Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
38. Berantakan


__ADS_3

Gustaf memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit yang mendera. Dari pagi sampai sore ini ia merasa berada di neraka. Aaron uring-uringan tidak jelas, ada saja yang membuatnya marah. Kesalahan sepele bisa membuat berkas yang tak memiliki sayap itu terbang kesana kemari.


Seperti saat ini, kertas laporan keuangan yang baru dibaca sedang memenuhi udara, seperti layangan yang putus talinya. Kertas itu berterbangan tak tentu arah.


"Apa pekerjaan gampang seperti ini saja tidak bisa kau atasi?! Kenapa bisa salah ketik?! Kau ingin perusahaan ini gulung tikar?!" Aaron melotot, rahangnya mengeras, nafasnya naik turun menandakan emosi yang meledak-ledak. Apa hubungan salah ketik huruf dengan gulung tikar? Gustaf menghembuskan nafas dengan berat.


Sementara itu manager keuangan bersama stafnya duduk dengan tubuh bergetar, keduanya menunduk. Tak lama lagi kepala mereka bahkan bisa masuk di antara celah paha. Gustaf merasa iba, akan tetapi ia tak dapat menolong. Karena dirinya pun baru selesai mendapat amukan.


Hhhhh, nona Audrey. Kenapa kau tak ikut pulang bersamanya kemarin? Tahu kah kau, disini kami menderita. Hhhhhh


Gustaf mengeluh dalam hatinya, selama ia bekerja dengan Aaron, hari ini adalah hari terberat. Dan sepertinya akan ada hari yang terberat berikutnya jika sudah menyangkut Audrey.


"Perbaiki sekarang juga dan jangan pulang jika belum selesai! Gustaf, bawa aku pulang kemudian kembali ke tempat ini awasi mereka!" Aaron berdiri dan mengambil langkah lebar.


Gustaf tak langsung mengikuti Aaron, ia menepuk pelan pundak sang manager.


"Bereskan kertas-kertas itu, nanti aku temani kalian bekerja." Gustaf tersenyum berusaha mengurangi rasa takut manager itu.


"GUSTAF!!!"


Ketiganya sontak melompat kecil karena terkejut, kemudian Gustaf segera berlari menyusul Aaron. Saat berada di lobi depan ruangan Aaron, Gustaf bisa melihat karyawan yang ada disana sedang berdiri memegangi dada mereka. Sedang sorot mata mereka menatap Gustaf dengan penuh tanya.


Setibanya di mansion Aaron langsung menuju kamarnya, ia bahkan tak membalas sapaan Edward. Ia membuka pintu kamarnya dengan kasar, membuang sepatu, kaos kaki, jas dan kemejanya begitu saja, lalu mandi. Cukup lama ia di dalam kamar mandi, melebihi seorang anak gadis jika sedang bersih-bersih.


Aaron sedang memakai baju ketika ia mendengar seseorang masuk kamarnya. Edward sedang apa? gumamnya. Ia segera keluar untuk menemui kepala pelayan mansion, mungkin ada kabar dari tante Tika karena ia sengaja tidak mengaktifkan ponselnya sejak tiba dari vila.


"Mengapa berantakan begini kak? Apa ini kebiasaan buruk kakak?" Audrey memungut jas, kemeja dan sepatu dengan wajah kesal. Ia bahkan mengambil kaos kaki itu dan melemparnya ke arah Aaron yang terdiam.


Audrey merapikan semua barang Aaron dan menarik troli makanan masuk ke kamar.


"Kata Pak Edward, kakak tidak berselera makan. Jadi aku masak, entah kakak suka atau tidak. Kalau tidak suka katakan saja apa yang ingin kakak makan dan aku akan membuatnya."


Audrey terus berbicara tanpa mempedulikan Aaron yang masih diam di tempatnya, tak bergeming sedikit pun. Menyadari tidak ada pergerakan dari Aaron, Audrey menoleh dan menatap pemuda itu dan mendekatinya.


"Kak?" Audrey menggerakkan tangannya di depan wajah Aaron.


Segera Aaron menangkap tangan itu, dan tangannya yang lain menangkup pipi Audrey. Gadis itu merona dengan perlakuan Aaron padanya.


"Ini benar-benar dirimu?" Aaron menatap Audrey tak percaya.

__ADS_1


"Tentu saja ini diriku, memangnya siapa lagi." Audrey menarik tangan Aaron dari pipinya. "Ayo, makan dulu. Kakak bisa sakit jika terus bekerja tanpa makan." Audrey berbalik dan menarik Aaron untuk mengikutinya.


Namun dengan sengaja Aaron menarik tangan Audrey hingga gadis itu menabrak dada Aaron dengan punggungnya. Aaron segera memeluk Audrey dari belakang, meletakkan wajahnya di ceruk leher Audrey. Dengan memejamkan mata, ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Audrey.


Audrey terkejut, namun ia diam saja. Karena sejujurnya ia pun sangat merindukan Aaron. Ia bertekad akan jujur seandainya Aaron ingin lebih serius. Memendam rasa itu tidak enak.


