Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
56. Evakuasi Base


__ADS_3

Audrey muncul dan bergabung kembali bersama teman-temannya dengan wajah masam.


"Jangan tanya!" kata Audrey saat ia melihat Isabela hendak berbicara. Audrey menggunakan tangan untuk memberi isyarat berhenti. Isabela yang baru akan membuka mulut langsung menutup kembali mulutnya.


Berbanding terbalik dengan Audrey, Aaron tampak berjalan di belakangnya dengan senyum yang mengembang. Ia terus melihat kekasihnya itu sebelum duduk di mejanya. Bahkan setelah duduk pun, matanya tak beralih dari Audrey.


Ia teringat bagaimana Audrey menjadi kesal karena ia tak mau melepas pag**annya. Bukan karena sudah terlalu lama mereka berc**m*n, tapi karena ada yang ingin masuk ke ruangan itu namun tak bisa karena tubuh Aaron menekan pintu. Saat keluar ruangan mereka tak menyangka, ternyata Edward yang tadi mencoba mendorong masuk.


Audrey semakin berang saat mendengar Aaron berkata seharusnya masih bisa lebih lama lagi. Membuat Edward tersenyum kikuk saat ia mekihat ke arah Audrey. Gadis itu merasa malu pada Kepala Pelayan mansion Keluarga Saka. Ia berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki kembali ke ballroom.


"Sepertinya bukan hanya aku yang butuh pelampiasan." ucap Nabila memecah keheningan.


"Ya, kau benar." Audrey menanggapi datar.


Saat acara selesai empat sekawan itu segera meminta ijin kepada orang tua masing-masing.


"Untuk apa ke base?" Rangga mendapat firasat buruk saat melihat wajah Audrey.


"Aku hanya ingin berlatih bersama yang lain. Bukan mau pergi makan orang."


Ooo, dia sedang kesal rupanya. Gumam Rangga dalam hati.


"Pergilah, tapi jangan pulang terlalu malam." Sebastian memberi ijin.


Gadis-gadis itu memakai mobil Audrey menuju base tanpa mengganti gaun terlebih dahulu. Sebab baju khusus latihan mereka selalu tersimpan di ruang ganti khusus milik Audrey.


"Kemana Audrey akan pergi?" Aaron menghampiri Rangga.


"Dia akan ke base, sepertinya seseorang membuatnya kesal." Rangga melirik Aaron. Melihat pemuda itu hanya tersenyum simpul, Rangga hanya bisa geleng-geleng kepala.


Rangga mengambil ponsel, ia sedang menelepon seseorang.


"Halo Max. Evakuasi base sekarang. Kalian pergi ke tempat latihan di tepi pantai." perintahnya pada Max, penanggung jawab base, semacam Komandan Utama tempat itu.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Audrey sedang dalam kondisi buruk, ia datang bersama tiga gadis lain."


"Apa?! Berapa lama waktuku?"


"30 menit maksimal. Pergilah jika masih ingin berjalan tanpa kruk." Rangga mengucapkannya dengan santai, tak mempedulikan reaksi wajah Aaron yang berubah masam mendengar kalimatnya.


"Astaga, baiklah."


Di base, max meletakkan gagang telepon dan segera memukul lonceng sangat panjang, tanda apel darurat. Dua menit kemudian pengawal senior yang sedang tidak menerima kontrak dan calon pengawal sudah berbaris dengan rapi di lapangan.


"Selamat sore." Max langsung mengambil alih. "Dalam waktu lima belas menit, kemasi perlengkapan kalian dan naik ke truck. Kalian akan pergi ke tempat pelatihan tepi pantai."


Instruktur lain menoleh menatap Max dengan heran.


"Bubar!" perintahnya lagi.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Dani, salah seorang intruktur bertanya.


"Nona besar datang bersama teman-temannya. Menurut Tuan muda, ia sedang dalam kondisi hati yang tidak baik."


Mendengan penjelasan itu Dani dan lainnya menjadi sedikit panik.


"Kalian pergilah, aku akan mengatasi Nona besar. Besok pagi baru kalian kembali. Begitu Nona besar pulang, aku akan segera mengantar ransum tambahan untuk kalian." kata Max lagi.


