Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
47. Glock Dengan Ukiran


__ADS_3

Di sebuah area bekas pabrik yang telah lama ditinggalkan, terlihat sekitar enam orang berpakaian serba hitam dan bersenjata keluar dari dalam sebuah mobil. Mereka membawa seseorang dalam keadaan tangan dan mulut terikat kain hitam.


Setengah menyeret mereka membawa gadis itu ke dalam salah satu bangunan. Di sana sudah menunggu dua orang wanita dan dua orang pria berkaca mata. Tak lupa sekitar sepuluh orang pria berpakaian serba hitam dan bersenjata lengkap menyebar di dalam gedung.


Di tengah ruangan terlihat sebuah meja dan dua pasang kursi yang berhadapan.


"Hai menantu, selamat datang." sambut seorang wanita. "Dudukkan dia disana." perintahnya sambil menunjuk sebuah kursi yang tampak terpisah tak terlalu jauh dari meja.


Audrey duduk seraya menatap Arneta dengan tenang. Kemudian ia mengarahkan tatapan pada Juliana yang sedang memakai gaun satin kombinasi lace berwarna putih dengan tatanan rambut disanggul. Dahinya mengernyit, apa dia tidak salah kostum? Gumam Audrey dalam hati.


"Dia tidak salah kostum sayang." kata Arneta seolah bisa mengetahui isi hati Audrey. "Hari ini ia akan menikahi Aaron. Karena aku yakin pernikahan kalian hanya bualan semata." Arneta menatap Audrey dengan sinis.


"Nyonya, berapa lama lagi?" seorang pria berkacamata bertanya.


"Sabarlah pak notaris, sebentar lagi putraku pasti datang." Arneta tersenyum manis.


Notaris itu membuang muka, ia tak menyangka akan ada drama penyanderaan seperti ini. Jika ia tahu, ia tidak akan mau walaupun bayarannya mahal.


Lima menit...


Sepuluh menit...


Dua puluh menit...


Tiga puluh menit...


Senyum yang tadinya terus tersungging di bibir Arneta pudar. Wajahnya berubah, ia terlihat marah. Sementara itu Audrey hanya menatap ke arah lain, ia tak ingin melihat wajah wanita itu.


Tak lama kemudian terdengar deru mobil sport mendekat. Sesaat kemudian mobil itu masuk ke dalam ruangan dan berhenti tak jauh dari pintu masuk.


Aaron keluar dari mobil sambil merapikan jasnya. Kemunculan yang penuh drama. Audrey merutuk dalam hati.


"Aku kira kau tak akan datang sayang." Arneta mendekat hendak memeluk. Aaron menggerakkan tubuh menghindari wanita itu.


"Honey, kau baik-baik saja?" Aaron menatap Audrey dan gadis itu mengangguk karena kain di mulutnya belum di buka.


Aaron mengepalkan tangannya yang berada di dalam saku celana. Amarahnya membara melihat kekasih hatinya diperlakukan seperti itu. Namun ia tak berani bertindak gegabah karena saat ini Audrey berada di bawah todongan senjata.


"Apa maumu?" ujarnya ketus sambil menatap Arneta.


"Sederhana, nikahi Juliana dan alihkan semua harta atas namaku, sebagai walinya."


"Hanya harta yang kau mau? Jika begitu mari lakukan pemindahan, namun aku tidak akan menikahi Juliana."


Arneta menatap nyalang, fokus otak dan matanya hanya tertuju pada Aaron, tidak pada yang lain.


"Jika kau tidak menikahinya, lalu siapa yang akan bekerja dan menghasilkan uang bagi kami."


Hahahahaha.....


Aaron tertawa, bukan dibuat-buat, tapi karena memang kalimat Arneta lucu.


"Kau ingin memiliki uang tapi tidak tahu bekerja? Jadi apa kelebihanmu selain ditiduri pria hidung belang?" Aaron menatap sinis.


