Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
42. Kolam Renang


__ADS_3

Juliana berjalan mondar mandir di samping kolam renang, baru saja ia mendengar rencana terbaru bibinya. Ia merasa cemas, bagaimana cara memperingatkan Aaron dan Audrey. Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki seseorang mendekat, ia menoleh ke asal suara. Disana tampak Audrey yang sedang menatapnya.


Audrey berjalan menuju Juliana, ekspresi wajahnya tak terbaca. Juliana meremas jemarinya yang saling bertaut, ia menunduk bahkan menggigit bibir bawahnya.


"Kau terlihat sangat cemas Jul." sapa Audrey, Juliana mendongak, melihat CCTV di atas sana. Audrey mengerti, ia segera melangkah.


"Ikut aku." perintahnya.


Mereka berjalan menuju sebuah tempat dan berdiri merapat di dinding.


"Ini adalah titik buta CCTV daerah sini." Audrey menjelaskan. "Dari caramu melihatku, pasti ada yang ingin kau sampaikan."


"Tolong periksa kembali seluruh pelayan di rumah ini. Bibiku akan mencelakai kalian berdua dengan bantuan pelayan." Juliana berbicara dengan mata yang bergerak liar kesana kemari.


"Terima kasih sudah mengingatkan. Dilihat dari caramu, pasti keadaan sudah sangat tidak bersahabat." Audrey menelisik wajah Juliana.


"Jul, dorong aku begitu kita sampai di tepi kolam."


"Tidak!" Juliana menggoyangkan kesepuluh jarinya. "Kak Aaron bisa membunuhku, aku tak mau. Aku masih ingin hidup."


"Tenang saja, aku akan mengatasinya. Jangan lupa tertawa sekuat mungkin." Audrey meyakinkan.


"Tapi.."


"Jika kau tidak melakukannya kau akan mati bersama kami di tangan bibimu!"


Juliana membelalakkan matanya, ia pucat pasi mendengar perkataan Audrey.


"Ba-baiklah."


Audrey berjalan mendahului Juliana, selang beberapa detik Juliana menyusul. Sesuai perintah Audrey, setelah gadis itu berada di tepi kolam hendak masuk ke dalam rumah, Juliana mendorongnya dari belakang.


Byurrrr...


Audrey terjatuh, sejenak ia bergerak tak menentu di dalam air. Walaupun ini sudah direncanakan, tetap saja ia merasa terkejut begitu tubuhnya masuk ke dalam kolam.


Hahahahahahahaha...


Juliana tertawa sumbang kemudian pergi. Audrey muncul di permukaan dengan wajah kesal. Bukan karena jatuh, tapi karena tawa Juliana terdengar aneh. Gadis bodoh, tertawamu jelek sekali!!! Arneta tidak akan percaya kalau seperti itu. Rutuk Audrey sambil berusaha naik ke tepi kolam.


Ia mencoba naik, namun kembali jatuh karena lantai yang licin. Tiba-tiba tangan seseorang terulur, ia mendongak. Edward sedang tersenyum menatapnya. Audrey menyambut uluran tangan itu dan segera keluar dari kolam.


"Ada tangga untuk naik di sebelah sana Nona." kata Edward sambil memberikan handuk.


"Ya ampun." Audrey tersenyum geli saat melihat tangga yang dimaksud. "Aku tak memperhatikannya pak."


"Anda terlalu berani mengambil resiko Nona." Edward tersenyum penuh arti.


"Kau mengetahuinya pak?" Edward hanya mengangguk. "Baguslah, tolong jangan sampai Kak Aaron marah pada Juliana. Dan tolong periksa para pelayan. Tadi dia memperingatkanku."

__ADS_1


"Baik Nona, jika Nona Juliana mengatakan itu, berarti sesuatu akan terjadi."


"Sepertinya begitu." Audrey tempak merenung. "Baiklah, aku permisi. Terima kasih banyak atas bantuannya pak."


"Sudah menjadi tugas saya Nyonya Muda." Edward membungkuk, Audrey tertawa kecil mendengar perubahan pada panggilan Edward untuknya.


...


Tok...Tok...Tok...


"Siapa?"


"Ini bibi."


Juliana segera berlari untuk membuka pintu kamarnya.


"Masuk bi." Juliana tersenyum manis mempersilahkan Arneta masuk ke kamarnya.


"Aku lihat dari CCTV, tadi siang kau mendorong gadis itu." Arneta langsung ke topik pembahasan.


"I-iya bi." Juliana terbata.


"Jangan takut sayangku, bibi tidak marah. Malahan bini senang kau melakukannya. Gadis itu pantas mendapatkannya." Arneta tersenyum puas.


