Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
53. Mogok Kerja


__ADS_3

Nabila mengikuti langkah Papanya dengan lesu. Hari ini ia merasa kurang bersemangat. Mereka tiba di kantor pusat Boga Rasa Company, perusahaan yang mengelola jaringan restoran mewah. Baik yang berdiri sendiri atau berada di dalam hotel bintang lima.


Sebagai importir bahan makanan, sudah barang tentu mereka akan menjalin relasi dengan pemilik perusahaan semcam ini. Namun Nabila mempunyai firasat aneh sejak mamanya dengan mata yang berbinar-binar menyarankan dirinya untuk ikut di pertemuan ini.


Rombongan sudah sampai di ruang rapat kantor itu yng terletak di lantai tiga. Mereka langsung dipersilahkan masuk karena pemilik perusahaan sudah berasa di dalam. Nabila mengatur ponselnya dalam mode silent saat berjalan masuk hingga ia tak melihat pemuda yang menyambut papanya dengan ramah.


Ia memasukkan ponsel ke tas kecilnya dan memasang senyum terbaik saat mengangkat wajah.


"Kau!" serunya dan pemuda itu secara bersamaan.


Semua yang ada di ruangan lantas menoleh pada mereka berdua. Keduanya saling menunjuk dengan jari telunjuk mereka, memicingkan mata dengan raut wajah tak bersahabat. Aura mencekam menguar dari tubuh keduanya.


"Huh!" keduanya kompak membuang muka disertai dengusan tertahan lalu sama-sama melipat tangan di depan dada.


"Ikut-ikutan!" sekali lagi keduanya kompak saling menuduh.


"Damian!"


"Nabila!"


Terdengar dua orang pria berjas hitam itu memanggil nama putra dan putri mereka masing-masing. Mereka lantas menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak-anak mereka.


"Maafkan kelancangan putriku Adrian."


"Aku juga meminta maaf atas tindakan putraku, Norton."


Keduanya tersenyum canggung dan memberikan tatapan tajam pada anak masing-masing.


"Mari semua, silahkan duduk. Kita akan memulai rapat ini." Adrian mempersilahkan tamu mereka untuk duduk.


Mereka memang profesional, walau diawali dengan drama aneh muda mudi itu, mereka tetap fokus melanjutkan rapat. Bahkan hari itu juga sebuah kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak tercapai.


Adrian dan Norton sudah mengenal dan berteman sejak lama, awalnya hanya sekedar bisnis. Namun karena merasa ada kesamaan hobi dan pola pikir, mereka jadi berteman. Hanya saja anak-anak mereka kurang mengenal, karena setiap ingin membawa keluarga, ada saja hal yang menghalangi.


"Untuk merayakan kesepakatan ini, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Adrian melemparkan ide bagus.


"Aku setuju." Norton menyambut gagasan itu dengan antusias.


"Pa, Bila pulang saja ya." kata Nabila yang mendekati papanya dan berbisik.


"Kita makan bersama dulu Bil."


"Tapi pa..."


"Nabila, sudah kenal ya sama Damian?" Adrian tersenyum lembut pada gadis itu. "Sudah berapa lama?"

__ADS_1


"Baru satu kali ketemu Om, waktu bantu Audrey beberapa waktu lalu." jawab Nabila sopan.


"O ya?" Adrian tertarik. "Bantu apa?"


"Eh, i-itu..."Nabila terlihat tak nyaman membicarakan peristiwa itu.


"Dia bantu selamatkan Audrey dari penculikan. Yahh, walaupun banyak tembakannya yang meleset." Damian menatap sinis.


"Maaf ya Om, tembakan saya tidak pernah meleset." sahut Nabila ketus.


"Om? Om kamu bilang?!" Damian berang mendengar sebutan itu.


"Iya! Om! Memang faktanya begitu kan. Nggak usah sewot, terima saja kenyataannya."


"Aku bukan Om Om! Usiaku memang sudah 26 tahun, tapi aku tidak setua itu sampai harus dipanggil Om olehmu bocah ingusan!" balas Damian tak kalah sengit.


"Bocah ingusan ini mampu mengimbangimu menembakkan senjata. Jadi berhenti mengatakan tembakanku meleset!!!"


Damian berdiri dengan kasar. "Aku tidak mau menikahi gadis itu!!" ia bahkan menunjuk-nunjuk Nabila dengan jarinya saat ia menghadap ke Adrian untuk bicara. Egonya tersindir saat mendengar Nabila mampu mengimbanginya.


Mata Nabila membola. "Memangnya siapa yang mau menikah denganmu!" balas Nabila berapi-api.


Namun sedetik kemudian ia menoleh ke papanya yang tersenyum kikuk sambil menunduk dan memijat pelipisnya.


"Ya sayang."


"Apa ini?!"


Dada Nabila naik turun karena deru napasnya yang memburu, tangan gadis itu mengepal menahan emosi yang terasa menggelegak. Norton sadar betul, pernikahan adalah hal sensitif bagi Nabila.


"Duduklah dulu, biar papa jelaskan." Norton mencoba menenangkan Nabila.


Sementara diujung meja Damian mengernyit melihat Nabila yang begitu marah. Bahkan gadis itu lebih emosi dari pada saat Damian mengejeknya tadi. Wajah gadis itu memerah, ia tampak bersusah payah menekan kemarahannya. Damian menatap wajah Nabila lekat-lekat. Ekspresi itu, entah bagaimana terlihat menggemaskan.


