Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
33. Mengalihkan Fokus


__ADS_3

"Audrey, sayang. Apa kau sudah memiliki kekasih nak?"


"Belum om." jawab Audrey jujur.


"Jika begitu, om minta, jadilah menantu om."


Audrey terperangah, matanya melebar tak percaya. Bram terbatuk-batuk, rupanya ia tersedak liurnya sendiri. Aaron terdiam, tubuhnya menegang, dadanya berdebar menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Audrey.


"Ee, om itu, ini, ummm anu, umm Audrey. Umm Audrey belum terlalu mengenal Kak Aaron, jadi umm..." Audrey gelagapan menjawab pertanyaan ini, wajahnya pias, jemarinya saling bertautan. Gadis itu menjadi sangat gugup.


"Kan tidak langsung menikah. Jadi masih ada waktu untuk saling mengenal. Dimana orang tuamu?"


Wajah Audrey semakin pucat, ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya.


"Umm, sementara Audrey tinggal bersama kakek nenek di pinggir daerah kota S om."


"Tepatnya?"


"Di pulau D om."


"Bukankah pulau itu dikelola PT. Danur Mutiara?"


Audrey sontak mengangkat wajahnya, ia terkejut Om Bagas mengetahui hal itu. Tiba-tiba saja ia merasa oksigen di sekitarnya menjadi sangat tipis. Aaron melihat perubahan wajah Audrey, ia memicingkan matanya.


"Umm, ya, mereka menjaga vila di bukit."


"Maksudnya vila milik om Satya?" Bagas menatap tajam ke arah Audrey. Namun sesuatu yang terlintas di benaknya membuat Bagas memutus niat untuk terus bertanya. "Baiklah, jika om sudah benar-benar pulih, om akan segera meminangmu untuk Aaron."


"Papa, ini terlalu tergesa-gesa dan mengejutkan." Aaron tak setuju.


"Kau ingin pujaan hatimu direbut orang, begitu?"


Aaron terdiam, begitu pun dengan Audrey. Pikiran mereka berkeliaran entah kemana. Yang satu memikirkan keinginan hatinya, yang satu memikirkan identitasnya.


"Mari kita makan, jika tidak hidangan ini akan menjadi dingin." Bram berusaha mencairkan suasana.


Suasana yang tadinya hangat berubah menjadi canggung. Sesekali Aaron melirik Audrey, gadis itu tampak tidak bersemangat menikmati hidangannya. Namun demi menjaga perasaan Papa Bagas, Audrey tetap menghabiskan makanan di piringnya.


"Maaf Audrey, Om tidak bermaksud membuatmu gelisah seperti ini." Bagas memulai percakapan di sela-sela menikmati hidangan penutup.


"Sejak kekasih Aaron pergi, tak pernah dia datang membawa seorang gadis ke hadapan Om. Jadi yahhh...Om terlalu bersemangat. Mungkin Om ingin segera menimang cucu biar tidak kesepian." kekeh Bagas.


"Iya Om, Audrey paham." gadis itu tersenyum lembut. Ia jadi mengerti kenapa Papa Sebastian merecoki Kak Rangga juga. Berarti papa juga sudah ingin punya cucu agar ada yang meramaikan hari-harinya.


Tanpa Audrey, Bram dan Aaron sadari, raut wajah Bagas berubah saat melihat Audrey tersenyum. Ia menatap sendu gadis di depannya ini.


"Terima kasih sudah menemani makan, papa mau istirahat dulu Ron. Audrey, Om duluan ya." Pamitnya pada kedua muda mudi itu, Bram dengan cekatan menuntun Bagas menuju kamarnya.


Aaron mengajak Audrey untuk duduk di sebuah teras yang menghadap ke sisi lain vila. Audrey merasa kepalanya berdenyut memikirkan kejadian hari ini.


"Kenapa kalian mengatakan padaku Om Bagas meninggal dua tahun yang lalu?" akhirnya ia mulai membahas salah satu dari banyak pertanyaan yang mengganjal pikirannya.


"Karena itulah yang diketahui dunia. Bagaskara Saka meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal di jalan bebas hambatan." Aaron memperbaiki duduknya agar lebih nyaman. Tampak Audrey antusias menunggu kelanjutan kalimat Aaron.


"Kecelakaan itu adalah sebuah sabotase yang dilakukan Arneta. Jadi saat kami tahu papa selamat, kami memilih untuk merahasiakannya dari semua orang. Semakin sedikit yang tahu semakin bagus." mata Aaron menerawang, mengingat peristiwa dua tahun lalu.

__ADS_1


"Setelah operasinya sukses, papa koma selama satu tahun. Saat sadar tubuhnya agak lambat merespon segala sesuatunya. Namun aku bersyukur, beberapa bulan terakhir kemajuan kesehatan papa sangat pesat." wajah tampan pemuda itu menyunggingkan senyum.


