Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
65. Kebahagiaan


__ADS_3

Nabila menggoyang gelas winenya dengan tatapan menerawang. Ia sengaja duduk menyendiri setelah sahabat-sahabatnya diajak pergi oleh pasangan masing-masing.


Hhhhhhhhh....


Terdengar helaan kasar dari gadis itu. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Saat melewati sebuah gazebo Nabila berhenti sejenak untuk berpamitan pada orang tuanya. Baru berjalan beberapa langkah, suara bariton seorang pemuda sukses menghentikan langkahnya.


"Mau kemana?"


Nabila langsung berbalik saat mendengar suara orang yang dia hindari tepat di belakangnya.


"Bukan urusanmu." jawab Nabila ketus.


Damian tersenyum sinis dan meraih gelas wine di tangan Nabila. "Anak gadis tidak baik minum minuman seperti ini."


Nabila mencebik dan merebut kembali gelasnya. "Ini hanya Moscato. Lagipula Bellissimo Moscato kandungan alkoholnya hanya 5-7%." ujarnya dengan pandangan tak suka.


"Segelas Moscato tidak akan membuatku mabuk, aku juga sudah terbiasa minum wine. Permisi!" tambahnya lagi dan segera berpaling.


Damian menyusul dan menyesuaikan langkahnya dengan Nabila. Merasa disejajari oleh Damian, Nabila segera menghentikan langkahnya.


"Ada perlu apa?" Nabila menoleh pada Damian dengan tatapan tidak bersahabat.


Bukannya menjawab, Damian malah menarik tangan Nabila yang bebas dan membawa gadis itu untuk duduk di sebuah bangku taman yang berada di tepi jalan menuju cottage. Nabila menurut, dipikirannya ia ingin segera menuntaskan masalah ini.


"Batalkan perjodohan ini." ucap Nabila begitu saja setelah duduk.


Damian terperanjat, ia baru akan mengatakan sesuatu, namin Nabila lebih cepat. Pemuda itu hanya tersenyum tipis.


"Tidak bisa." Damian menunduk menatap pasir.


"Kenapa?!"


"Karena Kakak sudah menyukaimu." jawabnya tegas dan menatap manik mata Nabila dalam-dalam. "Kakak jatuh cinta padamu, Nabila."


Nabila mengerjap, bukan kalimat ini yang ingin di dengar olehnya. Namun sepertinya tubuh gadis itu lebih jujur karena saat ini pipi Nabila sudah merona. Ia memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Damian yang membuatnya berdebar. Jantung sialan!!!umpatnya dalam hati.


"Cepat sekali, bukankah calon istrimu beberapa bulan yang lalu berkhianat." Nabila terdengar sinis mengucapkan itu.


Damian tersenyum samar. "Hati orang siapa yang tahu, kalau seandainya bisa Kakak kendalikan untuk apa Kakak jatuh cinta padamu."


Nabila menoleh dan melebarkan netranya. "Aku juga tidak meminta Kakak jatuh cinta padaku." ia mengerucutkan bibirnya.


Damian menaikkan sebelah alisnya mendengar Nabila memanggilnya Kakak atas inisiatif sendiri. Nabila meneguk minumannya sampai habis saking jengkelnya.


"Mengapa kau kesal pada Kakak? Apa karena waktu itu Kakak tidak mengakui kemampuanmu?"


"Entahlah, pertemuan pertama kita memberi kesan menyebalkan." Nabila mencebik.


"Jika begitu, maafkan Kakak." Damian menatap Nabila dengan tulus. "Kakak baru pulang penugasan, saat melihat kemampuanmu jujur Kakak merasa tersaingi. Maaf jika saat itu ada kalimat yang menyakiti hatimu."


"Harusnya Kakak itu mengerti, zaman sekarang seorang perempuan juga bisa memiliki skill menembak sama dengan laki-laki atau bahkan lebih baik." Nabila menyuarakan pendapatnya.


Damian tersenyum geli. "Soalnya penampilan dan wajahmu terlihat seperti mustahil dapat melakukan semua itu."


"Jangan menilai dan mengukur kemampuan orang dari penampilannya saja Kak." kata Nabila ketus.


