Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
64. Teman Tapi Menikah


__ADS_3

"Papa dengar dari Yura, kalian menolong Sofia saat dalam perjalanan pulang." Sebastian membuka percakapan saat makan pagi keesokan harinya.


"Iya pa." jawab Audrey singkat setelah menelan makanan yang dikunyah.


"Baguslah, Papa senang mendengarnya."


Audrey tersenyum tipis dan melanjutkan makannya. Hari itu mereka hanya sarapan berdua, Rangga sedang berada di luar negeri untuk sebuah pekerjaan. Karena akan mengambil cuti setelah menikah, maka ia menyelesaikan urusan lebih cepat agar Papa dan asistennya tidak kewalahan.


"Selamat Pagi."


Deg...Deg...Deg...


Jantung Audrey masih saja berdebar lebih cepat saat mendengar suara pemuda itu. Padahal mereka akan segera menikah, tapi rasanya masih tetap sama seperti dulu saat Aaron mulai mencuri hatinya.


"Selamat pagi Aaron, kemarilah, makan bersama kami." ajak Sebastian.


Audrey tersenyum dan menyiapkan piring untuk calon suaminya. Ia mengambil pitcher yang terbuat dari kaca dan berisi jus jeruk lalu menuangkannya di gelas baru. Dengan cekatan ia mengisi piring Aaron dengan dua lembar roti gandum yang diolesi selai coklat.


Melihat pelayanan yang diberi Audrey, Aaron segera mengulurkan tangan dan mengusap kepala gadis itu begitu ia kembali duduk.


"Terima kasih ya." ucap Aaron tulus.


"Iya Kak, sama-sama."


Aaron menikmati roti dengan senyuman yang terus mengembang diwajahnya.


"Jika begitu caramu makan, tak lama lagi kau akan tersedak." Sebastian geleng-geleng melihat pemuda itu.


Aaron meneguk jusnya. "Aku bahagia, sudah lama Audrey tidak menyiapkan makanan untukku, Pa." ujarnya sambil melirik Audrey.


Audrey hanya diam melanjutkan makannya. Sebastian melirik putrinya itu, tiba-tiba senyuman licik terlihat sekilas di wajahnya.


"Kalau begitu, kalian menikahnya bersamaan dengan Rangga dan Yura saja."


Uhukkk...Uhukkk...Uhukkk!!!


Uhukkk...Uhukkk...Uhukkk!!!


Sesuai harapan Sebastian, putrinya tersedak.


Aaron menepuk pelan punggung Audrey, ia menyodorkan segelas air putih. Mata gadis itu memerah, terlihat buliran bening menggenang di pelupuk matanya. Audrey sampai memukul-mukul dadanya sendiri untuk meredakan batuk yang menyebabkan rasa sakit di tenggorokan.


"Papa keterlaluan." ucap Audrey saat batuknya telah reda, ia meraih tissue untuk mengusap air matanya. Sedang Aaron masih setia menatap wajah Audrey dengan senyuman geli.


"Papa kan tidak sengaja." ucap Sebastian dengan entengnya, tak peduli dengan Audrey yang melebarkan netra karena tak suka dengan perkataan Papanya.


"Tapi aku tak keberatan dengan usulan Papa tadi." Aaron yang dari tadi hanya menatap Audrey ikut menanggapi kalimat usil Sebastian tadi.


Audrey menatap Aaron dengan serius. "Itu pun kalau Audrey tidak keberatan." Aaron menambahkan sambil meraih tangan Audrey dan mengecup punggung tangan itu dengan lembut.


Perlakuan manis Aaron yang tidak pada tempatnya membuat Audrey malu. Calon suaminya ini memang sering mengumbar kemesraan di depan orang tua, membuat Audrey jengah. Ia segera menarik tangannya karena merasa risih.


"Audrey tidak ingin pesta yang meriah, Kak."


"Siapa bilang pestanya Rangga dan Yura akan meriah, mereka pun akan mengadakan pesta sederhana sesuai permintaan Yura." kata Sebastian.


"Kalau begitu, bersamaan saja. Aku akan memberi tahu Papa." Aaron terlihat bersemangat. "Bagaimana?" ia menoleh untuk bertanya pada Audrey.


