
Arneta memasuki lobi sebuah hotel dengan langkah anggun khas seorang nyonya besar keluarga ternama. Ia tak perlu menghampiri meja resepsionis karena sudah mengetahui kamar mana yang ia tuju. Arneta tak mempedulikan pandangan beberapa pria di dalam lobi, baginya itu adalah hal yang wajar mengingat kecantikannya yang masih terpancar di usianya yang sudah sangat matang.
Ia memasuki sebuah lift yang kebetulan kosong, dan membawanya ke lantai tujuh. Sebenarnya ia sempat bertanya-tanya dalam hati, mengapa tak ada yang menggunakan lift itu di lantai-lantai yang ia lewati. Namun bukankah itu lebih baik, perjalanannya tak perlu terhenti walau hanya beberapa detik.
Ting...
Lift terbuka, Arneta segera keluar dan melangkah dengan pasti menuju sebuah pintu berwarna merah kecoklatan yang bertuliskan 1707. Tanpa mengetuk Arneta langsung masuk begitu saja, dan seorang pria yang seusia dirinya telah berdiri menunggu dengan senyum yang terkembang sempurna.
"Apakah kau bosan menungguku?" Arneta langsung mengecup singkat bibir pria itu.
"Tidak juga." jawab sang pria singkat. Lalu ia ******* bibir Arneta dengan lembut.
"Cukup Roki." Arneta melepaskan diri, menghentikan serangan pria itu sebelum mereka berdua tak dapat mengendalikan gairah masing-masing.
"Bisnis dulu sayang, asmara kemudian." Arneta mengusap pipi Roki kemudian berlalu dan duduk di sebuah sofa.
Roki terlihat kecewa, namun ia tak ingin membuat wanita itu murka. Atau dirinya akan mengalami kerugian besar.
"Apa yang kau inginkan sayang?" Roki menyusul Arneta dan duduk di samping wanita itu.
"Aaron telah menikahi gadis lain, dan aku tak dapat berbuat semena-mena pada j*l*ng itu."
"Mereka selalu mengawasimu?"
"Tidak, sepertinya gadis itu bisa ilmu bela diri atau semacamnya. Kemarin aku hampir mati dicekik olehnya."
"Mengapa bisa?"
"Yah, aku memprovokasinya. Tak ku sangka seranganku malah berbalik menyiksaku." Arneta tampak gusar.
"Aku pun tak dapat menekan Aaron di perusahaan. Beberapa orang mulai mencurigaiku. Jadi sementara waktu aku harus berhenti menekan anak tirimu itu."
"Jadi, aku harus bagaimana? Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Cukup sepuluh tahun ini saja."
"Gunakan nyonya muda itu, temukan keluarganya."
"Aku bahkan yakin dia gadis dari panti asuhan. Latar belakangnya sangat sulit dilacak."
Roki mengernyit mendengar penuturan Arneta. Tak masuk akal, dengan semua sumber daya yang mereka miliki, masa mencari identitas seorang gadis muda saja mereka tak sanggup.
"Aku tahu kau tak percaya, tapi itulah kenyataannya." Arneta melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap kesal ke arah jendela.
"Kalau begitu culik saja dia dan gunakan untuk mengancam Aaron."
"Justru itu aku minta bertemu. Bantu aku menyusun rencana sekaligus mencari orang yang bisa membantu."
"Baiklah, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Bukan hanya situasi yang tak mendukung di kantor, tapi istriku pun sedang sakit. Aku harus berperan menjadi suami yang baik."
"Terserah kau saja."
"Cemburu?"
"Tidak." Arneta masih belum mau menatap Roki.
"Ayolah, apa susahnya jujur, hmm?" Roki mendekat dan mengusap paha Arneta yang terekspos dengan lembut.