"Aku akan menemanimu Pak." kata Dani yakin. Max mengangguk, kemudian instruktur lain berkemas dan ikut pergi ke tempat pelatihan tepi pantai.


"Tolong siapkan ransum untuk mereka makan malam ini. Agar nanti kita tinggal membawa sisanya. Karena kita tidak tahu sampai kapan Nona besar berada di sini." perintah Max pada Dani.


"Siap, laksanakan." Dani segera pergi menuju gudang perbekalan makanan ditemani juru masak base.


Max mengusap wajahnya dengan kasar, Nona besar mereka menciptakan kepanikan seperti ini. Lima belas menit kemudian semua sudah berkumpul kembali dan segera naik ke atas truk Unimog mirip milik tentara pemerintah. Lima menit setelahnya konvoi kendaraan yang terdiri dari 6 buah truk Unimog dan 1 buah Humvee meninggalkan base.

__ADS_1


Estimasi waktu yang diberikan Rangga memang lebih cepat dari perkiraan kedatangan Audrey. Rangga tidak ingin jika konvoi sampai berpapasan dengan mobil adiknya itu dijalan sekitar base. Satu jam kemudian sebuah mobil yang sangat familiar memasuki base. Max dan Dani tidak segera keluar, mereka takut Audrey akan curiga Rangga sudah memberi tahu kedatangan mereka.


Keempat gadis itu turun dengan wajah bingung. Pasalnya mereka hanya mendapati pengawal yang mendapat giliran jaga di gerbang. Biasanya sore seperti ini apalagi akhir pekan, akan ada aktifitas santai penghuni base yang sebagian besar adalah kaum adam. Walaupun mereka juga merekrut perempuan dalam bisnis pengawalan ini, namun peserta perempuan yang lulus seleksi tak terlalu banyak.


Audrey segera masuk ke gedung utama yang merupakan kantor managemen, tempat para instruktur dan ruang pribadinya. Ketiga gadis lain mengikutinya dari belakang. Max keluar dari ruangan dengan wajah kaget. Bukan pura-pura kaget, tapi benar-benar kaget. Pasalnya keempat gadis di hadapannya masih memakai gaun pesta lengkap dengan handbag, high heel, rambut curly dilengkapi hairvines dan riasan sempurna.


"Selamat sore Komandan." sapa Audrey.


"Selamat sore Nona." ucap Max dengan mata masih memindai tamunya.


"Kami tidak salah kostum Ndan." ujar Nabila.


"Maaf Nona." Sang Komandan hanya bisa tersenyum tipis.


"Apakah lapangan indoor memanah dan menembak sedang digunakan?" tanya Audrey.


"Tidak Nona."


"Bisakah saya berlatih tanding tinju, Komandan?" Isabela tampak bersemangat.


"Maaf Nona, semua Pengawal dan Calon Pengawal sedang berlatih bersama di arena tepi pantai. Jadi hari ini Nona-Nona bisa berlatih sendiri."


Audrey mengernyit, ia tidak tahu kalau minggu ini ada pelatihan di alam bebas. Biasanya akan ada yang memberi tahunya terlebih dahulu.


"Kita bisa berlatih bersama kan." kata Audrey pada Isabela, ia tak ingin memikirkan hal lain untuk saat ini. "Kami akan mulai sendiri, Komandan." ucapnya saat menoleh pada Max.


"Baik Nona. Silahkan."


"Ayo, kita berganti baju dulu." Audrey mengajak gadis lain menuju ruang pribadinya untuk mengganti dengan pakaian latihan mereka yang memang ditinggalkan disana.


Helaan napas lega Max mengiringi kepergian gadis-gadis itu. Tentu saja hal ini dilakukan Max dengan sembunyi-sembunyi. Ia sadar, sandiwara ini belum selesai. Audrey tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Gadis itu pasti akan mencari tahu, mengapa base dikosongkan.


Namun Max akan memilih tutup mulut. Karena evakuasi ini juga kan atas perintah Rangga. Jadi biarkan saja kedua saudara ini yang menyelesaikannya.

__ADS_1


__ADS_2