Gadis itu hanya bisa tersenyum kikuk dan mengangguk sebagai jawabannya.

__ADS_1


.


.


.


Ternyata bukan hanya pesta pernikahan yang bersamaan, pesta pertunangan pun demikian. Karena undangan hanya terbatas pada orang atau keluarga yang sama, jadi untuk apa digelar terpisah.


Acara pertunangan di selenggarakan di Sunrise Resort. Aksi usil Sebastian berubah jadi kenyataan, dua minggu setelah candaan saat sarapan, putra putrinya mengikat dan diikat pasangan mereka dengan cincin yng sangat indah. Dengan dress code dan dekorasi berwarna putih dan lilac, pantai resort disulap menjadi semakin romantis.


Selepas acara resmi, mereka menikmati hidangan sambil bercengkrama dengan undangan yang notabene keluarga dan sahabat karib. Audrey dan Yura tentu saja berbincang-bincang dengan Nabila dan Isabela.


"Kalian berdua bagaimana?" Yura menatap Nabila dan Isabela dengan penuh rasa ingin tahu.


"Aku belum bisa." kata Nabila datar.


"Seingatku kau dan Kak Damian terlihat dekat saat di Gala Dinner Swan Lake." Audrey menanggapi.


"Atas perintah Kak Mita." Nabila terlihat tak suka dengan pertanyaan seputar perjodohannya.


"Kalau Isa?" Audrey ingin tahu perkembangan hubungan Balerina dan Sang Duda.


"Tidak ada kemajuan, masih sama seperti saat kami baru kenal. Saat pesta makan malam itu Mama yang meminta Tuan Leon untuk selalu menemaniku."


"Tuan?" ketiga gadis lain keheranan.


Isabela meringis. "Kak Leon." ia mengoreksi ucapannya sendiri.


"Ya?"


Keempat gadis itu terlonjak kaget, yang namanya baru disebut sudah muncul di dekat mereka.


"Maaf mengagetkan, aku ingin berjalan bersamamu kesana." Leon menunjuk pantai yang terlihat sepi.


Isabela mengernyitkan dahinya. "Mama yang meminta?"


Leon menggeleng. "Inisiatifku."


Isabela diam, ia menatap tajam pada Leon sebelum menjawab. "Baiklah." kata gadis itu pada akhirnya. "Aku permisi dulu." Isabela berpamitan pada sahabat-sahabatnya kemudian mengikuti langkah Leon.


Kedua insan itu hanya berjalan dalam diam, mereka tak melangkah beriringan. Isabela memilih berjalan di belakang Leon. Ia telah melepas sepatunya, membiarkan kulitnya menyentuh pasir yang terasa hangat.


Brukkkkk


"Aduh!!" Isabela meringis kesakitan memegangi hidungnya. "Kenapa berhenti mendadak?!" ia bertanya dengan kesal.


"Siapa suruh berjalan tak melihat ke depan." jawab Leon cuek. "Apakah sakit?" ia memindahkan tangan Isabela dan memeriksa cuping hidung gadis itu.


"Sedikit." Isabela mencebik.


"Tidak lepas."


Isabela membulatkan matanya. "Apakah kau mengira hidungku ini palsu Tuan Leon?!" dengan kasar ia memegang tangan Leon dan menyingkirkan tangan besar itu dari wajahnya. Namun belum sempat Isabela menghempaskannya, Leon sudah menangkap pergelangan tangan Isabela.


"Kenapa harus kesal? Aku hanya bercanda." Leon mengusap pipi Isabela dengan tangan kirinya yang bebas. "Maaf membuatmu kaget sampai kesakitan begini."


Isabela merasa ada beban besar menerjang dadanya. Perlakuan dan tatapan Leon yang lembut membuatnya terkejut hingga sulit bernapas. Ia memalingkan wajahnya karena merasa pipinya memanas.


"Aku sadar, awal pertemuan kita tidak memberi kesan baik. Maaf sudah mengira kau sama dengan kebanyakan wanita di sekitarku." Leon meraih tangan Isabela yang lain dan menggenggam keduanya dengan hangat.

__ADS_1


"Bisakah kita memulainya dari awal, Isa?" pinta Leon disertai tatapan yang dalam.


