
Arneta memporak porandakan kamarnya. Ia melampiaskan kemarahannya pada semua barang yang ada.
"Bre**s*k!! Orang-orang s*al*n!!" ia menatap nyalang, matanya merah, kepalanya telah dikuasai dengan emosi.
"Aku harus cepat menguras harta keluarga ini, akan ku kuasai mansion, dan ku tendang mereka semua. Aaarrgghhhhh!!!"
"Gadis itu, siapa dia? Matanya, dimana aku pernah melihatnya?" Arneta berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, dan berbicara pada udara yang tak bertelinga.
"Aku akan memberi pelajaran padanya. Dia pikir siapa dia. Kau salah besar Aaron, akan ku patahkan setiap cakar kucing kecilmu."
Arneta berjalan keluar kamar menuju ruang tengah, tak nampak satu orang pun pelayan disana. Ruang makan pun sama, akhirnya ia menuju dapur.
"Kau, panggil temanmu dan bersihkan kamarku. Cepat!" titahnya pada pelayan yang ia jumpai di area dapur. Setelah memberi perintah ia melangkah kembali ke kamar.
Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Billy. Setelah Billy menyetujui permintaannya, Arneta mengganti baju dan keluar. Ia terlihat begitu senang, Billy sangat tahu cara meredakan emosi Arneta.
Sementara itu di apartemen Yura pada waktu yang sama, tampak ketiga gadis itu berada di dalam ruangan yang dipenuhi banyak layar monitor.
"Kau terlihat santai, apa kau tak tegang mengingat Audrey?" Nabila mengamati wajah Yura yang senyum-senyum melihat layar.
"Aku tahu dimana Audrey berada." kata Yura santai.
"Kau tidak sedang bercanda kan?" Isabela memicingkan matanya.
"Tidak, beberapa waktu yang lalu aku memasang sistem keamanan sekunder untuk mansion itu. Kepala pelayan disana yang memintanya." kata Yura tanpa ragu.
"Apakah mereka sudah merencanakan sandiwara ini sejak lama?" Nabila antusias.
"Sepertinya tidak, karena alasan mereka hanya ingin memastikan keselamatan Tuan Muda mereka."
"Rebecca benar-benar membawa bencana dimana pun ia berada." Nabila mendengkus.
"Apakah kita bisa bernafas lega saat ini?" Isabela menggigit bibir bawahnya tanda khawatir.
"Belum, aku tak tahu harus berkata apa pada Om Sebastian dan Kak Rangga." Yura menunduk.
"Bicara soal kak Rangga, sepertinya akhir-akhir ini kalian berdua dekat ya." Nabila memulai interogasi yang sempat terlupakan olehnya.
"Iya benar, aku pernah melihat kalian berdua di kafe dekat studio latihanku." Isabela menambahkan.
"Dan aku pernah tak sengaja melihat pop up pesan masukmu." Nabila meringis.
"Eh, i-itu. Ti-tidak, ka-kami cuma cuma..." Yura menggaruk telinganya yang tidak gatal.
"Kok jadi gugup sih?" Isabela mencolek pinggang Yura.
"Yunita Nara. Ada yang ingin kau jelaskan?" Erika berdiri di depan Yura sambil bersedekap.
Huhhhhh. . . .
Yura mengatur nafasnya sebelum mulai berbicara.
"Kami mulai saling berkomunikasi saat kak Riana kritis. Itu semua murni karena ingin membantu mencari kak Riswan."
"Laluuuuu?" Isabela semakin mendekat pada Yura.
"Entah bagaimana kami jadi sering berbalas pesan. Jika aku lama membalas pesan, maka Kak Rangga segera menelepon."
Isabela dan Nabila berpandangan dengan alis menyatu.
"Biasanya siapa yang menghubungi lebih dulu?" Isabela benar-benar menggali sampai ke akar.
"Saat masih ada hubungannya dengan Kak Riana, kadang-kadang aku yang duluan. Tapi setelah pemakaman, mmm..." Yura memegang dagunya serta memiringkan kepala, tampak sedang berfikir.
"Oh iya, aku baru sadar. Kak Rangga yang selalu menghubungiku."
"Kak Rangga sedang mendekatimu." kata Nabila pasti.
__ADS_1
"Tidak, tidak mungkin." Yura menggoyang-goyangkan kesepuluh jarinya. " Karena tidak pernah ada topik pembahasan yang tak penting." Yura berbohong.
"Kan bisa saja Kak Rangga mencari-cari topik pembahasan." kata Isabela.
"Tumben Isa pintar." Nabila memukul kepala Isabela dengan bantal.
"Isss, memang aku pintar." Isabela mencebik.
"Iya deh iya, kamu itu Ballerina absurd." Nabila mengacak-acak rambut Isabela dengan gemas dan mereka tertawa lepas.
Diam-diam Yura menarik nafas lega, ia bersyukur kedua sahabatnya berhenti menanyainya. Karena ia pun sebenarnya tidak mengerti, mengapa akhir-akhir ini Kak Rangga sering menghubunginya. Dan kadang hanya sekedar bertanya apa ia sudah makan atau belum, apa yang sedang dikerjakannya, dan bersama siapa.
