
Aaron sedang melihat semua bukti yang mereka kumpulkan untuk menjatuhkan Arneta, termasuk bukti perselingkuhannya dengan Roki yang di dapat dari mata-mata di hotel.
"Wanita bisa lebih berbahaya dari seorang pria." gumamnya pelan.
"Benar, jadi jangan pernah sepelekan kaum mereka. Sekalipun tampilannya lemah lembut dan cantik seperti bunga mawar, mereka bisa berubah menjadi senjata yang mematikan." Bagaskara menimpali.
Aaron tersenyum kecut. "Termasuk Audrey."
"Ya, termasuk dia." Bagaskara tersenyum geli. "Jadi papa rasa kau tak akan menjadi pria nakal lagi bukan?" ujarnya sambil memainkan alisnya.
Aaron terkekeh melihat itu. "Tentu tidak pa." Aaron menunduk. "Dia begitu berharga bagiku, setelah semua yang kami lalui, tak akan kusia-siakan dirinya."
Bagas menepuk pundak putranya itu. "Baguslah."
"Tapi, siapa orang-orang sewaan Arneta itu?"
"Mereka adalah orang-orang Sebastian. Keluarga Sebastian membangun usaha jasa pengawal pribadi setelah kematian Tiara. Itu informasi yang pernah aku dapatkan." Bagas menyesap tehnya.
"Papa memberitahu Sebastian jika Roki turut membantu wanita itu. Dan ternyata Arneta meminta Roki mengatur semua orang yang akan terlibat, jadi Roki menyewa anak buah Sebastian. Imbalan atas kerja sama Roki adalah anak perusahaan Sebastian di kota Y."
Aaron mengangguk-anggukkan kepala mendengar penuturan Papanya kemudian menyesap tehnya. Saat ini mereka tengah menikmati sore di gazebo di taman depan mansion.
Tak lama terlihat mobil Ford Ranger berwarna silver muncul. Mobil itu terlihat kotor, lumpur kemerahan terlihat memenuhi ban dan terpercik di sebagian body mobil. Isak dan Tika keluar dengan wajah berseri-seri.
"Selamat sore." sapa Isak dan Tika bersamaan saat mereka memasuki gazebo yang luas itu.
"Sore. Baru selesai offroad?" Bagas menatap mobil adiknya itu.
"Ya, Tika merasa jenuh dengan rutinitasnya." kata Isak seraya duduk.
Edward dan beberapa pelayan yang berdiri di sekitar mereka gegas menyajikan teh dan pendampingnya yang sudah terletak di troli makanan.
"Tante, waktu itu aku menelepon Audrey. Namun nomornya sudah tidak aktif lagi. Aku lupa mengatakannya pada tante."
"Astaga, maaf. Ini salah tante." Tika menepuk dahinya. "Saat mengambil semua barangnya, Audrey tidak mengambil ponsel yang tante berikan. Jadi sekarang dia sudah menggunakan ponselnya sendiri."
Tika membuka ponselnya dan menunjukkan pada Aaron, nomor ponsel Audrey.
"Sudah rindu ya." Tika menggoda.
"Tentu saja, sejak peristiwa itu kami jarang bertemu karena kesibukan di kantor." Aaron terlihat lesu.
"Kenapa tidak meminta Papamu untuk segera meminangnya?" Isak memberi saran.
"Sebastian ingin Rangga yang duluan menikah, baru Audrey." Bagas menjelaskan.
Suara deru sebuah mobil membuat mereka semua terdiam. Terlihat Mercedes Benz S Class berwarna silver mendekati mansion.
__ADS_1
"Sedang menunggu seseorang?" tanya Tika pada Bagas.
"Tadi Marthen menghubungi, katanya Sofia akan datang membawa berkas. Padahal aku sudah bilang besok saja."
"Namanya juga usaha." suara Tika terdengar sinis.
"Usaha yang sia-sia." Isak menimpali. "Caranya menatap Aaron tempo hari membuat perutku bergejolak."
"Kau terlihat sangat muak Isak." Bagas tersenyum geli.
"Ya, karena dia jadi terlihat seperti kucing liar yang sedang mengincar ikan." Isak memang tidak menyukai tipikal wanita yang agresif seperti itu.
Mobil itu berhenti di dekat pintu utama, wanita yang mengendarainya turun dengan sangat anggun. Sofia tahu jika orang-orang di gazebo sedang memperhatikannya, jadi ia mulai beraksi layaknya seorang wanita yang anggun dan lemah gemulai.
Sore ini ia memakai dress motif kotak-kotak sepanjang lutut, dilengkapi flat shoes berwarna biru tua. Rambutnya sengaja dibiarkan tergerai, dan make upnya kali ini tipis. Berbeda jauh saat mereka makan siang di restoran tempo hari. Tampilannya membuat sofia terlihat lebih muda.
"Apa dia berusaha terlihat seperti Audrey?" Tika memicingkan matanya.
Aaron melihat ke arah lain, enggan mengamati perempuan yang sudah membuatnya risih. Kalau saja bukan karena pekerjaan, Aaron tidak akan bersikap ramah.
"Selamat sore Tuan, Nyonya." Sofia tersenyum manis.
"Selamat sore Nona Marthen, silahkan bergabung dengan kami." kata Bagas memperlihatkan keramahan tuan rumah.
