Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
51. Tertidur


__ADS_3

Makan malam di restoran khas negara J itu berlangsung aman. Awalnya Isabela berpikir akan canggung dan dingin selama makan. Ternyata tidak seperti itu. Vicy yang ceria membuat suasana lebih hidup, bahkan Leon sesekali menanggapi candaan Vicy juga Isabela dan ikut tertawa.


Isabela melihat sisi lain Leon saat bersama buah hatinya, tidak ada cuek, datar dan dingin. Yang ada hanyalah sikap hangat seorang Daddy.


"Miss, ada itu." kata Vicy tak jelas sambil menunjuk sudut bibirnya.


"Ada apa Vicy?" Isabela menautkan alis tidak mengerti, sementara Vicy masih tidak memindahkan jarinya.


Isabela meraba-raba dagunya dengan kerutan jelas pada dahinya. Leon menatap wajah Isabela kemudian tersenyum lembut.


"Permisi." ucapnya lalu mengulurkan tangannya ke arah bibir Isabela. Dengan lembut ia mengusap sudut bibir itu. Isabela yang terkejut merasa tubuhnya membeku, matanya menatap mata Leon.


Ia menahan napasnya saat dirasa posisi Leon terlalu dekat. Bahkan setelah mengusap saus di sudut bibir Isabela, Leon tak langsung menyingkir. Ia membalas tatapan Isabela dengan lembut dan dalam.


"Ekhmm, sudah bersih kan Dad." suara cempreng Vicy membuat keduanya terkejut, Leon segera menarik tubuhnya.


Isabela tak dapat menahan rasa panas pada pipinya yang disertai rona merah. Leon melanjutkan makan sambil sesekali melirik Isabela. Sedang Isabela terlihat lebih banyak diam.


"Kami akan mengantarmu lebih dulu." kata Leon saat mereka sudah keluar dari restoran. Isabela hanya mengangguk mendengar ide itu. Posisi duduk mereka seperti saat mereka akan berangkat tadi.


"Miss, terima kasih sudah mau makan bersama kami." tiba-tiba Victoria sudah melongokkan kepalanya dari arah belakang.


"Iya Vicy, sama-sama." Isabela menoleh dan tersenyum pada gadis itu.


Cup....


Tiba-tiba Vicy mengecup pipi Isabela dengan cepat.


"Eh." Isabela terkejut dan memegangi pipinya yang dikecup Vicy. Ia tersenyum saat gadis kecil itu sudah kembali ke posisi duduknya.


Baru saja beberapa menit keluar dari restoran, mobil mereka bergerak sangat lambat. Bahkan kadang-kadang mereka terpaksa berhenti. Beberapa petugas lalu lintas tampak berdiri di sepanjang jalan.


"Permisi pak, ada apa ini?" tanya Leon pada seorang petugas setelah menurunkan sedikit kaca pintunya.


"Maaf atas ketidaknyamanannya pak. Di depan ada kecelakaan lalu lintas. Oleh sebab itu terjadi kemacetan. Mohon pengertiannya pak."


"Baik pak, terima kasih informasinya." ucap Leon dan segera menaikkan kacanya.


"Sepertinya kita akan lebih lama sampai di rumah." kata Leon.


"Iya dad, tidak apa-apa." kata Vicy sambil memainkan ponselnya. Gadis itu menguap lalu menimpan ponsel ke dalam tasnya.


"Miss, Vicy tidur dulu ya."


"Iya Vicy." kata Isabela sambil melihat ke jok belakang.


Suasana hening di dalam mobil, Isabela merasa badannya ikut pegal karena situasi yang kaku. Ia berinisiatif melihat Vicy, tampaknya gadis kecil itu suda terlelap.


"Apakah nyaman tidur seperti itu?" gumamnya pelan lalu ia menatap Leon yang ternyata sedang melihatnya, mungkin karena mendengar gumaman Isabela tadi.


"Ijinkan saya menemani Vicy di belakang, kasihan dia."


Leon hanya mengangguk kemudian membuka kunci pintu. Isabela turun dan bergegas memutar menuju pintu di belakang kemudi. Beruntung sedang macet, jadi semua mobil berhenti.

__ADS_1


Perlahan Isabela mengangkat seluruh tubuh Victoria dan meletakkan di kursi. Ia ikut duduk dan mengatur agar kepala Victoria tergeletak dengan nyaman di pahanya. Leon mengamati itu semua dari spion.


"Tidak usah mengantar saya Tuan. Kasihan Vicy sudah lelah. Saya bisa naik taksi dari sana." Isabela menatap spion saat berbicara, Leon melirik sebentar kemudian mengangguk.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil mereka mulai bergerak lagi. Walau lambat, setidaknya sudah berjalan. Sesuai saran Isabela, ia pulang untuk membawa putrinya terlebih dulu. Namun ia tak kan mengijinkan Isabela pulang dengan taksi.


Di rumah yang mereka tuju, seorang wanita terlihat berdiri di pintu masuk dengan cemas. Namun ia terlihat lega begitu melihat mobil Leon memasuki halaman.


Leon segera turun dan membuka pintu penumpang yang berada di kiri. Dengan hati-hati ia meraih putrinya dan menggendongnya masuk ke rumah. Sedang Isabela membantu dengan membawa tas Vicy.


"Selamat malam Tante Nita." sapa Isabela setelah turun dari mobil.


"Malam ma." Leon mengecup singkat kepala mamanya dan masuk.


"Eh, Isabela." Nita tersenyum lembut melihat kedatangan Isabela. "Selamat malam. Ayo masuk, ikut Leon saja. Tolong sekalian bawa tasnya ke kamar Vicy ya."


