
Audrey menatap wajahnya di cermin, ia merapikan blouse lengan panjangnya. Sudah seminggu ini dia selalu memakai peralatan yang diberi Yura. Peringatan dari Juliana tidak bisa dianggap remeh. Ditambah kemarin ia mendapat pesan terbaru dari Rangga melalui Yura.
Aaron sudah pergi ke kantor, jadi Audrey bebas mengeluarkan semua peralatannya setelah mengunci kamar. Ia membersihkan Glock Meyer 22 kesayangannya. Memeriksa Taser Gun, dan sebuah pisau lipat yang bisa disembunyikan di lengan dengan bantuan alat pengikat khusus. Dibalik midi skirt polos ia mengenakan celana yang dilengkapi holster paha. Juga holster dada di balik blousenya itu.
Setelah semua peralatan beres, ia menatap gawai untuk melihat area dapur melalui jepit kupu-kupu yang diberi Yura. Beberapa hari ini ia memata-matai beberapa pelayan yang mengurus bagian dalam rumah.
Di layar tampak seorang pelayan wanita sedang membuat jus yang ia pesan tadi. Setelah menoleh untuk mengamati sekelilingnya, pelayan itu memasukkan sesuatu ke dalam minuman dengan gerakan sangat cepat.
"Ketemu! ternyata kau pengkhianatnya." Audrey tersenyum sinis. "Mari kita bermain Rebecca."
Hari ini Rebecca beraksi
Begitu isi pesan yang ia kirim ke Yura. Selama beberapa hari ini ketiga sahabatnya selalu berada di markas mereka untuk berjaga-jaga.
Di apartemen ketiga gadis itu tengah menyiapkan semua perlengkapan mereka. Kemudian membawa ke bawah dan meletakkan semuanya di sebuah mobil Mercedes Benz G-Class berwarna hitam.
"Tak ada yang tertinggal kan?" tanya Nabila pada kedua gadis lain. Isabela dan Yura hanya mengangguk.
"Sudah semua. Kita langsung berangkat atau menunggu jika signal Audrey sudah bergerak?"
"Baiknya kita menunggu signal dari Audrey." jawab Yura sambil menatap gawai di tangannya.
"Aku lapar." Isabela mengusap perutnya.
"Bukankah tadi kau sudah makan?" Nabila menatap penuh rasa heran.
"Iya, tapi kalau tegang begini aku semakin lapar."
"Jangan kebanyakan makan, nanti kostummu tidak muat." Yura mengingatkan.
"Dan pangeranmu tak akan kuat menopang tubuhmu." Nabila menambahkan.
Isabela hanya bisa mencebikkan bibirnya mendengar semua penuturan itu.
.
.
.
Sementara itu, di ruang kerja Tika. Tampak sang pemilik ruangan mondar mandir dengan wajah tegang.
"Duduklah sayang, bergerak seperti itu tak akan membuatmu lebih tenang." kata Isak pada istrinya.
"Bahkan kau membuatku pusing, Kartika Saka." imbuh Bagas sambil memijat pelipisnya.
Aaron diam saja dengan jari saling merangkai. Ia terus memikirkan Audrey, calon istrinya itu tengah menjadi umpan.
"Bagaimana kalau obat itu menyakiti Audrey?" katanya tiba-tiba.
"Astaga, kau sudah mengatakan itu puluhan kali." Bram kesal.
Tok...Tok...Tok...
Bram melangkah membuka pintu, tampak dua orang pria dengan pakaian kasual tengah berdiri dengan seulas senyum.
"Silahkan masuk." ucap Bram mempersilahkan.
"Apakah kami terlambat?"
"Tidak, kami belum mendapat kabar darinya." jawab Tika.
"Mari Sebastian." Bagas mempersilahkan, Aaron menatap kedatangan kedua orang itu dengan dahi berkerut.
"O iya, kenalkan. Ini putraku, Aaron." ucap Bagas sambil menggerakkan dagunya.
__ADS_1
Aaron langsung berdiri dan mengulurkan tangannya untuk menunjukkan rasa hormat pada teman Papanya.
"Halo om, saya Aaron." katanya sambil tersenyum.
"Sebastian. Dan ini putraku, Rangga." Sebastian menyambut tangan Aaron sekaligus memperkenalkan Rangga.
Aaron mengulurkan tangan pada Rangga setelah menjabat Sebastian. Rangga tersenyum tipis dan balas menyalami Bagas.
"Jadi, dia calon adik iparku?" kata Rangga pada Sebastian.
"Apakah kau tidak setuju?" Bagas bertanya sambil mengangkat satu alisnya.
"Tidak seperti itu Om. Siapa pun yang dipilih Audrey, aku menerimanya." Rangga tersenyum tulus. "Tapi perlu kuingatkan, kau mendapat Singa gunung, bukan kucing persia." kata Rangga sambil menatap Aaron.
Mendengar itu Aaron semakin terlihat bingung. Ia menatap Tika, bertanya melalui tatapan mata.
"Sebastian adalah papa Audrey, dan Rangga adalah kakaknya." jelas Tika singkat.
"Sesulit itu mengetahui identitas Audrey?" Rangga mengangkat alisnya.
