
Wajah masamnya terlihat sangat jelas saat Aaron masuk ke dalam mobil. Pagi ini Audrey benar-benar tidak ikut pulang bersamanya, bahkan entah ada dimana gadis itu sekarang. Padahal Aaron ingin berpamitan dan membujuknya, mana tahu Audrey berubah pikiran.
Sekali lagi Aaron menoleh ke belakang, hanya ada Papa, Tante Tika dan Bram yang berdiri di halaman depan vila.
Hhhh, tega sekali kamu Drey, desahnya. Aaron menutup pintu mobil sekuat tenaga, membuat Isak yang telah duduk terjingkat karena kaget.
"Maaf Om." Aaron merasa bersalah.
"Hemm." Isak memasang wajah datar, padahal dalam hatinya ia merasa geli melihat tingkah keponakannya itu.
Aaron mulai mengarahkan mobil keluar halaman vila, hatinya terasa berat sekali. Ia sudah terlanjur merasa nyaman dengan adanya Audrey di sisinya. Dan hari ini ia harus bisa sabar menunggu esok untuk bertemu lagi.
Satu hari...hanya satu hari. Hhhh...Tapi aku ingin melihatnya, sebentar saja.
Mobil yang dikemudikannya sudah semakin jauh dari vila, tapi batang hidung gadis itu tak nampak sedikit pun. Aaron semakin murung, apakah tak ada sedikit saja perasaannya untukku? rutuknya dalam hati.
"Memangnya kau sudah mengutarakan perasaanmu?" tanya Om Isak tiba-tiba.
Aaron terkejut, padahal ia tidak menyuarakan isi hatinya dengan lantang. Keningnya berkerut saat menatap Om Isak.
"Aku bukan ahli sihir, jadi aku tak bisa membaca hati dan pikiran orang. Hanya saja raut wajahmu sudah menceritakan semua dengan jelas." kata Isak menambahkan.
"Belum Om, aku belum pernah mengatakannya secara serius."
"Perempuan itu butuh kepastian Ron. Mereka perlu mendengarnya secara gamblang, bukan hanya isyarat atau hanya lewat perhatian. Karena saat ini tak sedikit pria yang memberikan perhatian lebih, tapi dihatinya tak ada cinta." Om Isak membagi pengalamannya.
"Jadi apa yang harus kulakukan?"
"Nyatakan cintamu padanya, minta dia jadi kekasihmu. Bukankah itu yang dulu kau lakukan pada Lusi?"
"Tidak om. Lusi yang minta untuk jadi kekasihku, bukan aku. Awalnya aku hanya merasa kasihan saat menyetujuinya, namun lambat laun aku jadi sayang padanya." Aaron mengenang mantannya yang telah tiada.
Isak mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau begitu, cepatlah bertindak. Saat lusa mereka pulang, langsung saja kau katakan isi hatimu."
Ciittt...
Brakkk... refleks Isak memukul dashboard untuk melindungi tubuhnya. Karena mobil berhenti tiba-tiba, tubuh Isak melenting ke depan. Untung saja dia memakai sabuk pengamannya.
"Lusa?! Bukan besok?!" seru Aaron terkejut.
Isak memegangi dadanya, matanya terpejam. Tika, aku bisa mati kalau begini. Rencana sang istri bisa mencelakai dirinya.
__ADS_1
"Om!" Aaron menggoyang lengan Isak.
"Beri om kesempatan menenangkan diri dulu Aaron!" Isak menggerutu.
Aaron mendesah kasar, lalu melanjutkan perjalanan. Ia merasa marah, kesal, dan menyesal. Andai semalam ia tak pergi begitu saja dari ruang makan, mungkin tadi pagi Audrey akan menampakkan dirinya.
Akhirnya sepanjang sisa perjalanan ia hanya diam, menyesali tindakan kekanak-kanakannya. Juga marah karena tak ada yang menceritakan jadwal pulang Audrey yang sebenarnya.
Sementara itu di mansion, Audrey duduk di hadapan Bagas dengan dada berdebar-debar. Disisinya Tika menemani sambil mengusap punggungnya, mencoba menenangkan gadis itu. Sedangkan Bram, dengan santainya bersandar di dinding tak jauh dari Bagas sambil melipat tangan di depan dada.
"Nama lengkap saya, Audrey Mutiara Sebastian." Audrey setenang mungkin menjawab pertanyaan yang tadi dilontarkan Bagas. "Kakek Satya dan nenek Ida adalah orang tua mama saya." Audrey berbicara sangat formal.
Bram melebarkan matanya mendengar nama lengkap Audrey. Sedangkan Bagas tercenung mendengar jawaban itu, ia diam. Dadanya terasa berat untuk bernafas.
"Jadi alasanmu menyembunyikan identitasnya karena ia adalah putri Tiara." kata Bagas lirih.
"Iya bang." Tika tahu pertanyaan itu ditujukan untuknya.
"Om mengenal mama?" Audrey terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Bukan hanya mengenal, Om sangat mencintainya." Bagas menunduk, sudut terdalam hatinya terasa sedikit perih saat mengatakan itu.
"Siapa yang lebih dulu? Om atau Papa?" Audrey penasaran dengan kisah cinta yang tak pernah ia dengar dari mulut papanya.
