Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
48. Maaf


__ADS_3

Situasi di area pabrik itu mendadak ramai dengan suara sirine ambulance dan mobil polisi. Lusinan mobil terparkir tak beraturan sementara para petugas mengevakuasi jenazah dan yang mengalami luka.


Salah satu yang diangkat menggunakan brankar dengan posisi setengah duduk adalah Tiago. Ia melihat Audrey tengah berbincang dengan beberapa petugas. Saat menunggu akan dinaikkan ke ambulance, seorang petugas polisi lewat.


Dengan cepat Tiago menyambar pistol di holster pinggang petugas tersebut, yang pengamannya sudah terbuka. Ia mengarahkan pistol kepada Audrey dengan senyum kemenangan.


Dorr...


Dorr...


Terdengar dua kali suara letusan, semua orang sontak merunduk karena terkejut.


Brakkk...


Pistol dari tangan Tiago terlepas jatuh ke aspal, dua luka tembak terpampang jelas di dadanya. Terdengar jerit tertahan dari mulutnya dan pria itu tewas ditempat.


Tak lama kemudian muncul seorang pemuda dan seorang gadis meneteng senjata laras panjang yang dilengkapi teropong.


"Aku yang lebih dulu mengenainya." kata sang gadis.


"Tidak, itu peluruku." pemuda itu tak mau kalah.


"Aku melihat dengan jelas, aku menembak lebih cepat beberapa detik darimu."


"Terserah, yang jelas aku yang mengenai dia lebih dulu."


"Ada apa?" Aaron dan Audrey sama-sama menghampiri kedua orang yang sedang berdebat itu.


"Dia tidak bisa menerima kalau seorang gadis bisa menembak lebih baik darinya."


"Tentu aku tidak rerima, karena nyatanya aku lebih baik darimu."


Aaron dan Audrey bingung, mereka hanya bisa memegangi pundak sahabatnya masing-masing.


"Dari tadi terus seperti ini. Telingaku sakit mendengar mereka saling berdebat tadi." Yura muncul meneteng senjata yang sama dengan Nabila dan sambil melepas earphone.


"Iya, memangnya tidak bisa ya menembak dengan tenang." Isabela menambahkan dengan bibir mengerucut. Ia berjalan sambil memanggul senjata di bahunya.


Semua yang ada disitu memfokuskan matanya pada Isabela. Mereka dan polisi-polisi yang hilir mudik di dekat mereka sampai memindai gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Isabela bingung dengan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya.


"Ada yang salah?" tanyanya pada semua yang menatapnya.


Audrey tersenyum geleng-geleng kepala. Yura mengusap wajahnya dengan tidak sabar sedang Nabila memijit pelipisnya. Aaron, Damian dan Rangga yang baru bergabung senyum-senyum sambil menggaruk tengkuk mereka masing-masing.


"Dari tadi kau memakai baju itu? Aku baru sadar." Yura menahan senyuman geli.


"Memangnya kenapa?" Isabela melihat ke bajunya sendiri.


"Kau memakai dress, flat shoes, rambut cepolan lengkap dengan pita lucu dan meneteng senjata, baby." Nabila gemas.


Isabela meringis. "Aku lupa berganti baju tadi. Kalian juga tidak mengingatkan."


"Aku sudah tak fokus lagi padamu." Nabila mencebik.


"Karena di otakmu hanya ada makan, makan, dan makan." Yura sewot.

__ADS_1


"Kau nyaman dengan posisi tiarap tadi, hmm?" Audrey mendekati Isabela sambil mengambil sepotong rumput dari pinggang Isabela.


"Nyaman, seperti di pantai kalau lagi santai." jawab Isabela dengan enteng.


"Om tak menyangka bala bantuanmu nyentrik begini Audrey." Bagas datang dengan tersenyum geli menatap Isabela, begitu juga dengan Sebastian.


"Hai Om." sapa Yura, Isabela dan Nabila pada Sebastian.


"Hai semua, terima kasih sudah membantu kami. Kau juga, nak..."


"Damian ,Om."


"Oh ya, terima kasih Damian." kemudian Sebastian memandang Yura penuh arti. "Om??"


Yura jadi kikuk, ia tersenyum malu-malu. "Maaf, Pa." lirihnya.


"Cieee...cieeee....cieeee." ketiga gadis lain langsung menggodanya. Kali ini giliran tubuh Yura yang bergerak kesana kemari mendapat dorongan kecil dari sahabat-sahabatnya.


Mereka tertawa bersama kemudian saling merangkul, hanya Audrey yang bebas karena tangannya tak meneteng senjata besar.


"Terima kasih, kalian sahabat terbaik." ucap Audrey saat meregangkan pelukan, kemudian mereka kembali tertawa bersama.


