Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
43. Jangan Menolak


__ADS_3

Sebastian duduk dengan gelisah di dalam mobilnya. Ia dalam perjalanan menuju The Jewel. Pagi tadi, Rangga sudah menceritakan perihal Audrey pada Sebastian. Ia tak menyangka, putrinya berani mengambil keputusan sebesar ini tanpa memberi tahunya.


Seorang pegawai toko mengantarkan Sebastian menuju ruangan Tika setelah sebelumnya memberi tahu Sebastian ingin bertemu. Pemberitahuan itu membuat Tika berjalan kesana kemari di dalam ruangannya, ia gugup dengan reaksi Sebatian nantinya.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk."


Pintu dibuka, tampak seorang pegawai membungkuk memberi hormat. Setelah menegakkan tubuhnya, pegawai itu menyamping, mempersilahkan Sebastian untuk masuk.


"Terima kasih." ucap Sebastian datar pada pegawai tadi. Ia menatap tajam ke arah Tika, kemudian melangkah masuk.


"Apa kabar, Sebastian?" Tika terlihat gugup.


"Baik, dimana Audrey?" tanya Sebastian tanpa basa basi.


"Duduklah dulu." Tika mempersilahkan. Ia pun segera duduk di sofa yang berhadapan dengan pria itu.


"Jadi, dimana putriku?" Sebastian mengulangi pertanyaannya.


"Di mansion Bagaskara." jawab Tika setelah susah payah menelan salivanya.


"Kenapa kau melibatkan putriku Tika?"


"Awalnya tidak sengaja. Arneta, istri kedua abang melihatnya bersama keponakanku Aaron di pantai." Tika memulai cerita.


"Karena Aaron tidak setuju akan dinikahkan dengan keponakan Arneta, maka ia berbohong mengatakan Audrey adalah istrinya. Dulu Aaron pernah membantu Audrey berpura-pura menjadi kekasih. Oleh sebab itu, tanpa mengetahui siapa wanita di hadapannya, Audrey mengiyakan perkataan Aaron." Sebastian menautkan alis mendengar penuturan Tika.


"Setelah tahu wanita itu ibu tiri Aaron, Audrey sempat menyesal. Namun aku membujuknya agar bersedia membantu."


Sebastian menghela napas dengan kasar. Ia juga sudah mendengar dari Rangga, alasan Audrey nekat meneruskan rencana gila ini. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apakah Arneta baik-baik saja?" Tika terkejut dengan pertanyaan Sebastian.


"I-iya, tentu. Wanita itu baik-baik saja."


"Apa ada luka yang diberikan Audrey padanya?"


Tika mengangkat kedua alisnya, ia tak percaya pada pendengarannya. Sebastian malah menanyakan keadaan Arneta.


"Tidak ada, masih mulus seperti sebelum Audrey datang." Tika agak kesal saat menjawabnya. "Kau ini, mengapa kau menanyakan kondisi wanita itu?! Bukan Audrey."


"Syukurlah, Audrey belum membunuhnya." Sebastian terdengar lega, sedang mata Tika membulat sempurna.


"Ap-apa maksudmu?!"

__ADS_1


"Tiara tidak meninggal dalam kecelakaan Tika." wajah Sebastian sendu. "Ia tewas dibunuh."


Tika sontak menutup mulut dengan kedua tangannya.


"APA???!!!" suara seorang pria menggelegar, memenuhi ruangan Tika membuat Tika dan Sebastian menjengkit saking terkejutnya.


"Bagas, kau masih hidup?" Sebastian terkejut melihat kemunculan pria itu diambang pintu.


"Ya, aku masih hidup. Aku selamat dari maut." Bagas masuk ke dalam bersama Dokter Bram yang menuntunnya. Tika segera membantu agar Bagas duduk di salah satu sofa diantara mereka.


"Kau disini saja Bram, duduklah." kata Bagas saat dilihatnya Bram akan pergi. Pemuda itu hanya diam saja dan duduk di samping Bagas.


"Lanjutkan ceritamu." Bagas menatap tajam ke arah Sebastian.


Sebastian menghela napas sebelum memulai penuturannya.


"Enam belas tahun yang lalu, seorang wanita yang terobsesi padaku menculik Tiara dan Audrey. Seorang pelayan di rumah berkhianat dan membantu penculik itu. Tiga hari kemudian aku menemukan lokasi mereka." Sebastian terdiam, matanya mulai berkaca-kaca.


"Saat kami tiba semuanya telah terlambat. Tiara tergeletak di lantai dengan beberapa luka tusukan. Sedang Audrey memeluk Tiara. Darah menggenangi lantai rumah itu." Terdengar suara tertahan dari ketiga pendengarnya, kemudian air mata Tika luruh begitu saja. Ia membungkam mulut dengan kedua tangannya.


