Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
40. Aku Mau


__ADS_3

Yura berlari menuju pintu karena belnya tak mau berhenti berbunyi. Ia terkejut saat mengintip dari lubang pintu.


Kak Rangga!


Yura membuka pintu dengan debaran tak beraturan didadanya. Ia merasa kesulitan menghirup udara.


"Selamat malam Ta." Lengkungan indah di wajah tampan Rangga membuat Yura semakin gugup.


"Se-selamat malam kak." Yura terbata.


Rangga menaikkan kedua alisnya. "Kakak tidak dipersilahkan masuk Ta?"


"Eh..i-iya. Iya, silahkan kak." Yura menyingkir dari pintu agar Rangga bisa masuk, kemudian ia menutupnya.


"Mana Audrey?"


"Sudah kembali bersama tante Tika tadi siang kak." tampaknya Yura sudah berhasil mengendalikan dirinya.


Rangga manggut-manggut dan duduk di sofa. "Kakak mau minum apa?"


"Bisa tolong buatkan teh?"


"Baiklah, tunggu sebentar ya kak." Yura tersenyum.


Yura berjalan menuju dapur dengan pikiran tak menentu. Ia teringat Audrey, sekarang bagaimana ia akan membuka percakapan tentang sandiwara Audrey.


Dengan cekatan Yura membuat teh, serta memotong kue yang tadi siang dibuat oleh mereka sebelum Audrey pergi.


"Buat kue juga Ta." suara Rangga mengejutkan Yura.


"Ya ampun Kak, bikin kaget saja. Kenapa nggak tunggu didepan saja kak? Atau di balkon kalau memang kakak jenuh." Yura menatap Rangga dengan wajah bingung.


"Cuma mau temani kamu saja." Rangga tersenyum. "Sudah selesai? Biar aku bawa."


Yura mengangguk dan membiarkan Rangga membawa nampan itu. Rangga menuju balkon, rupanya ia ingin berbincang dengan Yura disana.


Yura kembali merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Tapi bukan karena Rangga, melainkan karena Audrey. Ia belum dapat menemukan kalimat apa yang cocok digunakan untuk membuka percakapan.


"Aku kira kakak masih lama di kota Y."


"Tidak, beruntung situasi di sana sudah kondusif. Kami menemukan orang yang dapat dipercaya, jadi kakak langsung pulang hari ini."


"Oo, begitu." Yura bingung mau bertanya apa lagi.


"Katanya ada yang ingin disampaikan?" tanya Rangga setelah meneguk tehnya.


"Ini soal Audrey kak."


"Ada apa dengan adikku itu? Apa ia mematahkan tangan seorang pria lagi?"


"Ti-tidak kak." Yura tersenyum kecut. Peristiwa tahun lalu itu masih sangat membekas rupanya.


Tahun lalu Audrey dan teman-temannya sedang bersantai di sebuah resort. Tiba-tiba seorang pemuda mendekati mereka. Ia memaksa Audrey untuk bergabung dengannya bersenang-senang di sebuah club malam. Audrey menolak, namun pemuda itu tak suka dibantah.


Karena bersikeras akhirnya terjadi perkelahian. Latar belakang memiliki kemampuan seni bela diri taekwondo, dengan percaya diri pemuda itu yakin bisa menyeret Audrey. Namun semua tak sesuai harapannya. Bukannya membawa Audrey ke clubbing. ia justru berakhir di ruang IGD dengan cedera pada tangannya.


Pemuda itu mengancam akan melibatkan orang tuanya yang notabene seorang pejabat negara. Lagi-lagi nasib sial masih setia memeluk pria itu. Papanya adalah pejabat yang berusaha meminta jatah atas proyek negara yang dimenangkan Sebastian. Alhasil tak ada yang mampu menyelamatkan pemuda mengenaskan itu.


Terkadang karena memiliki kemampuan lebih, harta, atau kedudukan, membuat segelintir orang berfikir mereka bisa dengan mudah mendapatkan apa yang mereka mau. Tak segan memandang rendah pada sesama tanpa tahu siapa yang dihadapi.


"Sebenarnya Audrey membantu keponakan Tante Tika kak." lanjut Yura.


"Membantu apa?"


"Berpura-pura menjadi istri pemuda itu."


Rangga memicingkan matanya, ia menatap Yura dalam-dalam. Mencoba mencari kebohongan dalam kalimat yang dilontarkan gadis itu.

__ADS_1


"Kau tak bercanda kan Ta." Rangga menginginkan kepastian.


"Tidak kak."


"Baiklah, sekarang katakan padaku alasan Audrey menyetujui sandiwara konyol ini."


