Cinta Kilat

Cinta Kilat
48 S2


__ADS_3

" Kalian jodoh tahu gak! " sentak Cinta, karena saking kesalnya.


"Gak! " serentak Vivi dan Vino mengelak.


Cinta pun tertawa melihat kekompakan Vino dan Vivi. Bima masih menggendong Tian yang masih terlelap.


"Udah biarin saja, mereka bertengkar membuat anak kita jadi nyenyak, lanjutkan saja ya adu debatnya" perintah Bima.


Vivi melotot ke Bima, Bima hanya tertawa kecil melihat ekspresi mereka.


Vino duduk dengan Asisten pribadinya, dan kini Vivi pun duduk dengan Cinta.


Vino melihat ke arah Vivi intens, membuat Vivi curiga.


"Napa loe lihat gue kayak gitu, terpesona loe sama gue! " seru Vivi, dengan nada tinggi.


Karena Vivi bikin Vino gemas, maka Vino mendekati Vivi dengan sangat dekat.


Membuat jantung Vivi bergetar dan berdetak kencang.


Vivi menelan salivanya, dan memalingkan mukanya ke sembarang arah, karena takut akan tatapan Vino yang garang.


"Kalau iya kenapa? Iya GUE TERPESONA SAMA ELOO!! " serunya lagi, berbisik ditelinga Vivi penuh penekanan.


Vivi mendorong Vino ke belakang, namun tidak goyah, sebab badan atletis loh nih Vino, tahan dorong hihi.


"Minggir Vinooooo!!!!! " teriak Vivi, sampai terdengar oleh Bima dan Cinta, Vino pun menutup telinganya.


"Ish kalian berisik sekali, pulang saja sana, bikin gaduh mulu heran gue" kesel Cinta, dan mengusir Vivi dan Vino.


"Vino, Cin, yang mulai duluan, bukan gue ih, " melemparkan kesalahan pada Vino.


"Loh, yang teriak itu siapa, gue diem aja tuh anteng banget duduk di sini, " elak Vino.


Imel dan Surya sudah sepakat untuk menikah bulan depan, sudah ada restu dari pihak Surya dan Imel.


" Assalamu'alaikum, halo Cinta dan keponakan Imel lagi apa? " sapa Imel dari ujung telpon.


"Walaikumsalam, Anteu, Anteu lagi apa, kalau Tian lagi belajar duduk nih" jawab Cinta, sambil memegang Tian yang sedang belajar duduk.


"Wuih keren, sudah bisa mau duduk" puji Imel.


"Eh tunggu loe beneran sudah khusnul khotimah nih pake hijab terus" tanya Cinta.


"Iya dong Cin, masa bohong sih" jawab Imel, bersemangat.


"Sore ini gue main ke rumah elo ya" lanjut Imel.

__ADS_1


"Iya loe datang aja, gue standby terus loh dirumah, " ujarnya.


Sore nya, Imel beneran ke rumh Cinta seorang diri, karena mengajak Vivi untuk saat ini Vivi sedang sangat sibuk.


"Assalamu'alaikum. Hai ganteng udah mandi belum? " tanya Imel pada Tian, anak Cinta.


"Walaikumsalam, udah dong Tante, udah halum nih" jawab Cinta pake bahasa bayi.


Imel dan Cinta kini duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Tian masih dalam gendongan Bibi.


"Ada apa tumben sekali sorean kesini, hayooo, " tanya Cinta setengah kepo.


"Ada apa ya, hem" pura-pura berfikir.


"Cepetan ngomong yang benar gue males kalau bertele-tele, " emosi Cinta.


"Gueeeee, mau menikah sama Surya, Cint, ya ampun impian gue banget, " girang Imel, sambil jingkrak-jingkrak.


Cinta pun ikutan merasa girang, sebab temannya yang berisik ini akan menikah dengan pasangannya.


"Alhamdulillah, ya Mel akhirnya impian loe sama kak Surya terjawab sudah hilalnya" Cinta merasa sangat senang sahabatnya itu akan menikah.


"Kapan Mel? " tanya Cinta.


"Bulan depan Cinta, do'ain gue ya" mohon restu dan doa dari Cinta.


Imel pun langsung pulang setelah memberi kabar pernikahannya dengan Surya, dan mampir ke rumah Vivi. Tapi sampai di rumah Vivi, Vivi masih belum pulang, masih berada di kantor ayahnya.


