Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
29. Lolos Dari Radar


__ADS_3

Cuaca sedang bersahabat, tak ada awan kelabu menutupi langit. Seperti yang Aaron janjikan, sepanjang pagi ia menemani Audrey mengelilingi mansion, dan berakhir siang ini di ruang kerja Aaron yang berhadapan dengan kamarnya.


Tampak Audrey sedang duduk sambil membaca buku yang diambil dari perpustakaan, sedangkan Aaron memeriksa beberapa pekerjaan yang dikirim Gustaf melalui surel. Sesekali Aaron melirik ke arah Audrey, menikmati wajah cantik yang membuat hatinya tak tenang.


"Jangan terlalu sering melirik kak, nanti matanya tidak bisa kembali normal." tegur Audrey tanpa menoleh, Aaroh mengulum senyum mendengar itu.


Ia diam dan meneruskan pekerjaannya secepat mungkin. Setelah beres, ia mendekati Audrey dan duduk di hadapan gadis itu. Aaron hanya duduk dalam diam dan menatap wajah Audrey.


"Ada apa kak?" Audrey mengalihkan netranya dari halaman yang sedang dibaca.


"Dari pada aku melirik terus, lebih baik seperti ini. Biar mataku tetap normal."


"Jangan kelamaan kak, nanti jatuh cinta." kata Audrey asal dan kembali membaca bukunya.


"Memang sudah jatuh cinta."


Audrey menatap Aaron sejenak, menggeleng-gelengkan kepala kemudian lanjut membaca. Aaron mengerti, gadis di hadapannya hanya menganggap kalimatnya sebagai candaan.


Tok...Tok...Tok...


Aaron beranjak untuk membuka pintu.


"Tuan, makan siang sudah disiapkan." seorang pelayan memberi tahu.


"Drey, mau makan dimana?"


"Di ruang makan saja kak." Audrey meletakkan buku dan berdiri.


"Kami akan ke ruang makan." kata Aaron pada pelayan tadi.


Aaron menahan pergelangan Audrey sebelum mereka keluar ruang kerja.


"Kemungkinan Arneta akan ikut makan. Kau siap?"


"Tentu, aku menantikannya."


"Terima kasih." Aaron mengusap kepala Audrey, membuat jantung gadis itu kembali berdetak cepat.


"Jangan sering-sering menyentuhku kak, jantungku bisa cop...." Audrey segera menutup mulutnya.


"Bisa apa, hmm?" Aaron mendekatkan wajahnya.


"Bukan apa-apa." Audrey bergegas menyelinap keluar ruangan, wajahnya terasa panas.


Aaron tersenyum melihat itu, Sandiwara jadi kenyataan? Dalam proses, hatinya berdesir hangat. Segera ia berlari kecil mengejar Audrey, ia belum bisa membiarkan Audrey menghadapi Arneta sendirian.


Benar saja, kedatangan pasangan itu langsung menjadi sorotan sepasang mata Arneta. Wajahnya tampak lebih segar dibandingkan tadi pagi. Tatapan tajam dan menusuk diarahkan kepada Audrey. Yang ditatap hanya menunduk, bukan karena takut pada Arneta, tapi takut pada dirinya sendiri.


"Dimana sopan santunmu j*l**g?" ucap Arneta begitu Audrey duduk.


"Sudah membersihkan bekas merah di lehermu honey?" tanya Aaron sambil meremas jari Audrey dengan lembut.


Audrey tersenyum sinis mendengar itu.


"Sudah kak, malu jika dilihat banyak orang." Audrey mengangkat alisnya, geli mendengar kalimatnya sendiri. Ia paham, pertanyaan itu diajukan Aaron untuk menyindir Arneta.


"Br*n*s*k!" Arneta mendesis geram.


Aaron dan Audrey tak mempedulikan itu, mereka menikmati hidangan sambil berbisik-bisik. Kadang mereka saling menatap sambil tersenyum, terlihat romantis. Membuat darah Arneta mendidih.


"Permisi tuan muda, ada telepon di depan untuk tuan dari tuan Roki." seorang pelayan datang memberi tahu.


"Aku pergi sebentar ya." pamit Aaron pada Audrey dan dijawab dengan anggukan.


Arneta tersenyum senang, letak pesawat telepon utama ada di lobi depan. Bagus Roki, tepat waktu. Ia melirik, Edward sedang tidak ada karena mengurus hidangan penutup. Pelayan lain tak akan berani menghentikannya.


Arneta tak langsung bertindak, ia berfikir waktunya masih banyak. Roki pasti bisa menyibukkan Aaron. Sesekali Arneta melirik gadis itu, sekilas wajahnya seperti seseorang yang pernah ia sakiti di masa lalu. Namun ia selalu menepiskan dugaan itu, tak mungkin saksi kecil itu bisa bertahan dengan traumanya.


