
Pagi hari yang cerah, Riana membuka kelopak matanya perlahan, rasanya berat dan sakit di sekujur tubuhnya. Saat kesadarannya mulai pulih sedikit demi sedikit, samar-samar ia menangkap bayangan sosok seorang pria.
Riswan!!!
Ketakutan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Bayangan itu bergerak, tangannya seolah akan menjangkau dirinya. Riana ingin berlari, namun ia tak dapat bergerak.
Tuhan, tolong aku.
Ingin berteriak, namun suaranya hilang entah kemana. Tak terasa air matanya mulai mengalir.
Rangga yang melihat itu semakin cemas, ia sampai menekan tombol darurat berulang kali.
Perawat datang dengan tergopoh-gopoh. Setelah melihat keadaan Riana, ia segera menghubungi ruang jaga perawat menggunakan Walkie Talkie miliknya.
"Code blue! Code blue!"
Tak lama berselang beberapa dokter dan beberapa perawat datang dengan tergesa-gesa. Dokter mulai memeriksa Riana. Nampak ia membuka kelopak mata Riana dan menyinarinya menggunakan Medical Pen Light.
"Maaf, keluarga pasien harap menunggu di luar ruangan." seorang perawat memberi perintah pada Rangga dan Audrey.
Audrey memegang lengan Rangga kuat-kuat, kakak beradik itu beringsut di dinding, saling menguatkan.
Memang Riana bukan keluarga mereka, tapi bukankah empati tak memerlukan hubungan darah?
"Kak, aku takut." Audrey mulai terisak.
"Tenanglah, Riana pasti kuat."
"Rangga, Audrey, ada apa?" Papa Sebastian tiba dengan wajah penuh tanya.
"Papa." Audrey menghambur ke dalam pelukan papanya. "Kak Riana pa, kemarin waktu sadar nggak kenapa-kenapa. Tapi tadi..." Audrey tak sanggup melanjutkan.
"Tenanglah sayang." Sebastian mengusap punggung putrinya. "Bagaimana Rangga?"
"Tim medis sudah ada di dalam pa. Kita tunggu saja mereka keluar." ucap Rangga setenang mungkin.
Sebastian akhirnya bersandar di dinding karena putrinya tak kunjung melepas pelukannya. Bahkan saat ketiga sahabatnya datang, ia lebih memilih tak beranjak dari dekapan sang papa.
Akhirnya seorang dokter keluar. Ia terkejut melihat Sebastian ada diantara kerumunan itu.
"Arka, bagaimana keadaan Riana?" Sebastian langsung bertanya sambil melepas Audrey.
"Dia mengalami syok hipovolemik, kami harus lakukan operasi saat ini juga."
"Lakukan saja om, penanganan apapun itu, aku mohon. Kerjakan saja." Rangga menyela.
"Tapi Rangga, om tak bisa menjamin operasi ini akan menyelamatkan nyawanya. Kemungkinannya untuk pulih sangat kecil. Kejadian ini menyerang psikisnya, ia terluka fisik dan mental."
"Lakukan saja dokter, asalkan bisa menambah waktunya untuk hidup."
"Om bukan Tuhan, Rangga."
"Tapi Tuhan menggunakan tangan om untuk menyelamatkan manusia kan. Setidaknya om sudah mencoba. Rangga mohon."
Dokter Arka menghela nafas. "Baiklah, kalau begitu."
Dokter Arka masuk ke dalam ruang perawatan, dan kemudian tampak perawat mendorong brankar menuju ruang operasi.
"Riana, ini aku, Rangga. Berjuanglah, aku menunggumu, kita akan memenjarakannya." Rangga berkata dengan cukup keras, membuat para perawat saling berpandangan.
__ADS_1
"Rangga, tenangkan dirimu." Sebastian menahan pundak anaknya. "Kita hanya bisa berdoa."
Sebastian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Clinton, tuntut dengan hukuman maksimal." katanya pada Pengacara perusahaan diujung sambungan telpon, kemudian berbalik melihat keempat gadis itu. "Yura, tolong bawa Audrey ke apartemenmu."
"Tidak pa, Audrey mau disini menunggu kabar."
"Riana akan selamat Drey, istirahatlah. Kau membutuhkan tenagamu untuk merawatnya setelah operasi nanti." Sebastian tidak ingin dibantah.
Dengan langkah gontai Audrey pergi, Sebastian menatap keempat gadis itu sampai mereka menghilang di balik pintu pembatas ruang VVIP dengan ruang perawatan lain.
Rangga menghela nafas, perlahan ia melangkah menuju ruang operasi setelah memastikan seorang perawat mengamankan ruang perawatan Riana.
"Lebih baik papa pulang dulu, papa kan baru saja tiba." Rangga melihat papanya menyusul.
"Papa baik-baik saja, karena kemacetan papa jadi bisa tidur sebentar di dalam mobil."
Tak ada lagi percakapan hingga mereka berdua tiba di depan ruang operasi.
Rangga duduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia teringat percakapan pertamanya dengan Riana setelah pernikahan wanita itu.
Flashback on
"Maaf aku tak bisa menolongmu."
