluk pelukan, membuat Cinta malu setengah mati.


Mendadak melepaskan pelukan.


" Maaf tidak liat, Den, " Bibi berjalan sambil menutup matanya dengan tangan satu.


" Gara-gara Pak Bima nih" Cinta memukul lengan Pak Bima yang masih disamping dirinya.


" Loh, kok menyalahkan aku sih, kamu nya juga suka kan" goda Pak Bima.


Pak Bima menggenggam erat tangan Cinta.


Tapi Cinta langsung menolaknya.


" Kok di lepas sih" protes Pak Bima.


" Malu ih" ucapnya.


"Ya sudah, sekarang aku anter kamu pulang dulu, setelah itu aku akan menemani kamu belajar di rumah." Ucap Pak Bima.


" Iya" Cinta mengangguk paham.


Cinta dan Bima pun langsung kembali ke parkiran lagi, dan ketemu Riki lagi di parkiran.


Kini Bima langsung memegang erat tangan Cinta, supaya kuat untuk tidak menangisinya.


Mata Cinya dan Riki bertemu, ketika Riki baru saja membuka pintu mobilnya.


" Hai, kita ketemu lagi" sapa Riki, ketika pas di depan Cinta dan Bima.


" Hai juga" balas Cinta.


" Mau kemana " tanya Riki basa basi.


Bima hanya diam melihat interaksi antara Cinta dan Riki.


" Mau pulang Ki, " jawab Cinta.


" Pacar kamu? " tanya Riki, sambil menatap ke arah Bima.


" Bukan, dia bukan pacar aku, tapi dia tunangan ku sekaligus calon suami, Ki, " skak Cinta.


Riki diam sesaat, melihat ke arah Bima dan juga Cinta.


"Selamat ya, semoga bahagia dan langgeng, oh iya jika hari H tiba, jangan lupa undang aku ya, aku pasti datang, " ada getaran yang masih belum ikhlas, melihat Cinta dengan pria lain.


Namun Riki tak boleh egois, toh Cinta begini karena dirinya juga yang meninggalkannya.


" Oh, iya, kenalin Mas, aku Riki temannya Cinta, " Riki mengulurkan tangannya pada Bima.


" Saya Bima, oh iya maaf kami permisi dulu, tidak enak sama mamanya, udah malam, " pamit Bima pada Riki.


" Cinta semoga kamu bahagia " gumamnya, saat Cinta sudah pergi.

__ADS_1


" Hai! " seseorang menepuk bahu Riki.


__ADS_2