Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
41. Jantungku


__ADS_3

Audrey mengembalikan ponsel Tika dengan wajah sumringah. Mereka sedang berada di perpustakaan, menjauh dari Isak dan Aaron.


"Terima kasih banyak ya Tante." ucapnya tulus.


"Tentu saja. Ayo kita kembali." Audrey mengangguk, keduanya lantas keluar dari ruangan itu.


Saat akan kembali menuju ruang kerja Aaron, mereka bertemu Arneta. Audrey memutar bola matanya, malas dengan apa yang dilihat netranya.


"Kau selalu melindunginya Tika. Jika dia melenyapkan Aaron dan merebut semua harta kalian, bagaimana?" Arneta menatap sinis ke arah Audrey. Audrey merasa ia akan meledak jika terlalu lama bertemu Arneta, jadi ia memilih pergi terlebih dahulu.


"Biarkan saja, lagipula dia tahu mengelola perusahaan. Bukan cuma bisa menghabiskan uang atau menggunakan tubuh untuk berdiplomasi." Tika terdengar ketus, kemudian ia menyusul Audrey.


"Sialan!" Arneta mendesis kesal. "Tapi aku tak akan membiarkan gadis itu mendapatkan segalanya." gumamnya pelan.


"Sayang, ayo pulang." ajak Tika setelah tiba di ruang kerja Aaron.


"Sedikit lagi ya sayang." Isak dan Aaron terlibat percakapan serius mengenai hotel baru yang akan dibangun.


Tika hanya mengangguk, ia keluar dan mencari Audrey.


"Audrey, boleh tante masuk?"


"Tentu saja tante."


Tika masuk dan mendapati Audrey tengah duduk di sofa dengan tangan menopang dagunya.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Aku berpikir bagaimana hidup seatap dengan orang yang selalu memiliki niat jahat. Apakah tidak melelahkan?"


"Tentu saja melelahkan, karena hal itu membuat perasaan kita seperti naik rollercoaster. Menguras tenaga dan juga emosi."


Tika menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Tapi kami tidak bodoh ingin mencelakai diri sendiri. Kami sepakat akan menyeretnya ke tangan yang berwajib. Memang melelahkan sekaligus membahayakan nyawa sendiri. Tapi itu sudah jadi prinsip kami." Tika menerawang.


"Dosa yang kita miliki sudah terlalu banyak Drey. Jangan ditambah lagi dengan melenyapkan orang." Tika tersenyum mengusap rambut gadis itu.


"Audrey perlu waktu untuk memahami semuanya Tante."


"Kau pasti akan paham suatu saat nanti. Hidup penuh kebencian itu tidak enak Drey." Tika tersenyum lembut melihat Audrey menatapnya dengan heran. "Tante pulang dulu, Om pasti sudah selesai membahas pekerjaan mereka."


Audrey mengangguk dan beranjak untuk mengantar Tika pulang. Benar saja, di depan terlihat Aaron dan Isak sudah menunggu.


Setelah mobil yang di tumpangi Isak dan Tika pergi, Audrey cepat-cepat masuk kedalam saat Aaron sedang berbicara dengan Edward. Audrey tak ingin bertemu Arneta lagi malam ini.


"Honey." Aaron menangkap lengannya saat Audrey hampir mencapai pintu. "Terburu-buru sekali."


"Aku hanya ingin segera istirahat kak."

__ADS_1


Aaron menatap Audrey, wajah gadisnya memang terlihat lelah.


"Baiklah, ayo masuk." Aaron menarik tangan Audrey ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.


"Ke-kenapa dikunci kak? Bukannya kakak hanya akan berganti baju dan tidur di ruang kerja?"


"Tidak, aku akan tidur disini malam ini."


Wajah Audrey pucat, ia terkejut dengan perkataan Aaron. Melihat reaksi Audrey yang seperti itu membuat Aaron tertawa.


"Aku hanya bercanda hon." ia mengacak rambut Audrey sebentar kemudian masuk ke dalam walk in closet. Audrey menghembuskan napas lega, ia duduk di sofa sambil untuk menunggu.


"Kenapa belum tidur?" Aaron keluar dengan celana pendek dan kaos tanpa lengan memperlihatkan otot-ototnya yang kekar.


"Aku menunggu kakak keluar." jawab Audrey, pandangannya ke pintu.


"Drey, kakak ada di sebelah sini. Bukan di pintu, kenapa lihatnya kesana?" Aaron menggodanya.


"Ya, biar kakak cepat keluar." masih tak menatap Aaron. Bukannya pergi Aaron malah mendekati Audrey dengan senyuman jahil di bibirnya.


Ia menunduk dan mengecup pipi Audrey. Gadis itu kaget dan menoleh hendak melayangkan protes. Belum sempat berucap bibir Aaron sudah mendarat di bibirnya. Singkat tapi cukup membuat pipi Audrey merona.


"Lain kali kalau berbicara dengan orang yang lebih tua, lihat ke orangnya. Jangan ke tempat lain, tidak sopan." Aaron tersenyum.


