Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
24. Tunggu Kondusif


__ADS_3

Audrey memegang tangan kokoh pemuda itu yang masih melingkar di perutnya.


"Kak, ini tak benar." katanya sambil berusaha melepas tangan Aaron.


"Apa yang tak benar?" Aaron melepas pegangannya dan membalik badan Audrey hingga mereka saling menatap.


"Kita...kita..." Audrey bingung harus bicara apa.


Aaron memegang pipi gadis itu dengan tangannya, membelai dengan lembut membuat darah Audrey berdesir. Kemudian tangannya memegang dagu Audrey, menahan agar wajah itu tak berpaling sementara ia mulai mendekatkan wajahnya.


"Apa-apaan ini?!" seru seorang wanita paruh baya yang cantik.


Audrey terkejut, ia berusaha menjauh tapi Aaron malah menahannya tetap dengan posisi semula.


"Lepaskan gadis itu!" titah wanita tadi.


"Aku tak akan melepasnya."


"Kau akan menikah, apa pantas kau bermesraan dengan gadis lain?"


Deg


Kak Aaron sudah memiliki calon istri?


Audrey terkejut, ia meronta dan kali ini Aaron melepasnya. Namun tak terbebas sepenuhnya, karena Aaron memegang pinggang Audrey dengan tangan kirinya dan merapatkan tubuh mungil itu ke tubuhnya.


"Aku sudah memilikinya, dia istriku, jadi aku tak akan menikahi wanita mana pun lagi."


Belum habis rasa terkejutnya, kali ini ia harus mendengar perkataan Aaron yang mencengangkan.


Dia bersandiwara, apakah dia memintaku membantunya seperti dia membantuku saat di mall? Jika begitu akan ku ikuti maunya. Audrey bergumam dalam hati.


"Apakah itu benar?" wanita itu menatap Audrey. Wajah wanita itu tak terlihat karena ia membelakangi cahaya lampu taman yang terletak di pinggiran jalan setapak.


Audrey hanya mengangguk, tak bersuara.


Gadis pintar, Aaron tersenyum puas.


Aaron menarik tangan Audrey untuk kembali menuju resort, meninggalkan wanita itu yang belum pulih dari keterkejutannya.


"Tunggu Aaron! aku adalah ibumu! Kau tak bisa sembarangan menikahi gadis yang tak jelas asal usulnya."


"Kau bukan ibuku!" Aaron menekan kata penolakan itu, ia berbalik dan menatap nyalang wanita di hadapannya.


Saat ikut berbalik dan menatap wanita tadi, jantung Audrey seperti berhenti berdetak walau sesaat. Dadanya memanas, amarah mulai menjalar di seluruh pembuluh darahnya.


Rahangnya mengeras, wajahnya memancarkan aura membunuh yang kental. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal dengan kuat, hingga Aaron meringis kesakitan karena Audrey seperti akan meremukkan tangannya.


Rebecca!!!


"Ada apa ini?" suara Tika menginterupsi.


"Katakan padaku adikku, apakah benar gadis ini istri putraku?"


"Arneta, aku bukan adikmu dan Aaron bukan putramu. Dan gadis ini..." Tika mendekati Audrey dan mengusap bahunya. "Ya, dia istri Aaron."


Arneta? Istri Aaron? Ibu? Bukan ibu?


Banyak pertanyaan bermunculan di benak Audrey. Tapi panas di dadanya tak kunjung mereda, bahkan saat Tika mengusap pundaknya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Aaron menatap Audrey sambil mengangkat tangannya yang sedang diremas kuat oleh gadis itu.


Namun ia terkejut wajah cantik nan manis Audrey memancarkan aura jahat, tatapan matanya tajam dipenuhi hasrat untuk membunuh wanita yang ditatapnya.


Dia mengenal Arneta?


Perlahan Audrey mengerjap.


Satu kali


Dua kali


Tiga kali


Kemudian perlahan melepas genggamannya dan menolehkan wajahnya ke arah Aaron.

__ADS_1


"Ya sayang, aku baik-baik saja." senyuman yang jelas dibuat-buat mengembang di wajah itu.


Raut muka Audrey jadi semakin mengerikan, tanpa sadar bulu kuduk Aaron meremang. Ia melihat sisi gelap kepribadian Audrey.