"Iya tante." Isabela melangkah cepat menyusul Leon yang sudah lebih dulu masuk.


Kamar Victoria terletak di lantai dua rumah itu, dengan warna dinding serta perabotan dominan warna merah muda. Leon membaringkan putrinya perlahan, kemudian melepas sepatu yang dikenakan Victoria.


Isabela masuk dan meletakkan tas Vicy di sebuah meja bundar yang terletak di tengah ruangan. Ia melihat sejenak interaksi Leon dan putrinya kemudian keluar dari kamar.


"Isabela, pulangnya biar diantar Leon ya." ucap Tante Nita yang sudah ada di depan kamar Vicy.


"Tidak perlu tante, biar saya memesan taksi saja."


"Jangan begitu, kan kamu sudah mengantar Vicy pulang. Sekalian, biar Leon membawa kue brownies buatan tante untuk mama kamu."


Isabel ragu, namun ia tak enak jika mengeluarkan kata penolakan lagi pada wanita yang tengah tersenyum hangat padanya.


Mereka berdua turun ke bawah untuk menunggu Leon. Satu kotak kue sudah tersedia disana. Di lantai dua, Leon bergegas ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Saat ini ia turun dengan mengenakan kaos oblong dan celana denim selutut.


"Sepertinya Leon sudah siap mengantarmu." kata Nita saat melihat putranya turun.


Isabela meletakkan cangkir teh yang telah ia minum. Kemudian melihat ke arah tangga.


"Maaf harus merepotkanmu Tuan."


"Tidak apa-apa miss."


"Kenapa formal sekali panggilannya?" Nita menautkan alis mendengar ucapan Isabela dan Leon.


"Isabela, usia Leon hanya beda tujuh tahun denganmu, jadi jangan memanggilnya seperti itu. Panggil sajak Kak Leon." kata Nita lembut.


"Eh, i-iya tante."


"Ma, sebaiknya Leon mengantarnya sekarang." kata Leon sambil membawa kotak kue itu.


"Ya baiklah. Kalian berdua hati-hati di jalan ya."


"Saya permisi tante."


Nita mengantar tamunya sampai ke pintu utama. Leon meletakkan kue itu di kursi belakang. Segera ia mengemudikan mobil menuju rumah Isabela.

__ADS_1


Suasana di mobil hening, Isabela hanya menatap pemandangan di sampingnya. Tiba-tiba mobil berhenti karena Leon mendadak menginjak rem.


"Ada apa Tuan?!" Isabela terpekik.


"Tiba-tiba seekor kucing melintas." kata Leon menarik napas lega. "Tuan?" ia menaikkan satu alisnya.


"Saya belum terbiasa mengganti panggilan."


"Terserah kau saja." kata Leon datar dan kembali melajukan mobilnya.


Karena hanya diam dan latihan yang menguras tenaga, Isabela akhirnya tertidur. Leon tersenyum saat melirik Isabela yang sudah pulas. Sampai mobil berhenti di halaman rumah, Isabela masih belum bangun. Leon pun tak ada niat untuk membangunkan gadis itu.


"Selamat malam tante." sapa Leon sambil membawa kue. "Ini dari mama."


"Selamat malam. Wah, bilang sama Nita terima kasih ya." Mama Tanu tersenyum ramah. "Mana Isabela?"


"Dia tertidur." Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Bolehkah saya menggendongnya ke kamar, Tante?"


"Tentu saja boleh. Biar tante buka pintu kamarnya." Tanu segera masuk ke rumah dan menuju kamar Isabela. Sementara itu Leon kembali ke mobil, melepas sabuk pengaman gadis itu dan menggendongnya.


Tanpa hambatan berarti, Leon membawa Isabela menuju kamar. Setelah berhasil menaiki tangga, ia berpapasan dengan Tanu.


"Terus saja ke depan, kamar paling ujung sebelah kanan." katanya memberi informasi.


Leon mengangguk dan segera menuju kamar Isabela. Ia memasuki kamar, aroma Lavender memenuhi hidungnya. Perlahan dibaringkannya Isabela di kasur, kemudian melepas sepatu gadis itu. Ia tersenyum, malam ini ia sudah melakukan hal yang sama pada dua orang gadis beda usia.


Dengan lembut ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Isabela. Leon tak langsung pergi, ia memindai kamar balerina itu. Warna ungu beserta degradasi warna itu memenuhi ruangan. Mulai dari cat sampai perabotan di dalamnya.


Kemudian ia menatap Isabela yang tak terganggu sama sekali dengan perpindahan darinkursi ke kasur. Tanpa ia sadari tangannya terulur mengusap rambut Isabela, bahkan wajah Leon sudah mendekat. Menikmati wajah cantik itu sepuasnya. Belum lagi otaknya bereaksi, bibirnya sudah mengecup singkat kening Isabela.


Leon terkejut, ia mendekap mulut dengan kedua tangannya. Astaga! apa yang sudah kulakukan?


Mencegah hal lain terjadi ia langsung keluar dan menutup pintu pelan-pelan.


Di bawah Tante Tanu sudah menunggunya dengan senyum terkembang.


"Apakah ia terbangun?"


"Tidak tante."


"Dasar, anak itu. Maaf sudah menyusahkanmu Leon."


"Tidak apa-apa tante, saya permisi dulu."


"Ya, sekali lagi terima kasih kuenya ya."


"Iya tante."


Leon tersenyum dan gegas meninggalkan rumah itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2