Plakkk....


Sebuah tamparan mendarat di pipi Aaron. Wajah Arneta terlihat merah padam.


"Kau marah?" Aaron bertanya dengan kedua alis terangkat. "Bukankah itu adalah kenyataannya, kau dengan mudahnya naik ke ranjang pria untuk mendapatkan harta."


"Cukup!! Cukup!!" Arneta membentak anak tirinya itu. Ia berjalan menyambar sebuah belati dan mendekati Audrey.


"Turuti permintaanku atau aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!" ancamnya sambil menatap Aaron sedang tangannya yang memegang pisau diarahkan ke dada Audrey.


Aaron terdiam di tempatnya. Namun tiba-tiba rombongan lain muncul. Dua orang pria memegangi seorang pria paruh baya yang tampak lemas.


"Edward!" desis Aaron pelan.


"Kau telah memulai pestanya?" tanya seorang pria yang muncul terakhir.


"Maaf Tiago, aku terpancing emosi." Arneta mendekati pria bernama Tiago dengan wajah sumringah.


Audrey mengernyit, Mengapa bisa ada Edward juga? Apakah ini bagian rencana yang terlewatkan?


"Apakah dia gadis yang boleh ku sentuh?" Tiago menatap Audrey. Gadis itu terkejut, pria itu!!!


"Tentu saja, namun setelah Juliana menikah dengan Aaron." Arneta membelai wajah Tiago.


"Juliana duduklah." wanita itu tersenyum saat menoleh pada Juliana yang kini berdiri di samping Audrey.

__ADS_1


"Aku tidak mau bibi. Aku tidak mau mengikuti rencana bibi." suara Juliana bergetar menahan tangis.


"Anak tidak tahu diri!"


"Aku akan bekerja bi, pekerjaan yang halal. Aku akan menghasilkan uang sendiri. Tidak perlu seperti ini bi." Air mata Juliana mulai mengalir. "Ibuku pasti tidak akan tenang dalam istirahatnya jika mengetahui apa yang aku lakukan sekarang."


"Ibu? Ibu kau bilang?!" Arneta tertawa sumbang.


"Akulah ibumu! Akulah wanita yang telah melahirkan dirimu!" Arneta berteriak lantang membuat Juliana pias.


"Aku bukan bibimu Juliana. Aku ibumu." katanya lagi sambil mendekati Juliana dan menarik gadis itu untuk segera duduk.


"Tidak! Aku tidak mau!"


Plakkk....


Tamparan Arneta meninggalkan jejak merah di pipi Juliana.


"Kau kira saat ini kau bisa hidup berkat siapa hah??!! Jika bukan karena transplantasi sumsum tulang belakang milikku kau pasti sudah membusuk akibat kanker darah!" dengan kasar Arneta mendorong kepala Juliana menggunakan telunjuknya.


Ada rasa nyeri di hati Aaron dan Audrey saat mendengar itu. Ternyata karena merasa berhutang nyawa, Juliana mau membantu Arneta.


Entah apa yang merasukinya, Arneta menarik rambut Juliana sekuat tenaga membuat gadis itu menangis kesakitan. "Aku yang melahirkanmu! Aku yang memberi sumsum tulangku! Jadi, bayar hutangmu sekarang anak tidak tahu diri!"


"Dan kau Aaron. Cepat duduk atau aku membunuh kekasihmu!" Arneta menatap tajam ke arah Aaron.


Aaron duduk di kursi tepat di sebelah Juliana. Kedua pria berkacamata membuka dokumen yang dibawa dengan tangan bergetar.


Sementara itu Tiago berjalan dengan seringai licik menuju Audrey. Ia melepas penutup mulut gadis itu.


"Kau sangat cantik, aku pasti akan bersenang-senang." Tiago mengulurkan jarinya hendak menyentuh pipi Audrey.


"Jangan sentuh aku!" hardik Audrey.