"Iya deh iya." Damian mengambil gelas wine yang telah kosong, meletakkannya di bawah kemudian meraih kedua tangan Nabila. "Maaf ya." ia menatap mata Nabila dengan dalam dan lembut. Senyuman manis pun terlihat dari wajah tampan Damian.


Nabila goyah, Damian rela menekan gengsinya untuk mengaku salah dan meminta maaf. Bahkan senyuman pemuda itu pun menular. Mungkin karena ia melakukan semua itu dengan tulus, hingga tanpa sadar Nabila pun tersenyum dan menganggukkan kepala.


Drrttt...Drrttt...Drrttt...

__ADS_1


Damian segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Ya."


"......"


"Baiklah, kami segera kesana."


Setelah itu ia memutus sambungan dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Ayo, Aaron dan Audrey sedang menunggu." Damian menyampaikan pesan dari penelepon tadi kemudian meraih gelas yang ia letakkan di bawah.


Nabila mengangguk dan segera berdiri, ia melangkah tanpa menunggu Damian.


"Bil." Damian memegang tangan Nabila membuat langkah gadis itu terhenti.


"Ya Kak."


Damian merapat dan mengecup kening Nabila dengan lembut. Nabila tertegun, ia menatap mata Damian.


"Kok diam?" Damian membelai pipi Nabila.


"Bingung mau bereaksi seperti apa." jawab Nabila sambil menunduk.


"Artinya perjodohan ini tetap berlanjut kan."


Nabila langsung mendongak. "Ak-aku..." ia bingung mencari kalimat yang tepat.


"Aku memberikan Kak Damian kesempatan." Damian menyambung sendiri kalimat Nabila.


"Apa?!" pekik gadis itu tak percaya.


Damian terkekeh dan menggandeng Nabila menuju tempat Aaron dan Audrey menunggu, tanpa menghiraukan ocehan Nabila.


"Aku tak sabar lagi, 2 minggu rasanya terlalu lama."


Audrey tersenyum mendengar ucapan Aaron. "Saat kita menghadapi masalah nanti, ingatlah bagaimana rasanya menunggu hari pernikahan kita."


Aaron tersenyum. "Akan diingat." ia menuntun tangan Audrey mendekati wajahnya dan mengecup punggung tangan gadis itu.


Audrey hanya tersenyum tipis kemudian mengedarkan pandangannya. "Sebenarnya, kemana mereka semua pergi?"


"Entahlah, semoga saja Leon dan Damian bisa menyelesaikan permasalahan mereka dengan baik."


"Menurut Kakak, apa kita perlu membantu untuk mengubah pemikiran Nabila dan Isabela?"


"Tidak perlu honey, Kakak yakin, kedua pria itu bisa mengatasinya. Kalau tidak, pasti mereka akan datang dan berbicara denganmu secara pribadi."


"Denganku?"


"Iya, denganmu. Kau kan sahabat karib Nabila dan Isabela, tentu orang pertama yang dicari Leon dan Damian adalah dirimu."


Audrey manggut-manggut mendengar penuturan Aaron. Disaat yang sama ia melepas genggaman tangan Aaron dan memeluk tubuhnya sendiri.


"Dingin?"


"Iya Kak." jawab Audrey sambil mengangguk.


Aaron melepas jasnya dan memakaikan pada pundak Audrey yang terekspos. Kemudian ia merangkul pundak gadisnya agar lebih merapat pada tubuhnya. Aaron menunduk, menarik dagu Audrey lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir tunangannya itu. Audrey hanya tersenyum dengan perlakuan Aaron.


"Maaf membuat kalian menunggu lama?" Leon muncul sambil menggandeng tangan Isabela.

__ADS_1


"Tak masalah. Apakah kalian berjalan terlalu jauh?" Aaron tak mengendurkan dekapannya sedikit pun.


"Ti-tidak Kak." Isabela tersipu malu. "Aku lupa dimana meletakkan sepatuku."


"Aku kira kau memerankan White Swan, bukan Cinderella." Aaron tersenyum geli menanggapi jawaban Isabela. Namun genggaman Leon yang terlihat erat membuat kedua alisnya terangkat.


