
Di sebuah kamar yang dekorasinya serba pink, seorang gadis muda terlihat kacau balau. Perabotan yang berada di kamar itu bahkan sudah tak beraturan letaknya. Beberapa benda terlihat pecah berserakan di lantai. Sepertinya benda-benda mati tak bersayap itu baru saja terbang dan menabrak dinding. Di luar kamar beberapa pelayan tampak saling berpandangan saat mendengar teriakan disertai suara barang jatuh maupun pecah.
"Ada apa ini?!" suara seorang wanita yang muncul dari belakang para pelayan itu membat mereka terkejut dan berbalik sambil melompat.
Pelayan-pelayan wanita itu lantas menunduk saat mengetahui siapa yang datang. Tak ada satu pun yang berani menjawab pertanyaan pemilik suara tadi.
"Hei!!! Sudah bosan kerja?!" hardik wanita itu lagi.
"Am-ampun Nona Shera." seorang pelayan akhirnya berani membuka suara. "Nona Sofia sedang marah di kamar. Sudah beberapa hari Tuan Besar melarang Nona untuk keluar rumah."
Shera mendekati pintu dan mengetuknya. "Sofia, ini aku, Shera." ucap wanita itu setelah beberapa kali mengetuk pintu. Suasana menjadi hening, terdengar langkah kaki mendekati pintu. Shera dan beberapa pelayan segera mundur beberapa langkah saat pintu perlahan terbuka.
Shera tercengang melihat tampang kusut gadis yang keluar dari ruangan itu. Mereka bertatapan sejenak, kemudian Sofia menghambur ke dalam pelukan Shera dan menangis. Sadar suasana di sekitar mereka tidak nyaman, Shera melepas pelukan dan menggandeng tangan Sofia.
"Kalian, bersihkan kamar!" titahnya pada para pelayan. Setelah memberi tugas, Shera menarik tangan adik sepupunya itu untuk masuk ke kamar yang berada tepat di sebelah kamar Sofia. Itu adalah kamar yang selalu di tempatinya jika sedang menginap di rumah pamannya.
Ia mendudukkan Sofia di tepi ranjang kemudian memberi sebotol air mineral yang belum dibuka pada gadis itu.
"Minum dulu." katanya, kemudian menutup Tote Bag yang dibawanya setelah Sofia menerima botol itu. Ia duduk di sebelah Sofia sambil mengusap punggung adik sepupunya.
"Ternyata Kak Aaron lebih memilih Audrey sialan itu." desis Sofia setelah menutup botol minumannya.
Shera mengernyit, dia sudah tahu Sofia tergila-gila pada Aaron Bagaskara. Namun dia tidak tahu menahu soal kejadian memalukan di acara Sekolah Balet beberapa waktu lalu.
"Audrey? Seperti pernah mendengar nama itu." Shera tampak berpikir.
"Putrinya Tuan Sebastian." Sofia menjelaskan dengan malas. Ia menunduk memandangi botol air mineral itu hingga tak memperhatikan raut wajah Shera yang memucat.
"Aku tak terima, Papa bahkan menarikku dari proyek agar tak bertemu lagi dengan Kak Aaron." Sofia terlihat sangat kesal. "Ini semua karena Audrey brengsek itu!" ucapnya dengan sorot mata penuh kemarahan.
"Kak, bantu aku ya." tiba-tiba Sofia menoleh menatap Shera.
"Ba-bantu ap-apa?" Shera gelagapan karena terkejut, pasalnya ia sedang memikirkan sesuatu saat tiba-tiba Sofia menatapnya.
"Aku harus memberi pelajaran pada gadis kecil itu." Sofia terlihat yakin untuk menyakiti Audrey. Shera terperangah, ia berusaha meyakinkan dirinya jika pendengarannya salah.
"Aku tak salah dengar?" ia menatap mata Sofia dalam-dalam.
"Tidak, Kak Shera bantu aku keluar dari rumah ini. Selanjutnya biar aku yang urus."
"Jangan seperti ini Sofia."
"Kenapa? Bukankah dia adalah adik dari Rangga Sebastian, pemuda yang menolak Kakak dulu?" Sofia sudah mendengar cerita bagaimana Rangga menolak Shera, sayangnya tak keseluruhan cerita ia ketahui.
"Iya, tapi beruntung aku bisa lepas dari...."
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu!" Sofia memotong ucapan Shera. "Pokoknya Kakak harus bantu aku. Akan kuhubungi jika semua sudah siap. Kak Shera hanya perlu mengeluarkanku dari rumah ini."
Shera hanya bisa mendesah kasar melihat betapa keras kepalanya Sofia. Mereka memiliki sifat yang sama, itu yang membuat Shera tak kuasa menolak permintaan gila adik sepupunya. Walaupun ia benar-benar tak ingin berurusan lagi dengan keluarga Sebastian.
Teringat bagaimana Sebastian memberi ancaman untuk tidak mendekati keluarganya lagi. Tatapan Rangga dan Audrey sangat mengerikan, bahkan tubuh gadis itu terlihat bergetar menahan kemarahan yang meluap-luap. Shera tidak akan pernah lupa dengan sumpah serapah yang dilontarkan kedua orang tuanya setelah ketiga orang tadi meninggalkan rumahnya.
Rumahnya?
Ya, Tuan Sebastian memberi peringatan sekaligus membongkar kejahatan Shera di rumahnya sendiri dan dihadapan kedua orang tua beserta Oma Opanya. Tak perlu memukul dan menembak, setiap perkataan Sebastian sudah melukai bahkan mencabik-cabik hati keluarganya.
