Cinta Kilat

Cinta Kilat
23


__ADS_3

Wanita itu memakai kacamata hitam dan memakai masker, tak sengaja juga Arya menoleh ke kanan kiri dan menangkap pandangan ke arah wanita itu dan memperhatikan nya dan arah mata wanita itu ke arah kakak nya, aduh gawat siapa yaaa...


" Siapakah wanita itu, kenapa memperhatikan kak Bima seperti itu, aku harus melihat nya, tapi aku pura-pura masuk dulu apakah benar dia memperhatikan kak Bima atau tidak" gumam nya. Curiga dengan wanita yang di ujung luar kampus nya.


Dan sepertinya wanita itu melajukan mobilnya, Arya yang masih memperhatikan nya sedikit aneh dengan wanita ber masker dan berkacamata item tadi.


Tak mau banyak pikiran negatif pada seseorang Arya langsung melanjutkan perjalanan pulang.


"Sudah sampe Neng Imel dan Vivi, hati hati ya Neng" ujar sopir Cinta berhenti di depan Perumahan tempat tinggal Imel dan Vivi.


"Terimakasih ya Pak, awas Pak nganter yang satu nanti minta berhenti ditengah jalan karena ada yang nungguin" ledek Vivi pada Sinta yang sedang murung dari tadi. Sinta cemberut mendengarkan nya.


" Gak usah di ledenin Pak , yo jalan aja nanti yang ada sampe malam disini" suruh Sinta pada sopir Cinta.


Tiba di depan rumah Sinta, Sinta menatap mobil yang berada di depan gerbang nya, melihat ada laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu gerbang.


" Terimakasih ya Pak, salam buat Cinta dan mamanya ya Pak, permisi saya masuk dulu, " pamit Sinta pada sopir Cinta.


Sinta menghampiri lelaki yang memakai topi itu dan Sinta sangat terkejut melihat siapa yang ada di depan matanya itu.


" Kakak!" seru Sinta langsung memeluk lelaki itu dan lelaki itu adalah Kakaknya, Kakak kandung Sinta yang bekerja di luar Negeri.


Kakaknya bernama Surya, biasa dipanggil Uya atau Yaya.


" Kakak kenapa tidak masuk kedalam saja dulu, kenapa meski di luar gerbang seperti perampok tau gak, " sambil melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata bahagia karena baru bertemu setelah dua tahun berpisah.


" Surprise dong Dek, " ujar Kak Uya. Sembari menggandeng tanganya masuk ke dalam rumah, pintu gerbang pun di bukakan oleh Pak satpam. Seperti biasanya rumah terasa sangat sepi tak ada suara siapa pun. Mamy Sinta sibuk dengan butik dan arisan dady nya sibuk di Perusahaan.


Hufffft... Suara helaan nafas Sinta yang melihat sekelilingnya sepi seperti kuburan, kuburan aja rame suara jangkrik dan mak kunti.

__ADS_1


" Mamy sama dady selalu seperti ini ya Dek, " tanya Kak Surya melihat raut wajah adiknya yang berubah sedih ketika masuk ke dalam rumahnya.


Surya pun melepaskan jaketnya dan menaruh tas ransel nya diatas sofa, Bibi belum terlihat lagi di mana bibi asisten rumah tangga nya.


" Loh Den Surya baru datang, kok Bibi tidak tahu ya, " tanya Bibinya yang baru saja dari dapur untuk memasak makan makanan malam.


" Iya Bi, " Surya menyalami bibi nya yang masih muda itu.


Usia Bibi nya masih di bilang muda baru berusia 40 tahun, bekerja sejak muda hingga sudah memiliki anak Bibinya tetep bekerja di rumah Sinta.


" Bibi buatkan minum dulu ya Den, " tawar Bibi.


Kemudian bibi langsung menuju ke dapur lagi untuk menyediakan minuman dingin.


