
"Audrey!" Yura memekik bahagia saat melihat Audrey berada di depan pintu apartemennya.
Dengan satu sentakan Yura menarik Audrey untuk masuk. Lekas ia menutup dan mengunci pintu, lalu menghambur ke dalam pelukan Audrey.
"Apa kau terluka?" Yura melepas pelukan mereka dan mengamati tubuh sahabatnya. Saking antusiasnya mencari luka ia mengitari tubuh Audrey.
"Sudahlah Ra." Audrey terkekeh melihat tingkah Yura. "Aku sehat, tanpa luka sedikit pun."
"Syukurlah." Yura menarik nafas lega. "Bersihkan dirimu, aku akan memanggil yang lainnya datang."
Audrey hanya mengangguk, kemudian ia melangkah ke dalam kamar yang biasa ia gunakan jika menginap. Sementara itu Yura langsung menghubungi Nabila dan Isabela.
Tak butuh waktu lama bagi kedua gadis itu untuk datang. Setelah memutus sambungan telepon mereka bergegas keluar rumah, tak lupa membeli makanan yang akan mereka santap bersama malam ini. Hal yang sama terjadi saat mereka bertemu Audrey. Saling berpelukan kemudian memeriksa tubuh Audrey, mereka khawatir akan keselamatan gadis itu.
"Nanti baru dilanjutkan kangen-kangenannya. Ayo makan dulu." ajak Yura yang sudah mengatur makanan yang dibawa Nabila dan Isabela.
"Jangan pandangi aku seperti itu. Aku bisa tersedak." kata Audrey di sela-sela makan malam mereka.
Ketiga gadis lain hanya tersenyum, kemudian melanjutkan makan dengan tenang. Audrey sadar mereka sedang mengisi tenaga untuk mengebom dirinya dengan berbagai macam pertanyaan.
Jadi disinilah tempat selanjutnya seusai makan, duduk melingkar dengan Audrey sebagai pusat tatapan mereka. Balkon jadi saksi, segala jenis pertanyaan meluncur dari mulut Yura, Nabila dan Isabela. Audrey dengan sabar menjawab semuanya. Wajar saja, sandiwara yang dimainkan Aaron dan Audrey sangat tak biasa.
"Kau benar-benar tak tidur seranjang dengannya?" Isabela masih tak percaya.
"Tentu saja, Kak Aaron menyiapkan tempat tidurnya sendiri di ruang kerja." Audrey menatap Isabela dengan sorot mata tegas, menandakan tak sda kebohongan dalam ucapannya.
"Bagaimana bisa kau tak membunuh Rebecca saat sedang mencekiknya?" Nabila mengernyit.
"Tiba-tiba wajah papa muncul." Audrey menghela nafas berat. "Keputusanku membantu sandiwara ini saja bisa membuatnya marah. Apalagi kalau aku sampai membunuh. Sungguh, aku tak ingin membuatnya semakin kecewa."
"Tapi aku tak menyangka jika Om Bagas itu pernah mempunyai hati untuk mamamu." Yura tersenyum.
"Aku pun terkejut. Tante Tika tak pernah menceritakan apa pun padaku."
"Baiklah, sudah cukup introgasinya malam ini. Sekarang, hubungilah keluargamu. Mereka pasti sangat cemas." Isabela mengingatkan. "Malam ini kami boleh menginap kan Ra?" imbuhnya.
"Tentu saja, beri kesempatan Audrey dulu. Lalu kita akan bercerita sepanjang malam." Yura tertawa membayangkan acara malam ini.
__ADS_1
...
Audrey duduk di sudut ruangan, ia menjauh dari ketiga sahabatnya. Ia sedang menunggu Sebastian menerima panggilan video darinya.
"Papa!" binar-binar bahagia terpancar dari wajah Audrey.
"Mutiaraku, kemana saja kau sayang?" Sebastian pun sama, ia sangat merindukan putrinya itu.
"Maaf pa, aku sedang membantu tante Tika. Kapan papa pulang?"
"Entahlah sayang, belum bisa dipastikan. Dimana ini?"
"Apartemen Yura." Audrey bergerak memutar sedikit badannya, hingga kondisi apartemen dan ketiga gadis yang duduk di kejauhan itu terlihat oleh Sebastian.
"Calon menantu Papa sehat?"
Audrey terkikik geli. "Sehat donk pa. Nggak nyangka Kak Rangga kepincut salah satu sahabatku."
"Yahh, Papa lebih tenang karena yang disukai Rangga orang yang kita kenal. Tapi tingkah kalian bisa membuat kami para orang tua kena serangan jantung. Kalian bisa bersikap manis dan bar-bar disaat bersamaan." Sebastian geleng-geleng kepala melihat gadis-gadis itu.
"Atau papa nikahkan Audrey saja sekalian, biar jantung papa lebih sehat." Sebastian mengangkat satu alisnya dan tersenyum menggoda.
