
Suasana balkon apartemen itu begitu hening, padahal ada keempat gadis duduk disana. Situasi yang sangat jarang terjadi. Nabila mendesah kasar, berusaha mengeluarkan sesak di dadanya.
"Kau sudah gila Drey." Yura membuka suara setelah cukup lama diam. Mereka telah mendengarkan rencana Audrey mengantar nyawa.
"Aku harus bagaimana lagi?" Audrey menatap sendu gelas dan menggoyang-goyangkan jus jeruk di tangannya itu.
"Apakah tak ada cara lain?" Isabela memasang wajah penuh harap. Tapi Audrey hanya menggeleng pelan.
"Kalau aku tak selamat.........."
"Diam! Diam!" Yura membentak Audrey sambil menunjuk-nunjuk sahabatnya itu. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.
"Kau gegabah Drey." ujar Nabila pada akhirnya. "Tapi nasi sudah menjadi bubur."
"Tinggal menambahkan suwiran daging ayam, kuah dan rekan-rekannya." Isabela ngelantur.
Bugh!
Sebuah bantal sofa sukses mendarat di wajahnya.
"Hei.." Isabela melebarkan matanya.
"Apa?!" Nabila tak kalah sengit.
"Aku tak akan membiarkanmu sendirian di mansion itu." Yura kembali dengan membawa kotak karton kertas F4.
Ia mengeluarkan isinya di lantai, tepat di hadapan Audrey. Yang lain gegas mendekat, antusias dengan barang-barang yang dibawa Yura.
"Tadi pagi aku mendapat kiriman spesial dari Diva, sepupuku di negara A. Saat membukanya aku pikir hanya akan menyimpan semua ini. Ternyata...." Yura tersenyum menatap Audrey.
"Apa saja fungsinya?" Audrey mengernyit.
"Jepit rambut berbentuk kupu-kupu ini bisa diterbangkan, ini adalah drone yang dilengkapi kamera micro." Yura memberikan gawai berwarna biru tua berukuran 6,5 inch. "Gawai ini adalah ruang kendali portable untuk beberapa perangkat."
"Cantik sekali, cobalah Drey." Nabila memasangkan jepit itu pada belahan rambut sebelah kiri.
"Aku akan merapikan ponimu." Isabela berlari ke dalam mencari gunting.
"Liontin kalung ini adalah pengacau frekuensi terutama untuk perangkat pengintai. Kau tak perlu khawatir saat ingin menghubungi kami, karena saluranmu bebas dari penyadapan. Aku akan membuatkan jalur aman khusus di gawai itu."
"Lalu anting-antingnya?" Audrey mengambil anting-anting yang memiliki motif sama dengan liontin kalung.
"Oh itu. Yang sebelah kiri speaker, yang kanan microphone super. Jadi walaupun jaraknya jauh dari bibir, masih bisa terdengar jelas saat kau berbicara." Yura berbinar-binar menjelaskan semua peralatan canggih itu.
"Aku akan mengirim alamat mansion itu begitu tiba disana."
"Tak perlu, pakai saja cincin ini." Yura membuka kotak kecil berisi cincin polos berwarna silver.
"Muat di ibu jariku." Audrey tersenyum geli.
"Makanya, kalau punya jari itu jangan kelingking semua." kata Isabela yang telah menemukan gunting.
"Ayo kita coba semua perangkatnya." Nabila bersemangat.
"Tunggu sampai aku selesai merapikan rambutnya." Isabela memulai pekerjaannya.
"Aku tak sangka, pagi paketnya datang, sore langsung digunakan. Seakan semesta merestui rencana ini." Yura menatap Audrey khawatir.
"Kami akan segera datang dengan senjata lengkap jika diperlukan." kata Nabila.
"Ya ampun Drey, semangat ya." Isabela menyentuh pundak sahabatnya setelah menyelesaikan tugasnya.
Audrey terlihat lebih fresh dan imut dengan gaya rambutnya yang baru.
"Kau terlihat sangat menawan sebelum masuk ke kandang kelinci." mata Isabela terlihat menerawang.