"Tiago!!" Arneta memanggilnya. "Tahan dirimu."


"Tidak bisa, apalagi jika ia secantik ini. Adik kecilku sudah memberontak saat pertama kali memandang bibirnya."


"Sialan!" desis Arneta geram, dengan langkah lebar ia mendekati Tiago yang berdiri di hadapan Audrey.


"Jika kau tidak berhenti, Aaron tidak akan menandatangani berkas-berkas itu."


"Masuklah kalian semua!" terdengar suaranya memerintah.


Tak lama selusin pria berjas hitam masuk dengan membawa senjata mereka masing-masing.


"Aku tak peduli, lakukan pekerjaanmu." Tiagi mendorong Arneta. "Kalian, datanglah kemari dan membentuk dinding. Aku sudah tak tahan lagi."


"Arneta!!!" Aaron berdiri dari duduknya.


"Sialan kau Tiago." Arneta menghentakkan kakinya.


Aarrggghhhhhh!!!!


Jerit kesakitan seorang pria memenuhi ruangan.


"Sudah kukatakan, jangan menyentuhku." kata Audrey dengan sebilah pisau lipat di tangan kanannya. Tiago kesakitan memegangi lengannya.


Arneta dan Aaron terkejut, apalagi saat mereka melihat Audrey melayangkan pukulan demi pukulan ke arah Tiago.


Dorr..


Dorr..


Argghhh


Dorr..


Dorr...


Keadaan menjadi kacau, suara letusan senjata bersahut-sahutan. Terjadi baku tembak antar anak buah Tiago dan orang sewaan Arneta. Seseorang membidik Aaron tanpa ia sadari.


Dorr...


Tembakan itu malah mengarah ke atas, ia sudah lebih dulu terkena peluru tajam di bagian kepala. Aaron melihat ke sekeliling tidak ada yang mengarahkan senjata ke pria yang tumbang itu. Penembak jitu, tebak Aaron dalam hati.


Seorang pengawal sewaan Arneta tiba-tiba mendekat, ia menyerahkan pistol kepada Aaron.


"Tolong bantu nona Audrey."

__ADS_1


Tak lama terdengar deru langkah kaki dari luar ruangan, rupanya Tiago membawa begitu banyak anak buah. Pengawal tadi gegas menyambut tamu yang baru datang. Sementara Aaron sudah berlari menuju Audrey.


Ia sempat terkesima melihat gadis itu sedang bertarung dengan tangan kosong melawan Tiago. Sudut bibirnya pun mengeluarkan darah, tampaknya Audrey terkena pukulan Tiago.


Melihat itu Aaron segera menerjang Tiago dari belakang. Tiago terpelanting ke depan akibat serangan Aaron.


Arneta menjerit histeris, ia tak menyangka keadaan menjadi sekacau ini. Tak ingin menjadi korban salah tembak ia bergegas pergi dari sana lewat pintu di samping gudang. Baru saja keluar ia sudah dikejutkan dengan todongan senjata pada dahinya.


"Halo Rebecca, lama tidak bertemu."


"Se-Se-Sebas-Sebastian." Arneta terbata-bata, kedua tangannya terangkat tanda menyerah.


"Halo istriku."


"Ba-Ba-Bagas." Arneta merasa ia kekurangan oksigen.


Sebastian dan Bagas tersenyum sinis dan berjalan maju, hal ini membuat Arneta aka Rebecca itu berjalan mundur masuk kembali ke dalam ruangan. Anak buah Tiago banyak yang gugur, dengan bantuan penembak jitu yang sepertinya berjumlah lebih dari satu orang, mereka dengan mudah dikalahkan.


Sementara itu di salah satu sudut tampak Aaron dan Audrey masih meneruskan perkelahian mereka dengan Tiago. Pria itu sudah kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan sepasang kekasih itu. Dan satu tendangan kaki kanan Audrey berhasil masuk mengenai ulu hati Tiago.


Uhukkk!!!