"Yang lebih parah, Audrey menyaksikan dengan mata kepalanya saat wanita itu berkali-kali menghujamkan pisau ke tubuh Tiara." suara Sebastian tercekat. "Putri kecilku yang baru berumur 5 tahun melihat sendiri bagaimana mamanya dibunuh."


Bram menunduk, tanpa sadar ia menitikkan air mata.


"Kepergian Tiara menjadi pukulan keras bagiku. Tapi menghadapi Audrey yang mengalami trauma, itu lebih mengerikan. Saat usianya 7 tahun, kami menemukannya di halaman belakang dengan baju penuh darah. Tak jauh dari sana, seekor ayam telah terpotong-potong menjadi belasan bagian."


"Emosinya menjadi sangat tidak stabil, karena melihat seorang wanita di pinggir jalan sedang memarahi anaknya, ia mencekik seekor kucing begitu kami sampai di rumah. Beruntung ada orang yang melihat itu."


"Itu sebabnya kau menanyakan kondisi Arneta tadi?" Tika telah berhasil menekan kesedihannya. Sebastian hanya mengangguk.


"Siapa wanita itu?" kata Bagas, ia memaksa bertanya walau lidahnya terasa kelu.


"16 tahun yang lalu namanya Rebecca. Dan sekarang ini namanya adalah Arneta, istrimu."


Wajah ketiga orang itu berubah pias, mereka tak menyangka dengan jawaban yang Sebastian berikan. Namun sedetik kemudian tangan mereka mengepal, wajah pun berubah merah menahan amarah.


"Ia yang mensabotase mobilku, ia berencana membunuhku. Sekarang dengan memberikan tubuhnya pada Roki, ia berusaha menguras hartaku." Bagas menggeram.


"Sekarang aku tahu apa yang menjadi pertimbangan Audrey." Bram bersuara. "Ia melihat sendiri bagaimana Arneta mengacaukan keluarganya, maka sekarang ia ingin menggagalkan rencana wanita itu."


"Ya, begitulah. Niat baik tapi ceroboh." Sebastian mendesah. "Berikan foto pria bernama Roki itu." pintanya.


"Aku akan mengirimnya." Tika berdiri mengambil ponselnya.


"Apa yang akan kau lakukan?" Bagas mengernyit menatap Sebastian.

__ADS_1


"Aku tak mau mengambil resiko dengan keberadaan putriku di mansionmu."


"Tenanglah, putraku Aaron akan melindunginya. Ia tak akan membiarkan gadis yang dicintainya terluka."


"APA?!"


"Ayolah, jangan berlebihan. Salah sendiri kau punya putri berparas menawan, makanya putraku jatuh cinta."


"Ya, dan jauh sebelum sandiwara ini dimulai. Aaron sudah jatuh cinta pada Audrey." Tika menambahkan.


"Aku ti..."


"Jangan menolak kami!!! Dulu aku mengalah padamu, dan membiarkan Tiara menjadi milikmu meski aku tidak rela." kata Bagas tajam. "Jadi sekarang aku mohon, beri kesempatan putraku untuk memiliki putri Tiara." wajahnya berubah melunak.


Sebastian mendesah dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia terdiam beberapa saat, tampak Sebastian sedang memikirkan ucapan Bagaskara. Setelah beberapa menit yang hening, akhirnya Sebastian mengangkat wajahnya menatap Bagas.


"Aku menyerahkan sepenuhnya pada Audrey." kata Sebastian pasrah.


"Bagus!" Tika berseru girang. "Karena beberapa hari yang lalu Audrey menerima pernyataan cinta dan pinangan Aaron."


"Pinangan?!" Sebatian menatap tak percaya.


"Ya, kau tidak salah dengar. Keponakanku itu tak ingin berpacaran, ia ingin langsung menikah."


"Bukankah itu hal yang bagus?" Bram menyetujui.


"Memang, walau kami pun terkejut. Isak menasehatinya untuk menyatakan cinta dan minta menjadi kekasih. Tapi pada prakteknya, Aaron menyatakan cinta dan meminta menjadi istri." Tika geleng-geleng kepala.


"Ternyata dia lebih berani dibanding papanya." Sebastian menyindir Bagas.


"Si*l*n!!" desis Bagas geram.


"Bukalah surelmu, aku sudah mengirim foto Roki padamu." kata Tika seraya kembali duduk.


"Apa rencanamu?" Bagas penasaran.


"Kejutan, aku akan menghubungi kalian." Sebastian tersenyum. "Aku pergi dulu." ia berpamitan.


"Jaga putriku." katanya saat berpelukan dengan Bagas.


"Tentu saja, aku pasti akan menjaga menantuku satu-satunya." Bagas meyakinkan.


Sebastian meninggalkan The Jewel dengan pikiran tak menentu. Prioritas saat ini adalah menemui mertuanya dan mengamankan Roki. Ia segera mengirim foto Roki kepada Rangga beserta instruksi yang harus dikerjakan putranya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2