Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
59. Tangisan Sang Angsa Putih


__ADS_3

Hari yang ditunggu Isabela telah tiba, malam ini adalah saatnya pementasan Swan Lake. Kisah cinta yang penuh keajaiban walau berakhir tragis. Isabela memandangi wajahnya di cermin, ia tampak anggun dengan riasan sederhana Sang Angsa Putih. Ia melatih mimik wajahnya, kemudian ia mendesah kasar.


Seharusnya ia bisa tersenyum dengan baik, menatap hangat penuh cinta walau hanya akting. Tapi lihatlah, hanya raut wajah sedih yang tercipta sempurna. Sesuatu yang terjadi sehari sebelum pementasan membuat pikirannya kacau balau.


Isabela memantapkan hatinya, ia adalah balerina profesional. Sekuat tenaga ia tidak akan terpengaruh oleh masalahnya. Gadis itu keluar dan menuju belakang panggung bersama balerina lain. Saat ini Babak 1 tengah berlangsung.


Di tempat duduk penonton VVIP, sahabat-sahabat Isabela telah duduk bersama pasangan masing-masing. Berturut-turut Rangga dan Yura, Audrey dan Aaron, Damian dan Nabila serta Leon. Victoria ikut tampil walau perannya kecil, namun ia ingin putri semata wayangnya itu bahagia karena merasa didukung. Lagipula seseorang yang akan menjadi bagian hidupnya pun turut serta.


Terdengar penonton bertepuk tangan mengiringi berakhirnya Babak 1. Isabela bersiap karena ia akan tampil di Babak 2. Ia memegang dadanya untuk mengurangi gugup. Tarikan napas terdengar kuat membuat beberapa orang yang ada disana menoleh padanya dan tersenyum penuh arti. Isabela memasuki panggung dan siap memberi penampilan terbaiknya.


Di bangku penonton, Leon menatap Isabela tak berkedip. Keanggunan gadis itu telah menyihirnya. Namun beberapa menit kemudian tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras. Di panggung tampak Isabela menari beriringan dengan lawan jenis yang memerankan Pangeran Siegfried. Duet cinta Odette dan Sang Pangeran, tarian romantis yang menggetarkan hati penonton dan juga membuat gigi Leon bergemeretak.


"Melihat penampilannya saat ini membuatku tak percaya beberapa bulan yang lalu melihatnya memanggul senjata laras panjang." Damian bergumam.


Nabila yang mendengar itu hanya tersenyum simpul. Leon menoleh, rupanya ia bisa mendengar ucapan Damian. Ia mengernyitkan dahinya, ia ingin bertanya namun tepukan penonton membuatnya terpaksa melihat kembali ke arah panggung.


Adegan demi adegan berlalu, Isabela telah berganti kostum menjadi Odile/Angsa Hitam. Gerakannya yang berlawanan dengan Angsa Putih yang lebih lembut membuat penonton berdecak kagum. Gadis itu bisa memerankan dua tokoh berbeda sifat dengan sangat apik.


Terlebih lagi saat dia berhasil melakukan 32 fouettes en tournant, semua yang hadir berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Senyum puas terlihat jelas pada semua yang penonton, stamina Isabela bahkan tidak terlihat menurun. Untuk masalah ketahanan fisik, jangan ragukan tubuh mungil Isabela.


Saat adegan Odette melihat pengkhianatan Pangeran Siegfried, Audrey menoleh untuk melihat wajah Rangga. Karena kisahnya hampir sama, mereka dijebak oleh orang yang jahat. Rangga sadar adiknya sedang menatapnya. Ia kemudian menoleh dan tersenyum lembut pada Audrey.


Saat melihat kembali ke panggung, Audrey terkejut melihat roman muka Isabela. Gadis itu terlihat benar-benar sedih. Sebagai sahabat Audrey bisa membedakan, ekspresi Isabela yang sedang akting dan yang sungguhan.


"Ra, lihat wajah Isa?" Audrey berbisik pada Yura yang duduk tepat disampingnya.


"Iya, sepertinya ada yang sedang mengganggunya."


"Semoga semua lancar, tinggal babak terakhir nih." Audrey mencemaskan keadaan Isabela.


Namun kekhawatiran Audrey tak perlu berlanjut. Karena pada akhirnya Isabela tampil dengan sempurna hingga akhir pementasan. Tepuk tangan meriah memenuhi Gedung Teater saat seluruh pengisi acara tampil di atas panggung untuk memberi hormat. Seorang anak kecil terlihat membawakan karangan bunga untuk Isabela, Sang Pemeran utama.


Audrey dan sahabat-sahabatnya beserta pasangan masing-masing segera bergerak ke belakang panggung menuju ruang ganti khusus untuk menemui Isabela. Begitu melihat kedatangan sahabat-sahabatnya, Isabela langsung menghambur ke dalam pelukan Audrey.

