Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
45. Kau Marah?


__ADS_3

Bugh...


Bugh...


Bugh...


Billy jatuh tersungkur di lantai, ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Sama sekali ia tidak membalas pukulan yang dilayangkan Aaron padanya. Audrey gegas berlari menuju lobi utama mansion setelah seorang pelayan memberi tahunya.


Matanya nanar menatap calon suaminya yang menggila, sementara disisi lain seorang wanita sedang menangis memegang perutnya. Gestur alami khas seorang wanita hamil jika merasa ada ancaman.


"Sudah kuperingatkan, jangan pernah bermain dengan gadis baik-baik!! Puaskan kegilaanmu pada wanita panggilan!" Aaron berdiri menjulang di atas tubuh Billy yang telah terbaring di lantai.


Dengan berani Audrey mendekati Aaron dan berdiri di samping pemuda itu.


"Honey." kalau bukan demi wanita yang tengah mengandung itu, tidak mungkin Audrey bisa memanggil Aaron seperti itu.


Aaron sedikit terkejut, ia menatap Audrey. Warna merah terlihat di puncak pipi gadisnya. Audrey tengah menatapnya malu-malu.


Astaga!!! Bagaimana bisa marah kalau melihatnya semanis ini.


Aaron membuang muka, emosinya jadi tak stabil.


"Honey." Audrey memegang lengan Aaron. "Kau menakuti wanita itu."


Aaron melihat ke arah Wina, wanita yang dimaksud oleh Audrey. Ia mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menyingkir dari tubuh Billy. Masih dengan air mata yang mengalir, Wina gegas menghampiri Billy, membantu pemuda itu berdiri.


"Segera nikahi dia, jangan tunggu perutnya membesar." perintah Aaron.


"Apa maksud semua ini?!" Arneta tiba-tiba muncul. Ia mengernyit melihat Billy yang babak belur. Ditambah lagi kiri seorang gadis cantik dan masih muda tengah memeluk Billy sambil menangis.


"Aku akan segera menikahi Wina." ucap Billy tanpa menghiraukan tatapan Arneta.


"Siapa yang akan kau nikahi, Billy?!" Arneta bertanya dengan tatapan tajam.


"Kekasihku." jawab Billy datar.


Kedua tangan Arneta mengepal, raut wajahnya penuh dengan kemarahan. Audrey memperhatikan perubahan itu dengan alis yang bertaut.


"Kau akan meninggalkanku Billy?" suara wanita paruh baya itu bergetar.


"Jangan bicara yang aneh-aneh Tante. Hubungan kita hanya sebatas bisnis." Billy menatap sinis pada Arneta.


Wanita itu terkesiap, apa yang dikatakan Billy memang benar adanya. Namun tetap saja, rasa nyeri itu muncul di hatinya. Ia mengeraskan rahang, mencoba menghalau rasa sakit yang datang. Ditatapnya gadis yang melekat erat pada Billy. Lebih cantik dan lebih muda. Keyataan yang tak terbantahkan.


"Ayo kita pergi." kata Billy pada Wina. "Maaf sudah melukai sahabatmu." Billy menatap Aaron sekilas kemudian melangkah pergi.

__ADS_1


"Biar aku yang menyetir." terdengar Wina berbicara saat mereka sampai di mobil.


Tubuh Arneta bergetar, ia berbalik dengan mata nyalang. Terlihat buliran bening mulai mengalir sedikit demi sedikit. Aaron dan Audrey melihat semua itu.


"Menjijikkan." desis Aaron geram.


Audrey melirik Aaron sekilas kemudian beranjak pergi. Pemuda itu mendengar langkah kaki Audrey kemudian mengikutinya.


"Honey." Aaron memegang lengan Audrey karena gadis itu tampak acuh padanya.


"Kau marah?" manik mata kedua insan itu bertemu. Audrey tidak menjawab, ia memegang tangan Aaron dan membawanya ke ruang kerja.


Sesampainya disana gadis itu langsung pergi meninggalkan Aaron sendirian dan muncul kembali dengan kotak obat di tangannya. Aaron duduk di kursi kerjanya, netra pemuda itu tak lepas memandangi setiap pergerakan Audrey.


Sementara yang ditatap tetap bungkam. Ia menghampiri Aaron dan memeriksa tangan kanan pemuda itu. Ia berlutut agar mudah mengobati tangan Aaron.