Daddy Vicy itu mengetahui arah pandang Aaron. "Aku akan segera menyusulmu." Leon dengan sengaja mengangkat tangannya yang sedang memegang tangan Isabela, membuat Sang Balerina semakin salah tingkah.


"Syukurlah." Audrey tersenyum bahagia.


"Dan sepertinya veteran perang kita membawa berita yang sama." Aaron menunjuk ke arah belakang Leon menggunakan dagunya. Membuat semua yang di Gazebo menoleh pada arah yang ditunjukkan Aaron.


Tak jauh dari sana tampak Damian dan Nabila bergandengan tangan menuju Gazebo. Disusul Rangga dan Yura di belakang mereka. Merasa menjadi bahan tontonan, Nabila salah tingkah. Ia bahkan tak melihat jalan di depannya hingga tanpa sengaja tersandung karena jalan yang bergelombang.


Tubuh Nabila terhuyung, ia hampir saja tersungkur. Namun dengan cepat Damian meraih pinggang dan menarik tubuh Nabila ke arahnya.


"Nabila!" Rangga dan Yura mempercepat langkah untuk menyusul. Aaron dan Audrey sudah berdiri dan keluar dari Gazebo.


"Kau baik-baik saja? Mana yang sakit?" Damian merenggangkan dekapannya dan berjongkok memeriksa kaki Nabila.


"Ujung jari saja, tapi tidak apa-apa karena memakai sepatu." Nabila menjelaskan.


"Apakah bisa berjalan?" tanya Yura yang telah berada di sisi Nabila.


"Iya, bisa."


Damian meraih tangan Nabila dan berjalan pelan. Gadis itu tampak meringis menahan sakit. Lebih baik sekalian luka yang besar dan dalam dari pada hanya lecet seperti ini. Entah kenapa rasanya jauh lebih nyeri.


"Kau tak apa-apa Bil?" Audrey dan yang lain terlihat khawatir. Nabila tersenyum tipis dan mengangguk.


"Salah tingkah diperhatikan jadinya begini." ocehan Damian sontak membuat Nabila melebarkan matanya dan memukul bahu pemuda itu.


"Galak banget sih sama calon suami." Damian memprotes tindakan Nabila.


"Ya ampun Kak, apaan sih?!" Nabila kesal, ia mengerucutkan bibir dan memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.


"Makin gemas nih." ujar Damian, secepat kilat ia mengecup singkat pipi Nabila. Hal ini membuat Nabila meradang. Ia mengejar Damian yang sudah lari terlebih dahulu, tangan kirinya dipakai untuk mengangkat bagian bawah gaun sedang tangan kanan memegang sepatu yang akan digunakan untuk menghajar Damian.


Gelak tawa terdengar dari Gazebo, Nabila dan Damian menggunakan sahabat-sahabat mereka sebagai tameng saat berkejaran. Wajah gadis itu pun tak lagi terlihat kesal, ia malah terlihat tertawa bahagia saat berusaha mengejar Damian.


.


.


.


Dua minggu kemudian, pesta pernikahan Rangga dan Yura serta Aaron dan Audrey dihelat. Mereka membuat dua pasang pelaminan berdampingan di ballroom sebuah hotel ternama. Tamu yang diundang hanya terbatas pada keluarga dan sahabat karib. Rangga dan Audrey ingin menikmati momen bahagia mereka hanya dengan orang-orang yang mereka kasihi dan mengasihi mereka.


Sebastian berulang kali menyeka air matanya melihat kebahagiaan putra dan putrinya. Satya, Sang Mertua, berdiri di samping pria itu dan berkali-kali mengusap pundak menantunya.


"Tiara pasti sangat bangga padamu. Putriku itu memang tak salah memilih pasangan hidup." Kakek Satya menatap Sebastian dengan penuh rasa sayang dan bangga. Sebastian memeluk mertuanya itu dengan erat, menyalurkan rasa bahagia yang membuncah di hatinya.


Saat musibah datang, mungkin hati kita memberontak. Tak terima dengan keadaan buruk yang terjadi. Namun jika kita memilih jalan dan sahabat yang tepat, hal pahit itu bisa membuat hidup terasa manis di kemudian hari.


.


.


.


.

__ADS_1


.


T A M A T


__ADS_2