Baru-baru ini Shera mendapat kejutan tak menyenangkan lagi. Ia baru tahu kalau PT. Danur Mutiara adalah perusahaan milik keluarga mertua Tuan Sebastian, bahkan sudah diberikan pada Audrey. Imbasnya kerja sama mereka dihentikan, walau Shera juga sadar alasan yang digunakan memang benar adanya. Terkait pelunasan bahan yang sudah dikirim, bukan karena dendam pribadi.
Jika dulu ia tahu, kedepannya akan jadi seperti ini. Mungkin ia tak akan macam-macam pada Riana dan Rangga.
Hhhhhh....menyesal pun tak ada gunanya. Semua sudah terjadi.
Shera duduk di ruang keluarga, Sofia sudah kembali ke kamarnya setelah mereka makan malam berdua. Ia sengaja menunggu sampai pamannya datang. Harus ada yang menghentikan Sofia. Agar gadis itu tak hidup dalam penyesalan seperti Shera.
"Shera." sapa Marthen begitu memasuki ruang keluarga.
"Selamat malam Paman." ia berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan Pamannya.
"Selamat malam. Kenapa sendiri?" Marthen mengedarkan pandangan mencari putrinya.
"Aneh, tidak biasanya ia meninggalkanmu sendiri."
Shera tersenyum kecut. "Tidak apa-apa Paman. Dia ada sedikit urusan."
"Urusan apa?"
"I-itu..."
"Apa dia mencoba mendekati Aaron lagi?"
Shera tercekat, tebakan Pamannya memang sangat jitu. "Bu-bukan Paman..."
Marthen menatap tajam pada keponakannya. "Dia sedang menggali kuburannya sendiri jika berani menyakiti Audrey."
Shera semakin gugup, tanpa memberi clue sedikitpun Pamannya sudah bisa menebak semuanya. Marthen duduk di sofa tepat di hadapan Shera, membuat wanita itu kembali duduk di tempatnya.
"Paman tidak mau Sofia mengulangi kesalahanmu pada keluarga Sebastian." kata Marthen lirih.
"Aku tahu Paman. Tapi aku bahkan tak punya kesempatan memberi pengertian pada Sofia."
"Dia lebih keras kepala dibandingkan dirimu." Marthen mengusap wajahnya dengan kasar. "Beruntung waktu itu Audrey tidak menghajarmu habis-habisan."
__ADS_1
"Memangnya gadis kecil itu bisa apa?!"
Shera dan Marthen terkejut, Sofia sedang berjalan mendekati mereka dengan wajah penuh amarah. Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. Membuat caranya berjalan jadi terlihat aneh.
"Apa yang bisa dilakukan Audrey brengsek itu?!" tatapan kemarahan tak surut dari mata Sofia.
"Jangan memindai Papa dengan tatapan itu, Sofia." tegur Marthen pada putrinya. "Audrey mungkin akan menyarangkan timah panas didalam mulutmu, atau mengulitimu hidup-hidup."
"Cihh, jangan menakut-nakutiku Pa. Aku bukan anak kecil lagi." Sofia tersenyum sinis meragukan perkataan Papanya.
"Baiklah, besok kau boleh keluar rumah. Lampiaskan kemarahanmu pada siapapun yang kau suka. Tapi ingat satu hal, Papa tidak akan membantumu sama sekali. Kau juga Shera, jangan lupakan Sebastian dan Rangga." wajah Marthen terlihat memerah menahan marah.
"Iy-iya Paman."
"Kenapa Kak Shera menyetujui Papa?" Sofia terlihat semakin kesal menatap Shera.
"Maaf Sof, aku tak ingin berurusan lagi dengan keluarga Tuan Sebastian."
"Kak Shera pengecut." Sofia terang-terangan mencela Kakak sepupunya. "Bagaimana dengan pengawal sewaan dari mereka?" Sofia menoleh menatap Papanya.
"Kontrak berakhir tadi pagi, Papa akan memperpanjang kontraknya. Tapi sementara dokumennya diproses seluruh pengawal ditarik kembali."
"Baguslah, akan mempermudah rencanaku." senyuman jahat mengembang di wajah Sofia.
"Terserah, Papa dan Shera tidak ikut campur." sambil berkata demikian Marthen mengeluarkan ponsel dan menekan pola merah untuk menghentikan rekaman.
"Papa merekam semuanya?" Sofia menatap Papanya tak percaya.
"Ya, agar Tuan Sebastian tahu Papa tidak terlibat."
"Papa tega sekali padaku." buliran bening mengalir sedikit demi sedikit tanpa bisa dikendalikan Sofia.
"Memangnya saat kau nekat ingin menghancurkan Audrey, merendahkan diri di depan Aaron, kau memikirkan Papamu ini?" ucapan Marthen seperti belati yang menusuk jantung putrinya.
"Kau tidak memikirkan bagaimana orang lain memandang Papa karena memiliki putri penggoda calon suami gadis lain kan. Jadi kalau kau bisa tega pada orang yang telah membesarkanmu, mengapa Papa tidak bisa?" setelah mengatakan demikian Marthen segera pergi menuju kamarnya.
Shera pun segera melangkah keluar, ia memutuskan untuk tidak menginap di rumah Pamannya. Dari pada ia terlibat dengan kegilaan sepupunya itu.
Sedangkan Sofia, ia menatap nanar kepergian kedua keluarga dekatnya. Sayangnya setiap ucapan Papa dan Kakak sepupunya tadi tak mempengaruhi keputusannya sedikit pun.
.
.
.
__ADS_1