Beberapa menit menunggu membuat Arneta gelisah, ia sungguh tak sabar ingin menyiksa Audrey.


"Apa kau tidak takut aku akan membunuhmu?" Arneta menatap Audrey yang tengah makan.

__ADS_1


Gadis itu hanya tersenyum, ia memilih melanjutkan aktifitasnya sambil menggenggam sendok dan garpu dengan sekuat tenaga. Menahan pikiran-pikiran jahat untuk menancapkan garpu pada tenggorokan Arneta. Sepertinya menyenangkan melihat wanita itu terluka, gumamnya saat otaknya liar berimajinasi.


"Aku berbicara padamu j*l**g!"


"Audrey. namaku Audrey tante."


"Aku tak peduli siapa namamu. Pergilah dari rumah ini jika kau masih menyayangi nyawamu."


"Mana mungkin, aku tak bisa meninggalkan suamiku."


"Bukan urusanku br*ng**k. Aaron sudah memiliki calon istri yang lebih baik darimu, apa kau tidak malu merebut kekasih gadis lain?"


"Tidak, karena kak Aaron memang tidak memiliki kekasih. Lagipula jika aku tahu ia memiliki kekasih, aku tak akan mau dinikahi. Karena aku tak mau memiliki profesi menjijikkan sebagai perebut pasangan orang, sebagai pezinah yang bebas tidur dengan pria beristri." sindir Audrey dan menekankan satu kata yang menohok dalam kalimatnya.


"Kau menghinaku gadis p*l**ur?"


"Memangnya tante sering tidur dengan suami orang?" Audrey memprovokasi, ia sudah sangat gerah dengan caci maki yang dilontarkan Arneta.


"Gadis kurang ajar!" Arneta segera berdiri dan membawa semangkuk sup menuju Audrey.


Audrey yang menyadari itu lantas memperhatikan Arneta. Baru saja akan beranjak, Arneta sudah melempar mangkuk ke arah kepala Audrey. Dengan sigap Audrey bergeser ke samping sambil membungkuk lalu segera berdiri. Karena meleset, mangkuk mendarat di atas piring makan Audrey, membuat semua peralatan makan miliknya dan Aaron di penuhi kuah dan potongan daging.


Arneta tak berhenti, ternyata tangan kirinya sudah memegangi garpu. Secepat kilat ia menerjang Audrey dan hendak melukai wajah gadis itu. Audrey menangkis serangan Arneta dengan menahan pergelangan tangan wanita itu.


Audrey berhasil mendorong Arneta menjauh. Tiba-tiba ingatan hari naas itu kembali. Audrey menatap nyalang sambil menyeringai, ia hendak menerjang Arneta. Namun baru saja Audrey melangkahkan kakinya, tiba-tiba seseorang memegang lengannya.


"Honey." Aaron mengusap pipi Audrey saat gadis itu menoleh padanya. Aaron melihat aura gelap terpancar dari wajah gadis itu.


Matanya berkilat-kilat mengerikan, bahkan sepertinya ia tak sadar yang ditatapnya adalah Aaron. Ini bukan pertama kalinya Aaron melihat hal itu. Ia semakin penasaran dengan Audrey, ditambah lagi dengan asal usul Audrey yang seperti ditutup-tutupi.


"Ini aku, Aaron."


Audrey mengerjap kan matanya.


sekali


dua kali


Aaron menatap tajam Arneta yang masih menggenggam garpu. Kau akan membayar semua ini Arneta!!geramnya dalam hati.


"Edward, tolong atur makan siang kami berdua di tamanku." Aaron merangkul pundak Audrey dan menuntun gadis itu kembali ke kamar.


"Baik tuan muda, segera."


Arneta membanting garpu di tangannya, ia merasa kesal mengapa Roki terlalu cepat mengakhiri percakapan. Menurut rencana hari ini Arneta ingin melukai wajah gadis itu sebagai peringatan. Beberapa kali berhubungan s** dengan Roki, membuat Arneta dengan mudah meminta bantuan.


Seperti hari ini, dengan alasan pekerjaan Roki menelepon Aaron agar Arneta bisa melukai Audrey. Atau seperti beberapa bulan lalu, menggunakan alasan tak masuk akal untuk memaksa Aaron segera menikah.


Apapun akan Arneta lakukan untuk memenuhi ambisinya, mungkin ia pun sanggup menjual jiwanya kepada iblis.


Namun ada hal yang terlewatkan dalam rencana Arneta kali ini, ia tak menyadari Edward telah memindahkan pesawat telepon rumah utama ke ruang tengah ruang dekat dengan ruang makan. Sepertinya Arneta pun tak sadar dengan penambahan dan perubahan posisi beberapa ornamen penghias rumah.