"Kelinci?" Yura, Nabila dan Audrey kompak bertanya.
"Iya, kan Audrey serigalanya."
Huuuuuuu.......
__ADS_1
Akhirnya tubuh Isabela bergerak kesana kemari karena mendapat dorongan dari sahabat-sahabatnya.
.
.
.
Tika memasuki kantornya dengan tergesa-gesa, setelah peresmian resort siang tadi ia langsung kembali. Apalagi ia mendapat pesan dari Audrey kalau gadis itu akan menunggu di tokonya malam hari.
"Tante kira kau akan melarikan diri Drey." Tika memasuki ruangan dan segera memeluk Audrey yang duduk di sofa.
"Audrey menepati janji tante." Audrey tersenyum manis.
"Kau makin cantik saja." Tika kagum dengan wajah penolongnya itu.
"Sudah makan malam?"
"Sudah tante."
"Apakah semua sudah siap?" Om Isak muncul diambang pintu. "Aaron menunggu di mobil."
"Barang-barang Audrey?" ia melihat ke sekeliling ruangan.
"Joan sudah mengantarnya ke mansion. Ayo sayang." Tika menggenggam tangan Audrey.
Audrey gelisah, pikirannya tak tenang.
Masih ada waktu jika ingin mundur Drey. Hhh...tapi kasihan keluarga tante Tika.
Pemikiran-pemikiran yang muncul membuat ekspresi wajahnya berubah-ubah. Hingga ia tak sadar sudah sampai di depan mobil mereka. Audrey tanpa sadar langsung masuk begitu saja, seperti tidak ragu. Padahal karena pikirannya sedang tidak fokus jadi ia mengikuti begitu saja ajakan Tika.
"Selamat malam Drey." sapa Aaron dari samping Gustaf yang jadi supir mereka.
"Oo, se-selamat malam kak." Audrey tersentak kaget hingga menjadi gagap.
Tika yang duduk di samping gadis itu hanya tersenyum, sedangkan suaminya mengendarai mobil mereka dan mengikuti dari belakang.
"Ini cincin kalian berdua." Tika mengeluarkan kotak dari dalam tas dan menyerahkan pada pemuda pemudi itu.
"Ini yang kemarin tante?" Aaron memakai cincinnya.
"Bukan, itu sebenarnya contoh perhiasan yang sedang tren dari teman tante di negara B. Apakah muat Drey?"
"Iya tante." Audrey tersenyum canggung.
Suasana kembali hening sampai mobil tiba di mansion keluarga Aaron. Kedua mobil itu berhenti di depan pintu utama. Tampak Edward dan beberapa pelayan telah menanti.
"Selamat datang tuan dan nyonya." sapa mereka sambil membungkuk.
Aaron melangkah mendekati Audrey dan memegang pundak gadis itu.
"Kau siap?"
Audrey menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan tegas. "Ya." katanya sambil tersenyum. Tak ada jalan untuk kembali, pikirnya.
Rombongan itu segera masuk ke dalam mansion dan berbelok ke kiri, salah satu sayap bangunan yang dikhususkan bagi Aaron.
"Berhenti!" seru seorang wanita dari belakang mereka, sontak semua berhenti dan berbalik ke belakang.
Arneta muncul bersama Juliana, ternyata mereka baru saja tiba dari acara peresmian resort.
"Kau benar-benar melanjutkan permainan ini Aaron?" Arneta menatap sinis pada Audrey.
"Ayo masuk ke kamar." Tika mengajak Audrey.
"Jangan bersikap tidak sopan pada kakak iparmu, Tika." Arneta mulai emosi.
"Sejak kapan kau diterima di keluarga besar Saka ini Arneta?" Tika bertanya dengan penuh ketenangan.
Arneta meneguk salivanya perlahan, ia ingin tetap terlihat anggun walau sedang marah.
__ADS_1
"Baiklah, setidaknya menantuku harus mencium tanganku." Arneta mengulurkan tangannya sambil tersenyum licik.