Papa dan putrinya melanjutkan perbincangan mereka, melepas rindu dengan obrolan ringan dan menyenangkan. Quality time yang berharga bagi keduanya. Tak lama kemudian Audrey memanggil kakaknya dan berbincang melalui panggilan video bertiga.
Sebenarnya ada rasa bersalah dalam hati Audrey. Ia tak menceritakan kegiatannya secara utuh pada keluarganya. Namun jika sekarang dikatakan, Kak Rangga pasti akan tiba dalam hitungan jam dan mengurungnya agar tak kembali ke mansion. Sedangkan Om Bagas masih membutuhkan waktu.
Hhhhh...aku mencari masalah untuk diriku sendiri. Rutuknya dalam hati. Tapi tak apa, demi orang banyak.
Audrey terus tersenyum, ia ingin Papa dan Kakakya tahu jika keadaannya baik-baik saja. Mereka menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk bercengkrama. Setelah itu Audrey mengirim desain melalui surel untuk kakeknya. Ia memenuhi ucapannya untuk membantu pengrajin di wilayah pesisir sekitar kantor perwakilan PT. Danur Mutiara.
Gadis itu tak menyia-nyiakan sedikit waktu bebasnya. Ia menghubungi keluarga serta menunaikan tugasnya sebagai Direktris. Meskipun sebagian besarnya tetap dikerjakan Kakek dan Pak Charly. Setelah urusannya dengan keluarga Bagaskara selesai, ia berencana untuk fokus pada perusahaan mutiara.
.
.
.
__ADS_1
Arneta mengatur nafas dan mengusap peluh yang mengalir di keningnya. Sementara itu disisinya tampak Roki sedang memandanginya dengan senyum penuh kepuasan.
"Kembali ke bisnis." Arneta menarik selimut sampai ke dadanya kemudian bersandar di kepala ranjang. Ia menatap Roki dengan lembut dan membelai pipi pria itu.
"Aku sudah mengatur semuanya sayangku. Kau tinggal membawa gadis muda itu ke pondokku. Aku akan siapkan berkas, notaris dan pengacara handal." Roki membeberkan rencana mereka.
"Jangan lupa pengamanan dengan senjata lengkap." Arneta mengingatkan.
"Tentu saja sayang, aku tak akan melewatkan yang satu itu." Roki mengecup pundak polos Arneta.
Arneta tersenyum manis, ia tak sabar memiliki seluruh kekayaan keluarga Saka. Tentu saja Roki akan dapat keuntungan juga, oleh sebab itu ia mau membantu Arneta.
Tok..Tok..Tok..
"Layanan kamar." seru seseorang dari luar kamar hotel.
Roki segera mengenakan bathrobe yang tergeletak di lantai dan pergi membuka pintu. Seorang pelayan pria masuk sambil mendorong troli pengantar makanan. Di mata Roki dan Arneta, pekerjaan pelayan hanyalah untuk kelas bawah. Oleh sebab itu mereka merasa tak perlu melihat wajah pelayan atau mengamati yang dikerjakan di dalam kamar mereka.
Arneta sibuk memainkan ponselnya, sedangkan Roki masuk ke dalam kamar mandi. Pelayan tadi menata hidangan yang dipesan sambil mengamati Arneta. Sebelum keluar, ia mengambil sesuatu yang telah diletakkan di antara bunga penghias ruangan sejak Roki menelepon untuk memboking kamar itu.
Pelayan itu tersenyum samar dan segera menutup pintu tanpa berbicara sama sekali.
"Kau sudah memberi tip pada pelayan tadi sayang?" tanya Roki yang baru keluar kamar mandi.
"Untuk apa? Gaji mereka sudah cukup." Arneta acuh. Roki hanya mengangkat bahu kemudian menggunakan bajunya.
Sementara itu di sisi lain hotel, pelayan tadi memasuki lift yang kebetulan berisi seorang wanita dengan profesi yang sama. Sepasang sendok tiba-tiba jatuh dari troli, kedua orang itu lantas memungut sendok itu. Secepat kilat pelayan pria tadi menyerahkan benda yang diambilnya dari kamar Roki. Begitu tiba di lantai 1 mereka berdua keluar dan berpisah melangkah menuju tujuan berbeda.
Wanita tadi lantas turun menggunakan tangga darurat menuju lantai dasar. Menghampiri seorang petugas keamanan dan menyerahkan benda yang di kantonginya. Mereka hanya saling menatap dan tersenyum samar. Petugas keamanan tadi gegas berlari kecil menuju mobil Pajero Sport Elite Edition berwarna white diamond yang telah menunggu.
Pria itu membungkuk di samping kaca pintu belakang yang diturunkan setengah. Tampak seorang pria paruh baya duduk sendiri dan tengah menatap petugas yang menghampirinya. Pria tua itu tersenyum hangat begitu menerima benda yang dibawa orang kepercayaannya.
"Kerja bagus." pujinya, lalu menganggukkan kepala dan menutup kaca. Petugas keamanan tadi membakas anggukan dan tersenyum, ia merasa senang mendapat pujian dari wakil pimpinannya itu.
.
.
__ADS_1
.