Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
44. Ulat Bulu


__ADS_3

Di sebuah lobi rumah sakit, Aaron melangkah sambil memainkan ponselnya hingga tak terlalu memperhatikan jalan di depannya.


Bukkkk


"Eh!" Aaron terkejut saat bahunya disenggol dengan cukup keras.


"Maaf, aku tidak sengaja." suara seorang pria meminta maaf.


Setelah berhasil mengatasi keterkejutannya, Aaron mendongak menatap ke sumber suara.


"Tidak..........Damian?" netra Aaron melebar.


"Aaron?" penabrak itu tak kalah terkejutnya. "Hai. Maaf aku berjalan sambil melihat ponsel."


"Ya ya, tak mengapa. Kapan kau pulang? Aku kira penugasan kali ini selama setahun."


Damian melihat ke sekitar. "Kita bicara di tempat lain saja. Apa kau sibuk?"


"Tidak, mari kita ke kantin rumah sakit." ajak Damian.


Kedua pemuda itu pun berjalan beriringan.


"Kau sakit atau menjenguk seseorang?"


"Gustaf terluka, ia tertimpa bahan material saat melihat proyek pembangunan gedung apartemen."


"Dia dirawat di ruang mana? Nanti aku akan melihatnya."


"Ranap VVIP Delima. Saat ini dia sedang tidur." jelas Aaron.


Mereka berdua duduk di sudut kantin yang lebih sepi sambil memesan jus.


"Jadi, ada masalah selama penugasanmu?" tanya Aaron setelah mereka selesai memesan.


"Tidak ada masalah serius." Damian menatap sahabatnya itu dengan tenang. "Aku tertembak di bagian punggung."


Aaron menegang. "Bagaimana kondisimu sekarang?"


"Aku sudah membaik. Tadi adalah pemeriksaan terakhir." Damian tersenyum saat pelayan mengantar pesanan mereka.


"Apa yang terjadi?" lanjut Aaron setelah pelayan itu pergi.


"Kami sedang melakukan patroli gabungan di zona merah. Saat itu konvoi yang terdiri dari 4 mobil diserang oleh pemberontak. Hanya kelompok kecil, tapi karena persiapan mereka cukup matang, kami agak kewalahan." Damian menyedot jusnya sebelum melanjutkan cerita.


"Aku tertembak saat memapah seorang prajurit dari negara A yang tertembak di bagian bahu. Saat lengah itulah aku tertembak." Ia tersenyum mengenang kejadian itu.

__ADS_1


"Aku dipulangkan melalui pertimbangan pimpinan yang ada di sana. Setelah sampai, aku menjalan perawatan. Kau tahu sendiri mamaku, ia tak bisa berhenti menangis."


"Setelah kondisiku membaik, aku mengundurkan diri dari kesatuan. Itu pun karena desakan mama." Damian memijat pelipisnya, pengunduran diri itu sebenarnya membuat dirinya kecewa.


"Jadi sekarang apa kegiatanmu?"


"Terjebak di balik meja, sama sepertimu." Damian tertawa sinis. "Dari awal orang tuaku tak setuju aku masuk akademi militer. Jadi kejadian itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh mereka untuk membujukku agar mau memimpin perusahaan."


"Mama bilang dulu mereka sudah mengikuti kemauanku menjadi tentara, jadi di kesempatan kedua hidupku ini, aku harus mengikuti kemauan mereka."


Aaron tertawa renyah. "Setidaknya kau sudah merasakan bagaimana menjalani pilihanmu. Lagipula kasihan orang tuamu. Setelah adikmu gugur saat memburu pemberontak, apa kau pikir mereka akan bisa menerima kehilangan putranya lagi?"


"Ya, kau benar." Damian tersenyum mendengar ocehan Aaron. Ia mengangkat wajahnya ingin melihat ke sekitar. Saat itu ia menangkap bayangan seorang wanita yang ia rindukan. Bibirnya mengulas senyum manis, namun perlahan senyum itu memudar saat ia mendapati wanita itu tak sendiri.


Damian beranjak dari duduknya, Aaron memperhatikan pergerakan temannya itu. Ia bahkan mengikuti arah pandangan mata Damian. Saat tiba-tiba Damian melangkah pergi, Aaron menyusul setelah terlebih dahulu membayar minuman mereka.


Damian dan Aaron sudah berada di belakang dua orang yang terus ditatap Damian. Jarak mereka sekarang membuat keduanya dapat mendengar percakapan orang di depannya.


"Berhentilah menangis, aku kan sudah bilang. Aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan janin itu." pria di depan mereka tengah membujuk wanita disampingnya. Dari belakang terlihat sesekali tangan wanita itu mengusap wajahnya, mungkin menyeka air mata.


"Aku mohon, berhentilah menangis." pria itu menghentikan langkah mereka berdua. "Kita menjadi sorotan, jika ingin menangis nanti saja di mobil atau apartemenku."


"Wina." ucap Damian pelan.