__ADS_1


Audrey terkejut karena Isabela menangis sejadi-jadinya. Mereka terdiam, tidak ada yang berani berbicara. Cukup lama Isabela menangis, bahkan saat Mama Tanu datang tangis gadis itu belum reda. Mama Tanu memilih pergi karena yakin Audrey dan yang lain bisa menghentikan tangis Isabela.


Setelah reda, Isabela menarik tubuhnya agar menjauh dari Audrey.


"Maaf membuat bajunu jadi basah." kata Isabela dengan diselingi sesegukan.


"Ada apa baby?" Nabila merapikan anak rambut pada kening Isabela.


"A-aku... aku dijodohkan." jawab Isabela terbata.


Semua yang mendengar itu melebarkan matanya, Leon yang baru saja tiba langsung membeku. Ia menatap iba pada Isabela, terlebih lagi wajah gadis itu terlihat sendu. Audrey sedang membantu mengusap air matanya.


"Siapa pemuda itu?" Rangga akhirnya bersuara mewakili para pemuda yang ada disitu.


"Seorang duda." Isabela hanya menjawab dengan singkat, ia bersandar pada Audrey.


Aaron mengangkat satu alisnya. "Kau sedih karena dijodohkan dengan duda?"


Isabela menggeleng pelan mendengar pertanyaan Aaron.


Isabela menggeleng. "Tidak masalah kak. Dari pada mengaku perjaka belum menikah, tapi sudah sering berhubungan intim dengan pacar sebelumnya. Perjaka bekas pakai. Mendingan duda aja sekalian."


Tak ayal semua terkekeh pelan mendengar penuturan polos dari Isabela. Apalagi gadis itu menjawab masih dengan sesegukan. Terdengar menyedihkan karena dijodohkan, namun tingkahnya terlihat lucu.


"Lalu?" Damian ikut penasaran, sedang Leon terlihat tegang.


"Aku ingin bisa memilih pasanganku sendiri." Isabela menatap Audrey. "Seperti dirimu dan Yura."


"Memangnya kau ingin pemuda dengan kriteria yang seperti apa?" Aaron melipat tangan di depan dada.


Isabela menatap Aaron, ia mengernyit. Isakannya sudah hilang, gadis itu sudah bisa diajak berbicara serius. Isabela terdiam, ia tampak sedang berpikir.


"Entahlah, aku pun tidak tahu." jawabnya dengan santai membuat semua yang ada disana membuka mulut tanpa mengatakan apa-apa.

__ADS_1


"Kau mau memilih pasangan sendiri tapi tidak tahu mau yang seperti apa?" Damian tiba-tiba merasa gemas dengan gadis dihadapannya.


Isabela mengalihkan pandangan untuk melihat Damian, namun ia terkejut melihat Leon yang sudah berdiri di belakang pemuda itu. Dengan cepat ia mengatasi keterkejutannya itu hingga tidak terlihat oleh yang lain.


"Mungkin kau pikir menyenangkan jika bisa memilih pasangan sendiri. Tapi bagaimana jika sudah menjalin hubungan kalian malah tidak menikah. Dia malah menikah dengan orang lain." Rangga menarik napas dalam-dalam. "Kau membuang-buang waktu menjaga jodoh orang lain."


"Atau bahkan orang yang kau pikir sudah tepat, dia malah selingkuh." Damian menambahkan.


"Memangnya kalau dijodohkan ada jaminan dia tidak selingkuh?" suara Nabila terdengar sinis.


"Tidak juga. Tapi hanya orang bodoh yang akan berselingkuh setelah tahu rasa sakitnya diselingkuhi." Damian membalas tatapan Nabila dengan tajam.


"Aku akan membunuh Kakak jika Kakak berani selingkuh!" seru Isabela tegas dan menatap lurus ke depannya.


Damian terkejut mendapat reaksi seperti itu dari Isabela. Namun setelah ia melihat bahwa tatapan mematikan itu bukan ditujukan untuk dirinya, ia langsung berbalik melihat ke belakang. Semua terkejut melihat siapa yang dimaksud Isabela.


Leon yang melihat semua mata sedang tertuju padanya hanya bisa menunduk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Audrey menatap Aaron untuk memastikan. Pemuda itu tersenyum simpul dan menatap kekasihnya dengan hangat.


"Jadi, perhiasan yang Audrey desain itu.." Audrey mengalihkan pandangannya pada Leon. "untuk Isabela?"


Leon hanya mengangguk sebagai jawabannya. Isabela, Nabila dan Yura menatap Audrey dengan heran. Audrey mengerti arti tatapan itu.


"Kak Leon ini anak Om Ali. Kakak ipar Tante Tika." Audrey menjelaskan tanpa diminta. "Jadi Om Ali meminta bantuanku mendesain perhiasan untuk calon menantunya."


"Yang sabar ya, kita senasib." Nabila menepuk pundak Isabela.


"Kamu masih mending Bil. Aku... dapat sapu ijuk." Isabela mengerucutkan bibirnya.


Semua yang mendengar itu hanya bisa menahan tawa.


Apa aku sekaku itu? Leon mengernyitkan dahinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2