"Ayo pulang." Sebastian memegang pundak Audrey. "Kakek dan nenek sudah menunggumu di rumah."


"Iya Pa." Audrey tersenyum gembira.


"Papa duluan, bicaralah dengannya." Sebastian menatap ke belakang melewati pundak Audrey. Audrey menoleh ke arah tatapan papanya.


Ia tersenyum melihat Aaron berjalan mendekat.


"Perkenalkan juga, Damian." Aaron menunjuk pemuda yang dari tadi hanya bungkam itu. Semua berjabat tangan sambil tersenyum, kecuali Nabila.


"Jutek."


"Egois."


Yang lain mengangkat alis mereka melihat interaksi aneh mereka berdua.


"Ayo, kakak antar kalian pulang." kata Rangga.


"Kita atau Yura?" Isabela menggoda.


"Kalian, Yura bonusnya." Rangga mengerling.


"Kakak tidak pulang sama kami?" tanya Audrey.


"Tidak, lagipula mobilmu kan ada di apartemen Yura. Sekalian nanti kakak bawa pulang."


"O iya, benar."


Semua berjalan menjauh, termasuk Damian. Ia memilih menunggu di mobil Aaron.


"Terima kasih sudah datang menolongku." Audrey tersenyum menatap Aaron.


Pemuda itu mengusap kepala Audrey penuh sayang. "Tak mungkin aku meninggalkanmu." tangannya terulur pada bagian lebam di wajah Audrey. "Apakah sakit?"

__ADS_1


Audrey mengangguk. "Tapi sudah biasa."


"Tak ku sangka, kau semakin menggemaskan memegang pistol itu." Aaron mengerling menggoda.


"Yang benar saja." Audrey memutar bola matanya malas.


"Aku akan segera menemuimu lagi. Pulang dan beristirahatlah." kata Aaron. Audrey mengangguk dan berbalik, namun sebelum melangkah Aaron memegang lengannya. Membuat Audrey memutar tubuh dan sedikit menabrak dada bidang pemuda itu. Aaron mengecup singkat bibir gadisnya.


"Kakak mencintaimu Drey." bisiknya di telinga gadis itu.


Audrey hanya mengangguk dan tersenyum manis, pipinya sudah merona karena Aaron mengecupnya tak melihat situasi. Isak tersenyum dan menggelang-gelengkan kepalanya saat Aaron menatapnya. Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian berbalik.


Disisi lain, Audrey melangkah dengan cepat menuju mobil Sebastian. Saat sudah mendekat, Roki tiba-tiba muncul dan menyerahkan map pada Sebastian.


"Ambillah, aku tak menginginkannya lagi." kata Roki.


Sebastian mengernyit dan menerima map itu.


"Ada apa?" meski bukan teman, keadaan Roki yang kacau menggugah rasa ingin tahu Sebastian. Terlebih lagi tadi dia menembaki dan menendang Arneta dengan membabi buta.


"Dini hari tadi, istriku meninggal. Ia mengalami komplikasi karena penyakit memalukan yang aku tularkan." air mata Roki mengalir.


Audrey dan Sebastian terkejut. "Kami turut berduka cita." kata Sebastian tulus.


Roki tersenyum miris. "Aku sudah membunuh istriku, dan saat ini aku pun mengidap penyakit memalukan." Roki menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Maaf, aku menyesal sudah berbuat jahat padamu dan putrimu."


"Yang penting sekarang putriku sehat." Sebastian menepuk pundak Roki.


Pria itu mengangkat wajahnya, dan tersenyum pilu. "Aku permisi." pamitnya dan segera berbalik.


Audrey langsung masuk ke dalam mobil dan sebastian menyusul setelah meletakkan map di kursi belakang kemudi. Tak menunggu lama pria itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan area itu.


"Apa isi map itu pa?" Audrey tak dapat menahan penasarannya.


"Permintaannya untuk ditukar dengan informasi Rebecca."


Audrey menunduk, jarinya saling bertautan.


"Papa, maaf Audrey tidak memberi tahu papa."


Sebastian diam saja, ia hanya fokus menyetir. Audrey sudah tidak berani berbicara lagi sepanjang perjalanan.


Hingga akhirnya mereka tiba di rumah. Sebastian menahan tangan Audrey yang akan membuka sabuk pengamannya. Audrey menatap Sebastian dengan kerutan samar di dahinya.


"Papa memang kecewa, tapi papa bangga kau mampu menahan dirimu." Sebastian tersenyum mengusap kepala putrinya.


Air mata Audrey tumpah, ia langsung menangis saat Sebastian memeluknya. Tanpa sadar Sebastian menitikkan air matanya, ia lega. Hari ini beban keluarganya telah berakhir. Masa lalu yang terus menghantui itu telah lenyap.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2