Cinta Menyembuhkan Luka

Cinta Menyembuhkan Luka
50. Makan Malam


__ADS_3

Nabila hanya membisu, tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Malam ini kediaman orang tuanya menerima tamu istimewa. Kedatangan mereka disambut hangat oleh kedua orang tuanya dan Kak Mita. Bahkan terlihat semburat merah pada pipi kakak semata wayangnya itu.


Merasa tidak ada kaitan dengan dirinya, Nabila hanya duduk diam menjadi pendengar saja. Matanya memindai tamu yang datang. Sepasang suami istri dan seorang pemuda yang pernah ia lihat satu kali, itu pun hanya sekilas saat menyelamatkan Audrey.


"Jadi, bagaimana nak Mita? Apa satu bulan cukup untuk mempersiapkan diri?" tanya tamu keluarga itu.


"I-iya tante."


"Kok tante, panggil mama dong. Kan sudah mau menikah sama Bram." kata Anis, Mama Dokter Bram.


"Eh, iy-iya mama."


Nabila memperhatikan raut wajah kakaknya yang tampak bahagia. Jadi begitu mukanya orang jatuh cinta. Yura sama Audrey kayak begitu juga. Hmmmm, kayak orang aneh. Nabila menggelengkan kepala, menepis apapun itu yang ada di otaknya.


"Nabila, bantu mama sebentar yuk." Santi mengajak putri keduanya itu.


"Iya ma. Permisi Om, Tante." Nabila segera menghilang dari ruang tamu itu.


"Memangnya mereka sudah lama menjalin hubungan ya ma." Nabila ingin menuntaskan rasa ingin tahu.


"Iya, sudah sekitar empat tahun." Nabila sedikit melongo mendengar jawaban itu.


"Kamu sudah punya pacar Bil?"


"Belum ma." kata Nabila sambil mengatur buah.


"Tidak kepikiran mau cari Bil?"


"Tidak ma, nanti saja." jawab Nabila seperti biasa.


Santi hanya menghela napas mendengar itu. "Jangan salahkan mama kalau papamu menjodohkanmu lho ya."


Nabila hanya mengangkat bahu, ia kurang menyukai topik pembicaraan ini. Dengan sigap ia melakukan tugasnya.


"Ma, Bila ke kamar saja ya."


"Makan sama-sama dulu sayang."


"Masih kenyang ma." Nabila langsung naik ke lantai dua, menuju kamarnya.


"Hhhh, anak itu. Selalu saja begitu kalau membahas pasangan." Santi hanya menggelengkan kepala menatap kepergian putri bungsunya itu.


.


.

__ADS_1


.


Isabela memijat betisnya dengan lembut. Senyum manisnya tetap bertengger dengan setia di wajahnya yang cantik. Saat keluar dari studio, ia berpapasan dengan beberapa orang tua yang menjemput anak-anaknya. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengangguk untuk memberi salam.


"Miss!" suara gadis kecil yang akhir-akhir ini sering menempel padanya.


"Hai Vicy, sudah mau pulang?"


"Iya miss, itu Daddy." Isabela menatap ke arah jari Vicy. Tampak seorang pria melangkah dengan tegap ke arah mereka berdua. Bisa Isabela lihat, beberapa ibu-ibu disana menatap Leon terang-terangan dengan ekspresi kagum.


Isabela mengangkat alisnya melihat pemandangan itu. Apa bagusnya manekin toko ini? Ia menatap Leon dengan malas. Tak ingin berlama-lama melihat pria itu, Isabela menunduk menatap Vicy.


"Hati-hati di jalan ya, miss mau ganti baju dulu." katanya sambil mengusap kepala Vicy. Isabela tersenyum ramah kemudian berbalik melangkah menuju ruang pribadinya.


"Ekhmmm!" Leon berdehem, Vicy melihatnya. Daddynya itu menaikkan satu alisnya saat bertatapan dengan gadis kecilnya. Vicy memukul dahinya pelan.


Vicy berlari mengejar Isabela. "Miss, tunggu."


"Ada apa Vicy?" Isabela menghentikan langkahnya saat Vicy menghalangi jalannya.


"Miss, tolong makan malam dengan kami ya." kata gadis itu. "Miss kan pernah ngasih Vicy makanan waktu tunggu Daddy jemput. Sebagai gantinya Vicy mau traktir miss."


Isabela tersenyum hangat mengusap pipi Vicy. "Maafkan miss ya Vicy, tapi tidak bisa. Miss harus segera pulang."


