
"Bundaaaaaaa...." suara riang seorang gadis memenuhi halaman rumah megah itu. Ia segera berlari begitu kedua kakinya berpijak di tanah setelah turun dari mobil. Di depannya seorang wanita paruh baya tersenyum lebar sambil merentangkan tangan.
"Anak cantik bunda." wanita itu memeluk putrinya dengan erat, mencurahkan kerinduannya.
"Nou rindu." ucap gadis itu dengan suara manjanya.
"Cuma rindu Bunda? Tidak rindu ayah?" seorang pria keluar dari dalam rumah bersama pemuda yang wajahnya mirip dengan gadis itu.
"Ayah, Kakak." segera Sang Gadis berlari menuju kedua pria beda usia tersebut dan memeluk mereka sekaligus.
"Kau makin pendek saja." pemuda yang dipanggil Kakak itu mengacak-acak rambut hitam Nou dengan gemas setelah mereka berpelukan beberapa saat.
"Kak Darian juga, semakin jelek saja." balas gadis itu tak mau kalah.
"Kau!"
"Apa?!"
"Darian, Noushafarin!" hardik Ayah yang berdiri di depan mereka sambil geleng-geleng kepala. Bunda mendekati mereka dan mengajak putrinya untuk masuk.
"Ayo kita masuk, Bunda sudah membuat makanan kesukaanmu."
"Bunda memang yang terbaik." kecupan singkat mendarat di pipi wanita paruh baya itu. "Ayah juga." Noushafarin mendekati Ayahnya dan mengecup pria itu.
"Jangan dekati aku!" hardik Darian dengan ketus.
"Siapa juga yang mau cium Kakak?! Huh, kepedean." cibir gadis itu sambil melenggang masuk ke dalam rumah mengamit lengan Sang Bunda.
Bardia Armani menatap punggung putrinya dengan senyum mengembang. Noushafarin jarang sekali pulang ke Indonesia untuk liburan. Malah selama 9 tahun menimba ilmu, kedatangannya bisa dihitung dengan jari. Biasanya hari libur gadis itu akan diisi dengan magang di Rumah Sakit.
Demi menuruti kemauan Mama Faireh Armani yang telah sepuh, entah bagaimana cara Sang Istri, Farena, membujuk gadis itu agar mau pulang.
"Ayah yakin dia tidak akan memberontak?" Darian menatap Ayah Bardia dengan lesu. "3 tahun lagi ia bisa mencapai cita-citanya. Tak bisakah ditunda dulu?"
"Andai Ayah bisa membujuk Nenekmu." jawab Ayah Bardia sambil menunduk.
"Adikku yang malang." Darian menatap Noushafarin yang tengah bercanda dengan Bunda.
"Ayo kita susul mereka." Bardia menepuk pundak Si Sulung kemudian menyusul ke ruang makan.
Noushafarin anak yang cerdas dan tekun belajar. Saat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Atas, ia pernah lompat kelas. Oleh sebab itu di usia 16 tahun ia sudah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di LMU, Jerman.
Sejak dulu jika ada yang bertanya apa cita-citanya, gadis itu konsisten menjawab, Dokter Spesialis Anak. Kini di usianya yang sudah menginjak 25 tahun, jarak Noushafarin dengan cita-citanya tinggal sedikit lagi.
"Mana Nenek?" tanya Nou setelah menyadari anggota keluarganya tak lengkap.
"Nenekmu sedang bersama Tatiana di Bandung. Kakak sepupumu itu mengikuti sebuah konferensi dan Nenek memaksa ikut." Ayah menjelaskan.
"Besok mereka sudah pulang." Bunda menambahkan.
__ADS_1
***
Malam hari mereka semua berkumpul di ruang keluarga seusai makan malam. Wajah Ayah, Bunda dan Kak Darian terlihat berbeda. Noushafarin mulai merasa ada yang tidak beres, gadis itu menjadi gelisah.
"Nou, sekarang sudah berapa tahun usiamu?" Nenek Faireh membuka percakapan.
"25 tahun, Nek."
Nyonya Besar itu mengangguk-anggukkan kepala, membuat Nou heran.
"Usia yang sudah cukup matang, dan bahkan menurut Nenek sedikit terlambat."
"Maksud Nenek bagaimana?" Nou mengedarkan pandangan dan menyadari anggota keluarga yang lain sedang menunduk.
"Terlambat untuk menikah." ucap Nenek datar. "Jadi Nenek sudah mengatur pernikahanmu dengan Salton Triantono, putra Tuan Esau Triantono."
Wajah Noushafarin pias, ia tertegun mendengar kalimat yang meluncur dengan mudahnya dari mulut Sang Nenek.
"Nek, ak..."
"Nenek tidak menerima penolakan, Nou. Nenek tidak mau kau jadi perawan tua seperti Tatiana."
"Tap..."
"Sudah Nenek bilang, tidak ada penolakan!"
Air mata Noushafarin mengalir dengan deras. Gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar hebat. Faireh terkejut dengan reaksi cucunya, sekecewa itu kah dirinya?
"Ya, itu sebelum tunangan Darian berselingkuh dan pernikahan mereka batal."
"Lalu mengapa jadi aku yang Nenek jodohkan, bukannya Kakak?" Nou menatap Kakaknya dengan sedih.
"Karena Nenek belum mendapat gadis yang cocok. Dan Nenek masih memberikannya kesempatan untuk menata ulang hatinya."
Netra Darian membulat sempurna, ternyata nasibnya sama dengan nasib Sang Adik.
"Ibu, aku rasa ini sudah keterlaluan." ucap Bardia, akhirnya membuka suara. "Biarkan mereka memilih pasangan mereka sendiri."