Di taman, Aaron sengaja tak mengajak Audrey bicara. Ia ingin gadis itu tenang terlebih dahulu. Nyatanya sampai mereka melanjutkan makan yang tertunda pun, Audrey tetap diam.


"Kenapa kakak bisa punya ibu tiri seperti dia?" akhirnya suara Audrey kembali terdengar. Walau Tante Tika sudah bercerita, entah kenapa ia ingin dengar sendiri dari mulut Aaron.


"Saat Papa bertemu rekan bisnisnya di negara KS, papa dijebak oleh wanita itu. Lebih tepatnya seperti apa, aku pun kurang tahu. Yang jelas sepuluh tahun lalu Papa pulang dan mengenalkan bahwa wanita itu adalah ibu tiriku." Aaron menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Papa selalu marah, ia merasa hanya dijebak. Suatu hari aku dengar mereka bertengkar dan wanita itu mengancam akan menyebar luaskan video syur mereka."


"Aku tak pernah merestui pernikahan mereka, hingga sampai sekarang aku tak pernah menerimanya. Mungkin aku bisa saja melepas harta keluarga supaya terbebas darinya. Namun itu tak mungkin Drey."


"Perusahaan keluarga kami membiayai sebuah rumah sakit khusus kanker, rumah singgah untuk wanita hamil di luar nikah dan beberapa panti asuhan. Kalau Arneta memegang kendali, banyak orang akan menderita. Tapi kalau menikahi Juliana, aku yang akan menderita." Aaron menunduk.


"Katakan, aku harus bagaimana Drey?" suaranya terdengar menyedihkan.


"Kenapa kakak tidak memiliki kekasih?"


"Aku pernah punya kekasih, namun karena penyakit ia meninggal beberapa tahun yang lalu. Setelah itu Arneta akan meneror gadis yang dekat denganku, walau itu hanya sekedar kenalan."


"Berarti aku lolos dari radarnya dong."

__ADS_1


Aaron tersenyum mendengar itu, ia memegang tangan Audrey dan menatap gadis itu dengan lembut.


"Audrey, siapa dirimu yang sebenarnya?"


Audrey terkejut, matanya melebar. Namun tak lama kemudian ia tersenyum.


"Mari kita berkenalan sekali lagi." Audrey melepas pegangan Aaron dan mengatur tangan mereka dalam posisi berjabat tangan.


"Aaron Bagaskara."


"Audrey Mutiara Se..."


"Sayaaaaang, tante datang." Tante Tika muncul dengan wajah berseri-seri.


Aaron tersenyum kecut, ia menatap Audrey yang telah melepas tangannya. Audrey Mutiara, kau mutiaraku.


"Hai tante, Audrey kira tante lupa sama Audrey." Audrey beranjak dan mendekati Tika lalu memeluknya.


"Apa kami mengganggu honeymoon kalian?" Tika menggoda.


"Apa sih tante."


"Ya, sangat mengganggu. Jadi jangan cepat-cepat minta cucu." Aaron menanggapi dengan santai, sementara Audrey merona mendengar jawaban Aaron.


"Kalau begitu Om harus lebih sabar menunggu." kata Isak dengan senyuman mengembang sempurna.


"Baiklah, cukup. Aku tak mau Audrey kabur. Tante mampir membawa foto kalian yang sudah dicetak dalam ukuran besar dan beberapa surat tentang pernikahan kalian."


"Tante kalian menyiapkan semuanya dengan cermat." Isak memuji istrinya.


"Harus seperti itu tante?" Audrey menatap tak percaya.


"Iya sayang, karena yang kita hadapi bukan wanita sembarangan." Tika meyakinkan.


"Terima kasih tante."


"Jangan berterima kasih padaku Ron, katakan itu pada istrimu."


"Istri gadungan." Audrey menahan tawanya.


"Aku siap kalau mau jadi betulan." Aaron menyenggol Audrey.


"isshhhh, dalam mimpi." Audrey pergi meninggalkan tempat itu.


"Serius ingin jadi istri beneran?" Tika memandang penuh selidik.


"Ya." jawab Aaron tegas.


"Baiklah, kalau itu maumu."


"Om dan Tante akan membantu?"


"Tidak." jawab keduanya kompak.


"Kenapa?"


"Kau harus berusaha sendiri merebut hatinya, tante kan hanya memberi jalan."


"Kalau ada kendala baru kami bantu." Isak menambahkan.


Aaron mengangguk-angguk sambil memegangi dagunya.


"Baiklah, lusa aku akan mengajaknya kesana."


Mereka semua tersenyum dan melangkah ke dalam menyusul Audrey.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2