"Celana kakak terlalu pendek, jadi aku tak berani melihat."


Cepat-cepat Audrey menutup mulut Aaron dengan tangannya, matanya melotot.


"Mesum!!" hardiknya.


Aaron tertawa dalam dekapan tangan Audrey di bibirnya. Ia memegang tangan itu dan menciuminya berkali-kali. Karena merasa risih Audrey lekas berdiri dan menarik tangannya. Kemudian ia menarik telinga Aaron sampai pemuda itu berdiri.


"Hissshhh, sakit honey."


"Biarin. Cepetan keluar, Audrey ngantuk kak Aaron." Audrey menarik Aaron untuk segera keluar.


Setelah membuka pintu tiba-tiba Aaron memeluknya dari belakang.


"Apa kau tidak lupa sesuatu?"


Audrey mengernyit, ia lantas menoleh ke arah kiri untuk menatap Aaron.


"Sepertinya tidak ada."


Aaron tersenyum jahil, Audrey terkejut. Kamu salah langkah Audrey! rutuknya pada diri sendiri.


Pemuda itu mendekatkan wajahnya dan kembali mendaratkan ciuman pada bibir Audrey. Tangan kanannya sengaja meremas pinggul kiri gadis itu membuat Audrey terkejut dan membuka bibirnya. Segera Aaron memperdalam ciumannya, m*l**at bibir Audrey dengan lembut.

__ADS_1


Semakin lama semakin dalam dan menuntut. Ia melepas sejenak pagut*nnya untuk membalik tubuh gadis itu sehingga mereka berhadapan. Kemudian kembali menempelkan bibirnya. Tanpa melepas ciuman ia membawa Audrey bersandar di dinding samping pintu, kemudian menutup pintu dengan tangannya yang bebas.


Pelan-pelan dan masih kaku, Audrey membalas ciuman Aaron. Pemuda itu senang, Audrey membalasnya. Bahkan Audrey sudah memejamkan matanya dan bergelayut pada leher pemuda itu. Suara decapan terdengar memenuhi kamar. Keduanya memejamkan mata, menikmati setiap cumb**n yang mereka lakukan.


Merasa hasratnya sudah tak tertahankan, Aaron melepas bibir Audrey perlahan. Kemudian menempelkan keningnya pada kening Audrey, keduanya terdiam dengan napas terengah-engah.


Jarinya terulur mengusap bibir Audrey yang terlihat semakin merah dan membengkak. Sekuat tenaga ia menahan hasratnya yang kian membara. Sedangkan gadis itu tak berani mengangkat wajahnya.


"Tidurlah, semoga mimpi indah." ucapnya setengah berbisik. Audrey mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Aaron memeluknya erat, mengecup dahinya dengan singkat kemudian melangkah menuju ruang kerja.


Gegas Audrey mengunci kamar, ia takut jika Aaron berubah pikiran dan masuk kembali. Tangannya memegangi dada, merasakan debaran-debaran yang begitu kuat di dalam sana. Ia menggigit bibir bawahnya, mengingat pernyataan cinta dan ciuman panas mereka.


Dengan senyum yang tak surut ia menjatuhkan diri ke ranjang, mengambil bantal dan menutup wajahnya sendiri. Astaga, aku tak bisa berhenti tersenyum. Sepertinya aku mulai gila.


Sementara itu di apartemen Yura, di waktu yang sama. Yura berbaring dengan tangan memegangi dadanya. Entah sudah berapa lama senyum lebar itu bertengger di bibirnya. Ia bahkan tak mempedulikan otot wajahnya yang sudah berdemo karena sakit.


Flashback on


"Sudah malam, kakak pulang dulu Ta." Rangga berdiri dari tempat duduknya di balkon. Yura hanya mengangguk mendengar calon suaminya itu berpamitan.


Mereka berjalan menuju pintu, tangan Rangga melingkari pinggang Yura dengan mesra. Wajah Yura merona karena itu. Rangga melirik, ia tersenyum melihat Yura yang menunduk tersipu malu.


"Langsung tidur ya." ucap Rangga setelah mencapai pintu.


"Iya kak, lagi pula tidak ada lagi yang akan dikerjakan." kata Yura sambil membuka pintu. "Baik-baik di jalan kak."


"Iya sayang." Rangga mengusap kepala Yura dengan sayang kemudian keluar dan Yura segera menutup pintu. Belum tertutup sempurna pintu itu didorong dari luar membuat Yura sedikit kaget. Ternyata Rangga kembali lagi.


"Ada yang kelupaan ya kak." tebaknya.


"Iya ada." jawab Rangga sambil tersenyum penuh arti.


"Apa? Biar aku ambil."


"Ini." Rangga maju mendekati Yura, menundukkan wajah dan mengecup singkat bibir gadis itu. "Semoga mimpi indah."


Ia langsung berbalik pergi, meninggalkan Yura yang masih diam membeku di tempatnya.


Flashback off


"Astaga, jantungku seperti mau lepas." lirihnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2