Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
35. Rindu


__ADS_3

Billy sedang menatap layar notebooknya ketika ia mendengar bel berbunyi. Ia bergegas menghampiri pintu, senyumnya mengembang sempurna saat melihat siapa yang datang.


"Masuklah."


Wanita muda itu masuk dan langsung menuju sofa, meninggalkan Billy yang menutup serta mengunci pintu apartemennya. Belum sempat ia duduk, Bilky sudah menarik tangannya dan memeluknya.


"Aku rindu." Billy berbisik tepat di telinga perempuan dalam dekapannya, mengirim sensasi geli ke sekujur tubuhnya.


Tak membuang waktu ia segera mengangkat kekasihnya dan membawa wanita muda itu ke kamar tamu. Mereka melepas rindu dan hasrat yang sudah beberapa minggu ini terpendam.


Billy mengabaikan bunyi bel yang terus menerus memberi tahu ada orang di luar. Pemuda itu mengetahui siapa yang datang. Namun ia sedang tak ingin bertemu wanita paruh baya itu.


Di depan pintu Arneta terus memencet bel. Ia mulai tak sabar, senyum yang tadi menghiasi wajahnya telah pudar. Berganti dengan kekesalan yang mulai memuncak.


"Kemana dia? Apa Billy sedang pergi?" Arneta bertanya pada dirinya sendiri.


Pada akhirnya ia menyerah, Arneta melangkah pergi meninggalkan apartemen Billy.


Di dalam kamar Billy sedang memacu tubuhnya dari arah belakang wanita muda itu. Peluh membanjiri tubuh polos mereka. Billy menggeram merasakan ken*km*t** pada tongkat saktinya. Sedang wanita di bawahnya hanya bisa menggerakkan kepalanya kesana kemari merasakan sensasi dalam tubuhnya.


Billy tak kenal lelah dan tak kenal waktu. Ia tak peduli meski hari masih siang. Dipapahnya tubuh wanita itu ke dalam kamar mandi, mendudukkan dirinya sendiri di closet yang tertutup. Kemudian mengarahkan pasangannya untuk melakukan penyatuan dalam pangkuannya.


Hari telah beranjak petang saat sepasang kekasih itu menuntaskan hasrat mereka dan kembali berbaring di peraduan setelah mandi bersama. Billy terlelap sambil memeluk wanita muda itu dari belakang. Yang dipeluk hanya menatap tangan kekar Billy dengan pandangan sendu.


Bagaimana cara aku memberitahunya kalau aku positif hamil? Ada perasaan takut menyergap hatinya, ia tahu pria yang telah menidurinya ini bukanlah pria baik-baik. Billy sudah terkenal playboy dan sering berganti pasangan. Tapi tetap saja ia terpikat oleh wajah tampan dan terjerat rayuan-rayuan Billy.


Hhhh....


Ia mendesah pelan, kemudian memejamkan matanya. Kantuk menyerang tubuhnya yang lelah, hingga ia mengabaikan kabar penting yang membawa langkahnya datang tadi siang.


Yura sedang membersihkan apartemennya saat ponselnya berdering. Ia mengangkat tombol biru muda itu untuk menerima panggilan video dari Rangga.


"Selamat sore kak." sapa Yura.


"Selamat sore Ta." Rangga tersenyum melihat wajah gadis itu di layar ponsel. "Sedang apa?"


"Bersih-bersih kamar kak."


"Rajinnya."


"Tidak juga kak. Beberapa hari belum sempat diberesin." Yura meringis.


"Ta, kakak belum bisa menghubungi Audrey. Kamu tahu dia dimana?" Rangga menyampaikan tujuannya menelepon.


"Bersama tante Tika kak. Sudah coba hubungi tante Tika?" jawab Yura jujur.


"Sudah, tapi tidak bisa."

__ADS_1


"Sepertinya daerah mereka susah signal kak. Om Sebastian bilang tahu daerah mana yang mereka datangi."


"Papa meneleponmu?"


Yura mengangguk. "Iya, untuk tanya keberadaan Audrey juga."


"Itu saja?"


"Oh iya, om berpesan padaku. Kalau kakak telepon tolong sampaikan ke Kak Rangga untuk tidak membuang waktu."


Rangga tersenyum penuh arti. "Cuma itu?"


"Iya, itu saja yang disampaikan Om."


"Kau tidak penasaran apa maksud papa?"


"Penasaran sih kak, tapi aku tidak ingin dianggap lancang." Yura tersenyum kikuk.


Rangga merenung, ia kelihatan sedang memikirkan sesuatu. Yura menautkan kedua alisnya saat melihat Rangga terdiam. Ia ingin bertanya, tapi niat itu segera diurungkannya. Walaupun Yura dan Rangga sudah semakin intens menjalin komunikasi, tapi status hubungan mereka masih sekedar teman saja. Lebih tepatnya, Yura adalah sahabat Audrey, adik dari Rangga.


Oleh sebab itu Yura menahan diri, ia tak ingin terbawa perasaan. Meskipun harus Yura akui, dalam hatinya mulai tumbuh perasaan lain untuk kakak sahabatnya itu. Perasaan nyaman, bahagia, kadang cemas, khawatir dan...sedih. Yura sedih karena belum bisa berjumpa Rangga.


Mungkinkah itu yang dinamakan rindu pada pujaan hati? Rasanya jauh berbeda dengan rindu pada keluarga atau sahabat. Rindu yang ini terasa lebih...menyakitkan. Yura rindu ingin segera bertemu, bukan hanya lewat panggilan video seperti ini.


"Ta, Kakak rindu." Rangga memecah keheningan diantara mereka. Yura menahan nafasnya, terkejut dengan kata-kata yang beberapa hari ini juga ada di hatinya.


