Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
54. Lebih Mengenal


__ADS_3

Audrey sedang membaca laporan bulanan PT. Danur Mutiara. Keuntungan perusahaan tetap meningkat sekalipun mereka tak memperpanjang kerja sama dengan beberapa toko perhiasan ternama. Gadis itu tersenyum puas dengan kinerja pegawai mereka.


"Pak Charly, tolong atur bonus untuk semua karyawan di awal bulan depan ya." pintanya.


"Baik Nona." Pak Charly terlihat gembira dengan itikad baik Audrey.


"O iya, apakah bapak bisa mengatur kegiatan Workshop pengolahan daging kerang dan limbah cangkang kerang? Untuk Narasumber biar saya yang mencarinya."


"Tentu Nona. Siapa pesertanya?"


"Untuk daging kerang kita bisa bekerja sama dengan ibu-ibu warga desa sekitar perusahaan. Untuk linbah cangkang, kita libatkan pengrajin dan masyarakat biasa. Mana tahu ada yang berminat dan berbakat menjadi pengrajin juga."


Charly terdiam, ia berpikir agak lama sambil menatap Audrey.


"Sebenarnya apa tujuan Nona?"


Audrey mendongak menatap Pak Charly sambil tersenyum. "Saya hanya ingin Danur membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar pak. Kita bertumbuh dan hidup sejahtera bersama-sama."


Pak Charly tersenyum mendengar jawaban itu. "Saya akan segera mengaturnya."


"Terima kasih pak. Jika sore ini laut teduh saya ingin pergi ke pulau untuk melihat kegiatan disana."


"Iya nona, tapi maaf saya tidak bisa ikut kesana."


"Tidak apa-apa pak, saya mengerti."


Audrey melanjutkan pekerjaannya saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Ia tersenyum saat melihat siapa yang mengirimi pesan.


Kak Aaron:


Jangan lupa makan ya hon.


Rona merah muncul diwajah cantiknya, kesibukan membuatnya lupa menghubungi calon suaminya itu. Jangankan menghubungi, ia sendiri kadang lupa dimana meletakkan ponsel.


Audrey:


Iya kak. Kakak juga ya.


Di kantornya Aaron tersenyum membaca pesan dari Audrey. Gadisnya itu hanya akan romantis jika terpaksa. Sepertinya ia harus mencari akal agar Audrey memanggilnya sama seperti saat ia menghajar Billy.


Di seberang meja Sofia memperhatikan wajah Aaron dengan seksama. Senyum manis yang Aaron arahkan pada ponselnya membuat Sofia iri. Sudah satu bulan lebih sejak kedatangan Sofia di mansion Bagaskara, namun sama sekali tak ada kemajuan dalam usahanya.


"Aaron, Tantemu meminta kau pergi ke tokonya. Katanya ia meminta diantar ke rumah Bram."


"Iya pa. Sekarang?"


"Iya, sekarang."


"Sofia temani ya kak." gadis itu menawarkan diri.

__ADS_1


"Maaf Nona Marthen, Gustaf memerlukan dirimu untuk memeriksa keperluan di lapangan. Bukankah Marthen memberimu tugas untuk membantu kami?"


"Iy-iya Tuan." Sofia terbata melihat tatapan tajam Bagaskara Saka.


Sementara itu Aaron sudah pergi sejak Papanya memberi tahu fungsi Sofia di kantor mereka. Sofia mencuri pandang ke arah pintu dengan kekesalan yang terlihat jelas di wajahnya.


Berbeda dengan Aaron yang terlihat lega bisa terlepas dari Sofia. Gadis yang mengaku berpendidikan dan berkelas tapi tingkahnya tak sesuai dengan yang dikatakan.


Aaron tiba di The Jewel tepat waktu, Tika telah menunggu di depan Toko. Ia langsung naik begitu Aaron menghentikan mobilnya.


"Selamat siang Tante, terburu-buru sekali." sapa Aaron.


"Selamat siang keponakanku yang tampan. Kau akan rasakan nanti saat akan menikah." kata Tika sambil mengaitkan sabuk pengamannya.


Aaron tersenyum mendengar itu, karena ia juga sudah tak sabar meminang pujaan hatinya.


"Kapan Audrey pulang?"


"Sepertinya besok. Bersama kakek dan neneknya."


"Tante yakin kau tak sabar ingin berkenalan dengan mereka."


"Tentu saja."


"Audrey gadis yang hebat, sekalipun baru beberapa bulan menjadi direktris Danur Mutiara, ia cepat menguasai tugasnya."


"Astaga Aaron! Ada apa?!" seru Tika panik.


