Cinta Kilat

Cinta Kilat
27


__ADS_3

"Permisi, Pak Bima, apa ada yang bisa saya bantu" Widi nyelonong masuk secara tiba-tiba.


Baik Cinta, Sinta, Vivi dan Imel pun, menoleh ke sumber suara itu, yang tak lain adalah Bu Widi guru baru yang mengajar matematika.


Widi sudah berada di depan Pak Bima, seakan-akan mau membantu membawakan buku buku latihannya.


Seketika Cinta menjatuhkan semua bukunya.


Braaaakkkk...


Buku-buku itu berjatuhan ditangan Pak Bima, karena Cinta menaruhnya diatas tangannya kasar. Kemungkinan Cinta langsung keluar dan meninggalkan Pak Bima dan para sahabatnya.


Imel dan Sinta saling tatapan, sedangkan Vivi mengejar Cinta yang sedang di landa api cemburu.


" Imel dan Sinta tolong kalian bawa buku latihan ini ke ruang saya, kamu tahu kan Mel, ruang kerja saya? " suruh Pak Bima pada Imel dan menyuruhnya untuk menaruhnya diatas mejanya.


Widi tak mengerti, "Pak Bima, biar saya saja yang membantu Pak Bima. "


" Tidak usah Bu Widi, tidak sopan rasanya jika Bu Widi membantu saya, biarlah mereka yang membawa buku itu, mereka adalah murid dikelas saya saat ini, " tolak Pak Bima.


" Oh iya Mel, saya keluar sebentar, jadi kalian langsung taruh saja buku itu diatas meja saya ya" pintanya.


" saya, ada urusan penting mendadak, kalian paham kan maksudnya " lanjutnya.


"Iya Pak" serentak Imel dan Sinta paham.


Cinta sudah berada di halte, menunggu angkutan umum lewat.


Tangan Cinta di cekal oleh Pak Bima, namun Cinta menepisnya.


" Cinta, kamu kenapa tiba-tiba lari, hem" tanyanya.


Cinta masih belum mau menjawab pertanyaannya.


Cinta masih diam dan pura-pura tak mendengarkan celotehan Pak Bima yang berada di depan dirinya.


" Pak Bima, gue mau pulang, " ketus Cinta.


" Saya anterin kamu, ok" tawarnya.


Tin tin tiiinn....


Klakson mobil yang tiba-tiba memarkirkan mobilnya di hadapan Bima dan Cinta.


Baik Cinta ataupun Bima, menoleh ke arah mobil itu, dan ternyata orang yang berada di dalam mobil itu adalah Gisel!!!.


Tak menyangka Gisel masih tetap mencari Bima, padahal Bima sudah terang terangan menyatakan sudah berakhir hubungan mereka.


Akan tetapi Gisel tetap akan berusaha untuk kembali dengan Bima.

__ADS_1


Gisel membuka pintu mobilnya dengan memakai kacamata hitam, dan langsung memeluk Bima tanpa dosa.


Cinta melotot tak percaya dengan prilaku Gisel yang terlalu agresif terhadap Bima.


Bima kaget dan langsung mendorong Gisel.


" Kamu, " kaget Bima sambil melepaskan pelukan Gisel yang masih erat Memeluknya.


Cinta menoleh ke arah lain, tak mau melihat adegan dewasa itu.


" Ish, keasyikan banget tuh Pak Bima! " seru Cinta dalam hati, kesal.


Bima menoleh ke arah Cinta, namun Cinta membuang muka ke sembarang arah, sebab kesal, walaupun bukan kesalahannya.


Gisel meringis kesakitan di lengannya, karena dorongan dari Bima.


"Ahhh.... "


Gisel pura-pura merintih kesakitan.


Cinta malas melihat adegan itu, sehingga ia masuk ke dalam angkot yang sudah berhenti di depannya.


Bima ingin mencegahnya, tapi Gisel lebih gesit menahan dan menarik tangan Bima.


Cinta yang melihat itu pun langsung pergi, tak ingin di bilang...* Minta di kejar tuh *.


Antara Cinta dan Bima, Gisel yang melihat hal semacam itu hanya tersenyum senang.


Puas rasanya Gisel sudah membuat Cinta cemburu dan marah pada Bima, yang artinya nanti Bima bakal balik lagi dengannya.