Juliana tersenyum lega, bibinya tidak curiga.


"Baiklah, bibi hanya ingin mengatakan itu. Sering-seringlah mengganggunya. Bila perlu, sakiti dia. Kau mengerti kan sayang."


"Mandilah, dan berdandanlah yang cantik. Nanti malam bibi akan mentraktirmu makan malam sebagai hadiah. Kau membuat mood bibi baik sore ini." ucap Arneta sebelum keluar dari kamar.


"Baik bi, terima kasih banyak." Juliana sumringah saat mengantar bibinya sampai di depan pintu.


Maafkan aku Audrey. Deritamu, bahagiaku


.


.


.


Isabela sedang memainkan ponselnya sambil berjalan menuju mobilnya. Saat sudah dekat mobil, ia memasukkan ponsel ke tas tanpa melihat jalan di depannya.


Brukkkk!!!


Isabela menabrak seseorang, kemudian ia terhuyung ke belakang.


"Akhhh!!" gadis itu terpekik karena tubuhnya yang limbung tiba-tiba ditarik seseorang. Ia merasa cuping hidungnya terasa nyeri karena menabrak dada yang kokoh pemilik aroma maskulin yang kini memenuhi rongga hidungnya.


Segera ia mendongak untuk melihat wajah pria itu.

__ADS_1


"Tu-tuan Leon." desisnya. "Maaf, aku telah menabrak anda. Dan terima kasih telah menolongku." Isabela mendorong lengan Leon dengan pelan agar ia terbebas dari rengkuhan pria itu. Wajahnya terasa panas karena posisi mereka yang sangat dekat.


Namun usahanya untuk menjauh gagal, kalungnya tersangkut di kancing baju Leon. Isabela panik, posisinya terlalu menempel pada tubuh Leon. Dengan tangan bergetar Isabela mencoba menarik kalungnya. Usahanya tak membuahkan hasil, mungkin karena tangannya yang tak bisa tenang.


Leon tak membantu sama sekali. Ia menikmati menatap wajah Isabela dari jarak yang sangat dekat.


"Tu-tuan, bi-bisakah anda membuka kancing baju anda?" pinta Isabela terbata.


"Di pertemuan kita yang kedua anda langsung meminta saya untuk membuka kancing kemeja? Anda ternyata sangat agresif miss." Leon menaikkan satu alisnya.


"Bu-bukan begitu. Kalau tidak dibuka, kalung saya tidak bisa lepas. Kumohon." Isabela menatap manik Leon dengan tatapan memelas. "Posisi ini membuat saya tidak nyaman." imbuhnya.


"Aku kira kau menikmatinya miss." kata Leon sambil membuka kancingnya, Isabela diam saja tak menjawab. Ia membuang muka melihat ke arah lain.


"Karena aku sangat menikmatinya." suara Leon merendah membuat Isabela menoleh dan menatapnya tajam. Sekilas Leon tersenyum jahil, namun Isabela tak melihatnya karena fokus pada netra Leon.


Isabela menunduk, kalungnya sudah terbebas. Leon segera mengancing kembali kemejanya.


"Maaf dan terima kasih."


"Jangan berjalan sambil bermain ponsel." kata Leon datar.


"Aku akan mengingatnya, sekali lagi terima kasih." ucap Isabela sama datarnya dengan Leon. Bahkan gadis itu tak tersenyum sama sekali.


Isabela menekan remote dan membuka kunci mobil. Ia mendekati kursi penumpang dan membuka pintunya. Di kursi tampak tas yang biasa ia bawa saat akan latihan. Isabela menyambar tasnya, mengunci mobil dan bergegas masuk ke dalam bangunan sekolah tari itu.


Saat masuk lobi ia melihat mamanya sedang berbincang dengan seorang wanita yang sedikit lebih tua dari mama.


"Isabela." mama melambai padanya.


Gadis itu mendekat dengan wajah tersenyum manis. "Iya ma, ada apa?"


"Kenalkan, ini teman mama."


"Halo tante, saya Isabela." katanya sambil mengulurkan tangan ingin bersalaman.


"Nita. Kamu cantik sekali." puji Tante Nita.


"Terima kasih tante." Isabela tersenyum malu-malu.


"Maaf, Isa tidak bisa lama-lama. Latihan akan segera dimulai."


Mama Tanu dan Tante Nita mengangguk seraya tersenyum lembut. Isabela segera menuju studio dengan setengah berlari.


"Bagaimana jeng putri saya?" Mama Tanu menatap Tante Nita.


"Cantik jeng, sopan. Mudah-mudahan cocok ya." Nita tersenyum penuh arti.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2