Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
55. Dijodohkan


__ADS_3

Hari ini Bram dan Mita melangsungkan pernikahan, pesta digelar secara tertutup. Hanya keluarga dan kerabat dekat yang diundang. Semua larut dalam kebahagiaan, wajah-wajah bahagia terlihat selama acara resepsi.


"Bil, kok duduk sama kami terus? Harusnya kan temani om sama tante." Isabela mengernyit melihat Nabila yang tidak beranjak dari meja mereka.


"Malas." wajah Nabila langsung berubah, terlihat tidak bersemangat.


"Kenapa?" kali ini Audrey yang bertanya.


Nabila menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Aku dijodohin." jawabnya.


"Apa?!!" seru ketiga gadis lain bersamaan. Nabila tidak menjawab, ia hanya menunduk. Beruntung seorang wedding singer sedang bernyanyi, jadi jerit tertahan mereka tak terdengar undangan lainnya.


"Dijodohin sama siapa Bil?" Yura mengusap lengan Nabila perlahan.


"Temannya Kak Aaron, Damian." jawabnya datar.


Audrey, Isabela dan Yura saling berpandangan. Pertemuan pertama mereka tidak begitu baik, sekarang malah dijodohkan. Audrey menunduk, ia tersenyum tipis menatap ke kain penutup meja bundar itu.


"Langsung menikah?" Audrey mendongak dan menatap Nabila saat bertanya. Sementara yang ditatap terlihat lesu menatap gelas minuman di tangannya


Nabila menggeleng, "Tidak." jawabnya.


"Hhhh...syukurlah." Isabela terdengar lega.


Nabila melotot mendengar itu, ia menatap Isabela dengsn tatapan tidak suka.


"Kenapa?" Isabela kebingungan melihat sorot mata Nabila.


"Kau senang aku dijodohkan?"


"Tentu saja tidak. Tapi kan kita patut bersyukur, setidaknya baru dijodohkan. Bukan langsung disuuh menikah." Isabela membela diri.


"Benar kata Isa." Yura menengahi. "Setidaknya kau masih diberi kesempatan untuk mengenalnya."


"Tapi aku juga ingin seperti kau dan Audrey. Menemukan dan menikah dengan pemuda yang kalian cintai. Bukan dicarikan seperti ini." bibir Nabila semakin mengerucut, bahkan alisnya bertaut.


"Kau tidak protes?"


"Sudah Drey, tapi Papa tidak mau dengar." Nabila semakin sedih. "Apa aku kabur saja ya?" terlintas ide aneh di benaknya.


"Jangan gila deh Bil. Baru dijodohin, bukan langsung nikah." cerocos Isabela.


"Memangnya kau mau kabur sampai kapan, hmm? Kan belum mau dinikahin. Yang ada nanti dirimu sendiri yang rugi." Audrey mencoba menasehati.


"Selama ini Om sama Tante tidak pernah menuntut yang aneh-aneh juga kan?" Yura menambahkan.


"Tidak pernah menuntut, sekalinya minta langsung ekstrim begini." Nabila mendengkus.


"Apa alasannya mereka menjodohkanmu?" Isabela ikut bertanya.


"Damian yang terbaik untukku."

__ADS_1


"Alasan klasik." ketiga gadis lain mengomentari secara bersamaan.


"Drey, kapan ke base?" Nabila menatap Audrey penuh harap.


"Sebenarnya belum ada rencana, tapi kalau kamu butuh pelampiasan, kita kesana selesai acara. Bagaimana?"


Nabila mengangguk penuh semangat, senyumnya mengembang sempurna.


"Ikut." ekspresi Yura dan Isabela seperti anak kecil yang sedang merayu orang tuanya.


"Tentu." Audrey tersenyum senang.


"Semakin banyak orang semakin seru." Nabila sudah kembali bersemangat."


"Acara ini sampai jam brpa sih Bil?" Isabela melirik arlojinya.


"Kalau tidak salah sampai jam 3 sore." jawab Nabila.


"Satu jam lagi." Yura mendesah, ia sudah lelah.


"Wajahku sudah gatal." Nabila mengeluhkan make up yang ia kenakan.


Karena keluarga pengantin, ia tak diijinkan memakai make up tipis seadanya seperti biasa. Walau sempat protes, ia tak tega saat melihat wajah memohon Mita, Sang Kakak. Alhasil ia pasrah menuruti kemauan kakak dan mamanya.


"Bertahanlah, satu jam lagi." Yura memberi semangat pada Nabila dan ditanggapi senyuman kecut.


"Ta, dansa sama kakak dong. Mau kan?" Rangga tiba-tiba sudah berada di sebelah Yura.


"Yura, tangan kakakku sudah keram." Audrey menyadarkan Yura dari lamunannya.


"Eh!" matanya mengerjap menatap Rangga. "Iy-iya kak." tangan Yura terulur menyambut tangan Rangga dan langsung berdiri.


