Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
49. Jus Alpukat


__ADS_3

Dua minggu berlalu sejak peristiwa penculikan Audrey dan penyergapan Rebecca. Gadis itu beberapa kali harus memenuhi panggilan pihak berwajib guna menjalani pemeriksaan sebagai saksi korban. Ia pun sudah jarang bertemu dengan Aaron. Karena kemunculan kembali Bagaskara Saka membuat kesibukan di kantor meningkat drastis.


"Apakah sudah semuanya?"


"Sedikit lagi tante, Audrey kan tidak membawa banyak barang."


Hari sudah menjelang siang, Audrey sedang berada di kamar Aaron, Tika mengantarnya untuk mengambil beberapa barang milik gadis itu.


"Kau yakin tidak ingin memakai ponsel ini?"


"Tidak tante, Audrey kan punya ponsel sendiri. Pokoknya semua barang yang Tante siapkan untuk keperluan sandiwara, Audrey kembalikan."


"Baiklah, terserah kau saja." Tika keluar dari kamar untuk meminta beberapa pelayan pria mengangkat semua foto pernikahan palsu Aaron dan Audrey.


"Sayang sekali, padahal foto-foto itu sangat cocok berada di kamar Tuan Muda. Bahkan sangat bagus dipajang di ruang keluarga." Edward bergumam.


"Kau benar Edward." Tika tersenyum lembut.


"Ijin berbicara nyonya." kata seorang pelayan wanita. "Kami semua menyukai Nyonya eh Nona Audrey. Tak bisakah dia benar-benar menjadi Nyonya Muda mansion ini?"


"Akan kami usahakan." Tika senang Audrey mendapat respon positif dari para pelayan.


"Tante, aku sudah selesai." Gadis itu tampak meneteng satu tas yang ia bawa saat pertama kali datang. "Dimana Juliana Pak Edward?"


"Nona Juliana sudah pulang kembali ke rumah Kakek dan Neneknya, Nona."


"Apakah Om Bagas marah besar padanya?"


"Tidak Nona, Tuan Besar dan Tuan Muda tidak marah. Hanya saja Nona Juliana malu jika harus tinggal di mansion. Tawaran apartemen pun ditolak."


"Kasihan dia." tatapan Audrey menerawang.


"Setidaknya dia baik, tidak seperti mamanya." kata Tika yang sudah mendengar seluruh cerita saat penyergapan itu.


Audrey mengangguk setuju. "Ayo tante, kita pulang."


"Tidak menunggu Tuan Muda pulang dulu, Nona?" tawar Edward.


"Andai aku bisa, tapi sore ini aku harus sudah berada di kantor perwakilan."


"Baiklah Nona, mewakili seluruh pelayan, kami mengucapkan terima kasih atas pertolongan Nona untuk Tuan Muda kami." Edward dan beberapa pelayan yang berdiri disitu menyilangkan tangan di dada dan menunduk memberi hormat.


"Tidak perlu seperti ini, bangunlah. Terima kasih kalian sudah merawatku." Audrey tersenyum tulus. "Aku permisi." pamitnya.


Edward dan para pelayan masih berdiri di depan pintu utama sampai mobil yang ditumpangi Tika dan Audrey tak terlihat lagi.


.


.


.


Nabila sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan. Tiga hari yang lalu Daddy menyeretnya untuk ikut ke kantor. Importir bahan makanan untuk kelas atas itu berencana memberikan perusahaan pada Nabila. Karena Mita, putri tertua keluarga merintis usaha sendiri, mengimport serta membuka toko bunga.


Nabila memijit pelipisnya, ia merasa sudah terlalu lelah dengan angka-angka yang bertaburan di pelupuk matanya. Ia meraih ponsel dan mengirim pesan ke grup.


Nabila:


Siapa saja, temani aku makan siang donk, please.


Tak menunggu waktu lama, ponselnya sudah ribut dengan pesan yang masuk.

__ADS_1


Isabela:


Ok, dimana?


Yura:


Setuju


Audrey:


Dengan senang hati


Nabila tersenyum gembira melihat balasan teman-temannya.


Nabila:


Sea Star Resto, kita ketemu disana.