"Ayo sayang, ikut tante." Tika yang melihat tubuh Audrey menegang, segera menarik gadis itu dan membawanya ke suatu tempat. Jauh dari jangkauan Arneta dan Aaron.


"Jangan ganggu aku lagi. Nikahkan keponakanmu itu dengan pria kaya lainnya." kata Aaron setelah Tika dan Audrey pergi.


Audrey masih bisa mendengar kalimat itu. Jadi Rebecca menjodohkan Aaron dengan keponakannya.


"Kau tak boleh bersama gadis lain selain Juliana!"


"Aku berhak menikahi siapa pun yang aku cintai."


"Kalau begitu bersiap-siaplah kehilangan cintamu." Arneta tersenyum licik dan pergi meninggalkan Aaron.


Setelah kepergian Arneta, Aaron menunduk melihat tangannya yang digenggam Audrey tadi. Rasanya masih sakit, jari jemarinya seakan-akan remuk.


Kemudian ia teringat ancaman Arneta sebelum pergi. Aaron meringis, aku rasa tak akan semudah itu kau menghancurkannya Arneta.


Sore ini Aaron menemukan hal baru pada Audrey. Yang pertama Audrey nyaman saat bersama Aaron. Kedua ternyata Audrey bisa bela diri, ketiga sepertinya Audrey sangat membenci Arneta.


Aaron mendesah dengan kasar mengingat sandiwara dadakan yang kembali terjadi. Namun kali ini akan lebih rumit.


Kemana tante membawanya? Aku harus berbicara dengan Audrey.


...


Tika menyeret tangan Audrey sampai ke dalam kamarnya, suaminya terkejut melihat itu.


"Ada apa ini Tika? Kenapa menyeret Audrey seperti ini?" suaminya menatap dengan heran.


"Aku akan menceritakannya, tolong jaga dia sebentar." Tika menuntun Audrey duduk di sofa tamu dalam kamar milik mereka dan pergi ke pantry mengambil air mineral.


Saat kembali ia melihat Audrey sedang menutup wajahnya, terdengar ia sedang berusaha mengendalikan nafasnya.


"Minumlah dulu Drey." Tika membukakan penutup botol air dan menyerahkan pada Audrey.


Audrey mengangguk dan meminum air itu. Kesejukan yang mengaliri kerongkongannya seakan ingin ikut membantu meredakan gejolak amarahnya.


"Karena kak Aaron pernah membantu dengan berpura-pura menjadi kekasih Audrey." Audrey menunduk. "Tapi saat mengiyakannya Audrey tak tahu jika wanita yang berbicara itu adalah ibunya. Seandainya Audrey tahu lebih awal..." Audrey menghela nafas dengan kasar.


"Arneta bukan ibu Aaron." Tika terdengar geram.


"Tapi tante..."


"Sayang, dengarkan ini baik-baik."


Audrey mengangguk, Tika mulai menceritakan latar belakang keluarga Aaron.


Aaron berusia 12 tahun saat mamanya meninggal. Dan tiga tahun kemudian Bagas, kakaknya menikahi Arneta karena dengan cerobohnya masuk dalam jebakan Arneta.


Aaron Bagaskara tak menerima pernikahan itu sampai kapan pun, ia mendengar sendiri bagaimana Arneta mengancam papanya. Ia akan menyebar video syur mereka jika tidak dinikahi.


Bahkan selama 8 tahun menikah, Papa Bagas tak pernah menyentuh Arneta sama sekali. Karena ia tahu, ia hanya dijebak perempuan itu. Lebih dari dua tahun yang lalu Bagas tewas dalam kecelakaan tunggal.


10 tahun berada dalam keluarga Aaron nyatanya tak membuat Arneta dianggap sebagai nyonya besar. Di mata keluarga Saka, ia hanya ular berbisa yang dipelihara sekedar untuk menjaga nama baik Bagas.


Audrey hanya diam mendengar setiap penuturan Tika.


"Jika kau tetap melanjutkan sandiwara ini, resikonya sangat besar. Arneta bisa membunuhmu Drey. Tante tidak mau kehilangan orang yang tante sayang lagi akibat ambisi yang tak terpenuhi."


Tika mengusap punggung tangan Audrey dengan lembut.


"Tapi tante juga tak sanggup melihat Aaron sendiri melawan Arneta dan pemegang saham yang berhasil dipengaruhi wanita j*l*ng itu. Tante mohon, lanjutkan sandiwara ini. Tolong, bantu kami." Tika memelas.