"Eh, bu-bukan begitu." Isabela panik. "Ja-jangan sedih begitu dong anak manis." Isabela menggunakan lutut sebagai tumpuan untuk mensejajarkan tingginya dengan Vicy.


Tangannya mengusap kepala Vicy yang masih menunduk sedih. "Miss ada janji dengan sahabat miss, lain kali saja baru miss ikut Vicy makan malam ya." Isabela mengutarakan alasan sesungguhnya.


"Jadi, kapan miss bisa makan malam dengan Vicy?"


"Ehmm, bagaimana kalau minggu depan?"


"Masih lama ya." suara Vicy terdengar murung.


Isabela tersenyum kikuk, ia sadar jika ia menerima tawaran Vicy itu artinya ia akan makan bersama Leon juga.


Drrttt...Drrttt....


Isabela segera mengambil ponsel di dalam tas perlengkapannya. Di layar tertera nama Audrey.


"Ya Drey. Aku baru selesai latihan nih."


"...."


"Tidak jadi ya." Isabela sedikit kecewa. "Baiklah kalau begitu. Bye."

__ADS_1


"...."


"Berarti bisa makan malam dengan kami kan miss."


Isabela terkejut, ternyata Vicy masih setia menunggu bahkan saat ia menerima telepon. Tak ingin membuat anak itu sedih, Isabela akhirnya tersenyum sambil mengangguk.


"Yeayy." Vicy merasa senang. "Vicy tunggu di depan ya miss." Vicy segera berlari menuju Daddynya kemudian menuju lobi utama.


Isabela hanya mendesah kasar dan masuk ke ruangannya. Sebenarnya ia bukannya ingin bersikap menyebalkan pada Leon. Namun karena ekspresi awal Leon yang kurang bersahabat dengannya, membuat Isabela pun enggan bersikap ramah pada pria itu.


Terlebih lagi saat Isabela melihat tatapan ibu-ibu yang begitu terpesona dengan Leon. Ia tak ingin disamakan dengan wanita-wanita itu. Memang ia akui Leon sangat tampan walaupun bersikap dingin, tapi hanya sebatas kagum yang wajar, tidak lebih. Apalagi sampai menatap penuh puja seperti itu.


Karena sudah ditunggu, Isabela tak berlama-lama di ruangannya. Dengan cepat ia mengenakan make up tipis-tipis disempurnakan dengan lipbalm nude. Ia mengenakan dress putih tanpa lengan berbahan chiffon, kemudian melapisinya dengan jaket denim. Sebagai alas kaki ia memakai sepatu converse model mule berwarna putih.


Leon menatap Isabela, penampilan balerina itu benar-benar menyegarkan matanya. Ia membuang muka menatap ke arah lain saat tanpa sengaja beradu pandang dengan netra gadis itu.


"Woahh, miss cantik sekali." puji Victoria terang-terangan.


"Terima kasih Vicy." Isabela tersenyum dan mencolek pipi gadis kecil itu.


"Ayo kita berangkat." Leon pergi dari sana bahkan tanpa menunggu putrinya.


Isabela semakin kesal dengan sikap angkuh Leon. Namun ia tak ingin membuat sedih hati Victoria, yang saat ini telah menggandeng tangannya. Gadis kecil itu berjalan sambil sesekali melompat. Ciri khas anak kecil jika sedang girang.


"Kita makan dimana? Biar saya mengendarai mobil saya sendiri." kata Isabela saat mereka sudah menyusul Leon.


"Sama Vicy saja ya miss, kalau sampainya tidak sama-sama nanti kelamaan nunggu." Victoria memberi alasan sederhana dan masuk akal.


Isabela terdiam sejenak. "Baiklah kalau begitu." Akhirnya ia menuju kursi belakang mengikuti Vicy.


"Miss mau duduk dimana?"


"Sama Vicy."


"Di depan saja miss, biar Vicy bebas ganti baju."


Mau tak mau Isabela akhirnya duduk di depan, di sebelah Leon yang telah menunggu di balik kemudi. Isabela merasa tak berdaya dengan Vicy. Alasan-alasan yang dilontarkan Vicy memang terdengar masuk akal dan jujur. Namun tetap saja ia merasa ada yang ganjil.


Pikiran itu segera ia singkirkan. Lagi pula dakam hal ini Isabela tidak dirugikan sama sekali. Hanya makan malam, hanya makan malam. Gumamnya dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2