
Keempat gadis itu tengah beristirahat setelah berolahraga sambil melampiaskan kekesalan mereka. Lebih tepatnya kekesalan dalam hati Nabila dan Audrey, karena dua gadis lain hanya ingin menghabiskan waktu bersama.
"Nggak nyangka sudah lama Rebecca tewas." Isabela berujar sambil menatap foto wanita itu yang ditempel pada Dart Board. Terlihat lubang bekas anak panah dart diseluruh bagian foto.
Audrey melihat ke arah tatapan Isabela sambil tersenyum tipis.
"Dulu aku selalu berlatih sambil membayangkan suatu hari akan membunuhnya dengan tanganku." gadis itu menatap foto dan tangannya secara bergantian.
"Ternyata dia malah mati di tangan orang lain." Audrey tersenyum miris.
"Roki adalah faktor tak terduga dan tidak terpikirkan oleh kita." Nabila ikut melihat foto Rebecca.
"Siapa yang menyangka hari itu ia akan kehilangan istrinya." suara Yura terdengar setelah dari tadi ia hanya fokus pada ponselnya.
"Kau baik-baik saja Drey?" Nabila menatap sahabatnya lekat-lekat.
"Ya." jawab Audrey yakin.
"Kau menghabiskan belasan tahun untuk membencinya, memenuhi hatimu dengan ingayan tentang perbuatannya. Saat ia pergi pasti ada rasa kehilangan di hatimu." Isabela terlihat sedikit ragu pada jawaban Audrey.
"Tidak juga." Audrey tersenyum. "Karena aku bertemu kakek dan nenek yang telah membuka mata, hati dan pikiranku, serta keluarga Saka yang memberi sudut pandang baru tentang membalas perbuatan jahat orang lain."
"Oleh sebab itu perlahan aku mulai mengeluarkan nama Rebecca dari hatiku. Aku memang belum bisa 100% memaafkannya. Tapi setidaknya hatiku sudah tidak dikuasi olehnya lagi. Jadi aku tidak merasakan kekosongan setelah ia yang kubenci lenyap dari muka bumi."
Yura tersenyum mendengar itu. "Ya, karena jika kau masih sangat membencinya, kau akan hancur ketika dia tewas. Sebab tujuan hidupmu telah hilang, membawa hatimu yang berisi tentang dia."
"Terdengar seperti orang yang kasmaran." Isabela berujar.
"Memang. Karena saat kita sangat membenci seseorang, kita akan terus memikirkan perbuatannya. Otomatis kita akan mengingat wajah dan namanya. Terserah mau mengakui itu atau tidak, tapi itulah faktanya." Yura menatap Isabela saat menjelaskan.
"Apakah itu yang kau rasakan Drey?" Isabela menatap Audrey dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Kurang lebih seperti itu. Memikirkan perbuatannya setiap saat, sampai terbawa mimpi. Wajahnya bahkan terlihat sangat jelas saat aku menutup mata. Tujuan hidupku adalah membalas dendam padanya." Audrey menunduk, seulas senyuman mengejek terlihat. Ia sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Saat itu aku tak pernah berpikir, jika tujuan hidupku telah tercapai, selanjutnya aku akan jadi apa." Audrey tiba-tiba mendongak. "Harusnya kalian sudah mengetahuinya bukan? Oleh sebab itu kalian tidak ingin aku jadi sangat membenci Rebecca."
"Hanya menerka arahnya, baru kali ini mendengar langsung dari bibirmu." sahut Nabila enteng.
"Benar, kau kan tidak pernah menceritakan secara detail mengenai perasaanmu." Isabela menambahkan.
"Psikiater yang merawat kita juga sudah memperingatkannya. Lukamu terlalu dalam, jadi dendamnya akan lebih sulit hilang." Yura tersenyum lembut.
Audrey menatap wajah sahabat-sahabatnya secara bergantian dan tersenyum.
"Aku menyesal dulu sering marah pada Papa saat memintaku memaafkan perbuatan Rebecca. Padahal memaafkan itu membantu banyak hal. Terutama tak mengubahku menjadi sama dengan Rebecca dan tidak kehilangan arah hidup saat wanita itu tewas."
"Orang tua selalu punya tujuan saat mereka meminta kita melakukan sesuatu. Dan pastinya itu untuk kebaikan kita juga." Nabila menimpali.
Audrey berdiri dan berjalan menuju Dart Board. Ia melepas foto Rebecca dan membuangnya ke tempat sampah.
"Ayo pulang." ajaknya saat menoleh pada ketiga gadis yang sedang menatapnya.
.
__ADS_1
.
.
Audrey terlihat sibuk merangkai bunga. Saat ini ia sedang berada di toko bunga milik Mita untuk membantu Nabila. Mita dan Bram masih ingin menghabiskan waktu berdua setelah seminggu resmi menjadi pasangan suami istri.