Gadis itu masuk kemudian duduk dengan anggun, senyumnya tak pernah pudar.
Aaron yang sedang melihat ke arah ponselnya sontak menatapnya. Saat Aaron menatap, Sofia tersenyum malu-malu sambil menyelipkan rambut ke telinganya. Aaron bergidik ngeri melihat itu, apalagi panggilan Kak yang Sofia ucapkan.
"Kita tak seakrab itu Nona Marthen." kata Aaron terang-terangan.
"Tak harus akrab, karena usia Sofia kan satu tahun lebih muda." kata Sofia ramah, Aaron hanya menghela napas kasar.
Kak, Sofia? Gadis ini sungguh terlalu!!! Isak menggeram dalam hati. Tangannya mengepal, Tika yang melihat itu langsung mengusap punggung suaminya.
"Mana berkas yang Marthen ingin berikan?" Bagas berusaha mencairkan suasana yang terasa aneh karena gadis agresif ini.
Sofia mengeluarkan berkas dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Bagas dengan senyuman manis. Tak lupa ia mengangkat sebuah paper bag bertuliskan bakery ternama.
"Ini ada kue Red Velvet, semoga Kak Aaron suka." katanya sambil meletakkan paper bag di meja.
"Terima kasih." jawab Aaron singkat.
Terdengar suara deru motor sport dari gerbang, tak lama terlihat motor sport BMW HP4 berwarna hitam variasi putih. Dilihat dari siluet sang pengendara, tampaknya ia adalah perempuan bertubuh ramping. Ia memarkirkan motornya di samping mercedes silver tadi.
Outfit yang dikenakan serba hitam. Mulai dari ankle boot, celana panjangnya, jaket bahkan helm full face yang dipakai. Membuat semua yang ada di gazebo menjadi penasaran. Tika terlihat tersenyum gembira, karena ia yang memanggil rider itu ke mansion.
Sebelum turun dari motor, rider itu membuka helmnya. Rambutnya yang panjang dan indah langsung jatuh tergerai saat ia menarik helm agar lepas dari kepalanya. Terdengar jelas Aaron menahan napas saat melihat wajah gadis itu.
__ADS_1
Audrey tampak sangat cantik dengan outfit rider yang ia kenakan. Dan hal itu semakin menguatkan keyakinan Aaron. Penyelamatnya beberapa bulan yang lalui adalah Audrey. Aaron tersenyum senang mendapati pemikiran itu terlintas di benaknya.
Gadis itu melangkah dengan cepat menuju gazebo setelah meletakkan helm di atas motor.
"Selamat sore." sapanya.
"Selamat sore." jawab semua yang disana bersamaan. Terlihat senyum ramah mengembang bahkan di wajah pelayan.
Kecuali Sofia, ia menatap sinis pada Audrey. Matanya memindai gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia semakin tidak suka apalagi melihat Aaron terperangah menatap kedatangan Audrey bahkan sempat mendengar napas tertahan pemuda itu.
"Ini desain yang tante minta." ucap Audrey sambil membuka drafting tube yang disampirkan menyilang pada pundaknya. Ia menarik kertas dari dalam tabung itu dan memberikannya pada Tika.
"Modus." desis Sofia dan terdengar sangat jelas.
Tika mengangkat satu alisnya. "Apa kau menganggap remeh pekerjaanku Nona Marthen?!" tatapan tajam nan menusuk dari Tika menghujam Sofia.
"Ti-tidak, bu-bukan itu mak...."
"Aku yang menyuruhnya kemari karena selepas offroad aku dan suamiku tidak langsung pulang. Berbeda dengan papamu yang mengirim anak gadisnya ke rumah yang belum memiliki Nyonya Rumah." kalimat Tika terdengar menusuk.
"Ak-aku..." Sofia masih terbata.
"Tak lama lagi pengrajinku akan datang, oleh sebab itu aku..."
"Tante." Audrey memegang pundak Tika, ia menggelang pelan saat Tika menatapnya.
Tika menghembuskan napasnya dengan kasar. Moodnya menjadi rusak karena ucapan Sofia.
Tempat duduk Tika yang berada di sebelah Aaron membuat pemuda itu dengan mudah menjangkau tangan Audrey. Dengan sekali tarik Audrey sudah berada di pangkuan Aaron.
"Kau tak ingin menenangkan calon suamimu ini, hmm?" Aaron meraih tangan Audrey dan mengecupnya.
"Ya ampun kak, kau benar-benar tidak tahu malu." Audrey jengah dan berusaha berdiri.
"Anggap saja kami ini tanaman." Bagas melirik Aaron, ekspresinya terlihat lucu.
Terdengar tawa keluar dari mulut keluarga Saka. Edward dan pelayan lain menunduk dan tersenyum. Sedangkan Sofia mengepalkan tangannya, ia menahan amarah yang menguar sekuat tenaganya. Kata calon suami yang diucapkan Aaron menegaskan alasan tatapan penuh puja yang selalu terlihat di mata pemuda itu saat melihat Audrey.
Tapi Sofia Marthen selalu mendapatkan apa yang ia mau, jadi ia tidak akan menganggap dirinya sudah kalah. Selama mereka belum resmi menjadi pasangan suami istri, selama itu pula Sofia akan terus mendekati Aaron.
Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku, Aaron Bagaskara. Aku akan membuatmu menatapku dengan penuh damba.
.
.
.
__ADS_1