Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
25. Gadis Kuat


__ADS_3

"Kalau sandiwara ini berlangsung sangat lama, papa pasti memarahiku habis-habisan tante."


"Tante yang akan bicara dengan Sebastian. Tolonglah Drey, tante mohon, satu bulan saja." Tika terus memasang wajah memelas, jurus andalannya jika ada yang sangat ia inginkan.


"Kalau begitu Audrey bicara sama Kakek Nenek dulu tante. Audrey pulang ke pulau dulu."


"Ini sudah malam."


"Audrey datang pakai speed 200 PK tante, dan sudah dimodifikasi, jadi aman kalau jalan malam."


"Besok kamu datang ke peresmian resort ini ya sayang."


Audrey menggeleng. "Tidak tante, Audrey tidak akan datang."


"Kalau begitu lusa tante jemput kamu, tante akan antar kamu menuju Aaron."


"Tapi baju-bajunya Audrey bagaimana? Audrey harus pulang dulu tante."


"Tidak perlu, malam ini tante akan suruh Joan belanja seluruh perlengkapan kamu. Semua kebutuhan kamu akan kami penuhi."


Audrey terdiam, ia nampak berfikir lagi.


"Jangan katakan apapun tentang latar belakang Audrey."


"Sip."


"Audrey tidak ingin muncul ke publik sebagai istri Kak Aaron."


"Bisa diatur."


"Kamar tidurnya harus terpisah."


"Kalau itu tidak mungkin, tapi akan disediakan ekstra kasur."


"Audrey perlu ponsel dan kartu baru juga tante."


"Deal."


Audrey mendesah, ia kembali ragu. Rasanya ingin berhenti saja, tidak melanjutkan sandiwara ini lagi. Tapi hatinya tak tega, bagaimana kalau Kak Aaron akan semakin terpuruk. Lain di otak, lain di hati jadi yang terucap dari bibirnya......


"Ya sudah, Audrey pulang dulu ya tante." Hatinya menang.


"Hati-hati di jalan sayang."


Sepanjang perjalanan menuju kantor perwakilan PT. Danur Mutiara di sisi lain garis pantai itu, Audrey melamun. Ia terlihat fokus menyetir, tapi pikirannya melayang-layang.


Mama, apakah Audrey salah mengambil keputusan ini?


Huufffttttt.....


Audrey mendengkus, berusaha mengurangi sesak dalam dadanya. Kemudian ia melirik ke spion.


Mobil itu dari tadi nggak mendahului, padahal sudah diberi jalan. Atau.....

__ADS_1


Audrey tersenyum sinis, ia tahu apa seterusnya. Ia menepikan mobil, menyiapkan Glock kesayangannya dan sebilah pisau lipat.


Aku bukan gadis kecil lagi Rebecca!!!


Sengaja Audrey tak langsung keluar mobil, ia menunggu penguntit keluar. Benar saja, empat orang pria berbadan kekar turun. Masing-masing membawa tongkat bisbol.


Oo, mau langsung menyiksaku rupanya.


Audrey keluar dengan begitu keempat pria itu mendekati mobilnya. Mereka tampak terkejut melihat pistol di tangan kanan Audrey.


"Jangan bermain-main dengan benda itu gadis manis, kau bisa terluka." kata seorang pria sambil menyeringai.


"Aku tak sabar mencicipi tubuhmu." seorang pria tampak mengusap bibirnya saat menelanjangi tubuh Audrey dengan matanya.


Dorr!!!


Pria yang tadi mengusap bibirnya langsung tumbang, jerit kesakitan menyertai saat tubuhnya rubuh di tepi jalan.


"Gadis si*l*n!!" umpatnya sambil memegangi perut.


Melihat kawannya tumbang, dua orang yang lain maju bersama. Mengayunkan tongkat mengincar kepala Audrey. Dengan sigap Audrey menarik kepalanya ke belakang hingga perut dan dadanya seperti berbaring di udara dengan kaki tertekuk menopang tubuh kecilnya.


Kedua tangan Audrey direntangkan, saat tubuh lawannya berada di dekat tangannya Audrey menghunuskan pisau dan menembak disaat yang bersamaan. Dua penyerang itu langsung terkapar kesakitan memegangi pangkal paha masing-masing.


Saat ia sudah menegakkan kembali tubuhnya, ternyata pria terakhir sudah berdiri dihadapannya dan mengayunkan tongkat memukul tangan kanan Audrey. Pistol di tangannya terlepas dari genggaman. Pria itu tampak menyeringai puas.


