
Keesokan harinya adalah makan malam resmi yang diadakan Sekolah Tari keluarga Isabela bagi seluruh penari yang tampil pada pementasan Swan Lake. Semua diwajibkan membawa keluarga masing-masing. Orang tua Isabela bahkan mengundang semua rekan bisnis mereka.
Isabela, Sang Bintang Utama terlihat sangat anggun dengan gaun malam berwarna Baby Pink. Di sampingnya Leon senantiasa menemani, sedang Vicy sudah bergabung bersama balerina lain yang seumuran dengannya.
Sofia memakai gaun malam berwarna merah menyala tanpa lengan dan model potongan leher yang sangat rendah hingga menampilkan sedikit buah ****nya. Ia sengaja berpakaian seksi untuk menarik perhatian Aaron.
"Selamat malam Kak." suaranya dibuat selembut mungkin saat menyapa Aaron.
Aaron yang sedang berbincang bersama Damian dan Bram menoleh ke sumber suara. Ia mendapati Sofia sedang menampilkan senyum manis ditambah tatapan sensual yang menggoda.
"Keluarga Isabela mengundang wanita malam juga?" Bram bergumam pelan agar pertanyaannya hanya bisa didengar oleh Aaron dan Damian. Kedua pemuda itu terkekeh pelan.
"Dia putri dari klien Papa." Aaron tidak berniat menjelaskan lebih lanjut. Bram lantas mengamati penampilan Sofia, kemudian ia kembali menatap Damian dan Aaron sambil geleng-geleng kepala.
Merasa Aaron masih bersikap acuh, Sofia mendekat dan bergabung dengan ketiga pemuda itu. Mita mengamati tingkah Sofia dari jauh, ia menggoyang lengan Nabila.
"Kau tidak ingin menghampiri calon suamimu? Sepertinya ada yang mulai tebar pesona." kata Mita sambil terus menatap ke arah suami dan rekan-rekannya.
Nabila ikut melihat ke arah pandangan Mita. "Oo, gadis itu. Namanya Sofia, ia sedang mengincar Kak Aaron. Bukan Kak Damian." kata Nabila dengan tenang.
"Tapi bukan berarti kau bisa setenang ini." Mita protes melihat tingkah Nabila.
"Tunggu Audrey dulu kak. Nanti kami kesana." Nabila beralasan. Ia sebenarnya tak mau berada di dekat Damian.
Ternyata Isabela datang menghampiri Mita dan Nabila.
"Mana Kak Leon?" Nabila mencari calon suami Isabela.
"Disana, sedang berbicara dengan Papa." Isabela menunjuk ke belakang, arah ia datang.
"Hai, maaf terlambat." Audrey tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka. Karena mereka sedang mengikuti arah yang ditunjuk Isabela, otomatis ketiganya terkejut memegangi dada.
Audrey mengecup pipi ketiganya bergantian, ia juga membawa hadiah kecil untuk Isabela.
"Drey, lihat." Mita menunjuk Aaron dengan tangannya. Audrey tersenyum melihat itu, ia paham maksud Kak Mita.
"Aku kesana dulu ya." dengan langkah lebar Audrey mendatangi Aaron yang terlihat menahan amarah dengan keberadaan Sofia di sampingnya.
"Honey."
__ADS_1
Aaron terkejut mendengar suara itu, ia segera memalingkan wajah. Pemuda itu tak menyembunyikan ekspresi kekaguamannya dengan penampilan Audrey. Gadis itu mengenakan dress model Cheongsam yang modern dengan lengan yang panjang sampai ke siku. Dress berwarna biru elektrik itu terlihat anggun memeluk tubuh Audrey. Ketat di bagian atas sampai pada batas pinggang, kemudian rok itu melebar sampai ke lutut.
Audrey juga menyanggul rambutnya, memamerkan lehernya yang jenjang. Tusuk konde sangjit yang dikenakan berbentuk phoenix dan dipermanis dengan untaian mutiara dalam ukuran kecil. Penampilan calon Nyonya Muda Saka membuat beberapa pemuda yang melihatnya berdecak kagum.
Aaron mengulurkan tangannya dan disambut oleh gadis itu. Setelah mendekat, Aaron segera melingkarkan tangan kanannya pada pinggang ramping Audrey.
"Kau mengagumkan, Honey." Aaron berbisik mesra di telinga Audrey. Gadis itu tersenyum tipis, ia terlihat menahan malu.
"Selamat malam Kak." Audrey menatap Damian dan Bram bergantian. Keduanya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Aku akan menghampiri Mita." Bram berpamitan dan menyeret Damian.
"Kenapa membawaku?" Damian tak terima di tarik Bram.
"Karena kau harus lebih dekat dengan calon istrimu." jawab Bram santai.