"Apakah tak ada gadis lain tante?" Audrey ragu.


"Tidak ada yang sedekat ini dengan Aaron, hanya kau saja Drey."


"Beri Audrey waktu untuk berpikir tante." Audrey melangkah menuju taman kolam renang kecil di dalam lingkungan kamar itu.


...


Darahku mendidih saat melihatnya. Jika aku lanjutkan, apakah aku tak akan mencincangnya? Tapi jika tak kulakukan, maka keluarga Kak Aaron akan kehilangan segalanya.

__ADS_1


Bagaimana ini? Apa aku bisa menahan setan dalam diriku? Tapi jika tidak dibantu, aku akan merasa bersalah membiarkan Ibl*s B*ti*a itu menghancurkan keluarga lainnya.


Hufftttt...aku penasaran bagaimana Kak Aaron bisa menghadapi dan mengendalikan emosinya selama sepuluh tahun ini.


Audrey sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga ia tak menyadari Aaron tengah berdiri di ambang pintu menatapnya dengan perasaan yang bergejolak.


"Arrgghhhh, aku pusing, aku pusing, aku pusing." Audrey memukul kepalanya sendiri.


"Maaf membuatmu seperti ini." Aaron melangkah mendekati gadis itu.


Audrey yang awalnya menatap Aaron kini membuang muka dengan wajah ditekuk.


"Kau marah pada kakak, hmm?" Aaron mengusap kepala Audrey.


"Ya, kenapa melakukan sandiwara berbahaya seperti ini? Dan bodohnya aku pun mengikuti." Audrey merutuki dirinya sendiri.


Aaron terkekeh pelan mendengar itu.


"Perasaan ingin membalas budi mengalahkan akal sehat rupanya." Aaron mengedipkan sebelah mata.


"Kakak menyebalkan, dasar jelek." Audrey menumpahkan kekesalannya. "Menyesal aku bertemu denganmu hari ini."


"Tolong kondisikan bibir itu kalau tak ingin ku lahap."


"Hei, aku bukan makanan!"


"Kalau begitu akan kucium." Aaron mendekat.


"Jika masih ingin hidup, hapus pikiran kotor itu Tuan Aaron." Audrey sontak menutup bibirnya.


"Tapi kita sudah bersandiwara sebagai suami istri, pasti kita akan melakukannya untuk meyakinkan wanita itu."


"Tidak!!! Aku tidak mau. Aku ingin calon suami sungguhan yang akan menciumku pertama kali, bukan suami gadungan."


"Jadi kau belum pernah berciuman?"


Seketika Audrey merona, ia mengepalkan tangannya dan menunjukkan kepalan itu di depan wajah Aaron.


"Huuuuuuhhhhhhh!!!" geramnya sambil mengertakkan gigi, kemudian ia menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam ruangan menuju Tika dan Sang Suami.


Aaron tergelak melihat itu dan menyusul Audrey masuk.


"Tante, Audrey tak akan membantu. Audrey tak mau melanjutkan sandiwara ini." kata Audrey dengan sebal.


"Lho, ada apa ini?"


"Audrey bisa mati berdiri kalau bertemu orang menyebalkan ini lagi."


"Aaron, kau menggodanya lagi?" Tika bertanya pada Aaron yang menyusul di belakang Audrey.


"Tidak tante, aku berkata serius ingin menci..." kalimat Aaron terputus saat Audrey membungkam mulutnya.


"Hentikan!" mata Audrey seakan ingin meloncat keluar dari tempatnya.


Aaron terbahak-bahak dalam dekapan tangan Audrey, melihat ekspresi wajah gadis itu yang jadi semakin menggemaskan.


Audrey makin tersulut, ia menginjak kaki Aaron sekuat tenaga, membuat pemuda itu langsung terduduk di lantai memegangi kakinya. Tika dan suami geleng-geleng kepala melihat interaksi itu.


"Om, Tante, Audrey pergi dulu." Audrey melangkah keluar.


"Tungga tante Drey, kau belum memberi keputusanmu."


Tante Tika menyusul Audrey keluar kamarnya.


"Nikahi dia secepatnya, jika tidak pemuda lain akan merebutnya."


"Tunggu semua kondusif dulu Om."


"Ya, asalkan kau tidak menyesal saja."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2