Cinta Kilat

Cinta Kilat
42 S2


__ADS_3

"Loh, Bunga kamu ngapain disini? " tanya lelaki itu. Bunga mendengarkan suara itu dari belakang, dan terdengar tidak asing baginya.


Setelah menoleh ke belakang, ternyata Tomi, Papa Bima.


"Tumben kamu jam segini sudah berada di sini, ada masalah ya" tebak Tomi, melihat wajahnya yang sayu.


"Iya" singkat Bunga.


Tomi merasa sangat penasaran, tidak biasanya Bunga seperti ini.


"Aku paham, setiap kali kamu punya masalah past larinya ke tempat makan seorang diri, iya kan Bubu" Tomi keceplosan mengatakan Bubu, sebab Bubu adalah ucapan kata sayang.


Bunga pun sontak saja kaget, Tomi masih mengingat sebutan itu.


Bunga jadi salah tingkah, beruntung tidak ada orang yang mengenali mereka dikafe itu.


Tomi memberanikan dirinya untuk ikut duduk, di depan Bunga.


"Maaf boleh aku duduk sebentar di sini,? " tanya Tomi.


"Iya" jawab Bunga.


"Jadi ada masalah apa kamu sampai bisa ada disini sendiri tak bersama Bram, suami tercinta mu itu" tanya Tomi, penasaran.


Bunga masih belum bisa menjawab pertanyaan Tomi, yang seakan menekannya untuk menjawabnya.


"Bunga tidak sendirian, aku bersamanya, tadi aku ke toilet sebentar kok. Loh, ada Pak Tomi disini rupanya, sedang apa Pak Tomi? " tanya Bram, tersenyum sinis, dan melirik ke arah istrinya yang masih diam tak angkat bicara.


" Tadi, saya habis meeting, dan selesai meeting saya bertemu istri anda Pak Bram. Sepertinya dia habis menangis Pak Bram! " skak Tomi, membuat Bram gugup melihat ke arah Tomi.


Kemudian tak ingin memperpanjang cerita, Tomi paham situasi ini, pasti lagi ada problem pribadi.


Jadi Tomi pamit pergi dari hadapan mereka.


" Jangan pernah Loe sakiti Bunga, kalau itu sampai terjadi, gue gak bakalan tinggal diam" bisik Tomi, ditelinga Bram, yang sepertinya menahan amarahnya.


Tomi pun meninggalkan Bunga dan Bram.


Dengan tatapan sengit, Bram tidak menggubris ucapan Tomi.


" Sayang kita pulang yuk" ajak Bram, merayu.


"Tidak mau! " tolak Bunga, cepat.


"Oke, kamu marah sama wanita tadi bukan? " tanya Bram, sambil memandang wajahnya yang sayu.


"Papa sudah bosan sama Mama ya hiks hiks, sampai mau mencari daun muda" Bunga menitiskan air matanya, dan sesekali mengusap air matanya sendiri.


" Karena Mama sudah tua, dan bukan dari kalangan terpandang, jadi Papa mau mencari yang lebih dari itu, " Bunga sesegukan.


Bram masih mendengarkan curhatan istrinya, dan masih menghayati setiap ucapannya.

__ADS_1


"Papa, jika Papa mau mencari yang lain, tunggulah Mama kalau sudah tiada. " Ujarnya.


Mendengar itu, sontak saja mata Bram langsung membulat dan melotot ke arah Bunga.


"Mah, Mama kok ngomongnya ngaco sih, ya ampun Mah, gak mungkin lah Papa mencari perempuan lain, satu saja cukup dan tak pernah habis" Bram tak terima dikatakan seperti itu oleh istrinya, karena Bram tak ingin menjadi orang jahat, dan berjanji akan setia menemani Bunga setiap saat. Hingga ajak menjemput.


"Pah, Mama belum mau pulang, healing dulu yuk, kita nginep gitu dimana, Mama ingin seperti muda lagi Pah! " pinta Bunga, sedikit mengeraskan suaranya.


Bram pun melotot tak percaya akan keinginan konyol istrinya, seperti masa puber kedua.


Bram pun mengabulkan permintaan istri tercintanya.


" Mah, emang tidak apa-apa jika Cinta ditinggal? " tanya Bram, mengkhawatirkan Cinta.


"Tenang lah Pah, Cinta kan ada suaminya" enteng Bunga.


"Ya sudah yuk berangkat" ajak Bram, menggandeng tangan istrinya.


Bunga sangat senang diperlakukan seperti itu, sudah lama sekali suaminya tak bermesraan lagi, sejak memiliki Cinta, belum pernah lagi untuk diajak liburan.


Terakhir liburan pas mengandung Cinta, itupun pas mengidam.


Di rumah Imel, Imel nampak sedang mengerjakan sesuatu di layar laptopnya.