Audrey meringis menahan sakit. Pria tadi kembali mengayunkan tongkatnya hendak memukul ubun-ubun kepala. Audrey bergerak ke sisi kiri dan maju selangkah hingga ia sudah berada di belakang penyerang dengan posisi saling membelakangi.


Secepat kilat ia memindahkan pisau ke tangan kanannya, kemudian menancapkan pisau ke punggung si penyerang dan menyeretnya ke bawah. Menorehkan luka yang dalam dan panjang. Si penyerang melolong, merasakan sakit yang luar biasa pada punggungnya.


Kini tinggal Audrey saja yang berdiri tegak setelah penyerangan itu. Ia terengah-engah mengatur nafasnya.


"Sepertinya aku tak boleh absen berolah raga." rutuknya sambil mengusap keringat di dahi.


Audrey masuk ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan, meninggalkan keempat pria yang sedang mengerang kesakitan. Saat kejadian tak ada kendaraan lain yang lewat, lokasinya pun sedikit sepi. Rumah penduduk terdekat berjarak 400-500 meter dari lokasi itu.


Sepertinya mereka tidak menganggap serius suara pistol tadi. Hingga tidak ada satupun warga yang keluar.


Sekitar tiga puluh menit setelah kepergian Audrey, sebuah mobil datang dan menepi. Seorang pria berjas hitam keluar dan mendekati tubuh-tubuh yang bergelimpangan itu.


"Halo, mereka gagal. Sepertinya ada yang menolong gadis itu." lapornya pada seseorang di ujung sambungan. Setelah itu ia hanya diam mendengarkan instruksi yang diberikan.


.


.


.


"Jadi begitu ceritanya kek, nek. Bagaimana?" kata Audrey setelah menceritakan kejadian kemarin pada kakek dan neneknya.


"Kalau nenek si terserah kakek saja. Bagaimana kek?"


"Sebenarnya sudah lama kakek memikirkannya. Cara mengobati kondisi hatimu ini adalah berhadapan langsung dengan sumber penyakit itu." Kakek menyesap teh melati di hadapannya.

__ADS_1


Pagi ini mereka menikmati sarapan di atap sambil menikmati matahari pagi ditemani kicauan burung camar dan suara deburan ombak.


"Kakek bersyukur kau tak langsung menyerangnya saat pertama kali bertemu."


"Sebenarnya Audrey ingin mencekiknya, tapi suara kakek kedengaran terus di telinga. Jangan jadi monster, jangan jadi monster. Begitu kek."


Hahahahahaha.....


Kakek dan nenek kompak terbahak-bahak mendengar penuturan cucu mereka dengan mimik wajah lucu.


"Kakek dan nenek akan menjelaskan pada Papamu. Tapi berjanjilah pada kami Drey."


"Apa itu?"


"Jangan mengambil nyawanya dengan tanganmu." sorot mata kakek tajam, aura wajahnya menggelap. Audrey tahu, kakeknya lebih dari serius saat mengucapkannya.


Audrey meneguk salivanya dengan kasar, kalimat kakek seperti memukul kepalanya.


"Baiklah, Audrey janji tidak akan mengambil nyawanya. Tapi kalau cuma....."


"Audrey!"


"Sedikiiiiiit saja." ujung telunjuk dan ibu jarinya di dekatkan hampir menempel.


"Audrey!"


"Iya deh iya, Audrey nggak akan sentuh dia." Audrey mengerucutkan bibirnya kesal.


"Tapi kalau dia yang memulai sih, tidak apa-apa."


"Nenek!" Kakek menatap nenek dengan pandangan tak percaya.


"Yeayyy, terima kasih nek." Audrey memeluk neneknya dari samping.


"Tapi jangan sampai dia kritis ya."


"Siap bos!" Audrey sumringah.


"Nenek dan cucu sama saja, kalau tidak main tangan tidak bisa hidup." Kakek menggerutu, sedangkan dua perempuan beda generasi itu hanya meringis.


"Ayo siap-siap, Pak Charly juga akan ke kantor perwakilan terlebih dahulu sebelum ikut acara peresmian." kata Nenek.


"Iya, Audrey masuk dulu ya." kemudian ia bangkit dan mengecup pipi Kakek dan Neneknya.


"Hhhh....gadis yang kuat." lirih Kakek pelan sambil menatap punggung Audrey.


"Bersyukur dulu dia bisa kuat melalui guncangan hebat." Nenek menggenggam tangan Kakek. "Nenek bantu dia berkemas ya."


"Ya, pergilah. Siapkan semua keperluannya."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2