Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
23. Sunset Jadi Saksi


__ADS_3

Aaron mengamati bangunan yang telah rampung itu dengan tatapan puas, ia bangga dengan kinerja para pegawainya.


Kemudian ia menoleh pada pria paruh baya di sampingnya, tampak senyuman mengembang sempurna di bibir pria itu.


"Om senang sekali Aaron, tidak salah adik iparku memilih kalian untuk mengerjakannya. Hasilnya sangat memuaskan." pria itu merentangkan tangannya seperti mempersembahkan bangunan itu pada semua orang yang ada di dalam rombongan.


"Saya juga bahagia jika Om Ali puas dengan hasil kerja kami."


"Ya." pria bernama Ali itu mengangguk-angguk. "Kemana Tika? Dari tadi aku tak melihatnya?" Ali memandang berkeliling mencari adik iparnya.


"Sepertinya sedang berada di area belanja."


"Benar, aku lupa. Ia pasti menemui Direktris PT. Danur Mutiara itu."


"Direktris om?"


"Ya, aku dengar perusahaan penghasil mutiara itu dipimpin oleh gadis berusia 21 tahun."


"Wow, usia yang masih belia untuk sebuah perusahaan."


"Benar, tapi penopang gadis itu adalah orang-orang yang cakap dibidangnya."


"Om mengenal mereka?"


"Hanya sedikit yang om ketahui. Tanyakanlah pada Tika, adik iparku itu lebih mengenal mereka. Bahkan kios dengan posisi paling strategis sudah diatur Tika untuk mereka."


"Sampai seperti itu? Aku jadi ingin bertemu dengan orang yang begitu dipercaya Tante. Tapi, apa om tak keberatan?"


"Aku percaya pada adik iparku itu, mata dan instingnya yang jeli tak perlu diragukan lagi. Adikku beruntung memiliki Tantemu." Ali tersenyum lembut.


"Terima kasih Om. Sudah sangat menyayangi Tante Tika."


"Jangan berterima kasih begitu, kita kan keluarga." Ali menepuk pundak Aaron. "Kalau bisa, carilah gadis seperti tantemu itu. Gadis yang bisa membawa kehangatan dalam keluarga dan mendekatkan dua keluarga menjadi satu."


Aaron mengernyit, Om Ali tersenyum memahami ketidak mengertian Aaron.


"Pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua anak manusia yang dimabuk cinta, tapi juga secara tidak langsung mengikat keluarga mereka. Yang kau pinang memang satu gadis, tapi yang kau dapatkan adalah seluruh keluarganya."


"Dan itu bukanlah hal yang mudah." Aaron tersenyum tipis.


"Memang, tak banyak keluarga yang beruntung seperti kami. Tapi, bukan berarti mustahil."


"Akan kuingat nasehat ini Om."


"Pemuda baik." sekali lagi Ali menepuk pundak Aaron. "Sendainya aku memiliki putri. Sayangnya, diberi kepercayaan oleh Tuhan dua pedang."


Kedua pria berbeda usia itu tergelak, membuat staf yang mengikuti diam-diam ikut tersenyum.


Sementara di tempat lain Tika dengan antusias mendengar setiap rencana Audrey untuk mengisi Toko Suvenir ini


Tiara, gadis kecilmu sudah dewasa. Lihatlah dia, kau pasti bangga. Tika bergumam dalam hati.


Ia bahagia melihat senyuman Audrey saat gadis itu berbicara, persis sekali dengan mendiang mamanya.


"Jadi, kau tidak bisa mendesain untuk tante lagi ya Drey?" Tika terlihat sedih.


"Masih dong Tante, masa Audrey berhenti. Jadi sekarang Audrey mendesain hanya untuk Danur dan Tante."


"Terima kasih sayang." Tika merengkuh Audrey ke dalam pelukannya. "Mau jalan-jalan?"


"Iya deh."

__ADS_1


Keduanya lantas menuju area tepi pantai yang akses jalannya menggunakan paving. Sesekali terdengar tawa renyah dari mereka.


"Selamat sore tante." sapa seseorang saat Tika dan Audrey berhenti dan duduk di salah satu pondok yang atapnya terbuat dari ijuk.


Tika menoleh ke belakang dan tersenyum melihat siapa yang datang.


"Aaron, sudah selesai urusan dengan Abang Ali?"


"Sudah tante. Hai Audrey." Aaron tak menutupi kebahagiaannya saat dapat bertemu gadis itu.


"Hai kak." Audrey menganggukan kepalanya.


Sore ini Audrey terlihat sangat manis, ia memakai dress tanpa lengan berwarna biru muda dengan motif floral dipadukan dengan sandal pantai.


Sederhana tapi menarik untuk dipandang, sepertinya apa saja yang dikenakan oleh Audrey terlihat indah di mata Aaron.


Tringg...


Tika melihat pesan masuk di ponselnya.


"Astaga!" serunya sambil berdiri tiba-tiba.


"Ada apa tante?" Audrey terkejut.


"Lupa, suamiku mau datang. Tante ke lobi utama dulu, titip Audrey ya Ron. Bye sayang." dengan terburu-buru, Tika pergi meninggalkan Audrey begitu saja yang masih melongo setelah mendapat kecupan perpisahan di pipinya.


"Tante panik banget sih." Audrey menatap Tika yang berjalan tergesa-gesa dan kadang berlari.


"Maklum saja, Om Isak baru datang dari Negara I dan langsung kemari. Pasti Tante tak akan melewatkan momen kedatangannya."


"Oooo." Audrey manggut-manggut. "Trus kakak kenapa nggak ikut menyambut juga?"


"Kan disuruh jagain kamu."


"Ya, mana tahu kamu lupa arah pulang."