"Keponakan Tante Tika memiliki ibu tiri. Wanita itu mencelakai papanya dua tahun lalu. Saat ini ia mempengaruhi pemegang saham untuk bisa mendapatkan harta melalui pernikahan."


"Keluarga mereka tidak setuju, jadilah ia meminta bantuan Audrey. Sebab jika harta mereka jatuh ke tangan wanita itu, bisa dipastikan ia akan menghentikan pembiayaan rumah sakit khusus kanker dan beberapa yayasan sosial mereka."


Rangga diam, ia memikirkan baik-baik alasan adikknya.


"Siapa nama pemuda itu?"


"Namanya Aaron kak. Aaron Bagaskara, putra Om Bagaskara Saka."


"Ternyata putra Om Bagas."


"Kakak kenal?"


"Pernah dengar cerita dari Papa saat aku bertanya bagaimana Papa mengenal Tante Tika. Saat muda Om Bagas mencintai Mama Tiara." kata Rangga dengan santainya. "Sekarang putranya dekat dengan Audrey." Rangga tersenyum geli.


"Takdir kadang sangat suka bercanda dengan kita." imbuhnya lagi dan menatap Yura dalam-dalam. Yura jadi gelagapan dibuatnya.


"Masalahnya adalah wanita yang menjadi ibu tiri Kak Aaron."


"Siapa dia?"


"Namanya Arneta." Yura meneguk salivanya dengan susah payah. "Kakak mengenalnya sebagai...Rebecca."


Rangga melebarkan matanya, rahangnya mengeras, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Ia berdiri kemudian membalikkan tubuhnya, ia mengangkat tangannya yang terkepal untuk meninju udara.


"Audrey!!!" geramnya marah.


Sejujurnya Yura ketakutan, tapi kalau ia tak bisa membujuk Rangga, keadaan akan semakin runyam. Yura meneguk air putih yang ia siapkan untuk dirinya sendiri. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Setelah merasa lebih tenang, ia berdiri dan menghampiri Rangga. Yura berdiri di sisi kiri Rangga, kemudian ia mengulurkan tangannya. Saat hampir menyentuh pundak pemuda itu, ia menghentikan tangannya. Sejenak ia ragu, jantungnya berdentam.


Rangga terkejut, namun sentuhan Yura berhasil mengurangi emosinya. Perlahan namun pasti, tubuhnya yang tadi menegang karena marah perlahan menjadi lebih rileks.


"Maaf membuatmu takut." ucapnya sambil menunduk. "Hhhh, aku tak habis pikir dengan Audrey."


"Kakek menyetujuinya kak, itulah kenapa Audrey berani untuk membantu." Rangga diam, Yura pun masih belum mengangkat tangannya dari bahu Rangga.


"Lagipula aku tak membiarkan dia sendirian disana kak. Aku membawakan beberapa perangkat agar kita bisa mengetahui situasinya."


Rangga menatap Yura lembut. "Kami menyayanginya kak, kami juga tak ingin ia terluka. Tapi kakak sendiri tahu bagaimana Audrey jika ia sudah bertekad. Kalian kehilangan Mama Tiara. Audrey kecil hancur karena Rebecca. Jadi sekarang ia tak mungkin menutup mata, bertingkah tak peduli saat ia tahu Rebecca tengah mengahancurkan keluarga lainnya." Yura membalas tatapan Rangga dengan lembut.


"Tolong jangan marah pada Audrey kak. Jika ia menuruti amarah dalam hatinya, pasti Rebecca sudah mati saat pertama kali mereka bertemu di Sunrise Resort." entah dari mana Yura menerima transferan keberanian hingga ia bisa lancar berbicara bahkan membalas tatapan Rangga.


"Audrey tidak akan berubah menjadi monster seperti yang kita takutkan. Percayalah kak, ia akan menang melawan dirinya sendiri."


Rangga tersenyum, ia mengusap kepala Yura dengan sayang. "Audrey sangat mengandalkanmu untuk membujukku rupanya."


"I-itu..." Yura hanya bisa meringis karena salah tingkah. Rangga menatapnya dalam-dalam.


"Ijinkan kakak memelukmu Ta." pintanya, dan tanpa pikir panjang Yura mengangguk setuju. Rangga tersenyum dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Ia meletakkan dagu di bahu Yura, kemudian memjamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu. Sungguh perasaan yang menenangkan. Keduanya terdiam cukup lama, Yura tak berani mengingatkan. Ia sudah bersusah payah meredakan kekesalan Rangga. Lebih baik dibiarkan saja dulu sampai pemuda itu benar-benar tenang.


"Yunita Nara." dalam pelukannya Rangga menyebut nama lengkap Yura.


"Ya kak, ada apa?"


