Cinta Kilat

Cinta Kilat
8


__ADS_3

"Benar kan yang Mamang bilang tadi, pasti perempuan tadi gebetan nak Bima, " ujar Mang Rudi.


"Hanya bentuk pertanggungjawaban aja sih Mang, dia satu Sekolah juga sama Mona anak Mang Rudi." lanjutnya.


"Benarkah?" Mang Rudi tak hapal tempat dimana Mona Sekolah karena biaya sekolah Mona ditanggung oleh Bima, selama Mang Rudi bekerja di bengkel maka biaya sekolah Mona ditanggung semuanya.


Sementara di rumah Cinta, Cinta kesal atas kejadian hari ini di mulai dari pagi hingga sore ini, selalu bikin kesal dari orang sekitar terutama Pak Bima, Cinta melemparkan tas nya di sofa ruangan televisi ketika melemparkan tas ternyata di sana ada Mamanya, Mama Cinta bernama Bunga dan Papa Cinta bernama Bram. sehingga nama Perusahaan mereka bernama BBC yaitu Bram Bunga Cinta. Keluarga Cinta tak terlalu begitu kaya namun cukup diantara semua sahabat Cinta yang paling terkaya adalah Sinta namun Sinta tak di perbolehkan untuk mengendarai mobil atau sepeda motor sendirian harus dengan sopir pribadi.


"Sayang kamu kenapa, tas dilempar kasar begitu muka kusut pulang pulang tak memberi salam ada masalah apa coba cerita ke Mama nak," ujar Mama Bunga sambil menepuk tangannya ke atas sofa kode Cinta disuruh duduk di samping Mamanya.


"Gimana gak kesel Ma, dari pagi sampe sekarang ketemu sama orang aneh bin ajaibnya minta ampun" cerita Cinta pada Mama Bunga.


Mama Bunga mengerutkan kening nya tak mengerti dan geleng-geleng kepala nya.


"Siapa yang sudah bikin anak mama yang Cantik ini kesal dari pagi sampe sekarang" tanya Mama Bunga.


Tak menjawab pertanyaan mama nya malah berdiri menuju ke kamar nya. Mama Bunga memperhatikan Cinta dengan heran dan terus menatap Cinta sampe Cinta masuk ke dalam kamar nya.


"Tuh anak di tanyain main pergi aja, ga jawab dulu pertanyaan orang tua, " sungut Mama Bunga. Mama Bunga tak mikirin tingkah remaja itu karena bagi Mama Bunga di usia remaja seperti Cinta lagi pada masanya jadi Mama Bunga tak perlu ambil pusing toh dulu juga Mama Bunga pernah mengalaminya.


Di dalam kamar Cinta mondar mandir di depan pintu memikirkan ucapan Pak Bima yang katanya Pak Bima akan datang besok siang, itu artinya Cinta harus bersiap untuk itu.


Kemudian bayangan ketika Cinta di cium oleh Pak Bima di depan kantor Sekolah terus menari nari di atas kepala nya dan terkadang muncul di langit langit kamar nya, ya ampun Cinta perasaan apakah ini?.


"Ish kenapa gue ngebayangin cowok bunglon itu ya, di luar tampan sekali tapi kalau di Sekolah ya ampun gak bisa ditebak banget modelan cowok kayak gitu, tapi ceweknya cantik banget, model masa kini lagi, napa bisa putus,?" Cinta bertanya tanya sendiri dan terkadang tersenyum sendiri membayangkan ciuman tadi, kesel malu namun ada rasa dag dig dug nya nih jantung.


" Bodoh amat lah, mungkin Pak Bima hanya bercanda aja, mana mungkin mau melamar gue yang masih SMA, sedangkan Pak Bima kan udah kolot banget, kalau iya beneran gimana aaaahhhk, " bingung Cinta teriak di bawah bantal agar tak kedengeran dari luar.


Sementara di rumah Bima, Bima sudah pulang ke apartemen pribadinya yang belum diketahui sang mantan pacarnya. Karena Bima baru saja membeli Apartemen sederhana agar tak ada yang mengikutinya.


Bima masih membayangkan insiden tadi pagi pas menabrak Cinta sehingga dipertemukan di Sekolah, Bima berfikir keras bahwa pertemuan Cinta dan dirinya sesuatu yang tidak di sengaja atau Tuhan mempertemukan mereka yang artinya mereka berjodoh.


"Dari pagi sampe sore ketemu sama gadis kecil itu, lumayan cantik dan cerdas juga anaknya, kenapa ya selalu bertemu dalam seharian ini dengan gadis kecil itu?, bahkan aku mengabaikan Gisel yang dulu nya aku benar-benar tergila-gila dengan Gisel, " Bima bicara sendiri menatap langit langit kamar nya yang berwarna putih.


Kemudian tersenyum dan beranjak pergi ke kamar mandi.


Setelah mandi Bima langsung mencari nama siswi Kelas Bisnis yaitu Cinta, dan berhasil di temukan, melepaskan kacamata nya kemudian Bima kembali tersenyum.


"Akhirnya" meregangkan ototnya, menoleh ke arah jam dinding ternyata sudah pukul sebelas malam, dan Bima pun naik ke ranjang untuk tidur,

__ADS_1


"Cinta, gadis kecil ku Aku dan Kamu akan bertemu besok, jangan kaget ya gadis kecilku, " Bima langsung menutup mata setelah berdoa dan mengucapkan kalimat itu.


