Cinta Kilat

Cinta Kilat
41 S2


__ADS_3

Malam pun tiba, sudah waktunya untuk istirahat.


Bima tidur disebelah kiri Tian, dan Cinta tidur disebelah kanan Tian. Tian berada di tengah-tengah mereka, sehingga jika Tian terbangun, baik itu Bima atau pun Cinta pasti terbangun juga.


Pukul dua belas malam, Tian menangis, Bima pun kaget, dan membangunkan Cinta.


"Ya ampun, Tian laper ya, tar ya" ucap Bima.


"Cin, Tian minta Asi" menggoyangkan badan Cinta agar terbangun.


"Emmmm, iya bentar" Cinta langsung bangkit, dan segera memberi Asi. Meskipun mata merem tapi tetap wajib memberikan Asi Ekslusif.


Karena hanya momen inilah berasa menjadi Ibu yang sesungguhnya.


Bima merasa kasihan melihat Cinta, yang terlihat begitu lelah dan masih mengantuk, harus terpaksa memberi Asi pada sang buah hatinya.


"Maafkan aku ya, karena aku kamu harus melahirkan anakku, dan harus bergadang di tengah-tengah kamu sedang terlelap." Bima mencium kening Cinta. Penuh cinta.


"Kok, kamu malah menyalahkan diri kamu sendiri sih, kan kita saling mencintai, aku tidak keberatan kok, Tian kan anakku juga, buah hasil perbuatan kita hihi" Cinta terkekeh.


Pagi telah tiba, Cinta sudah rapi dengan Tian yang sekarang dipangkuannya, untuk berjemur.


Bima pun menemani Cinta sebentar, karena ia akan berangkat ke kantor.


Jam sudah menunjukan pukul tujuh, Cinta selesai berjemur, dan Bima sudah selesai mandi. Untuk sementara Cinta belum bisa menyiapkan baju kerja Bima, akan tetapi Bima paham, dan mengerti keadaan Cinta untuk saat ini.


Cinta melihat Bibi memandikan Tian, Cinta hanya menatapnya bahagia.


"Sedang apa Sayang, kok berdiri depan bak mandi sih? " tanya Bima, lembut.


"Tian sedang dimandiin Bibi, lucu sekali dia" jawab Cinta, tersenyum melihat anaknya tersenyum saat dimandikan oleh Bibi, dengan sangat telaten. Cinta mana bisa melakukan hal seperti itu.


"Udah mau berangkat ke kantor? " tanya Cinta. Kemudian Cinta menuju ke meja makan, untuk menemani suaminya sarapan.


"Sayang, kamu sudah sarapan belum? " tanya Bima, khawatir Cinta belum sarapan sama sekali.


"Belum lapar, nanti makan bareng sama Tian" ujarnya.


Cinta pun menyiapkan sarapan untuk Bima, dan setelah selesai sarapan, Bima langsung pamit berangkat ke kantor.


Kedua orang tua Cinta masih berada di dalam kamarnya, sebab masih menyiapkan keperluan kantor.


"Duh, gara-gara Papah nih, sarapannya jadi telat deh" sungut Bunga, yang dari tadi menahan lapar.


" Loh, kok Papah sih Mah, kan Mama yang salah masukin baju dan dokumen, masa Papah lupa" suaminya tak mau kalah.

__ADS_1


"Duh, Cinta lagi apa ya, ya ampun sampai lupa sama anak dan menantu, " Bunga teringat dan langsung buru-buru kebawah, untuk melihat keadaan cucu, anak dan menantunya.


Tiba di ruang makan, Bunga celingak celinguk kanan kiri, sudah tidak ada siapa-siapa.


" Bi, kemana semuanya, kok sepi banget sih" tanya Bunga pada Bibi.


" Kalau Non Cinta sedang di depan, kalau Den Bima sudah berangkat ke kantor " jawab Bibi detail.


"Ya ampun, saya kesiangan, " ujarnya.


Kemudian melangkahkan kakinya untuk menemui, anak dan cucunya.


"Loh cucu Eyang sedang berjemur lagi ya,hemm baunya sudah wangi" Bunga berjongkok sambil mencium cucunya.


Kemudian Bunga meminta menggendong Tian, dan ikut berjemur bareng.


"Mah, Mama ngapain aja sama Papa di dalam kamar, sampai kita semua sudah selesai" tegur Cinta padanya, terlihat mencurigakan.