"Audrey tahu kakak sedang marah. Tapi tak bisakah kakak menahan diri di depan seorang wanita hamil?" Audrey berbicara lembut tanpa menatap Aaron. Ia hanya fokus merawat luka di buku-buku jari pemuda itu.


"Seandainya tadi tidak ada Wina disana, Audrey akan membiarkan kakak memukulinya. Tapi kasihan kak sama janin mereka. Kalau mamanya stres, janinnya bisa merasakan." jemari Audrey terus saja mengobati luka Aaron.


"Kasihan kak, janinnya tidak bersalah." Audrey menatap Aaron dengan sendu. "Kakak mengerti kan maksud sikap Audrey tadi?"


Aaron hanya mengangguk menatap Audrey dengan penuh cinta.


.


.


.


Roki menerima map itu, membuka dan membaca dengan seksama. Senyumnya terbit setelah membaca keseluruhan isi dokumen itu.


"Senang berbisnis dengan anda Tuan Sebastian." Roki berdiri dan mengulurkan tangannya. Sebastian menatap datar, kemudian dengan enggan ia berdiri dan menerima ajakan Roki untuk berjabat tangan.


Rangga membuka pintu mempersilahkan tamu mereka keluar dengan hati yang panas. Sedang pria tadi hanya melambai-lambaikan map di depan wajah Rangga, aura wajah Roki penuh dengan senyum kepuasan.


Drrtt...Drrtt...Drrttt...


Ponsel Roki bergetar saat ia sedang berada di lusr kantor menunggu mobilnya. Roki mengambil ponsel dari saku celananya dan menerima panggilan itu dengan dahi berkerut samar.


"Ya."


"........"


"Baiklah."

__ADS_1


Tepat setelah ia menutup telepon, mobil yang dibawa supir pribadinya tiba.


"Rumah Sakit Mitra."


"Baik tuan."


Mobil pun melaju menuju alamat yang ia sebutkan tadi, Rumah Sakit tempat istrinya dirawat. Setibanya disana, ia menuju ruang kerja Dokter spesialis penyakit dalam yang merawat sang istri.


"Ada apa?" tanya Roki begitu dipersilahkan duduk oleh dokter.


"Kami sudah menemukan penyebab istri anda mengalami komplikasi." Dokter itu menatap Roki dengan pandangan menyelidik. "Sebelum saya melanjutkan, ingatlah satu hal. Semua pertanyaan saya hanya demi Profesionalisme pekerjaan."


Roki menautkan kedua alisnya. "Baiklah, saya mengerti."


Dokter menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Apa anda sering jajan di luar?"


"Jajan?" Roki masih belum mengerti arah pembicaraan ini.


"Maksud saya, apa anda sering berhubungan s**s dengan wanita selain istri anda?"


Roki sedikit terkejut, namun ia cepat menguasai dirinya.


"Apa hubungannya dengan kondisi istri saya?" tanya Roki dingin dan datar.


"Hasil MRI menunjukkan adanya kerusakan kecil di otak istri anda. Dan itu disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, penyebab sifilis. Biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sampai pada tahap ini. Namun karena kondisi tubuh istri anda, maka penyakit ini berkembang dengan cepat."


"Jika tidak keberatan kami akan melakukan pemeriksaan kesehatan anda Tuan Roki." imbuhnya saat Roki tak merespon penjelasannya.


Roki hanya menunduk, sejurus kemudian ia menatap dokter itu.


"Tidak perlu. Saya yakin anda salah." Roki seakan tak peduli. "Permisi." ia beranjak dari sana dengan pikiran yang tak menentu.


Ia berjalan menuju ruang perawatan sang istri. Roki melihat begitu banyak benda menempel pada tubuh wanita yang telah menemaninya selama 25 tahun. Roki memang bukan suami setia, ia kerap meniduri wanita lain yang dianggap menguntungkan dan menambah kekayaannya, seperti Arneta.


Arneta?! Mungkinkah aku tertular dari wanita itu?


Tangannya mengepal. Sialan, bukan mendapat perusahaan aku malah mendapat penyakit.


Ia menatap wajah istrinya, mata indah wanita itu sudah lama tak terbuka. Ada perasaan bersalah menyusup ke hatinya. Terlebih lagi melihat wanita itu hidup dengan bantuan alat.


Roki duduk di tepi brankar, perlahan ia mengusap tangan istrinya yang semakin kurus. Hhhhh, setelah ini aku akan membawamu ke luar negeri untuk menyembuhkan penyakitmu. Bertahanlah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2