"Aku pergi dulu." Yura masih sempat berpamitan pada ketiga sahabatnya dan dibalas dengan senyuman usil gadis-gadis itu.


"Honey." sapa Aaron yang telah berdiri di belakang kursi Audrey.


Audrey terjengkit, ia sibuk memperhatikan Yura dan Rangga sampai tidak menyadari kedatangan Aaron.


"Ada apa kak?" karena sedang dalam posisi duduk, Audrey harus mendongak untuk melihat wajah Aaron.


Cup


Aaron mengecup singkat dahi Audrey. Jangan tanya lagi bagaimana wajah Audrey, sudah sangat merah pastinya.


"Cieeee, mukanya kayak udang rebus. hihihihi." Isabela terkikik melihat wajah Audrey.


Nabila hanya tersenyum melihat interaksi itu. Coba aku dijodohkan dengan orang yang aku suka, pasti akan lebih menyenangkan. Nabila hanya bisa berandai-andai dalam hatinya.


"Kak!" Audrey mencubit tangan Aaron sebagai tanda protes.


"Dansa yuk hon." Aaron tak mempedulikan protes dari Audrey. Ia bahkan langsung memegang lengan gadis itu. Audrey segera berdiri sebelum ia ditarik, ia tak ingin menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


"Aku dansa dulu ya. Nanti ketemu lagi disni." pamitnya pada Isabela dan Nabila.


"Trus kami gimana dong?" Isabela menunjuk dirinya dan Isabela.


"Dansa berdua aja." Aaron memberi ide, dan disambut dengan tiga pasang mata yang membulat sempurna saat mendengar usulannya.


"Jangan aneh-aneh deh kak." Nabila sewot.


"Mendingan kalian pergi sekarang, sebelum lagunya selesai." kata Isabela dengan raut wajah kesal. Audrey hanya bisa memukul pelan lengan Aaron.


Pemuda itu merangkul pinggang Audrey dengan posesif. Sesampainya di arena dansa, Audrey meletakkan tangan di kedua pundak Aaron sedangkan pemuda itu memegang pinggang ramping milik Audrey.


Aaron terus menatap wajah ayu calon istrinya, senyum bahagia tak pernah surut dari wajahnya. Audrey menunduk, ia merasa jengah ditatap seperti itu terus menerus.


"Kau sangat menggemaskan Drey. Kakak jadi tidak tahan ingin menc**mmu." bisik Aaron membuat Audrey sontal menatap matanya.


"Jangan aneh-aneh." Audrey memicingkan mata, memberi peringatan.


Aaron terkekeh pelan melihat itu, dengan gerakan cepat ia mengecup dahi gadisnya.


"Ya ampun kak. Lagi?" Audrey menatap Aaron tak percaya.


"Maaf honey. Lagian cuma dahi." Aaron memasang wajah memelas.


Audrey mengulurkan tangan dan menyentil dagu Aaron.


"Kebiasaan!" serunya tertahan dengan roman muka kesal.


"Sakit hon." Aaron mengusap dagunya.


"Alasan." Audrey sedang tak ingin meladeni sikap Aaron yang bermanja-manja dengannya.


"Maaf Drey. Kakak hanya ingi semua orang tahu, kamu milik kakak."


"Ya ampun kak, yang diundang cuma kerabat dekat. Jadi mereka juga sudah tahu."


"Tapi tetap saja mereka mencuri-curi pandang ke arahmu." Aaron menunjuk menggunakan dagunya.


Audrey melirik ke arah yang dimaksud oleh Aaron. Disalah satu sudut terlihat beberapa pemuda yang merupakan saudara sepupu Mita dan Nabila. Audrey sudah tahu, dari awal acara beberapa diantara mereka berkali-kali mencuri pandang ke arahnya. Dan saat tertangkap basah oleh Audrey, mereka malah memasang senyuman manis.


"Di mata, hati dan pikiran Audrey, hanya ada kakak saja. Tidak ada tempat untuk pemuda yang lain lagi." Audrey mengusap pipi Aaron dengan lembut, tatapannya dalam menghujam mata Aaron.


Aaron menghentikan langkahnya, ia kemudian mengajak Audrey pergi dari area dansa itu. Audrey yang bingung hanya pasrah mengikuti langkah Aaron. Ternyata pemuda itu membawa Audrey ke ruang tunggu pengantin sebelum mereka memasuki ballroom tadi.


Aaron segera menutup pintu dengan kakinya, tangannya sudah melingkar di pinggang Audrey. Matanya hanya menatap b***r ranum gadisnya, dan tanpa aba-aba ia segera mendekatkan wajahnya. Menahan tengkuk gadis itu dan menyalurkan keinginan yang sudah ia tahan dari tadi.


Dasar Kak Aaron!


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2