Aaon menatap tantenya dengan penuh rasa ingin tahu, ia melajukan mobil dan mencari tempat yang aman untuk parkir sementara waktu.


"Direktris?" kali ini ia menatap Tika dengan alis yang bertaut.


"Audrey tidak cerita?" bukannya menjawab Tika malah balik bertanya. Pemuda itu hanya menggeleng pelan sebagai jawabannya.


Tika mendesah kasar. "Audrey tidak akan cerita jika tidak ditanya. Apakah kau tidak tahu itu?"


Sekali lagi Aaron hanya menggeleng, membuat Tika jadi merasa bersalah.


"Kakeknya memiliki perusahaan yang bergerak di bidang pembudidayaan kerang dan menghasilkan mutiara terbaik di negara ini. Beberapa bulan lalu setelah mereka berbaikan, kakeknya langsung memberikan perusahaan itu pada Audrey."


"Bagaimana tante bisa tahu?"


"Karena tante bertanya. Saat itu satu minggu Audrey pergi, dan saat tante meminta desain baru, ia bilang masih sedikit sibuk."


Aaron akhirnya kembali melajukan mobilnya. Ia terlihat kecewa karena tidak mendengar langsung dari Audrey. Namun ia juga sadar, selama ini ia tak pernah bertanya pada gadisnya tentang kegiatannya saat mereka tak bersama.


"Kau bukan pacarnya, melainkan calon suaminya. Tante rasa wajar jika kau bertanya banyak hal tentang Audrey. Karena cinta saja tanpa disertai pengenalan yang mendalam tentang pasangan, tidak akan cukup untuk mempertahankan rumah tangga." Tika mulai memberi nasehat.


"Apalagi banyak yang kami tutupi tentang Audrey saat kalian pertama bertemu. Tuntaskan rasa ingin tahumu tentang dia, itu bukan saja hak, tapi juga kewajibanmu. Kewajiban jika ingin menjadi suami yang bisa membimbingnya dan menjadi pemimpin dalam keluarga."

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa membimbingnya jika kau tak mengenalnya dengan baik?"


Penjelasan panjang Tika membuka pemahaman baru bagi Aaron. Mendung di wajahnya sirna, pemuda itu tersenyum.


"Baiklah tante, mulai sekarang aku akan berusaha meluangkan waktuku untuk lebih mengenal sifat dan karakter calon istriku."


"Ya, harus! Karena itu diperlukan untuk mempertahankan pernikahan kalian. Kecantikan dan ketampanan bisa pudar. Tapi jika kau mengenal pasanganmu dengan baik, seperti apapun rupanya nanti, perasaanmu tak akan berubah."


Aaron tersenyum dan melirik sekilas ke arah tantenya. Ia bersyukur memiliki tante yang terkadang bisa mengisi posisi mama yang telah tiada.


.


.


.


Keesokan harinya Aaron datang berkunjung, setelah makan malam ia duduk bercengkrama dengan keluarga Audrey. Sebastian mengerti Aaron ingin menghabiskan waktu bersama Audrey, jadi ia meminta putrinya untuk membawa Aaron duduk di taman.


"Drey, apa pekerjaanmu sekarang ini?" Aaron membuka percakapan.


"Sekarang ini Audrey mengurus PT. Danur Mutiara kak. Walau belum maksimal. Kakek masih sering turun tangan membantu. Juga Pak Charly, orang kepercayaan kakek."


"Yang waktu itu datang di peresmian resort?"


"Iya kak."


"Kau menyukai pekerjaan itu?"


"Tidak juga." Audrey meringis. "Tapi selama masih dalam bimbingan rasanya agak menyenangkan. Bukan karena Audrey ingin lepas tanggung jawab. Tapi Audrey belum terbiasa."


"Bagaimana setelah kita menikah nanti?"


"Audrey akan tinggal bersama kakak. Perusahaan bisa diurus Pak Charly. Audrey hanya perlu memantau sesekali. Kakek juga setuju."


Aaron mengusap puncak kepala Audrey dengan lembut. "Kau akan ikut kemana pun kakak pergi?"


"Tentu saja." gadis itu menatap Aaron, raut wajahnya terlihat serius.


"Apa saja yang kakak ingin tahu tentang Audrey? Kapan pun kakak ingin bertanya akan Audrey jawab. Maaf jika banyak hal yang kesannya disembunyikan dari kakak." Audrey menatap mata Aaron dengan lembut, pemuda itu meraih tangan gadisnya dan mengecup dengan penuh sayang.


"Baiklah, malam ini kita akan melakukan tanya jawab. Apakah kau sudah siap Nona Besar Sebastian?"


"Ya Tuan Muda Saka, aku siap." kata Audrey dengan mimik wajah lucu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2