Sinta terus menatap foto masa kecilnya yang kini telah lama pergi namun kini datang kembali.


"Arya, kamu kenapa kembali tak memberikan kabar padaku" menatap sendu foto masa kecilnya sewaktu di pesantren, karena dulu Sinta pernah mondok hanya tiga tahun dan hanya untuk bisa belajar mengaji.


Ketika tadi pagi Sinta akan berangkat ke sekolah tak sengaja Sinta berpapasan dengan Arya di jalan, entah Arya hendak mau kemana Sinta tidak tahu, tapi dari penampilan nya seperti mahasiswa. Apakah Arya kuliah di sini?.


Imel dan Vivi sedang bertukar pesan melalui aplikasi hijaunya hanya Imel dan Vivi saja yang ramai di grup empat sahabatnya.


" Vi, grup kayak kuburan ya" tukas Imel.


"Iya Mel, melebihi kuburan mungkin" jawab Vivi.


"lagi pada ngapain sih heran gue," gerutunya


" Eh Vi, gue udah habiskan cemilan tadi perut gue kenyang banget sumpah sampe sekarang masih kenyang ".


" Gimana gak kenyang loe habiskan semuanya".


"bunciiit nihhhh".


"Kurang asem loe nyatain gue gemuk, masa iya sehari doank bisa bikin gemuk, " sambil menatap perut nya.


Hening beberapa menit kemudian muncul sosok Sinta.


"Hadiiiiir, " sapa Sinta.


"Rh nyai loe santri assalamu'alaikum kek, " sahut Imel mengingatkan.


"Sory,, assalamu'alaikum semua nya,, lagi pada bahas apa yaa" tanya Sinta sambil menyapa para sahabat nya.


"Lagi pada buncit" ujar Imel.


"Loe aja kali yang buncit, gue ogah" terang Vivi.


"Ce i en te a loe kemana woyyy" tulis Imel gemes karena cuma Cinta yang belum muncul.


"Dia lagi pusing guys, mikirin Pak Bima besok wkwkwk" canda Vivi.

__ADS_1


"Ada apa dengan besok Vi, " kepo Sinta.


"Tanyain aja sendiri" lanjut Vivi.


Cinta di kamar hanya menatap ponsel sembari liat grup para sahabat nya yang lagi rame namun Cinta lagi badmood banget. Dan tak mau berkomentar apa yang di katakan oleh Vivi. Hanya mencebikan mulut nya.


"Ckck"


Kemudian Cinta lama kelamaan jadi ingin mengatakan bahwa besok pagi ingin bertemu dengan mereka semuanya.


"Vi, loe bilang apa hem" ujar Cinta.


" Eh Cinta udah gabung nih" ujar Imel.


"Besok loe semua harus datang kerumah gue, ingat jangan lupa dateng pukul sepuluh pagi ok, gak perlu pada tanya ada apa ok, byee gue mau tidur mau ngumpulin nyawa buat besok ketemu loe pada,! " langsung menonaktifkan aplikasi hijaunya, kemudian Cinta langsung tidur.


Tak terasa jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi namun Bima belum siap siap untuk pergi ke rumah Cinta, karena Bima ingin ijin terlebih dahulu pada mamanya, mama Bima bernama Lusi sedangkan papanya bernama Tomi. Lalu Bima bergegas keluar dari Apartemen untuk meminta restu pada mama Lusi dan papa Tomi.


Setiba di rumah kedua orang tua nya, Bima tak lupa ucapkan salam dan mencium punggung tangan kedua orang tua nya.


"Assalamu'alaikum Mah, Pah, " memasuki rumah yang di ruang tamu ternyata sudah ada Mamah Lusi dan Papah Tomi sedang berbicara dengan Pak RT serta warga lainnya yang akan mengadakan acara pengajian di masjid besar di perumahan tersebut sehingga RT di tugaskan untuk meminta sumbangan di temani oleh beberapa warga lainnya.


"Walaikumsalam" serentak semua yang berada di ruang tamu menjawab salam dari Bima.


Bima langsung mencium tangan Mamah dan Papahnya dan berjabatan tangan dengan Pak RT serta beberapa warga yang berada di rumah kedua orang tua nya.


"Kalau begitu kami permisi dulu Pak bu, Terima kasih" pamit Pak RT serta warga yang lainnya.


"Ada apa Mah, Pah, kok tumben banyak tamu di rumah ini,? " tanya Bima.


"Itu di depan rumah kita kan ada Masjid dan akan mengadakan pengajian Bim, jadi kita di mintain sumbangan seikhlas nya, " jawab Papah Tomi.


"Oh" Bima ber oh aja.


Mamah Lusi dan Papah Tomi saling pandang bingung dengan kehadiran Bima yang pagi pagi sudah berada di sini.


"Oh ya kamu kenapa pagi sekali ke sini nya nak, biasanya sore atau malam mampir, ada apa Bim, apa ada masalah berat,? " tanya Mamah Lusi.


Bima geleng-geleng, namun Bima harus berani mengatakan nya.

__ADS_1


"Begini Mah Pah, Bima mau melamar anak gadis orang, " ujar Bima pelan takut papah nya marah.


__ADS_2