Bagi Yura semua pertanyaan itu bentuk basa basi karena Yura menolong mencari Riswan, dan karena adik Kak Rangga adalah sahabatnya. Ia tak ingin berfikir lebih.
Tring.....
Luna membuka ponselnya.
Kak Rangga:
Sedang apa Ta?
Ya, ada yang belum diceritakan Yura. Kini Kak Rangga memanggilnya Ita. Yura masih takut mau menceritakan semuanya, masih terlalu dini.
Y**ura**:
Lagi ngobrol sama Nabila dan Isabela kak.
Kak Rangga:
Jangan sampai larut ya ngobrolnya, tidak baik untuk kesehatan.
Yura:
Iya kak Rangga, terima kasih sudah mengingatkan.
"Bil, antar pulang ya. Udah ngantuk nih." Isabela menggosok matanya.
"Ok deh. Kalau kamu Ra, bagaimana? Mau pulang rumah atau disini aja?" Nabila menawarkan.
"Disini aja deh, Papa sama Mama belum pulang dari rumah Kakek."
"Itu susahnya kalau punya orang tua beda negara. Mau jenguk aja jauhnya minta ampun." kata Isabela sambil beranjak keluar ruangan.
Yura hanya tertawa kecil. Ia mengantar sahabat-sahabatnya ke pintu.
"Bye, hati-hati nyetirnya ya Bil."
"Iya, kamu juga baik-baik sendirian disini."
"Jumpa besok." Isabela melambai.
Yura mengunci pintu, mengecek jendela dan menyalakan alarm. Ia masuk ke kamar untuk mengganti baju dan membersihkan diri.
Drrtttt...Drrtttt...Drrttt...
Ponselnya bergetar di atas nakas saat ia baru selesai memakai baju tidur. Yura mengernyitkan dahinya, Kak Rangga yang video call.
"Hai kak." sapanya setelah menyentuh tombol hijau.
"Hai, lagi ngapain Ta?"
"Baru selesai beres-beres kak, mau tidur."
"Yang lain mana?"
"Sudah pulang kak."
__ADS_1
"Jadi Ita sendirian di apartemen."
Yura hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kakak mau temani, tapi belum bisa pulang." Rangga menatap Yura dengan sendu. Membuat dada Yura berdebar tak karu-karuan.
"Sudah biasa kak, tidak perlu ditemani."
"Hmmm, iya deh. Selamat istirahat Yunitaku."
"Yunitaku?"
"Iya, kan kamu Yunitanya kak Rangga."
"Ihh, Yunitanya mama papa dong kak."
"Kalau gitu setelah Om sama Tante datang, kakak minta kamu ke mereka."
"Minta untuk apa?"
"Jadi kakak ipar Audrey, jadi istri kakak."
"Apaan sih Kak Rangga." Yura merona, ia menyingkir dari jangkuan kamera.
"Ta, jangan keluar dari frame dong dek." Rangga memelas. Yura mengatur nafasnya, ia tak ingin terlihat gugup.
Perlahan-lahan Yura menampakkan wajahnya yang dihiasi senyum malu-malu. Tanpa sadar Rangga memegangi dadanya. Sejak ia melihat Yura memakai dress hitam, dan penutup kepala brokat dengan warna senada itu, hatinya selalu tak tenang.
Saat itu ia sedang berduka atas kepergian Riana, bukan sedih karena orang yang dicintai pergi. Tapi lebih sebagai teman, karena ia sudah bisa mengendalikan hatinya. Jadilah sepanjang ritual pemakaman itu ia meminta Yura untuk selalu berada di sisinya.
Hari itu Yura menghampirinya untuk memberi kata-kata yang menguatkan. Dan anehnya ia malah terpesona dengan penampilan Yura, hatinya terasa lebih tenang dan terhibur. Bahkan ada getaran aneh di dadanya.
"Kak Rangga!"
Rangga mengerjap, ia kaget dengan suara Yura yang setengah berteriak.
"Hah, kenapa?"
"Kakak melamun ya? Dari tadi dipanggil nggak dengar." Yura mengerucutkan bibirnya, membuat rasa rindu semakin menggebu. Rangga semakin erat memegangi dadanya.
"Ah, enggak kok." kilah Rangga.
"Kakak pulangnya kapan?"
"Kenapa? Sudah rindu ya?"
"Bukan kak, ada yang mau diomongin. Penting."
"Mungkin satu minggu lagi."
"Yahh, masih lama dong." Yura tampak kecewa.
"Nggak nyangka, ternyata sampai segitunya ya kamu rindu sama kakak?" Rangga terus menggoda Yura.
"Bukan begitu kak, beneran ada yang mau diomongin. Dan harus bicara langsung."
"Kakak usahakan pulang secepatnya ya." akhirnya Rangga menanggapi Yura dengan serius setelah melihat ekspresi gadis itu. Yura hanya mengangguk.
"Ya udah, selamat tidur Ta."
"Selamat tidur juga kak Rangga." Yura tersenyum manis lalu memutus sambungan.
.
.
.
__ADS_1