"Ya ampun kak, ini kan masih dalam kawasan resort. Audrey bisa tanya sama pegawai."


"Pokoknya kakak harus ikuti perintah Tante Tika."


"Dihh, penurut banget kak."


"Memang kakak penurut."


"Nggak yakin." Audrey mencibir


"Mau dibuktikan?"


"Caranya?"


"Kakak akan ikut kemana pun kamu pergi."


"Nggak ah, bagaimana bisa kenalan sama cowok ganteng kalau kakak ngikutin terus."


"Oo, jadi kamu mau tebar pesona." Aaron mendelik.


"Namanya juga usaha biar bisa punya pacar."


"Habis itu kocar kacir kalau cowoknya nempel terus." Aaron menyindir Audrey, teringat soal Toni.


"Ya, kalau itu beda. Dari awal juga Audrey sudah tidak tertarik sama dia. Jadi risih kalau didekati terus."

__ADS_1


"Jadi kalau sama kakak nggak risih, hmm?"


"Ihh, apaan sih kak." Audrey mulai merona.


"Iya, waktu di mall itu kan sampai berani nempel-nempel manja ke kakak." Aaron menggoda, ia sengaja agar wajah Audrey semakin merah.


Dan terjadilah sesuai yang dikehendaki Aaron, wajah Audrey bak kepiting rebus. Rona merah menginvansi wajah, leher dan telinganya.


Audrey beranjak dari duduknya, ia benar-benar tak tahan lagi dengan rasa malu yang menderanya. Saat ia akan pergi, Aaron menangkap lengannya.


"Mau kemana Drey?" katanya dengan lembut.


"Mau pulang aja kak." Audrey tetap menunduk.


"Maaf ya, sudah buat wajah kamu memerah begitu." Aaron mencolek pipi Audrey.


"Colek-colek terus, Audrey gigit nanti jari itu." ujarnya geram.


"Kalau mau gigit jangan disitu Drey. Tapi disini." Aaron menunjuk bibirnya. Membuat Audrey semakin jengah melihatnya.


Ia mengangkat kaki kanannya dan menghentakkan sekuat tenaga di atas kaki Aaron.


"Aww." Aaron memekik, memegangi kakinya yang diinjak Audrey.


Mendengar Aaron kesakitan Audrey malah tertawa dan berlari meninggalkan pemuda itu. Mengabaikan rasa sakitnya, Aaron segera mengejar Audrey.


Baru berlari sekitar tiga ratus meter, Audrey mulai melambat. Akhir-akhir ini ia sudah tidak pernah berolah raga, hasilnya baru berlari sebentar ia sudah kelelahan.


Aaron tersenyum melihat hal itu, ia dengan mudah menangkap gadis itu dan menangkap tangannya.


"Keterlaluan sekali kamu Drey." ucapnya di tengah-tengah nafas yang tersengal-sengal.


Audrey tidak berbicara, ia hanya tertawa sambil berusaha mengatur nafasnya.


"Kamu harus dapat hukuman."


Aaron mempererat pegangannya dan mendekap kedua tangan Audrey di dadanya. Ia berusaha menarik gadis itu untuk semakin mendekat.


Namun Audrey sudah mengantisipasinya, kuda-kuda kakinya diperkuat, ia tak ingin terlempar ke dalam pelukan pemuda itu. Aaron terkejut, ia melihat Audrey tersenyum jahil.


Aaron menggenggam tangan kecil Audrey dengan tangan kanan, tangan kirinya sengaja ia lepas agar dapat meraih pinggang gadis itu. Akan tetapi Audrey segera memutar tubuhnya, hendak memelintir tangan Aaron.


Ternyata pegangan pria itu tak dapat lepas dengan sendirinya. Audrey sedikit menekuk tubuhnya agar dapat membanting Aaron ke depan. Tak diduga Aaron malah menarik tubuhnya ke belakang agar menjauh dari tubuh Audrey dan menguatkan kuda-kudanya.


Audrey terkesiap, Kak Aaron kuat banget, gumamnya dalam hati. Biasanya di base ia akan mudah membanting teman latihannya. Sepertinya kali ini ia menemukan lawan yang seimbang.


Karena posisi Audrey yang terlanjur membelakangi Aaron, bahkan tak dapat membantingnya, membuat pemuda itu tak menyianyiakan kesempatan.


Ia lantas merengkuh perut Audrey dengan tangan kiri yang bebas. Setelah dirasa Audrey telah menempel didadanya, ia menggunakan tangan kanan untuk menekan tangan gadis itu ke belakang agar semakin merapat.


Audrey bingung, sekarang ia malah berada dalam pelukan Aaron dengan kedua tangan terkunci di dadanya sendiri. Nafas Aaron sangat terasa di telinganya, mengirim sensasi geli ke sekujur tubuhnya.


"Ternyata bisa bela diri ya. Tapi maaf honey, aku lebih kuat." bisik Aaron di telinga kiri Audrey.


"Kak, jangan ngomong disitu, geli ihh." Audrey menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan Aaron terkekeh mendengar kalimat itu.


Keduanya terdiam, Audrey bisa merasakan debaran hebat di dada Aaron. Sebenarnya ia pun mengalami hal yng sama, entah Aaron menyadarinya atau tidak.


"Kak.."


"Diam seperti ini dulu ya Drey, Please."

__ADS_1


Entah kenapa Audrey hanya menurut, mungkin karena ia pun merasa nyaman dengan posisi itu. Tangan kanan Aaron yang mengunci tangan Audrey sudah terlepas. Kini kedua tangannya melingkar di perut Audrey dengan posesif.


Tak ada kata-kata lain yang terucap, keduanya terdiam, sibuk menelaah pikiran dan hati masing-masing. Sunset jadi saksi, keheningan dalam riuhnya debaran dada.


__ADS_2