Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
39. Hujan


__ADS_3

Isabela mengusap peluh di keningnya, ia baru selesai melakukan pendinginan setelah sesi latihan sepanjang sore. Beberapa anak perempuan yang masih kecil berbisik-bisik sambil menatapnya. Isabela hanya tersenyum saat mereka bertatapan.


Isabela beranjak dari tempatnya sambil membawa tas peralatannya. Tiba-tiba salah seorang dari anak-anak tadi menghampirinya.


"Eumm....hai miss." sapa anak itu malu-malu.


"Hai juga." Isabela berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. Anak itu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman, dengan senang hati Isabela menanggapinya.


"Namaku Victoria."


"Aku Isabela." keduanya berjabat tangan sambil tersenyum.


"Berapa usiamu Victoria?"


"Miss bisa memanggil Vicy saja. Usia Vicy 7 tahun miss." kata gadis itu. Isabela menaikkan alisnya kemudian tersenyum lembut, sepertinya gadis kecil ini ingin lebih dekat dengannya.


"Vicy sudah lama bergabung dengan kami?"


"Sudah beberapa bulan miss." Vicy terlihat senang Isabela bertanya. "Miss, jika sudah besar nanti, Vicy juga ingin menjadi pemeran White Swan seperti miss." netranya berbinar-binar.


"Tentu saja, asalkan mulai sekarang kau rajin berlatih." Isabela menyentuh kepala Vicy dengan sayang. "Bisa tolong tunjukkan gerakanmu? Pirouette." pintanya.


Vicy mengangguk cepat, dengan tersenyum ia melakukan putaran 360° kemudian berpose anggun. Isabela tersenyum dan bertepuk pelan, ia tak ingin menarik perhatian yang lainnya.


"Bagus, kau tinggal meningkatkan teknikmu untuk latihan tingkat lanjut." Vicy terlihat bahagia dengan pujian yang diberikan Isabela.


"Miss permisi dulu ya." pamitnya pada Vicy, gadis itu mengangguk.


Isabela keluar dari studio dan menuju ruang pribadinya. Sekolah tari ini adalah milik keluarganya, oleh sebab itu mamanya menyiapkan ruangan khusus untuk dirinya. Ia melepas sepatu pointe kemudian meletakkan tas peralatan di dalam loker. Lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri dan berpakaian rapi, Isabela segera pergi. Ia sudah rindu kasur dan bantalnya. Wajahnya terlihat lelah, namun ia masih membalas sapaan setiap orang yang dijumpai di koridor dengan senyum terbaiknya. Saat berada di lobi utama ia melihat Vicy sedang duduk seorang diri di sebuah sofa dekat meja petugas keamanan.


"Selamat malam miss." Sapa petugas itu saat melihat kedatangan Isabela.


"Selamat malam pak." Isabela tersenyum. "Hai Vicy, kenapa belum pulang?" Isabela langsung duduk di samping gadis kecil itu.


"Daddy belum datang miss. Mungkin terjebak macet." Vicy tersenyum.


"Apakah mama Vicy tidak bisa menggantikan untuk datang menjemput?"


"Vicy tidak punya mama miss. Katanya mommy meninggal waktu melahirkan Vicy." Isabela terhenyak mendengar itu, sedangkan Vicy tampak santai saat mengatakannya.


"Oh, maaf sayang. Miss tidak tahu." Isabela merasa bersalah. Kemudian ia mengeluarkan kotak makan berwarna lilac dari dalam tasnya.


"Sambil menunggu, kita makan cemilan yuk." katanya sambil membuka kotak itu. Ternyata isinya roti lapis. "Vicy alergi sesuatu?" ia memastikan sebelum memberi makanan ada anak kecil.

__ADS_1


"Vicy alergi kacang tanah miss."


"Syukurlah, ini roti gandum. Dan isiannya hanya sayur serta tuna. Bagaimana?"


"Iya miss, Vicy mau." Vicy girang dengan tawaran Isabela.


Mereka berdua menikmati roti lapis itu dengan diselingi pertanyaan-pertanyaan Vicy seputar balet.


"Vicy." seorang pria datang mendekat. Isabela melihat pria itu, wajahnya tampan meskipun tidak tersenyum. Ia masih memakai jas, mungkin baru pulang dari kantor.


"Daddy." pekik Vicy girang. "Miss, daddy sudah datang."


Isabela tersenyum melihat Vicy, jarinya terulur mengusap sudut bibir Vicy yang belepotan dengan mayonaise. "Minum air putih dulu."


Vicy mengangguk dan mengambil botol miliknya. Daddy Vicy mengernyit melihat interaksi putrinya dengan wanita yang dipanggil miss itu. Tak biasanya Vicy dekat dengan wanita asing selain keluarga mereka.


"Terima kasih sudah menemani Vicy." kata Daddy Vicy setelah Vicy sudah bersiap untuk pergi.


"Sama-sama tuan." melihat orang dihadapannya memasang wajah datar, Isabela pun melakukan hal yang sama.