Dan Sinta ke kamar terlebih dahulu untuk mandi dan berganti pakaiannya, Surya pun sama masuk ke dalam kamar nya yang masih kosong dan terlihat rapi karena Bibi rutin membersihkan kamarnya setiap hari, jadi tidak ada debu atau pun berantakan.


Di kampus Bima masih ada kelas bimbingannya hingga pukul enam sore baru selesai, ketika masuk ke dalam kantor Bima terlihat sangat lelah dan bersandar di kursinya, meregangkan otot-otot nya yang kaku.


" Lagi apa ya Cinta, dan kenapa aku ajak dia untuk mau jadi tunangan ku ya, padahal baru ketemu sehari saja, kesalahan aku juga kenapa pula aku mencium keningnya di depan banyak orang, apakah ini yang dinamakan jodohku tak kemana, padahal bersama Gisel dulu tidak seperti ini, " gumamnya dan berfikir yang kejadian seperti ini seperti mimpi.


Bima melihat jam dipergelangan tangannya, dan udah jam tujuh malam, di dalam kantor hanya ada beberapa Dosen yang masih sibuk dan belum selesai bimbingan.


" Pak, Bu, saya pamit pulang dulu ya, karena saya sudah selesai semuanya, kalau begitu saya permisi dan selamat malam semuanya " pamit Bima pada para dosen yang masih menyelesaikan tugas nya masing-masing.


Ketika keluar dari kampus dan berada di depan gerbang kampus tiba-tiba....


Tin tin tiiinnnn.... Bunyi klakson mobil hitam yang berada di depan nya. Bima menyipitkan matanya tajam ke arah mobil itu, dan yang tak disangka mobil yang berwarna hitam itu penumpangnya adalah Gisel mantan kekasih Bima.


" Hai sayang,, baru mau pulang aku anter kamu pulang yuk" ajak Gisel sambil bermanja manja di lengan kekar Bima, Bima berusaha menghindari namun nihil Gisel terlalu agresif menahannya. Bima takut ada yang menyoroti mereka secara Gisel kan sekarang menjadi model terkenal dan takut nya lagi nanti jadi bahan settingan.

__ADS_1


" Maaf Sel, saya sudah memesan Taxi dan bentar lagi sampe kok" tolak Bima halus.


" Plis Bim, kali ini aja ya kamu mau aku antar pulang ke rumah kamu, aku kangen sama mama Lusi loh, " alibi nya.


Bima tetap menggeleng geleng kan kepalanya bertanda tetap menolak ajakan Gisel.


Taxi pun datang di depan Bima, kemudian Bima langsung masuk ke dalamnya takut nanti Gisel akan mencegahnya.


Hufttt... Nafas Bima lega berhasil menghindari Gisel yang selalu nekat ingin kembali padanya.


Cinta masih terus berada di dalam kamar, masih merasakan sakit kepala dan masih lemas.


Cinta mencoba memakai kan tas pemberian Pak Bima, ternyata cantik juga tas yang di berikan Pak Bima.


" Wah tas ini sangat bagus sekali, ya ampun Pak Bima ternyata seleranya sangat tinggi, " Cinta berbicara sendiri didepan cermin.


Ada rasa senang dan malu saat tunangannya menjenguknya, namun jika tunangannya tak datang untuk menjenguk maka kemungkinan dirinya akan terus marah tak karuan.


" Cinta sayang, Mama mau bikin teh manis kamu mau di bikinin sekalian tidak? " tawar Mamanya.


Saat memasuki kamar Cinta, dan melihat anaknya mondar mandir depan cermin memakai tas baru.


Mamanya hanya tersenyum melihat anaknya bahagia, setelah keluar dari kamar Cinta Mamanya menuju ke dapur untuk membuat teh manis anget.


Di dapur juga nampaknya Bibi sedang membuat sesuatu.


" Bibi lagi ngapain? kok tumbenan jam segini ada di dapur? " tanya Bunga pada Bibinya.


" Ini lagi bikin kopi untuk yang sedang jaga malam Bu, " jawab Bibi.

__ADS_1


__ADS_2