Nabila meletakkan ponsel, kemudian melirik arlojinya. Sepuluh menit lagi istirahat. Ia menggunakan waktu sepuluh menit itu sebaik-baiknya untuk menyelesaikan tugas. Jika ingin bersenang-senang, pekerjaan harus beres terlebih dahulu.


.


.


.


Makan siang yang menyenangkan bagi Nabila. Ia siap bertempur kembali melihat angka-angka jika nanti kembali ke kantor.


"Drey, kayaknya itu Kak Aaron deh." kata Isabela menunjuk ke arah ruang VIP menggunakan dagunya.


Audrey yang sedang meneguk jus alpukat di gelasnya langsung menoleh. Posisinya duduk membelakangi ruangan yang dimaksud.


"Ya, itu memang dia."


"Mereka sedang makan siang bersama klien. Memangnya kau tidak lihat disana ada Om Bagas dan Om Isak." Audrey memakan salad buahnya.


"Memang, tapi gadis itu menatapnya terus dari tadi." Yura terlihat tak suka.


Audrey menoleh lagi, kali ini sedikit lebih lama karena ia mengamati ruangan yang dimaksud. Ia melihat seorang gadis yang memakai blazer berwarna pink dengan rambut kurus sebahu yang terurai. Ditunjang dengan make up yang lengkap, penampilannya terlihat dewasa dan manis.


"Mungkin dia sekretaris sang klien." Audrey berpikiran positif. Namun ia tak menampik jika melihat gadis itu sering mengulum senyum dan menunduk malu-malu saat menatap Aaron. Sesekali gadis itu merapikan anak rambutnya ke belakang telinga.


"Dia jatuh cinta pada calon suamimu Drey." Nabila sudah sampai pada tahap kesimpulan.


"Oh ayolah, kalian membuatku kehilangan selera makan." Audrey mencebik kesal.


"Iya maaf. Ayo selesaikan, aku harus segera kembali ke kantor." kata Nabila.


Ternyata rombongan di ruangan VIP itu telah selesai makan, mereka keluar bersamaan dengan Audrey dan teman-teman yang juga ingin pulang.


"Audrey, sayang." sapa Bagas sumringah setelah melihat calon menantunya.


"Halo, selamat siang Om." kata Audrey ramah.


"Selamat siang." rekan-rekan Audrey pun ikut mengucapkan salam. Semua tersenyum, bahkan gadis yang berada di rombongan itu. Kemudian gadis berblazer pink tadi menoleh ke arah kiri, hatinya ingin memandangi wajah tampan Aaron di setiap kesempatan.


Namun kemudian keningnya berkerut samar saat melihat mata Aaron terpaku pada sesuatu. Gadis tadi mengikuti tatapan mata Aaron. Ia memandangi gadis yang dipanggil sayang oleh Bagaskara tadi. Matanya memindai dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemudian menyunggingkan senyuman sinis.


Hanya seorang gadis kecil, bukan tandinganku. gumamnya dalam hati.


Audrey mengenakan high-waisted short berwarna krem yang dipadukan dengan kaos berwarna putih serta sepatu nike zoom berwarna krem. Sling bag lucu berwarna maroon mempermanis tampilan Audrey yang terlihat seperti anak sekolah. Audrey bahkan hampir tidak terlihat memakai make up.

__ADS_1


"Mau pulang? Nanti diantar..."


"Maaf Tuan Bagaskara, kita harus ke kantor untuk melengkapi berkas kerja sama. Saya dan Papa Marthen sudah menyiapkan yang lain." gadis di rombongan itu memotong ucapan Bagas dengan cepat.


Hal itu membuat kepala Aaron dan Isak refleks menoleh padanya.


"Kau mulai lancang Nona Sofia." Desis Isak tak suka. Dari awal ia tak suka dengan gadis ini, terlebih lagi sepanjang pertemuan ia sering menatap keponakannya terang-terangan. Bagi Isak, calon menantunya hanya satu, Audrey. Tidak ada kesempatan lagi bagi gadis lain.


"Maafkan kelancangan putri saya, ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Mohon dimengerti." Papa gadis itu mencoba melindungi putrinya, terlebih lagi saat ia melihat Sebastian pun menampakkan wajah kesal karena ucapannya dipotong.