"Daddy, kenalan dulu dengan miss. Kan miss sudah baik sama Vicy." anak perempuan itu menggoyang-goyang tangan daddynya.


"Eh..I-iya Cy." Pria itu terkejut dengan permintaan putri kecilnya. Ia menatap Isabela lurus-lurus ke dalam matanya sambil mengulurkan tangan.


Isabela sedikit terkejut, kemudian ia menyambut uluran tangan pria itu.


"Isabela."


"Nggak pakai senyum dad?" Vicy memandang heran kedua orang dewasa itu.


"Sudah mau hujan Vicy." kata Leon setelah melepas tangan Isabela. "Mari kita pulang. Permisi miss, dan terima kasih."


"Ya." Isabela enggan memanjangkan kalimatnya.


"Miss, sampai bertemu lagi." Vicy melambai sambil tersenyum.


"Tentu, jaga kesehatan ya Vicy." Isabela membalas lambaian Vicy dengan senyuman manis. Leon yang melihat itu mengernyitkan dahinya samar. Tadi ia tak tersenyum sama sekali kepadaku.


Isabela tak menunggu ayah dan anak itu keluar, ia langsung berbalik karena teringat ada yang tertinggal. Lima belas menit kemudian ia kembali ke lobi. Ternyata hujan deras di luar. Ia segera mengeluarkan payung lipat dari dalam tasnya dan keluar dari gedung.


Baru saja melewati pintu utama, ia melihat Leon dan Vicy berdiri. Rupanya mereka telah terjebak hujan. Isabela memandangi payung di tangannya, kemudian menatap Vicy yang terlihat lelah.


"Maaf Tuan, jika anda tidak keberatan saya bisa mengantar kalian berdua ke mobil dengan payung saya." Isabela menawarkan bantuan.


Leon menatap Isabela sejenak, reaksinya tak dapat diartikan.

__ADS_1


"Kasihan Vicy, ia sudah lelah karena latihan hari ini." Isabela tak ingin dianggap memiliki maksud lain.


Leon mengangguk, ia terlihat akan mengambil payung dari tangan Isabela.


"Aku akan mengantar Vicy terlebih dahulu." Isabela mengangguk dan menyerahkan payungnya. Tak berapa lama Leon muncul.


"Saya akan mengantar Tuan ke mobil." kata Isabela datar.


"Baiklah." setelah Leon setuju Isabela melangkah masuk ke dalam naungan payung itu. Sebenarnya payung itu hanya muat untuk satu orang dewasa. Jadi mereka berdua harus berjalan dengan tubuh saling merapat.


Tiba-tiba hujan turun semakin lebat. "Maaf miss." kata Leon. Isabela mengernyit tak mengerti, sedetik kemudian tangan Leon merengkuh pundaknya agar mereka semakin rapat.


Leon merasa desiran hangat menjalari tubuhnya saat tanpa sengaja wajah Isabela mendekat pada lehernya. Hembusan nafas dan parfum yang dikenakan gadis itu dapat tercium dengan jelas oleh hidungnya.


Sementara itu Isabela merasa canggung dengan posisi ini. Beruntung jarak mobil berwarna putih itu tidak jauh. Jadi mereka tak perlu berlama-lama saling berhimpitan. Isabela memegangi payung saat Leon masuk dan duduk di balik kemudi.


"Terima kasih." Leon tersenyum tipis.


"Iya tuan, sama-sama." Isabela tak menyadari senyuman itu.


"Terima kasih lagi ya miss." Vicy menjulurkan kepalanya dari kursi penumpang di bagian belakang. Matanya terlihat sayu, sepertinya kantuk sudah mulai menyerang Vicy.


"Iya, sama-sama. Semoga mimpi indah Vicy."


Isabela membalikkan badannya agar Leon segera menutup pintu mobil. Rupanya Leon tidak segera pergi, ia melihat Isabela berjalan menuju mobilnya. Koenigsegg Regerra berwarna merah itu terparkir tepat disisi Lamborghini Urus miliknya.


Isabela langsung masuk ke dalam mobil tanpa menoleh sedikit pun. Setelah Isabela masuk barulah Leon pergi dari sana.


"Dad, miss sangat cantik bukan?" suara Vicy memecah kesunyian.


"Iya sweetheart, miss memang cantik." kata Leon sekenanya.


"Miss pemeran White Swan di pertunjukan Swan Lake nanti dad. Vicy ingin seperti miss saat besar nanti." Vicy belum ingin berhenti bicara, Leon melirik putrinya dari spion tengah.


Leon diam, sepertinya Vicy mengagumi Isabela.


"Daddy."


"Ya Sweetheart"


"Aku ingin miss jadi mommyku."


Leon terkejut, ia kembali melihat Vicy melalui spion. Ternyata Vicy sudah memejamkan matanya. Leon tersenyum, putrinya kelelahan. Fokusnya kembali ke jalanan di depan, ia hanya menganggap ucapan putrinya sebatas ocehan semata.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2