
Tika sedang membaca laporan keuangan usahanya saat suara ketukan di pintu membuyatkan konsentrasinya.
"Masuk!" seru Tika sambil memijit pelipisnya.
"Selamat sore tante." sapa Audrey saat tubuhnya sudah terlihat di ambang pintu.
"Hai Drey, selamat sore." senyum Tika mengembang sempurna. "Ayo masuk."
Tika duduk di sofa depan meja kerjanya dan meminta Audrey untuk duduk disampingnya.
"Tante ada perlu dengan Audrey?" tanya gadis itu langsung.
"Begini..."
Tok...Tok...Tok...
"Tunggu ya." Tika menghentikan ucapan ketika mendengar suara ketukan di pintu, ia gegas berdiri dan membukakan pintu.
"Hai bang, ayo masuk." katanya pada seseorang yang berdiri di balik pintu.
Audrey berdiri setelah melihat dua orang pria beda usia yang masuk. Audrey tersenyum karena mengenal salah satu diantara mereka.
"Halo Audrey, apa kabar?"
"Halo Om Ali. Saya baik, terima kasih."
"Kenalkan, ini putra pertama Om." kata Ali, kakak ipar Tika menunjuk pria yang berdiri di belakangnya.
"Leonard."
"Audrey."
Mereka berjabat tangan sambil tersenyum. Namun mereka terjengit kaget saat mendengar suara cempreng yang tiba-tiba menggema.
"Oma mudaaa." seorang gadis kecil masuk sambil sedikit berlari. "Om Tante Joan mencubitku." katanya mengadu sambil mengusap pipinya.
Di belakang anak kecil itu tampak Joan sedang tertawa tanpa merasa bersalah.
"Maaf deh maaf." ucap Joan sambil berbalik saat melihat tatapan intimidasi dari Tika.
"Sini cucu Oma muda yang cantik, kenalan dulu sama aunty." Tika tersenyum lembut.
"Halo aunty, saya Victoria, panggil saja Vicy."
"Halo Vicy, saya Audrey." Audrey berjabat tangan dengan Vicy seraya mengusap kepala anak itu.
"Aunty ini istrinya uncle Aaron ya."
"Eh..be-belum Vicy." Audrey tersenyum kikuk. "Kami belum menikah."
Vicy mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau begitu Papa Vicy bisa menikah duluan sebelum uncle."
"Vicy." terdengar Leonard menegur anaknya. Audrey tersenyum mendengar kejujuran Vicy.
"Kata Oma biar Vicy cepat punya mama, makanya Oma suruh Vicy bantu mmmpphhh." Leon dengan cepat membungkam mulut putrinya. Audrey mengangkat kedua alisnya melihat kejadian itu.
"Sudah, sudah. Ayo kita duduk." Tika meminta mereka semua untuk duduk.
"Oma muda, Vicy di luar saja ya. Mau main sama Om Tante Joan."
__ADS_1
"Nanti dicubit lagi."
"Tadi Vicy tidak siap terima serangan Oma muda, sekarang sudah bisa." Vicy terlihat yakin.
"Minta ijin sama Papa saja deh." Tika menatap Leon.
"Boleh kan Pa?" Vicy menatap Leon dengan puppy eyes andalannya.
"Iya, tapi jangan ganggu mereka bekerja ya."
"Ok Pa." Vicy segera berlari keluar.
"Om Tante?" Audrey tersenyum geli mendengar dua kata berlawanan itu disematkan bersamaan pada satu orang.
"Begitulah dia." Ali geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya.
"Nah, karena semua sudah disini. Silahkan Bang, utarakan keperluan Abang sama Audrey."
"Begini Audrey, saya secara khusus mau meminta tolong Audrey untuk mendesain satu set perhiasan dan sepasang cincin pernikahan untuk putra saya."
Audrey tersenyum mendengar permintaan itu. "Biasanya yang mengurus begini calon mempelai secara langsung atau ibunya."
"Istri saya sedang ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan Leon, dia yahhhh kaku seperti sapu ijuk." Ali melirik putranya yang datar-datar saja disindir seperti itu.
"Permintaan tidak biasa." gumam Audrey. "Tapi akan saya buatkan."
"Sekalian dengan hiasan rambutnya ya Drey." Tika menambahkan.
"Iya tante." Audrey mengangguk pada Tika. "Ada detail lainnya?" kali ini ia menatap Ali dan Leon bergantian.
"Dia seorang balerina." Leon akhirnya berbicara.
"Baiklah kalau begitu." Audrey mengulas senyum.
"Mungkin Audrey heran kami mengurus ini secara langsung. Ini semua permintaan istri saya, karena istri saya sangat menyukainya jadi dia ingin memberi yang terbaik buat calon menantunya."
