Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
18. Sembunyi


__ADS_3

Riana belum juga sadar, operasi yang ia jalani sukses. Saat ini ia telah dipindahkan ke ruang perawatan. Audrey setia menemaninya, di temani ketiga sahabatnya.


Siang ini giliran Nabila yang menemani Audrey, ia datang membawa makan dan baju ganti sahabatnya itu.


"Drey, cincin siapa itu?" Nabila menunjuk jari manis Audrey saat gadis itu tangah memijit pelipisnya.


"Oh ini, punya tante Tika. Lupa kembalikan."


"Cincin mama Tiara mana? Aku baru sadar kamu nggak pakai cincin itu lagi."


"Hilang, tapi lupa dimana." Audrey nampak sedih mengingat cincin itu.


Tampak pergerakan dari Riana, Nabila langsung memencet tombol yang tersedia untuk memanggil perawat. Tak lama kemudian, seorang Perawat muncul bersama dokter.


"Sudah ada perkembangan yang baik, jangan khawatir. Masa kritis nyonya Riana sudah lewat." kata dokter itu setelah memeriksa Riana.


"Apakah ada luka yang fatal dokter? Maksud saya luka yang bisa membuat kak Riana cacat atau semacam itu?" tanya Audrey.


"Sejauh ini, tidak ada. Luka dalamnya akan berangsur pulih."


Setelah mengucapkan itu dokter keluar diiringi ucapan terima kasih Audrey dan Nabila.


"Drey, kenapa sih dulu kak Rangga nggak langsung nikahin kak Riana aja? Kan dia juga tahu trik yang dibuat kak Shera?"


"Nggak tahu juga sih Bil. Tapi kalau nggak salah, orang tua kak Riana buru-buru nikahin kak Riana sama kak Riswan. Keburu malu sama kasus palsu itu."


"Pasti sakit ya rasanya." mata Nabila menerawang.


"Sama-sama belum pernah patah hati Bil, mana aku tahu." Audrey mengangkat bahunya sambil tersenyum.


Nabila menatap Audrey dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu berubah sekarang. Sejak pulang dari rumah Kakek."


"Berubah? Bagaimana maksudnya?" Audrey mengernyit.


"Jauh lebih ramah dan hangat." Nabila tersenyum.


"Kami senang dengan perubahan ini."


"Kalian sahabat terbaik yang Tuhan beri padaku. Ada banyak cinta disekitarku yang selama ini tidak terlalu aku pedulikan. Terima kasih ya." Audrey menggenggam tangan sahabatnya.


"Untuk apa?" Nabila mengernyitkan dahi.


"Karena tetap bersamaku walaupun aku menyebalkan."


"Astaga Drey, biasanya pasangan kekasih yang ngomong kayak gini. Aku masih normal lho Drey." Erika menatap horor.


"Ya kan bukan cuma orang pacaran yang perlu kesabaran dan pengertian. Jadi sahabat juga kan perlu kayak gitu. Baru bisa disebut BEST FRIEND FOREVER. Kalau nggak gitu kan bisa ngumbar aib sahabat kemana-mana."


"Iya deh iya, ngerti kok." Kedua sahabat itu berpelukan.


"Aku juga mau dipeluk." Isabela tiba-tiba sudah muncul dan bergabung.


Mereka cekikikan setelah melepas pelukan itu.


"Aku mampir bawa buah dan minuman ringan untuk kalian." Isabela menunjuk tas belanjanya.


"Thanks Isa." Nabila tersenyum.


"Iya, aku langsung pergi ya. Ada latihan buat pertunjukan Swan Lake."


"Sipp, hati-hati ya."


.


.

__ADS_1


.


Drrttt...Drrttt...Drrttt...


"Ya Ra, ada perkembangan?" tanya Rangga begitu menerima telpon dari Yura.


"Sementara ini dia hanya berpindah-pindah tempat sembunyi kak. Hanya satu sampai dua jam, dia akan pergi lagi." Yura melaporkan hasil pemantauannya pada Rangga.


"Baiklah, besok sore kakak sudah tiba. Jangan beri tahu Audrey sama sekali."


"Iya kak, aku tahu. Aku juga tak mau Audrey berhadapan langsung dengan Kak Riswan. Entah apa yang akan dia lakukan pada laki-laki itu."


"Terima kasih Yura." Rangga memutus sambungan.


"Bagaimana nak?" tanya Sebastian pada putranya itu.


"Yura sedang memantau pergerakan Riswan pa."


Sebastian mengangguk-angguk sambil memegang dagunya.


"Kita serahkan pada yang berwajib saja Rangga, jangan main hakim sendiri." Sebastian mengingatkan.


"Iya pa, makanya aku melarang Yura memberi tahu Audrey."


"Bagaimana pengamanan di Rumah Sakit? Papa takut Riswan mengambil langkah nekat."


"Kalau begitu Rangga jadi lebih takut sama gadis-gadis itu. Riswan ngantar nyawa ke RS." Rangga tersenyum kecut.


"Benar juga kata-kata kamu." Sebastian menepuk-nepuk bahu Rangga. "Ngga, kamu sama Riana ....."