"Hingga suatu hari datanglah Sebastian yang sedang berlibur. Mereka langsung saling jatuh cinta sejak pandangan pertama. Tiara menceritakannya padaku." Tika melengkapi cerita Bagas.
"Tak lama kemudian kami pindah. Dan keputusan orang tuaku itu seperti menyelamatkanku dari sakit hati yang berkepanjangan." Bagas menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Sebelum pergi aku menemui Sebastian untuk memperingatkannya. Aku katakan jika dia menyakiti Tiara, aku akan langsung datang dan merebutnya." Bagas terkekeh mengingat tingkahnya sendiri.
"Tante tak membenci papa?" Audrey menatap Tika dengan wajah penuh tanya.
"Tidak, karena aku sudah pernah mengingatkan Abang mengenai perasaannya. Namun dia mengacuhkanku. Abang terlalu yakin bahwa Tiara sudah mengerti dan akan selalu menatapnya. Dia lupa kalau Tiara hanya manusia biasa yang tak dapat mengetahui isi hati orang jika tak diberi tahu." Tika mencibir abangnya itu.
"Aku tetap menjaga hubungan baik dengan kedua orang tuamu. Namun sedikit pun aku tak pernah menceritakan keluarga kalian pada abangku. Aku sadar, semua murni kesalahan abang dan tingkat percaya dirinya yang melebihi kapasitas."
"Kalau tidak menyindirku apa kau akan mati mendadak Tika?" Bagas gerah dipojokkan terus, Tika terkekeh melihat Bagas kesal.
"Aku pernah datang dan mengunjungi kakek Satya. Dari situ aku tahu kalau Tiara memiliki seorang putra dan seorang putri. Dan dari situ aku juga tahu kalau Tiara wafat dalam kecelakaan."
Audrey tercekat, matanya melebar. Kebenaran tentang kematian Tiara memang ditutup rapat. Hanya keluarga inti dan keluarga sahabatnya yang mengetahui hal ini. Itu pun karena mereka sering melakukan konseling di terapis yang sama.
__ADS_1
Gadis itu menunduk, hatinya ngilu. Seandainya om tahu kalau istri kedua om adalah pembunuhnya. Aku yakin aku tak perlu bersandiwara lagi setelah pulang dari tempat ini.
"Maaf merepotkanmu Audrey. Beri om waktu untuk memulihkan kondisi. Setelah itu akan om beri pelajaran pada Arneta." janji Bagas.
"Tidak apa-apa om. Apalagi Audrey tahu perusahaan Om membantu banyak orang. Akan sangat salah jika Audrey hanya berdiam diri." ucap Audrey, kali ini ia merasa lebih santai dan tidak terintimidasi oleh tatapan Bagas.
Audrey merasa yakin dengan pilihannya kali ini. Keluarga, sahabat bahkan nuraninya sendiri menghalangi niatnya untuk membalas secara langsung pada Arneta. Mungkin dengan membantu menggagalkan rencananya ia akan hidup tenang di masa depan, tanpa rasa bersalah karena sudah mengikuti amarah.
"Kalian jadi pulang sore ini?" Bagas menatap Tika dan Audrey bergantian.
"Ya, ada yang harus aku dan Audrey selesaikan." Tika mengangguk yakin.
"Kita berdua lagi Bram." ucap Bagas menatap Bram yang dari tadi hanya menjadi pendengar yang baik.
"Bersabarlah Om, tinggal beberapa hari lagi." Bram tersenyum hangat. "Aku memikirkan Aaron, pasti ia sangat frustasi sekarang ini."
"Aku harap suamiku baik-baik saja." Tika teringat akan Isak.
"Ya, sembunyi-sembunyi seperti ini memang sangat melelahkan." Audrey menghela nafas.
"Kenapa kau tak menemuinya tadi?" Bram ingin menuntaskan rasa penasarannya.
"Lebih baik begini, tidak bertemu sama sekali. Jika tadi aku keluar aku khawatir belum lama mereka pergi aku sudah ri..." Audrey menelan salivanya dengan kasar, ia melihat semua orang disitu menatapnya dengan senyuman penuh arti.
"Maksudnya, aku takut dia akan mengerjaiku lagi." Audrey meralat ucapannya, Bram menaikkan satu alisnya saat Audrey melihat ke arahnya.
"Ayo kita bersiap Drey." sambil menahan tawa Tika mengajak Audrey ke kamar untuk bersiap.
"Audrey permisi Om, Dokter." pamita Audrey pada kedua pria itu.
"Jadi alasan Om akan langsung meminang Audrey, karena takut sejarah akan terulang kembali?" Bram langsung bertanya setelah Tika dan Audrey sudah tak terlihat.
"Ya, cukup aku yang merasakan sakitnya cinta tak terbalas." Bagas tersenyum. "Aku yakin Audrey juga sudah memiliki perasaan pada Aaron. Berdasarkan kesamaan beberapa perilaku Tiara dan Audrey, gadis itu pasti akan risih dan tak nyaman bersama pria asing yang tidak membuatnya tertarik."
"Dan Audrey tampak sangat nyaman dengan cara Aaron memperlakukannya." Bram menarik kesimpulan.
Bagas hanya mengangguk untuk membenarkan ucapan Bram. "Setelah ini carilah seorang gadis baik untuk mendampingimu Bram." Bagas memberi saran.
"Kalau ada yang tertarik padaku, maka akan kulakukan Om."
.
__ADS_1
.
.