Setelah menunggu beberapa menit Vivi datang, dan langsung kaget melihat sosok Imel.


"Loh Imel, kok gak ngabarin gue sih mau kesini tuh" tegur Vivi.


"Gue gak bisa Vi, nungguin loe aja deh dirumah, elo sibuk mulu kayaknya tuh" tebak Imel.


"Iya" lirih Vivi, hatinya sedang kacau, karena mendapat kabar bahwa Vivi akan dijodohkan oleh Ayahnya, dengan rekan bisnis.


Yang katanya rekan bisnisnya itulah yang sudah menyelamatkan Perusahaan Ayahnya.


"Kok loe sedih gitu Vi, kenapa? " tanya Imel heran melihat sahabatnya itu dengan raut wajah yang lesu.


"Gue pusing Mel" ucapnya memelas.


"Ih kebanyakan drama banget, tinggal bilang udah kelar, main tebak muka gitu, gue bukan cenayang ya Vi" kesel Imel.


Imel jadi urung memberitahu pernikahannya dengan Surya, sebab tak tega melihat wajah sedih dari Vivi.


"Certain dong, kamu punya masalah apa? " tekan Imel.

__ADS_1


"Jadi gini Mel, gue disuruh nikah sama cowok yang udah menyelamatkan perusahaan Ayah, padahal aku masih ada hubungan dengan Riki, tapiiiii gue gak tahu sebenarnya Riki tuh cinta sana gue apa gak, " Vivi lesu dan sedih.


"Siapa orang yang akan loe jodohin elo" tanya Imel penasaran.


"Itu dia gue tidak tahu" tambah frustasi.


"Oh iya, loe mau ngomong apa? lanjut Vivi.


" Gue mau nikah sama kak Surya, satu bulan lagi, jangan lupa bantuin gue ya" ucap Imel.


Imel pun langsung pulang kerumah setelah mampir di rumah Vivi.


Mendengar cerita Vivi, jadi teringat Cinta dan Riki dulu yang Cinta ceritain.


Imel langsung mandi dan rebahan di kasur empuk, dan menghubungi calon suaminya itu.


Satu bulan kemudian, Imel resmi menikah dengan Surya, dan tinggal di Apartemen pribadi Surya yang begitu mewah.


Surya dan Imel, Arya dan Sinta, bertetanggaan di Apartemen tersebut


Cinta masih belum mau tinggal di Apartemen, katanya tidak ada kebahagiaan alam, tidak seperti di rumah, semuanya terlihat.


Tinggal kisah Vivi yang belum kelar, Riki pun kini memberanikan diri untuk bicara empat mata dengan Vivi.


"Vi gue mau bicara, tapi loe janji gak bakal nyesel, dan gue harap loe mau menerima keputusan gue" ucap Riki.


Riki dan Vivi berada di rooftop kantor, cuma ada mereka berdua, tapi dari kejauhan Vino memperhatikan mereka.


"Bos, kita pergi saja dari sini, saya bosen lihat wanita itu" Vino mendelik, dan menatap Asistennya tidak suka.


"Kamu bilang apa tadi" tegur Vino pada Asistennya.


"Tidak ada Bos, lupakan saja" Asistennya nyengir kuda.


Vino memperhatikan mereka, takut ada diantara mereka yang akan terjun dari atas itu.


" Vi, gue minta maaf, bukan depan gue mau menikah dengan wanita lain, aku harus menikah dengan dia, karena perjanjian aku dan wanita itu, bulan depan dulu waktu masih dengan Cinta pun aku sudah dijodohkan Vi, makanya aku menghilang " ucap Riki jujur.


Mendengar hal itu, Vivi pun pasrah dan tak ingin berdebat banyak, hanya senyo yang Vivi berikan untuk Riki.


Riki pun pamit mengundurkan diri dari pekerjaannya, sebab di luar Negeri ia akan meneruskan perusahaan Papanya.


Riki sudah berpamitan dengan Vivi, dan Ayahnya.


Padahal sejak awal Ayah Vivi tidak menyukai Riki.


Bersyukur Riko sydah tidak lagi dengan Vivi, karena Riko bukan tipe mantu Alvin.

__ADS_1


__ADS_2