"Dan berakhir dengan pengkhianatan dan mencoreng nama keluarga kita?" kalimat yang tak bisa disanggah oleh Bardia dan Farena. "Aku tak ingin Nou mengalami hal yang sama dengan Darian. Oleh sebab itu, minggu depan dia dan Salton akan segera menikah."
"Apa?!! Minggu depan?!!" Bardia, Farena dan kedua anaknya serempak berdiri dan mengucapkan kalimat yang sama.
"Ya, minggu depan. Kau tidak Nenek ijinkan kembali Jerman. Besok malam Tuan Esau dan Salton akan datang, kalian akan bertunangan." ujar Nenek Faireh tegas.
"Tidak Nenek, tidak." Nou menggeleng, air matanya berderai. Farena tak kuasa menahan diri, ia datang dan menarik putrinya ke dalam dekapannya.
Mereka semua tahu apa yang dilakukan Noushafarin demi mewujudkan cita-citanya. Gadis itu rela melewatkan masa liburnya demi bisa mendapat ilmu dan mempercepat masa pendidikannya.
"Nenek, satu atau dua tahun lagi aku sudah lulus. Tak bisakah Nenek menunggu? Aku sudah bekerja keras agar tak menghabiskan waktu 12 tahun pedidikan dokter, melainkan hanya 10 atau 11 tahun." Noushafarin berargumen setelah ia bisa menguasai diri dan berhenti menangis.
"Aku janji Nek, aku akan berusaha lebih keras. Kalau perlu tahun depan aku sudah menyelesaikan pendidikanku. Tapi kumohon Nek, jangan nikahkan aku minggu depan." air mata Noushafarin kembali mengalir, ia mengatupkan kedua tangan di depan dada memohon agar Nenek mengubah rencana.
__ADS_1
"Mungkin aku sudah meninggal dan tidak sempat menimang cicit." lirih Faireh.
Semua terdiam, tak menyangka keinginan menimang cicit membuat Nenek melakukan hal ini tanpa merembukkan hal sepenting ini dengan putra dan menantunya terlebih dahulu.
"Jadi ini alasan Bunda merayuku agar pulang?" desis Nou dengan kepala tertunduk.
"Maaf Nou." Farena tercekat menatap putrinya dengan nanar.
Noushafarin mengepalkan kedua tangannya, ia berlari menuju kamar dan segera mengunci pintunya. Tak ada tata krama dan sopan santun saat ia meninggalkan ruang keluarga.
Noushafarin paham benar sifat Nenek Faireh. Jika beliau telah memutuskan sesuatu, maka hanya Tuhan dan ia sendiri yang dapat mengubahnya. Karena merasa tak ada lagi harapan, gadis itu memutuskan kabur dari rumah.
Malam itu juga ia pergi dari rumah hanya dengan pakaian yang melekat di badan, dokumen penting untuk keluar masuk Indonesia Jerman dan sedikit uang. Ia menuju rumah sahabatnya Mimi, dan meminta dicarikan pekerjaan. Ia berusaha mengumpulkan uang untuk kembali ke Jerman. Noushafarin tak ingin pasrah dan menyia-nyiakan kerja kerasnya selama 9 tahun.
......................
"Selamat pagi Tante Kandi, makin cantik aja deh." Miranti memeluk Nyonya Srikandi Wasesa dengan hangat, tak lupa tradisi saling mengecup singkat pipi kiri dan kanan.
"Kamu ihh, bisa aja." ucap Nyonya Wasesa tersipu malu. Pandangannya kemudian beralih pada gadis berpenampilan sederhana yang sedang menunduk di belakang Miranti. "Ini ART barunya?" ia bertanya pada Miranti sambil menunjuk gadis yang setia menenteng tas pakaian berukuran sedang.
"Iya Tante."
"Kalau begitu kita masuk yuk. Kenalannya di dalam saja." Nyonya Wasesa masuk ke dalam rumah diikuti kedua tamunya.
"Siapa nama kamu?" rupanya Nyonya rumah megah itu sudah tak sabar ingin berkenalan dengan ART barunya. Begitu duduk, ia langsung bertanya pada gadis yang tetap berdiri itu.
"Nama saya Arin, Nyonya." jawab gadis itu ramah namun tetap menunduk.
"Tolong tatap saya, Arin." pinta Sang Majikan baru.
Awalnya Arin ragu, namun karena tak ingin dipecat sebelum bekerja, gadis itu perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Nyonya Srikandi dengan takut-takut. Nyonya rumah itu tertegun melihat wajah ayu ARTnya. Hidung mancung, bibir yang sedikit penuh hingga terkesan seksi, alis yang melengkung dengan indahnya, dan kulit kuning langsat yang terlihat sangat terawat.
"Miranti." Nyonya Srikandi berbicara pada Sang Penyalur ART namun tatapannya tak lepas dari Arin. "Kamu nyulik anak siapa?"
Miranti mengernyit. "Maksudnya Tante?"
"Gadis ini terawat banget. Lihat saja, rambutnya hitam berkilau, kulitnya bercahaya, kuku kaki terawat, seperti bukan dari kalangan orang yang kesusahan." manik mata wanita paruh baya itu terus memindai tubuh Arin dari ujung rambut sampai ujung kaki, kembali lagi ke ujung rambut.
Arin sedikit bergerak merasa gelisah, ia tak nyaman dengan situasi ini. Sedang Miranti terkekeh menyembunyikan kegugupannya.
......................
Hai good reader.
Mampir ke novel Noushafarin ya.
Semoga berkenan.
Jangan lupa Vote, Like, Favorit dan Hadiahnya
❤️❤️❤️
__ADS_1