"Tidak apa-apa, mungkin inilah takdirku." Riana tersenyum.
Rangga menatap Riana dengan sendu, hatinya terluka, tapi dia tak dapat berbuat apa-apa.
"Aku mencintaimu, tapi aku tak akan menodai janji suci kalian. Aku perlu waktu."
"Aku mengerti, aku pun sama. Memang mustahil untuk kembali berteman seperti sebelumnya. Tapi tidak mustahil untuk menjaga hubungan baik tanpa melibatkan hati. Kita pasti bisa."
Apapun dasar pernikahan yang dijalani, janji suci tak boleh dinodai. Karena Sang Pencipta tak menyukai kejahatan, semua akan dibalas berdasarkan perbuatan.
Flashback off
"Papa kagum padamu Rangga." Sebastian membuka percakapan untuk membunuh jenuh.
Rangga mendongak, menatap wajah papanya dengan kedua alis bertautan.
"Kau mampu mengendalikan hatimu selama bersamanya."
Rangga tersenyum kecut. "Aku bahkan belum bisa menyukai gadis lain pa. Bagaimana papa bisa mengatakan hal seperti itu?"
"Mendapat pasangan baru bukanlah ukuran kau sudah move on atau belum nak. Bukankah percuma kau punya kekasih baru tapi di hatimu hanya ada Riana?"
"Papa benar, perjuangan panjang setiap hari melihatnya namun harus menghapus rasa." Rangga menertawakan dirinya sendiri.
"Karena niatmu baik, jadi sang Pencipta membantumu."
Rangga tersenyum tipis. "Bagaimana dengan kota Y? Apakah tidak apa-apa kita berdua tidak disana pa?"
"Tentu, papa akan kembali kesana beberapa hari lagi."
Operasi berjalan selama kurang lebih empat jam, dan selama itu pula Rangga tidak beranjak dari depan ruang operasi. Sampai akhirnya lampu yang berada di atas pintu ruang operasi padam, menandakan tindakan operasi telah selesai.
Sebastian dan Rangga berdiri di dekat pintu, menunggu kemunculan dokter Arka selaku pemimpin tim operasi yang menangani Riana.
__ADS_1
"Semua terkendali, tapi kita harus menunggu sampai ia sadar terlebih dulu. Oleh sebab itu aku tak berani memberi harapan pada kalian berdua. Kondisinya tak dapat diprediksi." katanya jujur.
"Kemana ia akan dipindahkan?" Sebastian bertanya.
"Ke unit perawatan intensif bedah, aku tak ingin mengambil resiko. Ruangannya ada di ujung lorong ini, sebelah kiri. Mereka tak akan mendorongnya lewat jalan ini, karena ada pintu penghubung di dalam sana."
"Terima kasih Arka."
"Terima kasih banyak om."
"Ya, aku pergi dulu."
.
.
.
"Drey, kepalaku sakit melihatmu berjalan seperti setrika." Isabela menggerutu.
"Maaf Isa, aku cemas."
"Kalian berdua, mari kita makan dulu. Aku dan Nabila sudah menyiapkan semua." kata Yura sambil mulai melepas apron.
"Kalian saja, aku tak lapar."
"Tidak, kau harus makan." Isa menarik tangan Audrey sekuat tenaga.
"Benar, kami tak ingin papa Sebastian memarahi kami." Yura mendorong punggung Audrey.
Mereka menikmati makan dengan hening, hanya dentingan peralatan makan yang sesekali terdengar. Audrey tampak tidak bersemangat, ia menyuapkan makanan dan mengunyahnya perlahan-lahan.
Selesai makan, mereka semua memilih duduk di pantry sambil menyesap wine. Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi dan Yura bergegas membuka pintu.
"Audrey." Audrey segera mendongak setelah mendengar suara papanya.
"Papa, bagaimana operasinya?" setengah berlari Audrey menghampiri papanya.
"Berjalan dengan baik, sekarang kita tinggal menunggu Riana sadar. Papa akan pulang, mau ikut?"
Audrey mengangguk dan berpamitan pada sahabat-sahabatnya.
"Jika ingin ke rumah sakit, beri tahu kami ya." kata Nabila setelah melepas pelukannya.
Audrey hanya mengangguk kemudian menyusul papanya.
Di rumah sakit, Rangga masih setia menemani Riana. Ia mengenakan baju pelindung untuk masuk ke dalam ruang perawatan Riana pasca operasi. Ia juga menolak tawaran Sebastian untuk pulang ke rumah.
"Riana, ini Rangga. Kau harus kuat ya. Aku akan menjagamu disini." bisiknya di telinga Riana.
"Rangga, pergilah ke kantin dan makanlah sesuatu." dokter Arka muncul untuk memeriksa. "Ada banyak perawat disini, tenanglah."
"Tidak apa-apa om, aku belum lapar."
"Kau tidak percaya pada kami, hmm?"
"Bukan begitu om. Aku..." Rangga menunduk. "Baiklah om, aku ke kantin dulu." akhirnya ia menuruti saran dokter Arka.
.
__ADS_1
.
.