
Ting...Ting...Ting...
Yura berlari menyambar headphone yang tergeletak di panel.
"Audrey!"
"Hai sweety."
"Hhhhh, Thank God. Akhirnya kau menghubungi. Kenapa baru sekarang Drey?"
"Kemarin kak Aaron tidak pergi ke kantor, seharian ia menemaniku. Maaf sudah membuat kalian khawatir." suara Audrey benar-benar menandakan ia sangat menyesal.
"Kau baik-baik saja?"
"Tentu, tenang saja. Aku hanya cemas ingat Papa dan Kakak."
"Beberapa hari lagi Kak Rangga pulang, aku akan memberi tahunya. Semoga dia mengerti penjelasanku."
"Tentu saja dia akan mengerti, mana bisa dia marah padamu."
"A-apa maksudmu?"
"Nanti juga kau akan tahu. Sudah dulu ya, nanti aku akan mengirim video padamu supaya kalian lebih tenang. Dan tolong teruskan ke kakek via surel. Bye."
"Sip, akan ku teruskan. Bye sweety."
Yura menghela nafas, rasanya lega ketakutan yang beberapa hari ini menghantuinya sedikit berkurang. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke grup mereka.
Yur**a**:
Audrey aman.
Ia tak menunggu balasan dari Nabila dan Isabela. Yura memasukkan ponsel ke saku celananya, kemudian melanjutkan kegiatannya memprogram drone baru.
....
"Kek, bagaimana keadaan Audrey?"
"Kita tunggu kabar dari Yura ya nek, tenangkan dirimu." Kakek mengusap tangan Nenek dengan lembut.
Kring...Kring...Kring...Kring...
"Biar kakek yang angkat, mungkin itu Sebastian."
Kakek menuju ruang tengah untuk mengangkat telepon.
"Halo."
"Halo pa, ini aku, Sebastian."
"Halo nak, bagaimana kabarmu?"
"Baik pa. Pa, dimana Audrey? Aku tak dapat menghubunginya."
"Audrey sedang membantu Tika, kalau sudah tidak sibuk dia pasti akan menghubungimu."
"Baiklah kalau begitu."
"Pa, aku akan segera berangkat ke negara KS. Jika aku sibuk dan tak sempat menghubunginya, tolong Papa yang beri tahu Audrey ya."
"Iya nak. Akan kami sampaikan padanya. Kapan kau pulang ke rumah?"
"Aku tidak pulang pa, dari kota Y aku akan langsung kesana. Mungkin lima hari lagi Rangga akan pulang sendiri."
"Kau sibuk sekali rupanya. Hhhh, baiklah kalau begitu."
"Ada apa pa? Ada masalah? Papa sakit? Atau Mama sakit?"
"Tidak, kami baik-baik saja. Hanya ingin bertemu. Kau jaga diri baik-baik ya Sebastian."
"Iya pa, pasti. Aku tutup teleponnya pa. Bye."
__ADS_1
"Bye."
Kakek menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia beruntung mendapat menantu seperti Sebastian, walau awalnya ia tidak menyetujui pernikahan Sebastian dan Tiara. Tapi siapa yang sangka, kini hubungan mereka seperti orang tua dan anak kandung. Bahkan semakin baik setelah Tiara tak ada di dunia ini.
"Kek, ada kabar apa?"
"Sebastian belum bisa pulang, ia langsung berangkat ke negara KS. Lima hari lagi Rangga pulang."
"Apa sebastian bertanya tentang putrinya?"
"Ya, dan aku bilang Audrey sedang membantu Tika."
"Aku tak dapat membayangkan reaksinya jika mengetahui kebenaran ini."
"Kita berdoa saja ya nek." Kakek menggenggam tangan Nenek dengan lembut, saling menguatkan satu sama lain.
.
.
.
Hari sudah menjelang malam, Audrey membaca majalah fashion sambil duduk di salah satu sofa di ruang tengah itu, ia bosan jika harus berada di dalam kamar terus.
"Kau Audrey?" seorang gadis muncul dan duduk di hadapan Audrey.
"Ya." Audrey hanya melihat gadis itu sekilas.
"Aku Juliana."
"Aku tahu."
"Apa kau benar-benar istri Kak Aaron?"
Audrey menutup majalahnya dan menatap Juliana.
"Ya."
"Apapun yang terjadi, tetaplah disisinya. Aku mohon."
"Kau tak perlu mengingatkanku Jul."
"Baguslah."
Juliana segera berdiri dan akan melangkah pergi.
"Mengapa kau tak memukulnya Juliana? Dia perebut kekasihmu." Entah dari mana Arneta muncul.
"Aku tak mau ribut dengan gadis yang tak selevel denganku bi." jawab Juliana sinis. Ia segera melangkah, namun saat ia berada di belakang Arneta ia berbalik menghadap Audrey.
"Maaf." ucap Juliana tanpa bersuara.
Ada apa dengan Juliana? Audrey memandangi gadis itu dengan heran.
"Kau merusak pemandangan mataku." kata Arneta sambil menatap Audrey dengan sinis. "Pergi dari hadapanku." katanya disertai lemparan wedges.