"Dimana Om dioperasi dan menjalani perawatan?"


"Di sini, di vila ini. Aku melengkapi fasilitas kesehatan tempat ini. Dulu ada beberapa dokter ahli yang berjaga, saat ini tersisa Bram saja. Dokter lain hanya sesekali datang berkunjung."


Audrey mengangguk-angguk paham mendengar cerita itu. Kemudian ia menatap Aaron dengan tatapan menyelidik.


"Kalian tahu Arneta pelakunya, mengapa tak menghukumnya?"


"Buktinya terlalu lemah, orang yang disewa untuk mensabotase mobil papa terlebih dahulu meregang nyawa." Aaron menunduk.


"Kalau hukum tak bisa digunakan, bukankah bisa menggunakan hukum sendiri?" tiba-tiba Audrey tersulut emosi.


Aaron mendongak dan menatapnya sambil tersenyum. Bukan hanya Audrey yang pernah mengatakan itu.


"Aku pun ingin seperti itu Drey, melampiaskan amarahku pada wanita itu. Tapi aku ingat, dulu mama selalu menasehatiku. Membalas perbuatan jahat seseorang dengan berbuat jahat, tak akan membawa kedamaian. Hal itu hanya akan mengubah kita menjadi penjahat, sama seperti orang itu." Aaron menarik nafas berat.


"Mama percaya bahwa Pencipta semesta akan menghakimi dan membalas perbuatan kita suatu hari nanti. Dan pembalasan itu pasti akan setimpal dengan perbuatannya. Tapi kalau kita yang membalasnya, bisa dipastikan kita akan mengikuti amarah yang terpendam. Dan pembalasan kita bisa melampaui perbuatan orang itu. Akhirnya kita menjadi monster yang lebih menakutkan."


Audrey merasa hatinya sedang ditusuk sebilah pisau, luka tapi tak berdarah. Tiba-tiba ia merasa kesulitan untuk bernafas. Audrey berdiri, ia merasa jika tetap duduk ia akan segera tak sadarkan diri. Gadis itu berjalan menuju pagar pembatas teras dan berpegangan sekuat tenaga.


Dengan perlahan ia menarik dan menghembuskan nafas untuk mengendalikan perasaannya. Ia membelakangi Aaron karena tak ingin pemuda itu mengetahui keadaannya. Sesuatu berkecamuk di pikirannya, matanya terasa panas, ia ingin menangis. Tapi ia sendiri bingung apa yang terjadi pada hatinya hingga membuat air matanya tiba-tiba menggenang di pelupuk mata.


"Semudah itu?" nada meremehkan terdengar jelas pada tutur katanya.


"Tidak, itu tidaklah mudah." Aaron bangkit dan menghampiri Audrey. Ia memilih berdiri di samping gadis itu namun tatapannya memandang lurus ke depan.


"Awalnya aku menghancurkan apa saja yang ada di hadapanku setelah bertemu dengannya di rumah. Aku bahkan mengkonsumsi minuman beralkohol untuk melampiaskan kekesalan itu. Semua berhenti saat Edward mengingatkan Papa akan kecewa saat ia sadar nanti, jika aku terus begini." Aaron tersenyum kecut mengenang perilakunya kala itu.


"Lalu aku mengubah fokusku." Aaron memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menghadapkan tubuhnya pada Audrey.


"Aku terpuruk karena berusaha mengikuti nasehat mama, jadi aku menyalurkan rasa benci ke hal yang salah. Fokusku adalah perbuatan Arneta yang jahat. Saat aku mulai merenungkan kembali nasehat mama, aku mengubah fokus pada apa yang akan diterima Arneta akibat perbuatan jahatnya."


Aaron menggaruk kepalanya. "Aku tahu ini membingungkan."


"Tak apa, lanjutkan. Bagaimana kakak semudah itu bisa merubah fokus?" Audrey tetap tertarik dengan penjelasan Aaron.


"Aku menemui seorang psikiater karena aku tak dapat mengingat senyum kedua orang tuaku dan kenangan yang lainnya. Ternyata penyebabnya adalah karena kepalaku dipenuhi hal jahat, dipenuhi dendam dan kebencian. Hal itu menutupi kenangan indah bersama orang tuaku."


"Jadi, karena fokus pada kejahatan Arneta, kakak tak dapat lagi mengingat hal baik bersama orang tua, begitu?"


"Kurang lebih seperti itu Drey." Aaron tersenyum lembut. "Kenangan indah akan kasih sayang mama membuatku kuat menghadapi hari-hariku. Karena itu salah satu bentuk terima kasih pada wanita yang telah melahirkanku, dengan tidak menyia-nyiakan hidupku. Dan kebencian yang kuat bisa menutupi hal baik yang kumiliki."


"Lalu, apa hubungannya dengan fokus pada apa yang akan diterima Arneta?" kedua alis Audrey menyatu, ia benar-benar tak paham dengan penjelasan Aaron.