Audrey maju walau sempat ditahan Aaron. Ia meraih tangan Arneta. Namun belum sempat Audrey memegang jemarin Arneta, wanita itu sudah mengangkat tangannya dan dengan cepat mengayunkan menyerang wajah Audrey.
Dengan sekali gerakan Audrey menangkap tangan Arneta, menggenggam tangan itu sekuat tenaga. Arneta tak tinggal diam, ia mengayunkan tangan kirinya, namun berakhir sama dengan tangan kanan.
Audrey menatap tajam, matanya berkilat-kilat penuh dendam. Arneta yang melihat itu bergidik ngeri, ia mulai ketakutan, wajahnya pias.
"Ap-apa yang..yang ka-kau la-laku-lakukan."
"Apa kau mencoba memukulku tante?" bahkan suara Audrey terdengar sangat mengerikan.
"A-aku..a-aku..."
Audrey menyentak kedua tangan Arneta dengan sangat keras, hingga wanita itu mundur beberapa langkah. Kemudian meringis kesakitan, pergelangan tangannya nampak merah.
"Apa yang kau lakukan pada bibiku j*l*ng?" Juliana meradang sambil memegangi Arneta.
"Semua orang melihat dia yang lebih dulu memulai, aku hanya membela diri." Audrey menyeringai. Juliana terkesiap melihat itu.
Gadis ini terlihat lemah dan manis di luar, mengerikan. Juliana merinding memikirkan itu.
Tuan muda tak salah memilih, Edward samar-samar tersenyum.
Sedang Tika, Isak dan Aaron terang-terangan tersenyum lebar melihat keberanian Audrey.
"Itu adalah peringatan. Jangan macam-macam dengan istriku." Aaron berjalan mendekati Audrey. "Ayo, biarkan saja mereka." ia menggenggam tangan Audrey dan masuk ke dalam kamar mereka.
"Tante percaya kamu bisa mengatasi ini, tante dan om akan sering datang sayang." Tika memegang wajah Audrey yang tiba-tiba pucat.
"Aaron tidak akan memakanmu, tenangkan dirimu." Om Isak menimpali, bukannya tenang Audrey semakin pias.
Pasangan suami istri itu terkekeh pelan melihat wajah Audrey. Gadis itu menoleh sejenak ke pintu dimana Aaron tadi masuk.
"Ini pertama kalinya Audrey berada di kamar laki-laki selain papa dan kakak." Audrey berbisik, Aaron yang berada di dalam walk in closet tentu tak mendengar itu.
"Maaf ya sayang, sandiwaranya sampai sejauh ini. Tapi kau lihat sendiri kan tingkah Arneta tadi."
"Iya tante, salah Audrey juga sudah menyetujui ini."
"Om dan tante tidak menginap saja?" kata Aaron yang baru bergabung.
"Tidak, kami tidak ingin mengganggu kalian berdua." Om Isak menggoda.
"Ya ampun om, jangan buat Audrey berubah pikiran." Aaron pura-pura cemas.
"Haha, baiklah. Kami pulang ya. Jaga Audrey baik-baik Aaron." pesan Isak.
"Ya, aku pasti akan melakukannya." Aaron mengangguk yakin.
Tika dan Isak bergantian memeluk gadis itu dan mengecup kening gadis Audrey, kemudian mereka melangkah keluar kamar. Dan hanya bisa Audrey menatap sendu kepergian sepasang suami istri itu.
"Tasmu akan kakak bawa ke walking closet." kata Aaron sambil menutup pintu kamar.
"Ja-jangan kak. Audrey saja. Dimana tempatnya?."
Aaron menunjuk sebuah pintu di dekat jendela besar, Audrey mengikuti arah jari Aaron kemudian gegas ia meraih tasnya dan menuju walking closet.
Aaron tersenyum, tadi seperti singa, sekarang berubah jadi kucing.
Hhhhhh....
Aaron mendengkus dan memegangi dadanya. Sejak melihat Audrey muncul dari dalam toko, dadanya sudah berdebar tak terkendali. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaya rambut yang baru.
Aku akan membuat sandiwara ini jadi nyata, hatinya telah bertekad.
.
.
.
__ADS_1