" Puas kamu, sudah bikin tunangan saya pergi dan marah pada saya, hah!! " Bima marah dan emosi pada Gisel.


" Sayang, panggilannya gak usah formal gitu dong, pake saya segala, kita kan dari dulu panggilannya sayang, bukan saya, gimana sih kamu Bim."


Gisel terus tersenyum dalam hati.


Bima meninggalkan Gisel di halte, namun Gisel tak mengejar Bima karena sudah merasa puas, bahkan sudah membuat tunangan kecil Bima marah. Maklum tunangan Bima masih labil, dikit dikit marah dan terkadang dikit dikit tersenyum senang.


" Ya ampun bagaimana ini, pasti Cinta sangat marah, " gumamnya.


Pak Bima masuk ke dalam kantor untuk mengambil kunci mobilnya, dan tepat di parkiran mobil khusus guru. Terlihat dari kejauhan, ada Imel, Sinta dan Vivi, yang akan mengambil kendaraan pribadi mereka kecuali Sinta.


" Apa aku tanya mereka saja ya, tapi.... " Pak Bima berfikir untuk bertanya pada mereka, namun urung, sebab nanti mereka pasti salah paham.


Pak Bima pun, langsung masuk ke dalam mobil dan akan menyusul Cinta ke rumahnya.


"Sinta, elo nebeng di gue aja ya, " tawar Imel, hari ini Imel diperbolehkan untuk mengendarai mobil sendiri.


Imel di jatahin seminggu sekali untuk mengendarai mobil sendiri di hari tertentu.

__ADS_1


"Gak Mel, terimakasih, gue di jemput, seperti biasanya" jawabnya.


" Oh, ya sudah gue balik duluan ya sama Vivi, tidak apa kan, gue tinggal elo di halte sendirian? " tanya Imel khawatir dengan temannya itu.


Sinta masih menunggu Surya, Kakaknya, namun tak kunjung tiba.


Ditengah perjalanan, Imel dan Vivi, mampir dulu di tukang jualan mie ayam baso langganannya.


Ketika keluar dari mobil, tiba tiba....


Criiittt.... ( Duh maaf suara air nyiprat gimana sih).


suara air muncrat ke kaki Imel, karena tepat mobil itu lewat, ada genangan air depan mobil Imel.


" Woi!!" teriak Imel, melihat mobil itu berhenti, Imel pun mendekati Pemilik mobil itu.


Yang berada di dalam mobil, belum juga menampakkan dirinya.


Tok tok tok...


Imel pun langsung mengetuk pintu kaca mobilnya.


Pemilik mobil itu pun langsung membukakan pintu mobilnya, dan apa yang terjadi, Imel tak berkedip sama sekali, malah menganga tak karuan.


" Helooo, mbak, ada yang bisa aku bantu" Pemilik mobil itu melambaikan tangannya, hingga membuat Imel tersadar dari lamunan.


" Eh, ish, apaan sih gue, " hati Imel rasanya malu, melihat sosok Pria tampan di depan mata, tapi kesel karena dia, celananya jadi basah dan kotor.


" Hai, elo udah bikin gue kotor, tanggung jawab dong! " teriak Imel yang masih berjongkok di pintu mobilnya.


Kemudian, Pemilik mobil itu melihat Imel dari atas sampai bawah, dan benar saja celananya kotor, karena mobilnya menciprati dirinya.


" Turun dong loe, belagu banget jadi orang, " Imel mengomel ngomel.


Pemilik mobil itu pun turun dan melepaskan kacamata hitamnya.


" Sorry, aku buru buru mau jemput adik aku yang sedang menunggu, " imbuhnya.


" Sorry, loe bilang, loe harus cuciin nih celananya gue" lanjutnya.


" Mel, udahlah " pinta Vivi berbisik.


" Diam, ini kesempatan kita untuk minta uang ganti, alias kita minta bayarin aja mie ayamnya, ok" Imel berencana untuk minta ganti rugi.


" Terserah loe deh, gue ngikut aja" pasrah Vivi pada akhirnya.


Pemilik mobil itu, menelpon Sinta adiknya yang masih menunggunya.


" Dek, Kakak ada masalah di jalan, kamu balik dulu aja ya naik Taxi, awas naik Taxi bukan angkotan umum.

__ADS_1


__ADS_2