"Karena suatu saat entah kapan, Arneta akan menerima pembalasan yang setimpal atas perbuatannya. Aku sudah membayangkan, rasanya akan sangat melegakan jika bisa menyaksikannya. Aku hanya perlu bersabar untuk menunggu waktu itu tiba."


"Hanya seperti itu? Semudah itu?"


"Siapa bilang itu mudah. Aku bukan malaikat My Lady. Aku hanya manusia biasa, yang kadang masih terbawa emosi saat melihatnya. Tapi setidaknya aku telah mencoba. Aku tak ingin kehilangan kenangan indah orang tuaku lagi." Aaron memegang kedua pundak Audrey, setiap kata ia ucapkan dengan penuh penekanan.


"Aku tak ingin menukar ingatan akan senyuman mama dengan sampah dalam otakku honey." Aaron membelai pipi Audrey perlahan. Karena sibuk mencerna perkataan Aaron, Audrey hanya membiarkan pemuda itu mengusap pipinya.


"Sulit menerimanya dengan nalarku."

__ADS_1


"Tak perlu terburu-buru, nanti juga kau akan mengerti jalan pikiranku." Aaron menatap mata Audrey dalam-dalam, ia mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu.


Dengan sigap Audrey meletakkan jari telunjuknya pada bibir Aaron karena ia merasa Aaron pasti akan kembali menciumnya.


"Cukup. Kakak sudah mencuri ciuman pertamaku." Audrey menatap sebal, Aaron terkekeh.


"Bukankah kau pernah bilang hanya ingin dicium oleh calon suamimu? Aku kan sudah menjadi calon suamimu." Aaron menatap Audrey dengan tatapan menggoda.


"Keluargaku kan belum menerima."


"Tak masalah, karena aku tahu kau pasti menerimaku."


Audrey mencebik kesal. "Kakak terlalu percaya diri."


"Aku rasa tidak, itu adalah kenyataan. Kenyataan kau tidak merasa risih saat aku mendekatimu walau tanpa sengaja, kau tidak risih saat tahu aku terus menatapmu. Kau tidak risih saat aku menyentuh tanganmu, menyentuh rambutmu." Aaron menyusuri wajah Audrey dengan punggung tangannya, suaranya semakin berat dan dalam.


Tangannya bergerak turun dari kening menuju tulang pipi dan dagu Audrey. Kemudian jarinya menyentuh bibir Audrey dengan penuh perasaan, matanya terfokus pada bibir merah muda itu.


"Dan kenyataan kau tidak risih saat aku mengecup bibirmu." Aaron mengatakan itu sambil menempelkan dahinya pada dahi Audrey. Gadis itu merasa jantungnya semakin berdebar, nafasnya menjadi tak beraturan.


"Aaron, aku.." Bram tiba-tiba muncul, Audrey terkejut, refleks ia mendorong tubuh Aaron agar menjauhinya.


"Oh God! Maaf, maaf, aku tak bermaksud mengganggu!" Dengan berseru Bram membalikkan badannya membelakangi pasangan itu saat matanya tak sengaja melihat kemesraan Aaron dan Audrey.


Ckk!!!


Aaron berdecak kesal merasa momen indahnya diganggu Bram. Sementara itu wajah Audrey telah sepenuhnya memerah. Ia bahkan tak berani mendongak.


"Lebih baik aku pergi beristirahat." ucapnya sambil tetap menunduk.


"Akan ku antar, kau kan belum tahu mana kamarmu." Aaron menggandeng tangan Audrey. "Tunggu disini ya." pesannya pada Bram saat melewati Dokter muda itu.


"Ya baiklah." jawab Bram sambil menatap lantai, ia merasa tak enak hati pada Audrey.


Sepanjang jalan sampai ke kamar Audrey diam saja, ia benar-benar merasa malu. Sebaiknya aku tak keluar kamar sampai pulang ke kota, gumamnya dalam hati.


Aaron membukakan pintu kamar untuk Audrey dan menarik gadis itu masuk karena ia melihat Audrey yang dari tadi berjalan di belakangnya terus menunduk.


"Sudah dapat benda yang kau cari?" kata Aaron seraya tersenyum geli.


"Hah? Apa?" Audrey mendongak dan memperlihatkan wajahnya yang bingung.


"Kau menunduk terus, apa kau mencari sesuatu?"


"I-itu...A-aku malu karena tadi.." Audrey tak sanggup meneruskan kalimatnya.


"Maaf, aku sudah membuatmu tak nyaman." Aaron menatap Audrey dengan lembut, dan pipi gadis itu kembali merona.


"Sebaiknya aku segera menemui Bram. Terlalu lama berdua denganmu di kamar ini bisa berbahaya." Aaron mengusap kepala Audrey dengan lembut kemudian pergi.


"Astaga, kenapa aku tak bisa sekali saja kasar dan menghajarnya?!" rutuk Audrey sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2