"Aku merindukanmu Drey." Aaron berbisik, membuat tengkuk Audrey meremang. Tiba-tiba Aaron mengecup tengkuk, kemudian pundaknya. Audrey menggeliat karena geli, sekuat tenaga ia berbalik dan memegang wajah Aaron.


"Hentikan itu." katanya dengan wajah yang memerah. Aaron menempelkan dahinya dan memejamkan matanya.


"Kau menyiksaku Drey. Kau bahkan tak mengantarku pergi. Kau benar-benar kejam." suara Aaron terdengar menyedihkan, membuat Audrey merasa sangat bersalah.


"Maaf." hanya itu yang mampu diucapkannya.


"Aku sudah terbiasa melihatmu ada disisiku, ini sungguh menyiksaku." rasa rindu memang sangat menyesakkan.


"Maaf kak." tak ada kata-kata lain yang terlintas di pikiran Audrey.


Aaron membuka matanya, ia memegang dagu Audrey dan kemudian menempelkan bibirnya. Ia ******* bibir bawah Audrey sejenak.


"I love you Drey. I love you so much." Aaron menatap mata Audrey dengan tajam dan dalam. Audrey merasa jantungnya berdetak cepat, demikian juga Aaron karena posisi mereka yang intim jadi gadis itu bisa merasakannya.


Audrey terdiam, ia mengerjap. Tak menyangka secepat itu Aaron mengatakan cintanya.


"Bukan itu yang aku ajarkan!" tiba-tiba terdengar suara Om Isak. Sontak kedua muda mudi itu menoleh ke sumber suara. Di ambang pintu tampak Tika dan Isak sedang berdiri sambil menutup mulutnya. Tampaknya mereka juga terkejut dengan seruan Isak. Seharusnya saat ini mereka hanya diam dan menjadi saksi.


"Kau perusak suasana." Tika memukul lengan suaminya.


Audrey berusaha melepaskan diri dari pelukan Aaron, wajahnya sudah seperti buah tomat yang matang. Namun pemuda itu tak mau melepaskan tangannya.


"Benamkan saja wajahmu jika kau malu." kata Aaron lembut.


Om dan tantenya hanya geleng-geleng kepala melihat itu. Mereka berbalik dan pergi menuju ruang kerja Aaron.


"Memangnya apa yang kau ajarkan?" Tika penasaran.


"Aku bilang nyatakan perasaanmu dan minta Audrey jadi kekasih. Eh...dia malah minta jadi istri."


"Baguslah, dia berimprovisasi." Tika terkekeh.

__ADS_1


Audrey dan Aaron masih bisa mendengar percakapan suami istri itu. Karena entah sengaja atau tidak, mereka berdua tak menurunkan volume saat berbicara.


"Drey, apa jawabmu?" Aaron melonggarkan pelukannya saat Isak dan Tika sudah tak terlihat di ambang pintu.


Audrey menunduk, ia tersipu malu, hatinya berbunga-bunga. Rupanya sedang musim semi di dalam sana.


"Aku juga mencintaimu Kak." kata Audrey membalas tatapan Aaron. Mendengar itu Aaron langsung tersenyum lebar, ia menundukkan kepala hendak mencium gadisnya lagi. Namun Audrey langsung meletakkan jarinya di bibir Aaron.


"Tapi apa kakak tidak menyesal mempunyai istri sepertiku?"


"Kenapa?"


"Tingkahku tak semanis yang kakak lihat."


"Benarkah?"


Audrey mengangguk tegas. "Suatu saat kakak pasti akan tahu. Bagaimana?"


"Aku sudah jatuh cinta padamu saat aku bahkan tak tahu namamu. Aku rasa aku tak masalah dengan sisi burukmu. Karena aku pun bukan pria sempurna." Aaron tersenyum lembut sambil menyisipkan anak rambut ke belakang telinga Audrey.


"Begitu papa sembuh, aku akan langsung melamarmu."


"Tidak pacaran dulu?"


"Pacarannya setelah menikah saja." Aaron memainkan alisnya.


Audrey memukul dada pemuda itu pelan. "Ayo makan dulu. Kita makan di ruang kerja saja. Om dan Tante sudah menunggu."


Aaron menahan lengan Audrey. "Tunggu dulu."


"Apalagi sih kak."


Aaron tidak bersuara, ia hanya meletakkan telunjuknya di atas bibir. Audrey terkejut melihat tingkah Aaron, namun kemudian ia tersenyum. Audrey mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat pipi Aaron.


"Cukup, hmm." Audrey menatapnya penuh arti.


Aaron tersenyum senang, walaupun tak seperti yang ia minta. Setidaknya gadis itu mau memenuhi permintaannya. Aaron menarik troli makanan itu dan menuju ruang kerja. Sebelum masuk sepasang kekasih itu menghela nafas, menyiapkan hati untuk tatapan dan serbuan pertanyaan suami istri yang sudah duduk di dalam.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2