Arneta diam saja, namun tubuhnya berkata lain. Darahnya terasa berdesir karena sentuhan Roki, pandangannya mulai berkabut. Sesuatu bergejolak pada inti tubuhnya dan mendesak untuk keluar. Roki menyeringai karena ia paham betul wanita dihadapannya itu. Ia tersenyum lembut saat Arneta menoleh padanya, hari ini hasratnya akan terpuaskan.
.
.
__ADS_1
.
Mobil yang dikendarai Aaron telah sampai di sebuah villa yang di kelilingi oleh pagar tanaman hidup dan kawat berduri. Audrey merasa bingung, pasalnya ia melihat pasukan bersenjata berjaga di gerbang utama. Mereka pasti bukan orang pemerintahan, kemungkinan besar mereka adalah tentara bayaran.
Audrey turun dari mobil, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling lingkungan itu. Ia tahu kalau mereka sedang diawasi. Bahkan ia menatap tepat ke arah pengintai di beberapa titik.
"Drey, ayo." Aaron mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Audrey diam saja menyambut uluran tangan Aaron. Sepanjang jalan menuju rumah ia masih sempat melihat ke beberapa titik, tempat pengintai mengamati.
"Apa yang menarik perhatianmu?"
"Tidak ada." jawab Audrey sambil tersenyum. "Siapa yang tinggal disini kak?"
"Seseorang yang sangat berarti bagiku."
"Sok misterius banget sih kak."
Aaron hanya tersenyum tipis dan mempererat genggamannya.
"Brother, selamat datang kembali." seorang pemuda berkacamata menyambut kedatangan Aaron dengan tangan terbuka.
Aaron melepas tangan Audrey dan menyambut pelukan pemuda itu.
"Bram, senang bertemu lagi." kedua pemuda itu saling menepuk punggung. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Aaron saat melepas pelukan mereka.
"Seperti yang kau lihat, semakin tampan dan sehat." Bram mengembangkan tangannya seraya memamerkan tubuhnya sendiri, keduanya pun terkekeh.
"Dan wow, siapa gerangan gadis cantik ini?" Bram menatap Audrey dengan takjub.
"Dia Audrey." Aaron memperkenalkan mereka. "Audrey, ini sahabatku, Dokter Bram." Bram mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.
"Halo Dokter. Senang bertemu denganmu." sapa Audrey.
"Panggil Bram saja. Senang bertemu denganmu Nona." ia mengalihkan wajah ke Aaron. "Dia.." Bram menunjuk Audrey.
"Wohoho." Bram mendekat kepada Aaron. "Pepet terus, jangan sampai lolos." bisiknya.
"Tentu." jawab Aaron sambil tersenyum menatap Audrey.
Melihat itu Audrey hanya menaikkan alisnya saja, ia tak mengerti arah pembicaraan mereka dan ia tak peduli.
"Mau langsung bertemu?" tawar Bram.
"Tentu saja. Bagaimana perkembangannya?"
"Sungguh luar biasa, aku sampai penasaran, apa pemicunya. Mungkin kabar kau dipaksa menikahi Juliana." Bram bermain tebak-tebakkan.
"Apapun itu, yang penting memberi pengaruh baik."
"Ya, kau benar. Ayo, dia sedang memberi makan ikan di belakang." ajak Bram.
Aaron mengajak Audrey dan berjalan di belakang Bram. Sejenak ia memperhatikan penampilan Audrey. Rambut yang dibiarkan tergerai, dress lengan pendek berwarna baby pink dan flat shoes berwarna biru tua. Sederhana dan anggun, Aaron tersenyum lembut.
"Sudah selesai memindaiku kak?"
"Sudah."
"Jadi?"
"Menawan, seperti biasanya."
"Membual, seperti biasanya."
__ADS_1
Aaron terkekeh mendengar perkataan Audrey. Mereka terus melangkah, melewati taman bunga hingga tiba di sebuah gazebo. Tak jauh dari sana terdapat kolam besar yang dilengkapi tanaman air disalah satu sisinya dan sebuah jembatan yang melengkung di tengah kolam. Puluhan ekor ikan koi berwarna cerah memenuhi perairan buatan itu.