"Audrey memang kaget sih Om, karena setahu Audrey ini urusan perempuan. Bahkan jarang calon mempelai laki-laki turun tangan seperti ini. Tapi karena itu semua bukan urusan Audrey, jadi tidak ada masalah."
"Eee." Ali tampak sedikit ragu. "Ah ya, ya. Terima kasih Audrey." kata Ali pada akhirnya.
Audrey terdiam, ada yang aneh dari tingkah Om Ali. Sepertinya ada yang ingin disampaikan. Namun karena tak ada reaksi lagi dari Om Ali dan Kak Leon, Audrey memilih untuk pulang karena merasa urusan mereka telah selesai.
"Kalau begitu karena sudah beres, Audrey permisi dulu ya Om, Tante, Kak." Audrey berpamitan.
"Kenapa buru-buru Drey?" Tika terlihat heran.
"Mau pulang untuk menggambar Tante. Lagi dapat ide nih, jangan ditunda-tunda lagi." Audrey berdiri dan mengambil tasnya. Mereka saling bertukar salam dan mengantar kepergian Audrey dengan senyuman penuh arti.
.
.
.
Sebastian duduk membaca tabloid bisnis di kursi teras samping saat Satya datang menghampiri.
"Boleh Papa bergabung?"
"Tentu saja Pa." Sebastian meletakkan majalah di meja. "Mana mama?"
__ADS_1
"Sedang berbicara dengan Rangga. Semakin mendekati hari pernikahannya, sepertinya dia itu rajin sekali berkonsultasi dengan neneknya."
"Aku senang, ada yang dijadikan panutan oleh anak-anak." Sebastian menyesap tehnya.
"Aku tidak melihat Audrey, padahal motor dan mobilnya ada."
"Dia sedang mendesain, kakak ipar Tika yang memintanya." Sebastian menjelaskan keberadaan putrinya.
"Bagaimana keadaannya selepas kematian Rebecca?"
"Setahuku, dia baik-baik saja. Aku berharap kedepan nanti hidupnya bisa normal lagi tanpa dihantui bayang-bayang masa lalu."
"Kita semua punya harapan yang sama. Umurku tidak lama lagi, jadi aku ingin meninggalkan keluargaku dalam situasi baik." Satya tersenyum tipis.
"Jangan bicara tentang itu Pa." Sebastian tampak tidak suka. "Papa akan mempunyai cicit dan bermain bersama mereka."
Satya terkekeh pelan dan menepuk pundak Sebastian. "Kau warisan berharga yang ditinggalkan Tiara bagi kami. Terima kasih untuk segala yang telah kau lakukan."
"Tidak perlu berterima kasih Pa. Sudah kewajiban seorang anak membahagiakan orang tuanya." Senyum Sebastian mengembang sempurna menatap wajah Satya.
"Apa yang aku lewatkan?" Nenek Ida menghampiri kedua pria itu.
"Tidak ada." jawab Satya singkat.
"Ayo kita makan, Rangga dan Audrey sudah berada di ruang makan."
Mereka masuk ke dalam dan langsung diam membeku ketika mendekati meja makan. Disana tampak Bagaskara sudah duduk manis dan bersiap untuk makan.
"Selamat malam Tante, aku rindu masakan tante." ujarnya tanpa malu-malu.
Nenek Ida hanya tersenyum simpul melihat mantan tetangganya itu.
"Kau tak menemui kami tapi langsung duduk untuk makan?" Sebastian menatap tak percaya.
"Umur dan penampilan saja yang bertambah, tapi kelakuan masih sama." Kakek Satya terkekeh pelan dan langsung bergabung dengan tamu dan cucu-cucunya.
Sedangkan Sebastian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan mengikuti Satya dari belakang.
"Mana calon menantu kami?" Ida mengedarkan pandangan mencari Aaron.
"Dia sedang ada urusan penting. Karena Aaron bilang ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan istrinya setelah menikah. Jadi yang bisa dia tangani sekarang, segera diselesaikan." Bagaskara Saka terang-terangan menoleh pada Audrey saat menyebut kata istri.
Audrey tersipu mendengarnya. Gadis itu hanya menunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Lihatlah dia, bertingkah persis anak kucing yang lucu dan menggemaskan. Padahal singa gunung." Rangga menyindir Audrey dan tersenyum mengejek adiknya itu.
Audrey membulatkan matanya, menatap Rangga dengan tatapan mengintimidasi.
"Ganggu aku lagi. Aku akan memberi kejutan kepada para penghuni base." Audrey mengancam, Rangga menunjukkan raut kekesalan mendengar perkataan adiknya.
"Sudah cukup." Sebastian melerai. "Rangga, jangan usik adikmu."
"Mari kita makan." ajak Satya. "Selamat menikmati masakan istriku setelah sekian lama." kata Kakek pada Bagas.
"Tentu Om."
.
.
__ADS_1
.