Wanita yang dipanggil Wina itu terkejut, dengan sedikit melompat ia membalikkan badannya.


"Billy!" Aaron menghardik pria yang sedari tadi membujuk wanita itu setelah sang pria ikut membalikkan tubuhnya.


"Aa-Aaron." kedua orang itu tampak terkejut hingga amplop kecil yang dipegang Wina jatuh dari tangannya. Isi amplop keluar saat benda itu menyentuh lantai.


Damian menunduk untuk melihat kertas foto yang keluar dari dalam amplop dalam posisi terbalik. Dengan cepat dipungutnya benda itu kemudian membaliknya. Foto hitam putih dengan berbagai istilah di tepinya. Namun bentuk bulat yang berada di tengah gambar itu menjelaskan semuanya.


Damian menyunggingkan senyum sinis, ia menatap Wina yang wajahnya berubah seputih kapas. Tubuh wanita itu bahkan terlihat bergetar.


"Selamat atas kehamilanmu." ucap Damian datar dan dingin. "Aku pergi menjalankan tugas negara, dengan ancaman kematian di depan mata. Dan kau pun disini menjalankan misi kemanusiaan rupanya. Misi memenuhi bumi dengan manusia." ia menyunggingkan senyum sinis.


"Da-Dami...."


"Setiap waktu istirahat aku memandangi fotomu. Meningkatkan kewaspadaanku saat bertugas karena ada calon istri tercinta yang menungguku pulang. Ternyata...." Damian tertawa sumbang.


"Maaf Da..."


"Cukup!!! Sudah tidak ada lagi hubungan diantara kita." dengan tegas dan dingin Damian memotong ucapan Wina.


"Terima kasih sudah menyingkirkan ulat bulu dari hidupku." Damian menatap Billy dengan seringai menakutkan. Kemudian ia sengaja berjalan di tengah dan menyenggol mereka berdua. Wina berderai air mata mendengar ucapan Damian.

__ADS_1


"Ku tunggu di mansion sore ini. Jika tidak datang, maka Edward akan menyeretmu." sebenarnya ingin sekali Aaron menghajar sepupunya itu. Tapi ada wanita hamil di dekat mereka dan ini adalah lingkungan rumah sakit. Tak mungkin ia bisa melakukannya.


Gegas Aaron mengejar Billy, ia takut sahabatnya itu melakukan hal berbahaya. Aaron melihat Billy berjalan menuju tepi jalan raya.


"Mau kemana?" tanya Aaron setelah berhasil menghentikan langkah Damian.


"Entahlah!" jawab Damian asal.


"Kau tidak membawa mobil?"


"Tidak, tadi aku diantar sopir. Punggungku belum nyaman jika harus menyetir sendiri."


"Ikut aku, aku akan mengantarmu kemana pun kau mau."


Damian diam, ia tampak sedang mempertimbangkan tawaran Aaron. Kemudian ia mengangguk dan mengikuti langkah Aaron.


"Maaf, aku tak menyangka sepupuku Billy yang merebut gadismu." Aaron membuka perbincangan saat mereka sudah meninggalkan rumah sakit.


Damian tersenyum miris. "Jangan minta maaf padaku, bukan kau pelakunya. Lagipula ia bukan saudara kandungmu kan." Damian mengetahui cerita tentang kakek Aaron sejak masih remaja.


"Mengapa kau tidak menghajarnya tadi?"


"Bukankah dulu aku sudah pernah mengatakannya kepadamu?"


"Ya, tapi rasanya terlalu mudah membiarkan mereka begitu saja."


"Tidak Ron! Tidak ada yang mudah. Aku takut jika mengikuti emosiku, aku bisa menghabisi mereka berdua saat ini juga." Damian menatap ke jendela tanpa ekspresi.


Aaron mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi, aku antar kau kemana?"


"Pulang, aku harus memberi tahu orang tuaku agar membatalkan semua rencana yang sudah disusun."


"Boleh aku mampir? Aku takut tante tak menerima kabar ini dengan baik. Siapa tahu kau butuh tenaga."


"Tentu saja, aku sangat menghargai itu. Terima kasih banyak." Damian menatap Aaron.


"Ya, sama-sama." Aaron menepuk bahu Damian dengan pelan.


Benar apa yang dikhawatirkan Aaron. Mama Rara tampak sangat terpukul dengan kabar perselingkuhan Wina. Ia menangis menatap putranya. Damian lolos dari maut, mendapat kesempatan kedua untuk hidup, tapi malah dikhianati gadis yang akan menjadi menantunya itu.


Tiba-tiba Mama Rara jatuh tak sadarkan diri. Beruntung mereka semua tengah duduk di sofa, jadi mengurangi resiko cedera lain. Tampaknya pembatalan pernikahan ini benar-benar mengguncang wanita paruh baya itu. Pasalnya acara pernikahan Damian dan Wina akan dihelat satu bulan lagi.


"Aku yang dikhianati, mama yang pingsan." Damian geleng-geleng kepala melihat mamanya setelah menelepon Dokter keluarga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2