Audrey melihat seorang pria yang sedang membelakangi mereka, usianya diperkirakan sedikit lebih tua dibanding Papa Sebastian. Pria itu berdiri di tengah jembatan dan memberi makan ikan. Aaron dan Audrey mendekat ke salah satu sisi kolam tak jauh dari jembatan.
"Tunggu disini ya." Audrey hanya mengangguk, kemudian Aaron berjalan menuju pria itu.
"Papa." sapa Aaron, pria itu berbalik.
"Aaron putraku, kau datang lagi."
Audrey tersentak, jika pria ini adalah papanya Aaron, lantas siapa yang meninggal dua tahun lalu? Gadis itu menguasai keterkejutannya dan bersikap biasa.
Aaron mengambil wadah pakan dan memberikannya pada Bram. Kemudian ia membantu papanya membasuh tangan serta mengeringkannya.
Mereka bertiga meninggalkan jembatan dengan perlahan-lahan. Aaron memegangi papanya dari sisi kiri, menuntun dengan hati-hati. Saat telah berada di tempat yang rata, Papa Bagas mendongak. Saat itu juga pandangannya bertemu dengan mata Audrey.
"Tiara." Bagas bergumam, namun terdengar jelas sampai ke telinga Audrey.
Audrey melebarkan matanya, ia terkejut nama mamanya disebut oleh Bagas. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali normal. Ada banyak wanita bernama Tiara di dunia ini, pikirnya.
Aaron dan Bram pun sama terkejutnya, terlebih lagi kini Bagas tak bergerak sedikit pun dan hanya terdiam menatap Audrey. Aaron melihat gadis itu dan memberi isyarat agar Audrey mendekat.
Gadis itu patuh, ia bergegas mendekati ketiga pria tersebut.
"Halo om, salam kenal. Saya Audrey." ucapnya dengan bibir yang selalu menyunggingkan senyuman manis.
"Audrey, saya Bagas, papanya Aaron." keduanya berjabat tangan dan Bagas tak langsung melepas tangan Audrey, matanya terlihat menyelidiki wajah gadis itu.
"Pa, ada apa?" Aaron bertanya karena papanya tak kunjung melepas tangan Audrey, gadis itu terlihat mulai salah tingkah.
"Oo, ya, ma-maaf nak." Papa Bagas terbata menyadari kesalahannya, Audrey hanya tersenyum menanggapi itu.
"Wajahmu mengingatkanku pada seorang wanita. Jadi om minta maaf jika om lancang."
"Tidak apa-apa om."
"Cinta pertama yang tak sampai, hmm?" Aaron menggoda papanya.
"Anak kurang ajar, kau menggodaku lagi huh." Bagas menarik sedikit telinga Aaron.
"Sebaiknya kita duduk di gazebo." Bram memberi saran, dan disetujui yang lain.
Beberapa pelayan terlihat hilir mudik menghidangkan makanan dan minuman bagi tamu yang datang. Sedangkan Bram tampak memeriksa kondisi Papa Bagas dengan seksama.
"Sudah berapa lama kalian berpacaran?" Bagas menatap Aaron dan Audrey bergantian.
Audrey menunduk, gadis itu terlihat gugup dan malu.
"Dia bukan kekasih Aaron pa." jawab Aaron jujur, dan kalimat itu membawa angin segar bagi Audrey. Beban di pundaknya terasa hilang, setidaknya mereka tak akan bersandiwara selama berada di vila ini.
"Benarkah? Tak biasanya kau dekat dengan seorang gadis dan membawanya padaku."
"Ya itu.." Aaron menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Sebenarnya aku..umm kami..."
"Baiklah, baiklah. Aku mengerti." potong Bagas, ia menatap Audrey dengan intens. "Audrey, sayang. Apa kau sudah memiliki kekasih nak?"
"Belum om." jawab Audrey jujur.
"Jika begitu, om minta, jadilah menantu om."
.
__ADS_1
.
.