Pertanyaan Leon membuat Isabela terpaku, ia menatap pria dihadapannya dengan intens. Mereka hanya saling menatap selama beberapa saat. Sampai akhirnya Isabela tersadar dan mulai mengerjapkan matanya.


"Kakak tidak memaksa akan langsung menikahiku kan?"


Leon tersenyum, rupanya tawaran untuk memulai dari awal ditanggapi lain oleh Isabela. Gadis itu berpikir Leon ingin segera melamarnya. Walaupun memang itu yang ada dipikirannya. Namun ia tak mau membuat gadis itu tak nyaman dan tak bahagia menjalani pernikahan mereka.


"Kita bisa berteman dulu, saling mengenal dengan baik. Entah satu atau dua tahun, baru aku akan melamarmu."


"Kakak bersedia menunggu selama itu?" Isabela terkejut.


"Sebenarnya tidak." jawab Leon jujur. "Tapi mendengarmu memanggilku Kakak, membuat hatiku terasa hangat. Artinya kau mau menerimaku dan bersedia merubah pandanganmu tentangku."


Isabela tersenyum mendengar penuturan Leon. "Maaf sudah bersikap dingin, aku hanya memperlakukan orang seperti mereka memperlakukanku. Terutama lawan jenis, supaya tidak terjadi kesalah pahaman."


"Aku lega kesalah pahaman diantara kita bisa berakhir. Teruskan bersikap seperti itu pada pemuda lain. Tapi jangan kepadaku."


"Apakah ada teman yang posesif seperti ini?" Isabela mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum mengejek.


"Kita kan teman tapi akan menikah."


Isabela memutar bola matanya mendengar kalimat itu "Jadi aku tak boleh bersikap manis pada pemuda lain, sedangkan kakak bisa manis pada setiap wanita. Begitu?"


"Tentu saja aku tidak seperti itu."


"Oh yeeaaa." Isabela berkata dengan nada mengejek, sudut bibirnya terangkat dan wajah yang terlihat mencibir namun lucu.


"Astaga!" Leon melepas genggamannya dan menangkup kedua pipi Isabela. "Rasanya aku bisa segera menikahimu jika melihat wajahmu yang menggemaskan seperti ini."


"Aku adalah teman sekaligus calon suamimu, jadi tak masalah jika aku posesif." imbuhnya lagi.


Isabela menarik tangan Leon dari wajahnya. "Terserah Tuan saja." ia merasa tidak nyaman mendengar kata menikahi tadi. Segera saja moodnya berubah, ia membalikkan badan dan berjalan menjauhi Leon.


"My Lady, apakah kau marah mendengar kata menikahi?" Leon menyusul dan menghentikan langkah Isabela. Gadis itu diam saja, masih enggan untuk menjawab.


"Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika aku ganti." Leon menarik pinggang Isabela dan merapatkan tubuh gadis itu pada tubuhnya. Kedua tangan Isabela menahan dada Leon agar memberi jarak pada tubuh keduanya.


"Bagaimana jika aku ganti, aku jadi ingin menciummu." pria itu medekatkan wajahnya perlahan.


"Cium ini saja." Isabela menempelkan kepalan tangannya di depan bibir Leon.


Hahahahahahahaa....


Serta merta Leon tergelak melihat kelakuan Isabela. Ia melepas tangannya dari tubuh gadis itu.


"Aku tak akan mengambil ciuman pertamamu tanpa perasaan cinta." ucap Leon setelah tawanya mereda. "Jadi aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku. Bersiaplah." Leon sengaja menggunakan ibu jarinya untuk mengusap dagu Isabela, membuat ujung jari itu menyentuh bibir bawah Sang Balerina.


Isabela menepis tangan Leon, pipinya merona, ia berbalik dan bersiap melangkah pergi. Namun sekali lagi Leon menahan dan membalikkan tubuh Isabela lalu memeluknya.


"Kau semakin cantik saat merona seperti itu, My Lady." bisiknya di telinga Isabela.


"Ya ampun, kalau seperti ini terus adik bisa meleleh bang." ucap Isabela jenaka.


Leon tertawa pelan mendengar ucapan Isabela. Apalagi saat Isabela balas memeluknya. Benar-benar hari yang indah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2