"Permisi, aku ingin membeli seikat mawar merah." terdengar suara seorang lelaki berbicara pada Nabila.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Audrey tak terlalu memperhatikan si pembeli karena masih sibuk merangkai. Saat selesai dan akan berbalik barulah ia mengenali lelaki yang mencari seikat mawar itu.
"Kak Billy?" Audrey menegur pemuda yang sedang memainkan ponselnya.
Billy mendongak dan terkejut melihat siapa yang memanggilnya.
"Oh, kau rupanya." sahut Billy dengan senyum canggung.
"Bagaimana kabar Kak Wina?" tanya Audrey tanpa basa basi. "Kandungannya sudah terlihat?"
Raut wajah Billy berubah, Audrey bisa melihat gurat kesedihan disana.
"Kami kehilangan calon anak kami." jawabnya sambil menunduk.
"Maafkan aku, aku tidak tahu." Audrey merasa bersalah.
"Tidak apa-apa." Billy tersenyum tipis. "Ini karma karena perbuatan buruk kami."
"Aku dan Wina baik-baik saja. Karena aku tetap akan bertanggung jawab padanya walau tanpa adanya bayi itu." Billy terlihat sangat yakin. "Aku sudah bilang akan berubah menjadi baik, jadi aku menepati ucapanku."
"Tapi, Arneta, dia.."
"Aku sudah memeriksakan kesehatanku dan juga Wina. Kami aman." Billy langsung memotong ucapan Audrey karena paham arah pembicaraannya.
"Syukurlah." Audrey tersenyum, tepat saat Nabila datang membawa bunga.
"Silahkan bayar di kasir." kata gadis itu sambil menyerahkan seikat mawar merah.
"Baiklah, terima kasih." Billy mengangguk. "Aku pergi dulu Audrey."
"Iya kak, salam untuk Kak Wina." Audrey membalas senyuman Billy.
"Kau mengenalnya?" Nabila menatap Audrey dengan heran.
"Ya, dia sepupu Kak Aaron."
"Dan Wina?"
"Oo, Wina adalah calon istrinya. Dan wanita itu adalah mantan calon istri Kak Damian." dengan tenang Audrey mengatakannya. Ia ingin Nabila mengetahui hal ini lebih dulu.
"Bagaimana bisa jadi mantan?" Nabila ingin tahu.
"Kak Wina selingkuh sama Kak Billy saat Kak Damian ditugaskan ke negara K."
__ADS_1
Jawaban Audrey membuat Nabila hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Hanya itu?"
"Apa maksudmu?" Nabila menautkan alisnya.
"Hanya itu ekspresimu saat aku membicarakan calon suamimu?"
"Aku tak peduli masa lalunya. Bukan karena suka, tapi karena aku tak mau peduli tentangnya. Aku masih menolak perjodohan ini." kata Nabila datar.
"Masuk akal." Audrey manggut-manggut memegang dagunya.
"Bahagianya menjadi kau dan Yura. Akan menikah dengan pemuda yang kalian cintai."
"Belajarlah menerima dan mencintai Kak Damian."
"Tidak, aku tak mau jatuh cinta pada pemuda angkuh itu." Nabila terlihat mulai kesal.
"Karena dia tidak mengakui kemampuanmu?"
"Ya, aku benci itu."
"Memangnya kau sudah mengakui kemampuannya?"
"Untuk apa Drey? Kan aku lebih hebat darinya."
"Kau menganggap Kak Damian angkuh, padahal kau juga sama. Angkuh, menganggap diri lebih baik dari Kak Damian." Audrey menatap sinis pada Nabila.
Mendengar itu Nabila hanya bisa terkekeh geli. Perkataan Audrey memang benar. Ia sampai bingung ingin berkata apa lagi untuk menyangkalnya.
"Tak perlu mencari kalimat penyangkalan. Kau sudah kalah telak." Audrey seperti bisa membaca pikiran Nabila.
"Baiklah, baiklah." Nabila mencebik kesal.
Audrey tersenyum geli melihat ekspresi Nabila.
"Eh, minggu depan pertunjukan balet Isabela ya." ucap Nabila saat tanpa sengaja melihat kalender meja di dekat mereka.
"Kau benar." sahut Audrey setelah mengikuti arah pandang Nabila.
"Ya ampun! Aku hampir lupa!" seru Audrey sambil memukul dahinya. "Nabila, maaf aku tak bisa membantu sampai toko tutup. Aku harus ke The Jewel."
"Ada urusan apa?"
"Aku pun tak tahu. Tante memintaku datang, katanya kakak ipar dan keponakannya ingin bertemu denganku."
Nabila tersenyum. "Tidak apa-apa, aku mengerti."
.
.
.
__ADS_1