Tiago mengeluarkan darah lewat batuknya. Ia mundur beberapa langkah sampai akhirnya pria itu terjatuh dengan lutut sebagai tumpuan.


"Audrey, cukup sayang." Sebastian mengingatkan putrinya.


"Papa!" seru Audrey terkejut, ia tidak menyangka jika papanya akan turut serta.


"Papa?" Arneta menatap Audrey dan Sebastian bergantian. "Jadi dia putri si j*l**g Tiara." ia menyunggingkan senyum sini.


Bukkk


Sebastian menampar wanita itu menggunakan gagang pistol yang digenggamnya. Arneta jatuh ke lantai tepat di samping Edward yang sedang terkulai lemah. Segera wanita itu mengambil belati yang ternyata jatuh tak jauh dari sana.


Ia mengangkat tangannya dan hendak menancapkan belati itu pada Edward. Sebab ia tahu bagaimana Aaron menyayangi kepala pelayannya itu.


Dorr...


Dorr...


Dorr...


Tubuh Arneta bergerak terkejut menerima hantaman peluru di beberapa titik tubuhnya. Ternyata pelakunya adalah Roki, dengan membabi buta ia menembaki Arneta. Bahkan saat tubuh wanita itu susah tergeletak di lantai, Roki datang dan menendang tubuh Arneta berkali-kali. Pria itu melakukannya sambil......menangis?


Melihat Aaron dan Audrey lengah karena insiden penembakan Arneta, Tiago mengambil kesempatan dan menabrak Aaron. Ia menodongkan pistol Aaron yang sempat terjatuh di lantai akibat pukulan darinya. Sigap Audrey pun menarik Glock miliknya yang berada di balik blouse.


Dengan tenang ia membidik Tiago. Aaron yang melihat pistol di tangan Audrey melebarkan matanya. Glock dengan ukiran pada gagangnya.


Kemudian pandangannya terfokus pada wajah gadis cantik yang dengan tenang mengarahkan pistol pada Tiago. Audrey yang sebenarnya, inilah dia. Singa gunung berkamuflase menjadi Kucing Persia.


"Aku akan membunuhnya jika kau menembakku." Tiago mengancam Audrey.


"Lepaskan putraku!" Bagas ikut mendekat dengan pistol terarah ke depan. Tak lama kemudian Isak dan Rangga pun menyusul melakukan hal yang sama. Sedangkan Bram memberi pertolongan pertama untuk Edward dan Sebastian mengawasi Roki.


Melihat ia terkepung, Tiago mengubah sudutnya sedikit agar bisa dengan leluasa memandangi ketiga pria yang bergerak maju itu. Hal ini memberi kesempatan pada Audrey untuk mengambil sesuatu di balik rok miliknya. Rangga yang sempat melirik adiknya itu menggeleng samar saat ia melihat tangan Audrey masuk ke dalam roknya.


"Jang..." Tiago tak dapat melanjutkan kalimatnya karena ia langsung kejang-kejang.


Aaron yang berhasil bebas langsung menoleh ke belakang. Tampak Audrey tengah tersenyum kikuk sambil memegang Taser Gun, sedang tubuh Tiago belum berhenti bergerak akibat kesetrum.


Aaron memandang Audrey dengan penuh cinta kemudian melangkah mendekati gadisnya.


Dorrr...


Audrey melepas tembakan, mengenai tangan Tiago yang terarah pada Aaron. Semua terkejut dan memandanginya.


"Apa?" Audrey merasa tak bersalah menembak orang yang sudah kena setrum. "Dari pada ia menembak Kak Aaron." dalihnya.


"Modus, aslinya memang gatel pengen nembak." Rangga mencebik.


"Ya, dia yang membantu Rebecca melarikan diri setelah membunuh mama." ucap Audrey sendu.


Semua yang mendengar ucapan gadis itu terkejut, namun tak ada satu pun yang berani berkomentar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2