Rangga melonggarkan pelukannya kemudian menatap Yura dengan tatapan penuh damba.


"Kakak menyayangimu, kakak mencintaimu." ucapnya dengan mantap. Yura merona mendengar pernyataan cinta itu. Ia ingin menunduk namun Rangga dengan cepat memegang dagunya.

__ADS_1


"Bersediakah kau menjadi pendampingku Ta? Temani aku menghabiskan sisa hidupku."


Sontak Yura membelalakkan kedua matanya, Apakah ini lamaran untuk menikah?


"Maaf tidak memintamu untuk jadi kekasihku, aku ingin segera memilikimu seutuhnya. Lagipula kita sudah saling mengenal sejak lama, sejak kau masih kecil. Aku sudah tahu semua seluk beluk tentangmu." Rangga memberikan alasan.


Yura paham, terlebih lagi dengan kejadian yang menimpa Riana. Sepertinya Rangga tak ingin masa lalu kembali terjadi.


"Bolehkah Yura memikirkannya dulu kak? I-ini sangat mendadak. Yura akan memberi tahu mama dan papa."


Rangga mengangguk. "Silahkan, aku akan menunggumu." tangannya mengusap pipi Yura dengan lembut. Perlahan ia mendekatkan wajahnya.


Drtt...Drtt...Drt...


Ponsel Yura menjerit meminta diangkat. Yura segera melepaskan tangan Rangga, saat berbalik ia diam-diam menghembuskan nafas lega. Rangga hanya tersenyum samar mengetahui Yura menegang saat ia hendak menciumnya.


"Eh, papa." Yura terkejut saat melihat layar ponselnya. Ia segera menerima panggilan video itu.


"Halo pa."


"Halo anak papa yang cantik."


"Sedang apa sayang?"


"Sedang ada tamu pa. Kak rangga berkunjung." Yura menggerakkan ponselnya agar Rangga masuk ke dalam jangkauan kamera. Yura memang selalu terbuka tentang kehidupannya, oleh sebab itu orang tuanya sangat mempercayai dirinya.


"Hai om." sapa Rangga saat sadar ia masuk frame. Ia mendekati Yura dan duduk di samping gadis itu dengan sangat dekat.


"Hai calon menantuku, bagaimana kondisimu?" Kahfi menyapa Rangga.


"Papa!!" Yura menatap tak percaya.


"Ada apa sayang? Om Sebastian menemui kami disini beberapa hari yang lalu untuk melamarmu, tentu saja kami langsung menyetujuinya." Kali ini Mama Keyko muncul di layar dan ikut berbicara. "Kakek dan nenek juga setuju, Yura chan tenang saja." imbuhnya.


"Tapi yang mau menjalani kan Yura ma. Kenapa tidak ada yang memberitahu Yura sebelumnya?" Yura kecewa menjadi yang terakhir tahu hal ini.


"Memangnya kau akan menolak, hmm?" Papa menggoda Yura, sontak wajah anak gadisnya memerah. Papa Kahfi tahu jika Rangga sering menghubunginya. Dan binar bahagia Yura saat menceritakannya pun menandakan Yura memiliki rasa pada Rangga.


"Aku akan sangat sedih jika kau menolakku. Lebih baik aku lompat saja dari balkon ini." Rangga pura-pura terluka, ia akan beranjak namun Yura segera menahannya.


"Apa sih kak?! Aku kan tidak bilang tidak."


"Jadi kau menerimaku?" Rangga kembali duduk dan menatap Yura dengan penuh semangat.


Wajah Yura mulai merah lagi. "Jadi apa jawabmu sayang?" Mama Keyko bertanya.


"Aku..."


Drtt...Drtt...Drtt


Panggilan grup masuk, Rangga mengernyit karena yang tertera nama Papa dan Tante Tika. Setelah ia mengangkat tampak wajah papa dan Audrey. Sepertinya Audrey berada di perpustakaan, karena belakangnya penuh dengan buku.


"Haiiiii." Audrey sangat bersemangat.


"Hai pa, hai Drey." Rangga mengarahkan ponselnya agar dapat melihat layar ponsel Yura.


"Apa kami terlambat?" tanya Sebastian.


"Tidak, kalian tepat waktu." jawab Kahfi.


Rangga mengatur ponselnya dan Yura sedemikian rupa, agar semua bisa terlihat. Kemudian ia mengambil tangan Yura dan mendekapnya di dada.


"Jadi, maukah kau menjadi teman hidupku?" Rangga menatap Yura dengan sangat lembut, senyuman manis selalu tersungging di bibirnya.


Yura menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Iya kak, aku mau." ucap Yura tegas diwarnai senyum malu-malu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2