Perasaan yang tak pernah ia rasakan saat bersama Wina. Calon istri yang telah menduakannya sampai mengandung anak pria lain. Sebenarnya hubungan Damian dan Wina terjadi hanya karena permintaan komandan Damian. Ia merasa hanya Damian yang pantas menjadi pendamping putrinya.


Damian pun menyetujui karena pernah berhutang nyawa pada atasannya tersebut. Komandannya pernah menerima peluru di bagian dada untuk melindungi Damian saat penugasan pertama pemuda itu.


Dari terpaksa kemudian menjadi terbiasa. Mungkin itulah yang terjadi pada Damian. Ia terbiasa dengan kehadiran Wina di sampingnya. Walau gadis itu sering membatasi diri untuk lebih dekat dengan Damian. Namun pemuda itu selalu berpikir positif. Ia yakin pernikahan mereka akan baik-baik saja, cinta bisa tumbuh dengan sendirinya. Oleh sebab itu Damian memantapkan hatinya untuk meminang Wina.


Terbiasa bukanlah cinta, selama ini Damian hanyut dalam perasaan palsu yang ia ciptakan sendiri. Dan pertemuan kedua keluarga setelah pengkhianatan Wina terkuak, memastikan segalanya. Gadis itu hanya tak bisa menolak permintaan Sang Papa.


"Berhenti menatapku Om!" ucapan Nabila yang ketus menarik kesadaran Damian. Pemuda itu mengerjap karena terkejut.


Situasi di ruang rapat itu menjadi aneh. Muda mudi itu saling melempar tuduhan dengan emosi yang meluap. Namun bukan ketegangan yang tampak, malah terlihat lucu.

__ADS_1


"Bila mau pulang." Nabila menatap papanya kesal. "Besok Bila mogok, Bila nggak mau kerja. Papa jahat, Nabila marah sama papa." Gadis itu menyambar tasnya dan melangkah pergi.


Namun baru beberapa langkah ia berhenti dan menoleh ke balakang.


"Permisi Tuan Adrian, saya mau pulang." ternyata ia tak lupa sopan santunnya.


"Silahkan Nona Nabila, hati-hati di jalan." kata Adrian sambil tersenyum geli.


Norton geleng-geleng kepala dengan tingkah putri bungsunya. Rombongan yang datang bersama Norton menahan tawa. Mereka sudah hafal bagaimana tingkah Nabila yang kadang tak lihat tempat jika sudah kumat. Sedikit banyak, kadang Nabila sama seperti Isabela.


"Vidi, tolong bawa tamu kita lebih dulu untuk makan di ruang VIP." Adrian memerintahkan asistennya untuk membawa tamu ke lantai 1 gedung itu yang merupakan restoran milik perusahaan.


"Baik Tuan." Lalu Vidi menuntun yang lain keluar, tinggallah Norton, Adrian dan Damian di ruangan itu.


"Kau belum memberi tahu putrimu ya." kata Adrian setelah yang lain keluar.


"Ya, kami sibuk mempersiapkan pernikahan Mita. Dan lagi, Nabila sibuk setelah mulai bekerja jadi kami hampir tidak pernah berbincang-bincang santai."


"Lalu bagaimana om? Terus terang aku tidak akan mundur."


Norton mengangkat alisnya mendengar ucapan Damian. "Kalian seperti kucing dan tikus."


Damian terkekeh, ia juga terkejut setelah melihat kemarahan Nabila bukannya mundur ia jadi semakin bersemangat. Terlebih lagi Nabila tadi tidak menolak, ia hanya terkejut.


"Dan bukankah tadi kau juga bilang tidak ingin menikahinya?" Adrian menambahkan.


"Ya, sejujurnya aku tak suka jika ia bisa mengimbangi bahkan lebih baik dariku. Aku merasa terancam jika seorang gadis menjadi sainganku." Damian tersenyum canggung.


"Kau ini lucu, untuk apa menganggapnya sebagai saingan. Kalian kan tidak akan mendapat kenaikan pangkat atau medali penghargaan jika menjadi lebih baik." kata Adrian.


"Kalian berdua sama saja ternyata." Norton geleng-geleng kepala.


Flasback On, Damian POV


Aku bergegas turun dari mobil Aaron sebelum mencapai kawasan pabrik. Dengan pengalaman militer, aku mencapai titik dimana aku bisa mengawasi tanpa diketahui musuh dengan mudah.


Ternyata aku tak sendiri, disana sudah ada seorang gadis yang sedang memasang teropongnya. Ia terlihat manis dan garang disaat bersamaan. Rambutnya dikepang, anak rambut satu per satu menjuntai di wajahnya.


Perasaan hangat menguasai dadaku, awalnya terasa sedikit aneh di dalam sana. Namun saat ia mengangkat wajahnya dan menatapku, perasaan itu berubah menjadi gejolak yang menghasilkan debaran tak menentu.


Sepanjang baku tembak aku dan dia selalu berdebat. Bukannya aku sengaja, hanya saja sebagai seorang mantan perwira militer yang punya pengalaman perang, rasanya menyebalkan jika diimbangi oleh seorang gadis.


Egoku bergolak, menginginkan menjadi yang lebih baik dari gadis manis itu. Aku seorang lelaki, tak boleh kalah darinya. Namun disaat yang sama aku terpesona dengan kemampuannya. Situasi yang menyebalkan.


Flasback Off, End Damian POV

__ADS_1


__ADS_2