"Pa, Rangga tidak mau bahas ini dulu ya." Rangga menatap papanya dengan tatapan memohon.


"Ya baiklah."


.


.


.


Seorang pria dengan tampilan acak-acakan mengamuk, memukuli pintu tempatnya bersembunyi.


"Apa susahnya sih tinggal ngasih uang? Cuma 200 Juta gitu kok. Arggghhhhh!!!!! Wanita bodoh."


Riswan berteriak melampiaskan kekesalannya.


Sore itu ia meminta uang pada Riana saat istrinya baru pulang kerja.


Ia sudah ditagih hutang oleh orang suruhan bos rumah judi. Tapi Riana menolak memberikan uang, malahan memberi berbagai macam nasehat yang membuat Riswan naik pitam.


"Kalau kamu mau main judi, kamu kerja dong, dan pakai gaji kamu untuk judi. Penghasilanku ini biar untuk kebutuhan hidup kita saja ya."


Selesai Riana berbicara Riswan langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi pada istrinya itu. Harga dirinya terluka, ia kalap.


Padahal jika dipikir kembali, Riana mengatakan itu dengan lembut. Tidak ada nada menghina dalam setiap ucapannya. Yang Riana pikirkan hanya kebaikan rumah tangga mereka.


Namun karena Riswan tidak mencintai Riana, dan sering merasa kesal pada wanita itu, maka apapun yang diucapkannya akan menyulut emosi Riswan.


Tok..Tok..Tok..Tok...


Riswan bangkit dan mengintip melalui celah yang sengaja dibuat di pintu itu. Setelah mengenali siapa yang datang, ia membuka pintu.


Seorang pemuda datang membawa bungkusan berisi makanan dan perlengkapan lain yang diperlukan Riswan.


"Aku tidak diikuti." kata pria itu saat melihat wajah Riswan yang tegang.

__ADS_1


"Syukurlah. Bagaimana? Kau dapat informasi mengenai Riana?" tanya Riswan.


"Ya, dia dilarikan ke RS Mitra oleh sekuriti kompleks. Kata perawat yang aku beri sogokan, dia sudah melewati masa kritis tapi belum sadar."


Riswan menghela nafas berat.


"Apa yang akan kau lakukan? Polisi akan memburumu."


"Entahlah, aku merasa sedikit bersalah. Terlebih lagi beberapa bulan yang lalu mama Riana meninggal, menyusul papanya." Riswan menunduk.


"Serahkan diri, setidaknya hukumanmu akan lebih ringan." sang tamu memberi saran.


"Entahlah Toni, aku tidak berani." Riswan memijit pelipisnya. "Siapa yang menjaga Riana?"


"Katanya keluarga pimpinan perusahaan, beberapa gadis." jawab Toni sambil menyulut rokoknya.


"Berarti Audrey dan teman-temannya."


"Audrey?" Toni menatap Riswan dengan alis bertaut. "Apakah yang ini orangnya?" ia menunjukkan ponselnya yang menampilkan foto Audrey.


Dia memotret Audrey ambil diam-diam saat pertama kali melihat gadis itu di kafe tepi pantai.


"Ya benar." jawab Riswan singkat sambil mengunyah makanan yang dibawa Toni.


"Dia gadis yang menembak kakiku." Toni menggeram.


Hahahahahhahahaa...


Toni menekuk wajahnya melihat Riswan menertawakannya.


"Bersyukurlah kau tidak dalam keadaan koma." kata Riswan setelah tawanya mereda. "Apa yang kau lakukan hingga membuatnya menembakmu?"


"Aku memaksanya ikut ke club dan memaksa minta nomor ponsel."


Riswan manggut-manggut," Ada lagi?"


"Itu saja."


"Jangan bohong, aku tahu siapa Audrey. Dia bukan orang yang semudah itu menyakiti orang yang mengganggunya."


"Mengapa kau bisa mengenalnya?"


"Saat baru menikah, aku suka bertanya pada Riana tentang orang-orang yang ada disekitarnya. Semacam, ingin mengenalnya lebih dekat." Riswan mengucapkan kalimat terakhir dengan pelan.


Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan-lahan.


"Jadi, ceritakan apa yang kau lakukan sampai membuat gadis itu berubah menjadi monster."


Toni menatap Riswan, menelan salivanya dengan kasar kemudian mulai menceritakan dari awal hingga terjadi penembakan.


Hahahahahahhahaha


Riswan kembali tertawa terbahak-bahak, sepertinya ia lupa jika sedang bersembunyi.


"Berhentilah menertawaiku. Haisssshhhhh, kakak sepupu menyebalkan." Toni menggerutu.


"Kau juga, terlalu percaya diri. Tidak semua gadis bisa jatuh ke pelukanmu hanya dengan satu kerlingan mata." Riswan meneguk air mineral.


"Dan sekarang lihat hasilnya. Bukan gadis yang kau dapatkan, malah peluru."


Toni kesal mendengar itu, tapi dalam hati ia membenarkan juga perkataan sepupunya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2