
Sebastian mondar mandir di dalam kamar hotelnya. Ia tak tenang karena beberapa hari tak dapat berbincang dengan putrinya. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Yura.
"Halo Ra." sapanya begitu panggilan teleponnya diterima gadis itu.
"Halo om, apa kabar?" jawab Yura setenang mungkin.
"Kabar baik. Yura, apa Audrey bersamamu?"
Yura menahan nafas, ia sudah menduga pertanyaan ini saat melihat layar ponselnya. Namun tetap saja, ia sangat gugup setelah mendengar langsung pertanyaan ini dari mulut Om Sebastian.
"Audrey sedang pergi ke kota B om. Ada vila milik keluarga tante Tika disana." jawab Yura jujur tanpa menceritakan seluruh kejadian.
"Ya, aku tahu tempatnya. Pantas saja Audrey sulit dihubungi." Sebastian menghela nafas. "Yura, apakah kau tahu hal apa yang dilakukan Tika dan Audrey disana?"
"Kalau itu saya juga tidak mengerti Om." Kali ini ia memang tidak tahu menahu keperluan Audrey disana. Karena Audrey pun tak tahu tujuan kepergian mereka saat Aaron membawanya kesana.
"Baiklah, terima kasih ya Ra." Sebastian terdiam, sejurus kemudian. "Apa Rangga sudah menghubungimu Yura?"
"Eh, Kak Rangga. Umm..Be-belum Om." Yura gugup.
Terdengar kekehan pelan Sebastian diujung sambungan telepon. "Kenapa jadi gugup nak?"
"Itu, ti-tidak om. Hanya kaget saja tiba-tiba om mengubah topik pembicaraan."
"Baiklah kalau begitu, jika Rangga menghubungi tolong bilang padanya untuk tidak membuang waktu."
"Iya Om, akan saya sampaikan." kata Yura patuh tanpa mengerti maksud pesan itu.
Sebastian tersenyum setelah mengucap salam perpisahan dan menutup telepon. Ia sudah mengamati putra sulungnya akhir-akhir ini, dan tak sulit menebak siapa gadis yang sudah mengusik hati dan pikiran Rangga.
Pasalnya Rangga jarang berbalas pesan dan melakukan panggilan video dengan lawan jenis di luar keperluan kantor, atau keluarga tentunya. Dan beberapa kali ia memergoki Rangga sedang menghubungi Yura.
"Kali ini tak akan kubiarkan ada yang menghancurkan hubungan putraku lagi." Sebastian telah bertekad.
.
.
.
Audrey masih bermalas-malasan di ranjangnya. Ia sudah mandi dan sudah rapi sejak lama, tapi ia enggan untuk keluar kamar. Apalagi jika harus bertemu Dokter Bram dan Om Bagas.
Tok..Tok..Tok..
"Audrey, tante bawakan makan pagimu sayang." suara tante Tika di sisi lain pintu kamar.
Audrey melompat dan segera membuka pintu.
"Tante!" serunya girang. Ia bergerak menuju samping kiri Tika dan memeluk wanita itu.
"Ada apa Drey?" Tika terkejut dengan reaksi Audrey.
"Kenapa kemarin tidak datang bersama kami?"
"Kan Om Isak masih ada sedikit pekerjaan. Bukankah tante sudah memberi tahumu?" Tika mengernyit. "Ayo, makan dulu." Tika masuk melewati Audrey dan meletakkan nampan berisi makanan dan jus di sebuah meja dekat jendela.
Audrey mengikuti Tika dengan tak bersemangat.
"Ya, aku tahu. Tapi tetap saja, kurasa kemarin akan lebih baik jika ada tante."
Tika memicing dan menatap lurus ke depan, melewati tubuh Audrey.
"Apa kau menggodanya terus Aaron?"
Audrey tersentak dan menoleh ke belakang, tampak Aaron sedang tersenyum simpul.
"Tidak tante, mungkin Audrey canggung karena tak ada teman perempuan." kilahnya, Audrey memasang wajah kesal. Namun ia diam dan memilih duduk dan mulai menyantap makanannya.
"Setelah makan kita jalan-jalan ya. Tante tunggu di luar."
__ADS_1
"Iya tante." Audrey tersenyum tipis.
Tika menyeret Aaron keluar dari dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Tika tak berbasa basi lagi saat mereka berdua berdiri di salah satu teras.