Prang!!!
Audrey menghindar dan wedges berwarna lilac itu mengenai guci di belakangnya. Dengan tenang Audrey menutup majalahnya dan berdiri.
"Hancurkan semuanya dan aku akan bilang pada suamiku untuk memotong jatah bulananmu dan menambahkannya pada biaya perawatan mansion."
"Apa kau mengancamku?"
"Menurutmu?" Audrey tersenyum sinis.
Karena merasa tak lagi mendapatkan perlawanan dari Arneta, Audrey pergi menuju dapur. Namun langkahnya terhenti karena tanpa diduga Arneta menarik rambutnya dengan sangat keras. Audrey meringis memegang tangan Arneta.
"J*l*ng, aku akan membuatmu menyesal."
Audrey memegang tangan Arneta, sambil menahan rasa sakit ia memutar badannya agar dapat berhadapan dengan wanita itu. Kemudian dengan cepat ia mencengkram leher Arneta dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Uhukkk!!" Arneta tercekat, refleks ia melepas rambut Audrey. Wajah wanita itu memerah, matanya seperti hendak melompat keluar.
"A...A...A..." mulutnya terbuka, berusaha menarik nafas namun sia-sia.
Audrey menikmati pemandangan itu, namun sekelebat bayangan wajah papanya muncul. Aku tak akan mengecewakan kalian, gumamnya dalam hati. Ia merenggangkan cengkramannya lalu menarik tangannya dari leher Arneta.
"Kau belum sadar siapa lawanmu nyonya." setelah berkata begitu Audrey melanjutkan langkahnya, meninggalkan Arneta yang terduduk lemas di lantai.
Kedatangan Audrey membuat seluruh pelayan dan chef terkejut kemudian menunduk.
"Ada yang bisa kami bantu nyonya muda?" sapa seorang juru masak.
"Aku ingin makan steak."
"Kami akan segera buatkan nyonya."
"Tidak perlu, aku akan membuatnya sendiri. Kumohon." Semua yang ada di sana saling pandang.
"Tapi nyonya, kami akan dihukum jika membiarkan anda bekerja."
"Tolonglah, aku sedang ingin masak sendiri. Ya." Audrey berusaha merayu sang juru masak.
Melihat itu mereka semua semakin heran, Audrey tidak membentak, tapi memohon seperti seorang anak kepada orang tuanya, bukan seperti majikan dan pelayan. Perlakuan manis Audrey membuat mereka tersentuh, nyonya muda itu tak canggung berkata 'tolong dan kumohon'.
"Nyonya, kami..."
"Aku ingin mencicipi masakan istriku, ijinkan dia melakukannya." Aaron tiba-tiba muncul diambang pintu dapur.
"Selamat datang tuan muda." sapa seluruh pelayan.
"Kakak sudah pulang?" Audrey mendekat sambil tersenyum. "Maaf aku tak tahu."
"Bukan masalah, asal aku bisa menikmati masakanmu." Aaron mengusap kepala Audrey sejenak, kemudian melangkah menuju sebuah tempat duduk.
"Kakak istirahat saja dulu, jika sudah selesai aku akan membawanya." kata Audrey saat dilihat Aaron malah duduk disitu.
"Aku ingin melihatmu memasak."
"Baiklah, terserah kakak saja."
Audrey dibantu juru masak menyiapkan bahan makanan, karena ia belum hafal letak penyimpanan setiap bahan. Setiap gerakan Audrey tak lepas dari pengamatan Aaron. Namun Audrey tak merasa risih, ia dengan cekatan menyiapkan sayuran untuk pendamping steak serta dua potong New York Strip Steak.
"Ini agak lama kak, apa kau yakin?" kata Audrey tanpa melihat.
"Sangat yakin, honey." kata terakhir itu berhasil membuat Audrey menatap Aaron dan dibalas dengan kerlingan mata Aaron yang menggoda.
Audrey hanya geleng-geleng kepala, sedang pelayan yang berdiri di sekitar mereka tersenyum samar. Kegiatan selanjutnya di dapur berlangsung dalam diam, tak ada pelayan yang berani berkata sedikitpun.
"Hati-hati." Aaron beranjak saat Audrey menggunakan teknik flambe untuk sayuran pendamping.
Audrey hanya tersenyum simpul mendengar itu. Ia melanjutkan kegiatannya.
"Hentikan Drey." pinta Aaron saat ia berdiri di samping gadis itu.
"Sedikiit lagi." panas api seperti menguapkan rasa kemarahannya pada Arneta karena telah menarik rambutnya.
Audrey tetap memasak dan Aaron pun tak ingin duduk lagi. Edward menggelengkan kepala melihat tingkah tuannya.
Akhirnya masakan Audrey selesai, ia meminta juru masak untuk melanjutkan memasak daging menggunakan oven selama beberapa menit, sedangkan Audrey menemani Aaron membersihkan diri di kamar.
"Kau terlihat sangat bahagia saat memasak." kata Aaron setelah mereka berdua telah rapi.
"Aku senang melakukannya. Ayo, aku sudah lapar."
Aaron tersenyum menatap Audrey dengan gemas.
.
.
.
__ADS_1