Yura menunduk, ia tak berani melihat wajah Rangga di layar ponselnya. Namun Rangga menyadari perubahan rona wajah Yura. Ia tersenyum, manisnya gadisku. Gadisku? Rangga mengernyit karena kata hatinya sendiri.


Suasana makan malam di vila kali ini sedikit berbeda. Kedatangan Isak dan Tika membawa kebahagiaan tersendiri bagi Audrey. Karena ia merasa ada yang membelanya jika Om Bagas dan Aaron mengerjainya.


"Jadi besok kalian akan meninggalkan aku dan Bram?" terdengar nada sedih pada pertanyaan Bagas. Mereka semua tengah menikmati hidangan penutup.


"Iya bang. Tapi kan tidak lama lagi abang akan kumpul terus sama kami." Isak menjawab pertanyaan kakak iparnya itu.


"Berapa lama lagi Bram?" kali ini Tika yang bertanya pada dokter muda itu.


"Tinggal menunggu pemeriksaan dari beberapa tim ahli kok tante. Paling lama minggu depan mereka tiba."


"Sampai mereka selesai bisakah kau dan Audrey menemaniku Ka?" Bagas menatap adiknya penuh harap.


"Tidak!" Aaron berseru. "Eh, itu maksudnya tidak mungkin The Jewel ditinggal terlalu lama." kata Aaron dengan nada dibuat setenang mungkin. Ia merubah cara bicaranya karena semua orang di meja makan sedikit melompat dari tempat duduknya dan memegangi dada mereka saat mendengarnya berseru.


"Bilang saja kau tak bisa jauh dari Audrey." Bram meledeknya.


Aaron tersenyum canggung. "Ya, mungkin juga Audrey merasakan hal yang sama denganku."


"Audrey tidak keberatan kok menemani Om Bagas disini." kata gadis itu santai seraya menampilkan senyum manisnya untuk Bagas.

__ADS_1


"Tapi kalau seminggu tidak bisa Drey." perkataan dan tatapan mata Tika seolah mengingatkan Audrey tentang sandiwara mereka.


"O iya ya, Audrey lupa tante."


"Baiklah kalau begitu, sepertinya aku harus lebih sabar sampai kondisiku benar-benar pulih." Bagas mengalah. "Kita berdua lagi Bram, bersama para pelayan dan pengawal." kata Bagas sambil menatap sendu Dokter itu.


"Kalau begitu, Audrey pulangnya tidak jadi besok. Lusa saja, boleh kan Tan?" Audrey meminta ijin, raut wajah Bagas berubah cerah.


"Kok minta ijinnya di tante sih Drey. Kamu kan datangnya sama kakak." Aaron melayangkan protesnya.


"Tapi kan Tante Tika yang bertanggung jawab ke kakek atas Audrey."


"Ya nggak bisa gitu dong honey." Aaron merendahkan nada suaranya, nafas audrey tercekat. Tika tersenyum mendengar ucapan keponakannya.


Wajah Audrey seketika merona, kalimat itu terdengar seperti seorang kekasih yang tengah membujuk pasangannya.


"Repot kalau berhadapan dengan orang yang jatuh cinta. Meja makan milik berdua, kita cuma kursi hidup." Isak beranjak dari tempatnya.


"Bram, tolong antar Om ke ruang tengah." pinta Bagas sambil tersenyum simpul.


Sebenarnya Tika sudah menceritakan semua perihal Audrey yang bersandiwara menjadi istri Aaron. Namun adiknya itu tetap tak ingin menjawab saat Bagas bertanya tentang asal usul Audrey.


Dan Bagas juga menyadari, putranya sudah jatuh cinta pada gadis itu. Maka sekarang ia ingin memberi kesempatan sebanyak mungkin bagi putranya. Ia juga ingin sandiwara mereka menjadi kenyataan. Mengingat hal ini membuat semangat Bagas untuk sembuh semakin berkobar.


Akhirnya semua orang pergi kecuali Tika, ia terdiam melihat kedua muda mudi itu bertatapan. Senyum bahagia tidak lepas dari wajahnya.


"Mau sampai kapan saling pandangnya?" Tika menggoda.


Pasangan itu mengerjap, menyadari yang lain sudah pergi.


"Kakak sih, semuanya jadi pada risih makanya pergi." Audrey mencebik.


"Ya kamu juga sih." Aaron tidak mau disalahkan.


"Kak, panggilannya itu lho. Kita kan tidak sedang bersandiwara."


"Sudah kebiasaan." Aaron dengan santai menanggapi Audrey yang terlihat mulai kesal. "Pokoknya besok kamu pulang sama kakak."


"Kak, lusa saja dong. Please." Audrey merasa nyaman tinggal di vila itu. Lingkungan vila yang asri, tak ada bising umpatan Arneta, tak perlu berlakon menjadi Nyonya Muda, membuat Audrey merasa tenggelam dalam aliran energi positif yang besar. Ia bahkan sudah mendesain beberapa perhiasan, tentu saja hal itu membuat Tika sangat senang.


"Tidak bisa My Lady, kasihan Gustaf." Aaron masih bersikeras mengajak Audrey pulang.


"Audrey pulang sama tante ya, please tante. Nanti Audrey tambah desain hairvine sama choker necklace deh di set perhiasan yang terbaru." Audrey memberi tawaran menggiurkan.


"Ok deh, biar Aaron pulang sama Om Isak saja." dengan senang hati Tika menerima tawaran Audrey.


Aaron berdecak kesal kemudian pergi dari tempat itu. Meninggalkan Tika dan Audrey yang menatapnya heran kemudian saling melempar senyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2