"Aku.." wajah Aaron terlihat bingung, sedang manik mata Tika tak berpindah dari mata Aaron.
"Aku apa?!" Tika tak sabar.
"Aku mengecupnya." Aaron tersenyum kikuk dan menunduk. "Kemudian saat tiba, papa memintanya untuk menikah denganku." Aaron menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa ini?" suara Bagas terdengar dari belakang mereka. Tika menoleh dan langsung memasang wajah tak bersahabat.
"Dasar, bapak dan anak sama saja!" hardiknya. "Aku memang menginginkan Audrey menjadi menantu keluarga ini. Tapi tidak dengan cara seagresif ini!" Tika marah, wajahnya memerah.
"Aku tak ingin Aaron kehilangan kesempatannya." Aaron mengangguk menyetujui pendapat papanya.
"Tapi jika terlalu agresif dan mendesak begini. Audrey bisa ketakutan dan lari." Aaron kembali mengangguk-anggukkan kepala, kali ini ia setuju dengan tantenya.
"Bukan maksudku menakutinya Tika. Setidaknya biar dia tahu kita menyukainya." Aaron kembali mengangguk.
"Aku mengerti, tapi jangan dengan cara seperti ini. Dia bisa saja stres dan menolak mentah-mentah." Aaron terhenyak, ia terdiam sesaat dan saat akan menggerakkan kepalanya.
"Mengangguk lagi akan tante pukul kepalamu!" Tika melepas wedges coklat yang ia kenakan dan mengacungkannya tepat di depan muka Aaron.
Aaron tersenyum kaku dan mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
"Kalau ia menutup diri dan menjauhiku, awas saja kalian berdua." ancam Tika, kemudian ia pergi untuk melihat Audrey. Kedua pria beda usia itu menatap kepergiannya tanpa berbicara sampai Tika berbelok.
"Adik papa galak sekali."
"Iya, seperti harimau betina yang lapar."
"Aku mendengarnya!!" kepala Tika tiba-tiba muncul di sudut dinding. Aaron dan Bagas sontak memegang dada mereka karena terkejut dan membalikkan badan.
"Tabahkan hatimu Pa, sudah takdir punya adik perempuan seperti itu." Aaron menepuk pundak papanya.
"Anak durhaka!" Bagas memukul kening Aaron dan pergi menuju ruang keluarga. Aaron mengusap keningnya sejenak, kemudian gegas menyusul Sang Papa dan menuntunnya.
"Ada apa?" Bram muncul entah dari mana.
"Tante Tika berencana membuat kami terkena serangan jantung." Aaron mengadu.
"Benarkah?" Bram mengernyit. "Pasti ada yang memicunya."
"Sudahlah, tolong periksa papa."
Bram mengangguk dan mendekati Bagas untuk memeriksanya.
"Semuanya baik-baik saja." Bram melepas stetoskop. "Sesaat lagi kita akan melakukan terapi herbal di dalam jacuzzi."
"Boleh aku ikut?" Aaron tertarik.
"Tentu saja, Papa ingin punya lebih banyak waktu denganmu." Bagas tersenyum senang.
"Kalau begitu akan aku siapkan semuanya." Bram beranjak pergi.
"Dimana Isak? Aku belum melihatnya." Bagas mencari adik iparnya.
"Om sedang bekerja, dia duduk di gazebo."
Bagas mengulum senyum. "Aku senang kalian semua ada disini. Tak sabar ingin segera pulang ke kota S agar kalian tak perlu jauh-jauh mengunjungiku."
"Sebentar lagi dan keinginan papa akan terwujud. Aku juga ingin bisa tinggal bersama lagi." Aaron menggenggam tangan papanya dengan hangat.
...
Audrey dan Tika berjalan-jalan di tepi danau tak jauh dari vila. Mereka tampak asyik membicarakan perhiasan, topik favorit Tika jika sedang berdua dengan Audrey.
__ADS_1
Audrey menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, ia menutup matanya. Senyuman manis mengembang sempurna pada bibirnya.
"Suasana disini menenangkan tante, Audrey suka." Audrey membuka mata dan menoleh pada Tika yang berdiri di sampingnya.
Mendengar itu Tika tersenyum. "Kita duduk disana yuk." Tika menunjuk tempat duduk yang terbuat dari batang pohon yang sudah tua.