Sofia menunjukkan raut wajah kekesalan dengan kedatangan Audrey. Ia baru ingin mengucapkan sesuatu saat seorang wanita menghampiri.
"Audrey, benar Audrey kan." wanita itu tampak ragu awalnya.
"Iya Nyonya Zara." Audrey tersenyum.
Sofia terkejut mendengar ucapan wanita yang baru bergabung dengan mereka. Gadis kecil ini ternyata seorang Direktris!
"Senang bertemu dengan anda, Nona. Saya Arsyad, suami Zara." pria itu mengulurkan tangan hendak berjabat tangan dan disambut Audrey untuk menunjukkan kesopanan.
"Saya Audrey, dan ini calon suami saya, Aaron Bagaskara." ucap Audrey memperkenalkan Aaron. Kedua pria itu lantas bersalaman, sedang Nyonya Zara terlihat kecewa.
"Ternyata sudah punya calon suami, padahal saya ingin Nak Audrey jadi menantu saya." kata Zara terang-terangan.
"Terima kasih atas kebaikan Nyonya. Maaf, saya sudah menemukan pujaan hati saya." Audrey tersenyum ramah kemudian menoleh menatap Aaron dengan penuh cinta.
"Pemuda yang beruntung." Arsyad menepuk bahu Aaron. "Kami kesana dulu." kemudian ia mengajak istrinya berpamitan.
Aaron dan Audrey tersenyum menatap kepergian suami istri itu.
"Ekhmm!" Sofia berdehem, membuat sepasang kekasih itu menoleh.
"Kau mungkin cantik dan seorang Direktris." Sofia mulai berbicara saat mendapat perhatian Audrey dan Aaron. "Namun aku masih lebih baik darimu." ia menatap sinis pada Audrey. Padahal ia sudah berpenampilan seksi, tapi masih tak bisa membuat Aaron berpaling padanya.
__ADS_1
"Apakah Kak Aaron sudah buta? Tidakkah Kakak lihat aku lebih baik dari gadis ini?" Sofia merubah nada bicaranya menjadi lebih manis saat menatap Aaron.
"Aku akan membatalkan perjanjian kita Tuan Marthen. Secepatnya kami akan mengirim ganti rugi karena memutus kontrak sebelum pekerjaan selesai." suara Bagaskara terdengar datar dan dingin.
Sofia, Aaron dan Audrey terkejut saat menoleh ke samping ternyata Bagaskara sudah ada di samping mereka bersama Marthen dan Sebastian.
"Aku tak terima puteriku direndahkan seperti ini, Tuan Marthen. Akan kami tarik semua pengawal pribadi yang kalian sewa. Beserta ganti rugi karena melanggar kontrak." Sebastian menambahkan.
Sofia dan Marthen melebarkan mata mendengar ucapan Sebastian. Mereka menatap Audrey yang sedang digandeng Aaron.
"Halo Tuan, saya Audrey Mutiara Sebastian. Senang bertemu dengan anda." Audrey mengulurkan tangannya dan disambut oleh Marthen. Pria itu hanya mengangguk karena masih terkejut ditambah lagi mendengar nama lengkap Audrey.
Marthen lantas menatap Sebastian dan Bagaskara bergantian. "Saya akan menarik Sofia dari pekerjaan ini. Tolong jangan memutus kontrak kita." Marthen menatap Bagaskara, mencoba mengubah pendirian pria itu.
"Pa..." Sofia hendak melayangkan protes, namun terdiam setelah melihat wajah Marthen yang memancarkan aura menyeramkan.
"Tuan Sebastian, tolong jangan tarik kembali pengawal-pengawal anda. Saya berjanji, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi." Marthen menatap Sebastian penuh harap.
"Pa, Audrey tidak apa-apa kok. Jadi lanjutkan saja." Audrey tersenyum lembut pada Sebastian.
"Iya Pa, kita kan harus profesional." Aaron mengingatkan Papa Bagas.
Kedua pria itu menghela napas dengan kasar.
"Baiklah." kata keduanya bersamaan.
"Terima kasih." Marthen tersenyum pada Bagas dan Sebastian, kemudian pada Aaron dan Audrey.
"Ayo pergi." pria itu menarik tangan Sofia sebelum putrinya itu semakin mempermalukannya.
Audrey menatap punggung kedua orang itu dengan senyuman tipis. Namun saat keduanya berbelok, ia sedikit terkejut melihat Damian yang sedang menggandeng Nabila dan membawa sahabatnya itu keluar dari gedung menuju taman yang terlihat dari dalam ruangan.
Senyumannya mengembang sempurna begitu melihat raut wajah Nabila yang malu-malu. Audrey lantas menyenggol lengan Aaron dan menunjuk Damian dan Nabila menggunakan dagunya.
"Sepertinya sudah ada kemajuan." Aaron bergumam dan tersenyum.
.
.
__ADS_1
.