"Tuh, Papa kamu, dokumen kok narohnya lupa, terus minta cariin baju yang warna navi, biasanya kan Papa kalau simpen dokumen tuh di atas meja, eh tadi ada di kolong lemari baju, kan aneh" jawab Bunga, masih kesal jadi gak kebagian memandikan cucunya.


Bram langsung menaiki mobil tidak ingin sarapan terlebih dahulu, sebab sudah sangat telat.


"Loh loh loh, Pah, kok tidak sarapan dulu sih! " seru Bunga pada suaminya.


"Tidak deh Mah, Papa sudah telat banget, eh cucu Opa, tampan sekali, Opa berangkat dulu ya, jangan bikin Momy mu kesel ya" ucapnya sambil mencium kening Tian. Tian pun tersenyum seperti menanggapi Opanya.


Setelah Bram pergi, Bunga inisiatif membawakan bekal untuk suaminya.


"Ini sayang Tiannya, Mama mau bikin bekal untuk Papa kamu dulu, kasihan takut tidak ada waktu untuk makan" ucap Bunga perhatian pada suaminya.


" Iya Mah" balasnya.


Bunga pun kembali ke dapur untuk mengambil beberapa makanan, untuk diberikan pada suaminya.


Setelah selesai menyiapkan bekal untuk sang suami, Bunga meminta sopir untuk mengantarkannya.


"Ke kantor Mas Bram ya Pak" ujar Bunga pada Sopirnya.


"Siap Nyonya, laksanakan" ucap Pak Sopir bersemangat.


Tiba di kantor, Bunga langsung masuk, tak dihadang oleh karyawan lain.


Namun tetap saja Bunga harus menghargai posisi karyawan.


"Maaf Mbak, ada Pak Bram gak di ruangannya? " tanya Bunga pada resepsionis.

__ADS_1


"Bentar ya Bu, saya tanya dulu pada sekertaris" jawabnya sopan.


"Maaf Bu, Pak Bram lagi ada meeting, mau nunggu disini atau saya antar ke dalam? " tawar resepsionis.


"Saya kesana saja sendirian, terimakasih" tolak Bunga, dan berjalan menuju ruangan suaminya.


Bunga kaget ketika masuk ke dalam ruangan suaminya, ia mendapati suaminya sedang dalam posisi yang tak pantas dengan rekan bisnisnya.


Yang katanya ia sedang meeting.


"Oh, jadi ini meeting nya, sampai tidak mau sarapan dirumah, dan mau sama perempuan itu, bagus-bagus, kamu sangat hebat berdrama sekarang, " Bunga tak ingin banyak debat, Bunga langsung pergi meninggalkan suaminya.


Bram tak menyangka hal ini akan terjadi, padahal tadi sesuatu yang tidak disengaja.


Bunga berjalan setengah berlari, dan tak dapat menahan air matanya.


Kemudian Bunga mencari Taxi untuk segera pergi dari kantor suaminya.


"Pak ayo jalan, mampir ke kafe Z" perintahnya.


"Baik, Bu" ucap Sopir Taxi.


"Lepas, kamu ini apa-apaan, mencari kesempatan sekali, lihat tuh istri saya pasti marah besar! " seru Bram, pada wanita itu yang sengaja menjatuhkan dirinya, dipangkuan Bram.


"Bagus dong Pak, biar anda bercerai dan saya akan menjadi istri anda, " ucap wanita itu enteng.


"Jangan mimpi kamu! " geram Bram.


" Pergi kamu dari sini, jika tidak, saya akan membatalkannya!! " ancam Bram.


Wanita itu tersenyum sinis, dan licik melihat aksi Bram yang begitu kacau.


Bram frustasi dan menelpon Cinta, namun nihil Cinta tidak mengangkat telpon darinya.


"Duh, Mama kemana lagi, tak mau mengangkat telpon dariku, Ya Allah kenapa harus seperti ini sih, gara-gara perempuan itu, Bunga jadi marah pastinya" gumamnya.


Bram jadi tidak fokus bekerja dan tidak semangat, namun melihat ada bekal di atas meja yang tadi diberikan oleh istrinya.


"Perut ku lapar, Bunga sangat perhatian sekali" Bram pun memegang bekal itu, dan membukanya.


Bram sangat senang sekali, selalu diperhatikan oleh istrinya.


"Enak sekali, jadi mau menghabiskannya" ucap Bram, sambil mengunyah makanan dari istrinya.


Dikafe Z, Bunga langsung duduk dan menatap layar ponselnya, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Bram.

__ADS_1


"Loh, Bunga kamu ngapain disini? " tanya lelaki itu.


__ADS_2