Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
28. Kucing Persia


__ADS_3

Rangga menatap langit-langit kamar, pikirannya dipenuhi wajah Yura. Ia bukan pemuda yang baru pertama kali mengenal cinta. Jadi ia cukup paham apa yang terjadi pada dirinya.


Masih hitungan minggu ia sudah begitu nekat mendekati Yura, bukan tanpa alasan. Ia hanya tak ingin kehilangan, mengulang peristiwa tak menyenangkan.


Ia sudah mengenal gadis-gadis itu sejak mereka kecil, karena ia sering menemani Audrey konseling. Hingga mereka semua tumbuh dewasa, mereka tetap sering berkumpul bersama. Di depannya gadis-gadis itu bersikap wajar, tak malu-malu menjaga sikap.


Karena bagi mereka, ia adalah kakak Audrey. Bukan pemuda yang mereka taksir, dan entah mengapa, sepertinya mereka yakin Rangga pun tak akan naksir salah satu diantara mereka bertiga.


Rangga dekat dengan Yura dibanding sahabat Audrey yang lain karena kadang ia suka bercerita dan berkonsultasi soal teknologi terbaru bersama gadis itu.


Selama ini di matanya Yura seperti adiknya, ia menganggap gadis-gadis itu tetaplah anak perempuan yang masih kecil dan badannya saja yang seperti orang dewasa. Karena kadang kelakuan mereka tak ubahnya anak sekolah dasar yang berlari kesana kemari.


Waktu bisa mengubah segalanya, hari itu penampilan Yura membuka pikirannya. Yura sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang memikat. Darahnya berdesir saat gadis itu menyentuh tangannya, tatapan matanya yang teduh menenangkan hatinya.


"Lucu, aku menemukan pengganti Riana saat aku mengantar Riana ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Hhh, kejamnya takdir." Rangga mengusap wajahnya dengan kasar.


Ia membalikkan tubuhnya, memejamkan matanya. Lima menit kemudian, ia berbalik lagi. Dan pada akhirnya ia hanya berguling-guling di ranjangnya. Tak tahan seperti itu, akhirnya Rangga memilih duduk di ranjangnya.


"Yunita Nara, kau kejam menyiksaku seperti ini. Aarrgghh.." Rangga mengacak-acak rambutnya sendiri.


Ia meraih ponsel yang tergeletak di dekat bantalnya. Membuka aplikasi pesan dan terkejut, ternyata Yura masih online. Ia menyentuh simbol telepon dan mendekatkan ponsel ke telinganya. Tak butuh waktu lama, Yura mengangkat telepon itu.


"Ya kak." suaranya terdengar ragu-ragu.


"Kenapa belum tidur Ta?


"Ita susah tidur kak, nggak tahu kenapa."


"Sama, kakak juga."


Hening, keduanya sama-sama bingung mau berkata apa.


"Ta, besok kakak ke apartemenmu ya."


"Bukannya pekerjaan kakak masih banyak ya. Kasihan Om Sebastian kalau kakak pergi."


"Tapi Ta, kakak ingin ketemu."


"Kan bisa video call."


"Rasanya beda Ta."


"Rasa manis atau asin?"


"Pedas."


"Nggak nyambung."


"Biarin."


Keduanya lantas tertawa.


"Sepertinya aku akan tidur nyenyak sekarang. Terima kasih ya Ta."


"Iya kak, sama-sama."


Rangga meletakkan ponsel, rasanya lebih ringan dan nyaman setelah berbicara lagi dengan Yura. Tak perlu waktu lama, ia pun segera masuk ke alam mimpi.


.


.


.


Audrey bergegas mandi dan berganti baju, padahal masih terlalu pagi. Ia tak ingin saat Aaron kembali ke kamar, ia melihat Audrey masih berbaring.


Flashback on


"Kenapa berdiri saja Drey?"

__ADS_1


"Kak, maaf tapi Audrey tidak bisa tidur disini."


"Kakak sudah siapkan tempat di dalam ruang kerja, nanti kakak tidur disana." kata Aaron sambil berjalan mendekati Audrey.


Melihat Aaron mendekat Audrey segera mundur, matanya terlihat menatap kesana kemari. Aaron tersenyum menyadari gadis di hadapannya sedang gugup.


"Jangan takut, kakak tidak akan macam-macam."


Audrey tersenyum kecut, tak biasanya ia merasa was-was menghadapi lawan jenis.


"Terima kasih sudah bersedia membantu."


"Iya kak."


"Tidurlah, istriku." Aaron mengerling menggoda.


Wajah Audrey berubah, ia terlihat kesal dengan kata terakhir. Namun ia memilih diam dan naik ke ranjangnya. Saat Aaron sudah keluar, ia meletakkan pistolnya di bawah bantal.


Flashback off


"Kau sudah bangun?" Aaron masuk dengan wajah khas orang yang baru bangun tidur.


"Iya kak."


"Hari ini kakak akan menemanimu di rumah."


"Kenapa tidak ke kantor?"


"Sebenarnya aku mengambil cuti sampai sehari setelah peresmian resort. Tapi karena kau sudah lebih dulu pulang, jadi yahhh, kau tahu apa yang terjadi.


"Aku pengacau ya." Audrey tersenyum jenaka.


"Ya, pengacau yang cantik." Aaron mengedipkan matanya. "Tunggu ya, beri aku waktu untuk bersiap." ia pun melesat masuk ke dalam kamar mandi.


Audrey berdiri, ia menggeser sebuah jendela yang lebih mirip pintu. Kamar Aaron di lengkapi dengan taman pribadi. Senyum Audrey mengembang sempurna, ia melangkah keluar, menyentuh embun yang ada di dedaunan.