Dan terdengar bunyi ponsel panggilan tak terjawab berkali-kali, karena Imel mengabaikan panggilan tersebut, Imel tahu siapa yang menghubungi dirinya, sebab nada deringnya berbeda alias spesial.


Karena sudah tiga kali berdering, kini Imel mengangkat telponnya.


"Walaikumsalam, kamu sedang apa? " tanya Surya, Kakak dari Sinta.


"To the poin aja, aku lagi bikin skripsi nih, cepat katakan ada apa Kak! " seru Imel, terdengar ketus.


"Mel, jangan galak dong, masa sama calon suami kok kayak gitu sih" sahut Surya nampaknya sedikit kesal dengan nada Imel.


Imel pun terpaksa menutup laptopnya, karena takut nanti salah mengetik.


"Ya sudah, ada apa Kak, malam begini nelpon Imel? " tanya Imel dengan nada merendah.


"Besok aku jemput kamu ya Mel, mau bicara sesuatu yang sangat penting" imbuhnya.


" Besok tidak ada jam kuliah, aku mau tidur panjang saja. Lagi males banget Kak" lanjut Imel.


"Ya sudah, kita jalan aja bagaimana? " ajak Surya.


Imel senang namun, ia tak mau terlihat gembira, harus cuek dan diam.


"Jam berapa Kak, jangan sampai gue masih molor, Kak Surya sudah sampai rumah" pesannya.


"Jam delapan pagi saja ya, biar lama jalan-jalanny" sahutnya.


"Baiklah, " Imel pasrah.

__ADS_1


Kukuruyuk petok petok petok... Suara ayam tetangga bernyanyi, menandakan sudah jelang pagi.


Imel kaget, saat mendengar suara merdu ayam yang membuat ia terbangun.


Padahal masih pukul empat pagi, dan masih terlihat gelap.


Imel mengucek matanya, dan melihat ke arah dinding, dan benar saja masih pagi buta.


"Tuh, ayam tahu aja ada orang kangen, disuruh bangun pagi buta begini, hoaaaaammmm, ish masih mengantuk sekali" gerutunya, saat melihat jam dindingnya.


Imel pun tertidur lagi. Lagi-lagi ada yang membangunkan dirinya, dan ternyata Mamanya yang menggedor pintu, berulang kali.


"Ya ampun, gue tuh masih mengantuk sekali, siapa sih yang gedor pintu, sampai kencang sekali" gerutunya.


Kemudian dengan sangat terpaksa Imel membukakan pintunya, dan ternyata Mamanya dan disamping Mamanya adalah Kak Surya.


Imel melotot tak percaya, masa iya jam segini sudah ada Kak Surya.


Imel langsung menutup kembali pintunya.


Brakk!!! Suara pintu tertutup lagi, karena Imel merasa malu.


Ketika menutup pintu, tak lupa ia melihat ke arah jam di dinding, Imel hampir tak menyangka ternyata pukul setengah sembilan pagi.


"What, itu jam bener gak sih, perasaan tadi tuh pas gue bangun jam empat belum subuh deh, tapi kok, bangun-bangun gue kedatangan Kak Surya, gue gak mimpi kan ya" Imel bicara sendiri di dalam kamar, sambil mondar mandir tidak karuan.


"Mel, kamu cepatlah mandi sudah ditungguin nih" teriak Mamanya dari luar.


"Iya Mah, Imel mandi dulu ya" jawab Imel, berteriak lagi.


Surya yang baru saja melihat pemandangan yang indah alami, baru kali ini ia melihat Imel tanpa make up, ternyata cantik juga ya, bangun tidur tidak dilapisi peralatan kecantikan. Ternyata Imel memiliki wajah yang natural alami.


"Ya ampun, menggemaskan sekali Imel, kalau lagi berdua, ingin rasanya aku mencubit pipinya" gumam Surya dalam hati.


Surya dan Mama Imel pun langsung pergi meninggalkan kamar Imel.


Surya pun diminta untuk menunggu Imel diruang tamu, sambil menunggu Imel, Surya pun dihidangkan beberapa cemilan dan minuman oleh Mamanya Imel.


"Aduh, mau pake baju apa ya? " bingung Imel.


Mau memakai pakaian terbuka malu, nanti disangka agresif dan bukan wanita baik-baik lagi.


Pake gaun panjang ribet, yang ketat sesak nafas.


Imel masih memilih-milih baju apa yang harus ia pakai untuk berkencan dengan Surya.


"Aha yang ini aja deh, semoga cocok" matanya tertuju pada baju berwarna merah marun.


"Hai, selamat pagi, maaf lama menunggu ya" sapa Imel, tiba-tiba Surya tersedak melihat penampilan Ime yang sangat berbeda itu.


Uhuk uhuk... Surya terpenganga melihat Imel.

__ADS_1


__ADS_2