Audrey mengangguk dan mengikuti Tika dari belakang. Setelah itu tak ada pembicaraan, mereka menikmati pemandangan alam yang tersaji di depan mata.
"Drey, apa kau memiliki kriteria khusus pemuda idamanmu?"
Audrey memiringkan kepala dan berfikir sejenak. "Belum ada tante, Audrey belum pernah memikirkannya." gadis itu meringis.
"Jangan sampai salah pilih ya Drey." Tika tersenyum.
"Kalau menurut tante, pemuda seperti apa yang bisa mendampingi Audrey?"
"Kalau itu, tante tidak tahu. Selera kita kan berbeda." Tika terkekeh menjawab pertanyaan Audrey.
"Iya juga ya."
"Tapi, kalau bisa. Cari pemuda yang bisa menanamkan nilai-nilai positif buat kamu."
"Bagaimana cara mengetahuinya tante?" Audrey memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman menghadap ke arah Tika.
"Kamu bisa menilai saat kalian berbicara mengenai sebuah masalah. Saat kalian mendiskusikan sesuatu. Lihat bagaimana ia menyikapi dan apa yang ia simpulkan. Nasehat apa yang tersirat dari kalimat-kalimatnya." jelas Tika dengan tetap tersenyum.
Audrey tercenung, matanya menatap danau tapi pikirannya mengembara entah kemana. Tika mengamati Audrey, mencoba menerka apa yang dipikirkan gadis itu.
"Tapi yang sering mengobrol dengan Audrey akhir-akhir cuma Kak Aaron tante."
"Memangnya sebelum bertemu Aaron, tidak ada yang dekat sama kamu?"
"Tidak ada tante, kalau pun ada hanya sekedar saja. Pembicaraannya ya hanya basa basi." Audrey menggaruk kepalanya.
"Ya mungkin karena Audrey juga tidak mau terlalu menanggapi." lanjutnya dengan kikuk.
"Kenapa tidak mau menanggapi?"
"Karena kalau dari awal Audrey tidak tertarik dan merasa risih, untuk apa dilanjutkan."
"Jadi kalau sama Aaron tidak risih ya?"
"Itu, Audrey juga bingung."
"Kok bingung?" Tika membelai rambut gadis di sampingnya itu.
"Audrey bingung kenapa tidak bisa menghindar saat kak Aaron melakukan kontak fisik seperti berpegangan tangan. Tidak risih saat mengobrol dan menatap matanya." Audrey menerawang.
"Karena Audrey sering merasa tatapan beberapa pemuda yang mencoba dekat, seperti menelanjangi Audrey. Pokoknya menjijikkan dipindai seperti itu."
Tika paham apa yang Audrey rasa, perempuan baik-baik mana yang betah ditatap seperti hendak dilahap. Jangan dikira kesopanan hanya sebatas pada gerak tubuh. Kadang kita lupa kalau mata pun bisa mengungkap segalanya. Oleh sebab itu, hati-hati gunakan matamu.
"Waktu tante jatuh cinta pada om Isak. Tante suka senyum-senyum sendiri kalau mengingat dia, dada tante berdebar dan ada perasaan hangat merayap di hati." Tika tersenyum mengenang.
"Bahkan hanya baca pesannya saja, senangnya bukan main." kata Tika sambil memegang tangan Audrey. Gadis itu tersenyum mendengar setiap penuturan Tika.
"Audrey beruntung bisa kenal tante. Mungkin seperti ini rasanya punya mama. Bisa berbagi cerita yang tidak dipahami papa." Audrey meletakkan kepalanya pada pundak Tika. Nafas Tika tercekat, susah payah ia menelan salivanya. Buliran bening diam-diam meluncur dari sudut matanya.
"Ya, karena pria dan wanita berbeda cara berfikirnya." Tika menekan perasaannya hingga membuat tenggorokannya sangat sakit. Tika membelai kepala Audrey perlahan-lahan.
"Kalau ada apa-apa ceritakan pada tante ya sayang. Jangan dipendam sendiri, utarakan saja apa yang kamu rasakan."
Audrey menerima tawaran Tika dengan anggukan. Ia menikmati keadaan saat ini, perasaan hangat menjalar di seluruh aliran darahnya. Kasih sayang bisa berasal dari siapa saja, beruntungnya ia.
.
.
.
__ADS_1