Sedang Sofia hanya menunduk, menyadari tindakannya salah. Ia ingin mencegah Aaron berduaan dengan gadis bernama Audrey itu. Karena sejak lama ia menaruh hati pada Aaron. Dan merasa kesempatan semakin terbuka lebar saat perusahaan mereka menjalin kerjasama.


"Kami membawa kendaraan masing-masing Om." Audrey mengurai ketegangan yang muncul.


"Baiklah kalau begitu, Om pergi dulu ya sayang." Bagaskara maju dan mengusap puncak kepala Audrey dengan sayang.


"Kalian semua berhati-hati saat menyetir." Bagas memandangi rekan Audrey satu per satu dan dibalas anggukan oleh gadis-gadis itu.


Bagas segera melangkah diikuti kliennya. Isak menepuk pundak Audrey sambil tersenyum lembut saat melewati gadis itu. Lain halnya dengan Aaron, ia berhenti di depan pujaan hatinya dan menatap wajah Audrey dengan intens.


Tangannya terulur ke wajah gadis itu, kemudian ibu jariny mengusap sudut bibir Audrey. Hal itu membuat Audrey terkejut dan mencondongkan tubuhnya ke belakang. Aaron memperlihatkan ibu jarinya, ada sedikit jus alpukat disana. Dengan cepat ia memasukkan ibu jari itu ke dalam mulutnya.


"Manis." ucapnya dengan senyum jahil.


Wajah Audrey merona, ia memukul lengan Aaron dengan gemas.


"Pergilah, Om Bagas sudah menunggu." ucap Audrey kesal, ia mengerucutkan bibirnya.


"Jangan memancing kakak begitu Drey. Bisa-bisa kakak ******* habis bibirmu disini."


"Astaga Kak Aaron, vulgar banget moncongnya." Isabela terpekik. Alhasil ia mendapat tatapan mengintimidasi dari Yura, Nabila dan Audrey. Tak lupa Sofia yang ternyata masih setia menemani Aaron.


Ada hubungan apa antara Aaron dan gadis kecil itu?gumamnya. Tak akan kubiarkan berlanjut.


"Ehmm." Sofia berdehem, Aaron lantas menoleh dengan alis bertaut.


"Kenapa belum pergi juga? Bukankah kau ingin segera menyelesaikan perjanjian kerja sama perusahaan?" tanya Aaron datar. Ia sudah muak dengan gadis itu karena sepanjang pertemuan Sofia terang-terangan menatapnya. Kemudian ia tersipu malu jika Aaron melihatnya.


Sofia terkesiap, bagi telinganya Aaron terdengar ketus saat mengatakan itu. Nada bicaranya berbeda jauh saat ia sedang berbicara dengan Audrey. Terdengar lembut dan penuh kasih sayang.


Gadis itu menghentakkan kakinya karena kesal, dengan sedikit berlari ia mengejar rombongan Bagaskara dan papanya.


Sialan kau Audrey, aku akan membuktikan pada Aaron bahwa aku lebih menarik dibandingkan dirimu gadis kecil.


Isabela menatap Sofia dengan kesal. Kemudian ia mengacungkan tangan kanannya. Ibu jari dan telunjuk membentuk huruf L sedang jari lain ditekuk ke dalam. Kemudian tangan kirinya memegang jari-jari yang ditekuk, membuat Isabela terlihat sedang memegang pistol.


Pphuufff..Pphuufff...


Bibirnya mengerucut mengeluarkan desis pelan dan menggerakkan pistol khayalannya itu. Isabela seolah-olah menembak dengan tangannya. Kemudian ia meletakkan jari telunjuk di depan bibir dan meniupnya.


Hihihihihihi....


Tindakan Isabela membuat gadis lain terkikik geli sambil menutup mulut dan memegangi perut mereka. Aaron tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya.


Tanpa Isabela sadari, tindakan konyolnya tadi tak luput dari tatapan sepasang mata elang. Sudut bibir pengamat itu terangkat menampilkan senyum tipis yang menawan.


Ternyata kau bisa bertingkah konyol juga.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2