Aaron tersenyum kecut. "Bagaimana bisa menemukan identitasnya jika pemilik perusahaan teknologi berada di baliknya." Aaron mengenali Rangga yang memiliki anak perusahaan di bidang Teknologi.
"Ya, itu juga salah satu keuntungan memiliki usaha di bidang Komunikasi. Benarkan, Sebastian." Bagas menepuk pundak mantan rivalnya itu.
"Bisakah kalian semua duduk?" pinta Tika.
"Bukankah kau juga tak bisa duduk?" Isak menatap istrinya geli.
"Aku tegang." jawab Tika sambil mencebik.
Drrttt...Drrttt....Drrttt...
Aaron menatap ponselnya, ia menggeser layar untuk mengangkat telepon dan menyalakan pengeras suara.
"Halo."
"Apa maumu?"
"Tak ada basa basi. Baguslah. Istrimu berada di tanganku. Jika ingin dia selamat, datanglah ke alamat yang akan aku kirimkan. Seorang diri." kata Arneta penuh penekanan.
"Baiklah, namun jika ia terluka, kupastikan kau tak akan mendapat sepeser pun."
"Hahahahaa, aku mengerti putraku."
Arneta langsung memutuskan sambungan. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk memberi alamat yang dituju. Rangga meminta alamat itu dan mengirimnya pada Yura.
Aaron menarik napas, bukan lega tapi sesak yang dia rasa. Wajah Sebastian dan Rangga pun berubah kelam.
"Aku pergi." entah kepada siapa Aaron berpamitan.
"Berhati-hatilah." kata Bagas sambil memeluk putranya.
"Damian akan menjagaku Pa." rupanya Aaron melibatkan sahabatnya itu. Bukan melibatkan, tapi Damian sendiri yang memohon setelah mendengar cerita dari Aaron. Ia mencari kegiatan yang memicu adrenalin agar bisa meringankan sakit hatinya.
"Tenangkan dirimu, Audrey sudah aman." Sebastian menghibur.
Aaron mengangkat satu alisnya. "Tak ada yang aman bersama Arneta, Om."
Sebastian mengulas senyum penuh misteri.
"Lakukan saja peranmu sebaik mungkin. Karena jika kau gugup, putriku akan mati."
Aaron mengangguk dan segera pergi. Saat melewati Rangga, pemuda itu hanya mengangguk dan meletakkan ponsel di telinganya.
"Iya Ta, bagaimana?"
__ADS_1
"Kami sudah diposisi. GPS Audrey menandakan mereka memang berada di alamat yang diberikan Rebecca."
"Kami segera kesana." kata Rangga. "Ta."
"Iya kak."
"Hati-hati sayang."
"I-iya kak." Yura terdengar gugup, Rangga tersenyum manis mendengar itu.
Sebastian menoleh pada Rangga sambil tersenyum. "Sepertinya Yura lebih gugup menghadapimu daripada menghadapi musuh."
Rangga hanya tersenyum. "Kita pergi?"
"Ya." jawab Sebastian yakin. "Kau ikut bersama kami atau membawa mobil sendiri?"
"Aku ikut bersamamu." jawab Bagas. "Sebaiknya kalian juga ikut Bram, Isak."
"Baik." jawab kedua orang yang disebut bersamaan.
"Tika, tinggallah disini." kata Isak pada istrinya.
"Aku bisa mati karena tegang, aku mohon, aku ingin ikut." pintanya pada sang suami. "Bang, aku mohon." kali ini ia merengek pada Bagaskara.
"Maaf, kami tidak bisa. Kita tidak tahu rencana cadangan Arneta." Bagas menolak.
"Tapi..."
"Kartika! Aku mohon." Isak memelas. "Cukup Audrey saja yang berada dalam bahaya. Jangan ditambah dirimu lagi."
Tika menunduk lesu. "Baiklah, aku akan menunggu disini." katanya pasrah.
Isak menarik Tika ke dalam pelukannya. Dengan lembut ia mengusap punggung istrinya.
"Pergilah, bawa pulang menantuku dengan selamat." Tika mengulas senyum manis saat merenggangkan pelukan suaminya. Isak mengecup kening Tika dengan sayang. Ia gegas menyusul rombongan yang terlebih dahulu keluar ruangan.
Setelah semua pergi, Tika mengambil ponsel untuk menelepon.
"Halo." katanya setelah panggilannya diterima. "Joan, bisakah kau menemaniku di ruangan?"
"......"
"Terima kasih."
Tika meletakkan ponsel di meja, ia duduk di kursi kerjanya dengan punggung yang merosot . Dadanya terasa tak nyaman, ia takut sesuatu yang jahat terjadi.
.
.
.
"Dimana?" tanya Roki pada seseorang di ponselnya.
"....."
"Aku segera kesana." pria itu mematikan ponselnya, mengusap air matanya dengan kasar dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, tiga hari yang lalu setelah menjenguk istrinya ia memutuskan untuk memeriksakan dirinya. Semalam hasilnya telah keluar. Memikirkan itu membuatnya geram, ia semakin mempererat genggamannya pada kemudi.
Aku tak menyangka, akhirnya akan seperti ini.
.
.
__ADS_1
.