Taman itu benar-benar tertutup, di sekelilingnya hanya ada tembok. Membuat siapapun yang ada disana merasa terpisah dari kehidupan di dalam mansion.


"Kau suka?" Aaron datang dan duduk di samping Audrey.


"Sangat suka, taman ini indah sekali."


"Aku dan mama sering menghabiskan waktu bersama di tempat ini." Aaron mengenang.


"Maaf kak, aku.."


"Tidak apa-apa Drey, aku baik-baik saja." Aaron memotong kalimat Audrey.


"Kak, apa benar sandiwara ini hanya satu bulan saja? Tidak bisa lebih cepat lagi?"


"Bisa, aku akan berusaha secepatnya. Aku juga tidak ingin kau jadi sangat tertekan. Karena semenjak datang ke tempat ini kau lebih banyak diam, tidak seperti biasanya."


"Aku memang pendiam."


"Ya, saat tidur." Aaron mengusap kepala Audrey.


Gadis itu hanya terkekeh mendengar ledekan Aaron. Melihat itu Aaron jadi semakin ingin mengerjainya, jadilah ia mengacak-acak rambut Audrey sesuka hatinya.


Audrey merengut, ia menangkap kedua tangan pemuda itu. Namun Aaron mengelak, dan kembali mengacak rambut Audrey.


"Hentikan! Kakak menyebalkan." ia merapikan rambutnya dengan jari.


Aaron tersenyum dan membantu Audrey merapikan rambut.


"Ayo, kita sarapan di ruang makan." ia menggandeng tangan Audrey. "Kau siap menghadapi Arneta?"


"Selalu, jangan khawatir." kata Audrey meyakinkan.


Mereka masuk kembali ke dalam kamar dan terus menuju ruang makan. Belum ada Arneta atau Juliana di sana, hanya ada pelayan yang melayani mereka berdua.

__ADS_1


Ketenangan makan pagi itu berubah saat suara Arneta terdengar sangat lantang dari pintu masuk. Tak lama sosoknya muncul dengan rambut sedikit berantakan. Ia berhenti di samping kiri Aaron. Audrey yang berada di samping kanan Aaron menghentikan kegiatannya. Matanya menatap beberapa tanda merah di leher Arneta yang terekspos.


"Menantuku, kau tak mengucapkan salam pada mertuamu ini?" nada bicaranya aneh, sepertinya Arneta sedikit dipengaruhi minuman beralkohol.


"Teruskan makanmu honey." Aaron menatap Audrey dengan penuh sayang.


Audrey tidak menyahut, ia melanjutkan makannya.


"S*a**n." Arneta mengumpat.


"Edward!" Aaron memanggil kepala pelayan. Pria itu mendekat dengan tiga orang pelayan dan membawa Arneta ke kamarnya.


"Sepertinya dia begitu marah semalam dan pergi bersenang-senang." Audrey berpendapat.


"Ya, seekor kucing persia membuatnya marah."


"Aku bukan kucing." Audrey protes.


"Lalu?" Aaron mengangkat alisnya.


"Aku gadis yang manis." Audrey memasang wajah manis dan gestur tubuh yang gemulai.


Sontak Aaron tertawa sambil menutup mulutnya, Audrey pun melakukan hal yang sama.


"Setelah makan aku akan mengajakmu berkeliling mansion, bagaimana?"


"Tentu saja." Audrey berbinar, setidaknya ia tak perlu berdiam diri di dalam kamar.


Saat mereka hendak berdiri, Juliana datang. Namun gadis itu tak mengucapkan apapun. Tentu saja Aaron bersyukur, ia tak perlu menangapi kalimat-kalimat tak masuk akal Juliana.


Aaron mengajak Audrey ke ruang tengah, disana ada beberapa foto keluarga Aaron. Audrey jadi bisa melihat wajah kedua orang tua Aaron yang telah tiada. Kadang Audrey tertawa melihat foto masa kecil Aaron.


"Papanya kakak tampan dan Mamanya kakak cantik sekali." Audrey menatap kagum foto lawas seorang wanita.


"Oleh sebab itu aku sangat tampan."


Audrey menyikut Aaron yang berdiri di belakangnya, ia tak menyangka gerakannya terlalu kuat hingga Aaron kesakitan.


"Awww, sakit Drey." Aaron memegangi perutnya.


"Ya ampun kak, maaf." Audrey berbalik dan menatap cwmas. "Perasaan Audrey nggak terlalu kuat tadi." katanya sambil mengusap perut Aaron.


Aaron hanya meringis, ia melirik melihat wajah Audrey yang cemas. Posisi mereka sangat dekat, seakan Audrey sedang memeluk Aaron.


"Drey."


"Hmm." Audrey mendongak menatap Aaron.


"Sudah cukup, aku tak apa-apa." tak tega membuat Audrey cemas.


"Kakak tadi pura-pura ya."


"Tidak kok, memang sakit. Tapi ya, sedikit." ujung ibu jari dan telunjuk Aaron hampir menempel.


Happ!!!


"Aaaaa!!"


Audrey menggigit jari Aaron sejenak kemudian melepasnya.


"Itu hukuman karena sudah mengerjaiku." Audrey menipiskan bibirnya kesal.


Aaron tersenyum jahil, kemudian ia memasukkan jarinya yang digigit Audrey ke dalam mulutnya.


"Manis." gumamnya sambil menatap Audrey dengan tatapan mata menggoda.


Wajah Audrey seketika merona, segera ia berbalik dan pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya. Aaron hanya tertawa melihat tingkah gadis itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2